BIAR MATI PERASAAN

Miris, sepenggal hati yang tak terjamah oleh madah asing
Dalam kegundahan tatapan sebuah kata
menjadi hujan menyentuh kekakuan ini
Bagaimana dapat kuketahui
sampai kapan dia ditunggu
Sedang waktu kini menjadi tinta meracuni tanganku
Bagaimana dapat kurasakan
Kata yang terukir di atas air…
Semua taklah jelas.
Biar hari itu saja aku menangis di hadapan cermin
Menghancurkan kecemburuan yang terlalu membatu
Menjelaskan pada isyarat bahwa aku mulai rela
Biar hatiku yang menuntut perasan ini
Untuk tidak membaca kata-katamu lagi
Biar mati perasaan ini…


UNTUKMU NAMA DALAM ILUSI

Apa yang dapat dikabarkan dari pujianmu…
Mengapa nyata tidak menghidupkan nafasmu…
Apa cinta itu telah menemukan teka-teki dari tuhannya?
Lihat… apa hatimu sedang berpesta?
Bolehkah aku berpesan malam nanti?
Jangan menyajikan aku kopi lagi
Aku semakin rindu kamu ada di sini
Dan aku tahu engkau hanyalah sebuah ilusi dalam mimpi


AYAH

Ayah lihatlah kami…
Punya banyak mimpi dan sejuta cinta
Di gubuk tak bernyala lampu
Punyai kata suci untuk mengukir
Biar sang guru mengejar kami melimpah lomba
Menyalakan api pada sebatang lilin sisa kemarin
Atau secuil kapas yang basah oleh minyak
Membuat instrumen lagu, mengisi soal-soal pelik
atau bahkan merangkai bunga dari bekas-bekasan
Ayah sungguh kami ingin bernilai
Ayah lihatlah kami…
kami memerangi gelap
yang selalu berbisik miskin tetaplah miskin
yang menggunjing coretan kertas kami
ayah dengarlah…
Keluarga, harapan dan teman adalah nafasku
Ayah lihatlah…
Aku akan berjuang!


TARIAN UJIAN

Riuh angin menjalar membius ketakutan
Jeritan keras menggema berupa-rupa
Pada  batas daratan dan lautan emosi
Tiada seorang pun berlabuh pada kegelapan

Mereka laksana singa penikmat mangsa
Pohonan suci di setiap pesisir hijau dekat pada badainya
Salah apa?
Engkau sering bertanya pada ombak dan buih yang tidak berdaya
Sesungguhnya..
Iman seseorang telah diujinya…


PUISI KERTAS

Malam ini…
Aku berpesan pada semilir angin
Juga berisyarat pada pelita
Yang menguning di atas biru
Terbalut licin seperempat minyak untuk terjaga
Tidak ada lampion seperti sedia kala
Selembar kertas mulai mematri deretan kata
Berubah menjadi sebuah melodi kesunyian
Siapa yang kelak mendengar?
Dengkuran tinta yang terlelap di belantara penari kata.
Apakah titik ini mungkin juga koma ini?
Aku akan menunggu sampai tinta ini habis.


Penulis bernama Sarah Nurmar’atus Solihah seorang pejuang karya. Lahir di Ciamis, 01 Mei 1998. Bertempat tinggal di Cikoneng RT01/RW05 Ciamis Jawa Barat Aktivitas penulis pada saat ini adalah ikut membauri dalam komunitas-komunitas menulis tanah air di facebook. Penulis bisa di sapa di email: sarahnurmaatus@gmail.com atau facebook: Sarah Nurmar’atus Solihah.

Facebook Comments