Apa Itu Fiksi Mini?

Apa Itu Fiksi Mini?

Oleh: Ananda Dwi Rahma

Akhir-akhir ini, di dalam dunia sastra ada jenis tulisan yang cukup populer baik di kalangan pembaca maupun penulis, yaitu fiksi mini atau dalam bahasa Inggris biasa disebut sebagai Flash Fiction. Di Indonesia sendiri, penyebutan untuk Flash Fiction ini bermacam-macam. Ada yang menyebutnya fiksi mini, cerita mini (cermin), cerita kilat, bahkan hingga cerpen singkat. Apapun penyebutannya, tetap merujuk pada satu jenis tulisan yang sama. Cukup banyak dari kita yang sudah sering mendengar tentang jenis tulisan ini, bukan? Namun apakah kita sudah benar-benar paham apa itu fiksi mini?

Fiksi mini, adalah karya fiksi yang sangat singkat bahkan lebih ringkas daripada cerita pendek. Tidak ada ukuran yang jelas seberapa panjang sebuah fiksi mini sebenarnya, namun panjang fiksi mini rata-rata berkisar antara 250 hingga 1.000 kata, jelas berbeda dengan cerita pendek yang umumnya di atas 1.000 sampai 10.000 kata. Bahkan seiring dengan berjalannya waktu, muncul beberapa tulisan fiksi mini yang lebih pendek dari 250 kata. Terbayang apa yang bisa ditulis dengan kurang dari 250 kata? Sulit? Nyatanya, fiksi mini kurang dari 250 kata sangat populer dan banyak penulis yang menggeluti jenis tulisan ini.

Banyak yang beranggapan bahwa justru dalam keterbatasan kata dalam fiksi mini, penulis merasa tertantang untuk menyelesaikan sebuah cerita tanpa ada bagian-bagian yang tertinggal dan tidak terjelaskan. Meski terkesan singkat, sebuah fiksi mini merupakan satu cerita yang utuh, bukan hanya sekadar penggalan. Fiksi mini harus tetap mengandung unsur pembangun dalam cerita seperti awalan, isi, dan penutup. Fiksi mini juga memiliki unsur-unsur intrinsik karya sastra di dalamnya seperti penokohan, setting atau latar, konflik, serta penyelesaian di bagian akhir.

Lalu apakah letak perbedaan antara fiksi mini dan cerita pendek adalah pada panjang tulisannya? Benar. Biasanya selain panjang tulisan, fiksi mini—apalagi yang kurang dari 250 kata—menggunakan pemilihan kata yang to the point dan tidak bertele-tele. Lagi-lagi hal ini disebabkan karena keterbatasan kata, tidak seperti cerita pendek yang jauh lebih panjang. Fiksi mini biasanya lebih terfokus pada tema dan alur cerita yang sudah mencakup gambaran pertama, konflik, dan penyelesaian. Namun ada juga fiksi mini yang fokus pada pemilihan kata karena penulis suka menggambarkan situasi sehingga pembaca dapat merasa lebih bersatu dengan cerita. Kedua tipe bercerita ini sama-sama diperbolehkan di dalam penulisan fiksi mini, karena bergantung pada kenyamanan penulis sendiri.

Untuk lebih jelasnya, bisa dilihat di bawah ini adalah beberapa contoh fiksi mini yang kurang dari 250 kata:

TAHUN KELIMA PERNIKAHAN. “Pak, anakmu demam,” panik Ani. “Kompres pakai ini.” Tanpa diminta, Adi menyerahkan hatinya. (Karya Harry Irfan, dikutip dari www.mondayflashfiction.com)

TERLALU SAYANG. Ia memandangi jenasah kekasihnya. “Jika kau nggak bisa jadi milikku, maka dia pun nggak boleh memilikimu,” bisiknya puas. (Karya Puspita ChocoVanilla, dikutip dari www.mondayflashfiction.com)

ELEGI SENJA. Lengking peluit memecah sunyi peron. Decit roda menggigit rel kereta. Entah mengapa aku selalu kembali ke sini. Padahal kutahu kau telah pergi. (Karya Ariga Sanjaya, dikutip dari www.mondayflashfiction.com)

Sangat singkat, bukan? Tentu saja, karena kurang dari 250 kata. Penulis cenderung secara lugas menyampaikan cerita, namun tetap merupakan satu cerita yang utuh. Coba bandingkan dengan fiksi mini yang berkisar antara 250 hingga 1.000 kata ini:

Ketukan itu terdengar lagi dari dalam cermin di kamarku. Empat kali. Konstan dan makin tegas. Namun, ketika aku memeriksanya, ketukan itu hilang, dan yang tersisa di cermin cuma bayanganku. Entah mengapa, aku merasa ketukan itu adalah pesan untukku, bahwa ada dunia lain selain dunia tempatku hidup atau dunia setelah aku mati.

Belakangan, bayangan tentang dunia lain itu terus memadati kepalaku. Sering kali, aku tertangkap tengah melamun oleh Ibu. Dan, sebanyak itu pula ia mengatakan hal yang sama, “Laras, melamun bisa membuatmu diasingkan dunia.”

Aku pernah bertanya pada Ibu, tentang ketukan di cermin kamarku. Raut muka Ibu berubah. Seperti tak suka. “Laras, jangan pedulikan suara itu. Tidak semua suara harus kamu dengarkan. Paham!”

Malam itu, ketukan dari dalam cerminku terdengar lagi. Empat kali, konstan. Berhenti. Terdengar lagi ketukan itu. Empat kali, dan lebih keras dari sebelumnya. Entah kenapa kali ini nyaliku menciut. Mungkin masih terngiang petuah Ibu perihal ini. Aku hanya diam. Sial, ketukan itu terdengar lagi. Empat kali, lebih keras dan kali ini lirih terdengar seperti ada suara anak perempuan menangis. Bulu kudukku berdiri. Jeri.

Akhirnya, kuberanikan melawan petuah Ibu. Kudekati cermin besar dengan bingkai berukir khas ornamen Jawa itu. Sepi. Tak kudengar suara apa pun. Lima menit berlalu. Tak ada apa-apa. Penasaran, kuketuk cermin empat kali, konstan. Aku melonjak—biasanya, tiap aku berdiri di depan cermin tidak begini—kaget. Kulihat seseorang di depanku. Wajah, pakaian, gaya rambut, dan cara berdirinya sama denganku. Bedanya, terlihat warna merah merona di bibirnya dan lebam biru di kedua pipinya.

Hening sesaat. Aku diam, tak bisa beranjak tak bisa bicara. Ia mengetuk cermin lagi, kali ini terdengar suaranya.

“Tolong…” Lirih dan sedikit serak.

Aku hanya terdiam, lagi-lagi. Sesaat kemudian, datang seorang perempuan agak tua, wajah dan gayanya mirip Ibu.

“Itu lipstik mahal! Sembarangan saja kamu pakai main-main. Kamu bisa nggak sekali saja patuh sama Ibu?”

“Ibu sudah capek kerja tiap malam. Untuk sekolah, pakaian, makanan, mainan, dan kebahagiaanmu. Kamu mengerti sedikit dong sama Ibu!”

Kulihat, ia menunduk. Menangis lirih.

“Laras hanya ingin diperhatikan, Bu…”

“Laras kangen Ibu dan Bapak..”

“Diam! Bapakmu sudah hilang dibawa malam, jangan sebut namanya lagi di sini!!”

Aku terhenyak. “Laras?” Belum reda rasa kagetku, “Jangaaaaaaaaaaaaaaaaaaan…” Spontan aku berteriak.

Kulihat perempuan paruh baya itu mengayunkan kepal tangannya ke wajah Laras bertubi-tubi. Gadis itu terhuyung, ambruk. Kepalanya membentur cermin. Darah mengucur dari hidung dan telinganya. Mengalir, ke arahku. Tanganku berusaha meraih kepalanya, tapi tak bisa. Terbentur cermin. Darah terus mengalir, merembes, menetes ke lantai tempatku berdiri. Tiba-tiba kepalaku terasa berat. Hidung dan telingaku mengucur darah. Lalu, braaaaak…

“Laraaaaaaaaaas. Sudah dibilang Ibu, jangan dengarkan suara itu…”

(Cermin Laras, karya Kethut Ragil Purnama, dikutip dari www.fiksmini.gregetan.com)

Setelah membaca fiksi mini di atas, Cermin Laras oleh Kethut Ragil Purnama yang terdiri dari 423 kata, tentu kita bisa membandingkan antara fiksi mini yang kurang dari 250 kata dan yang berkisar antara 250 hinga 1.000 kata. Keduanya sama-sama fiksi mini, namun tentu saja berbeda panjangan tulisan dan bagaimana cara penulis menyampaikan cerita.

Bagaimana? Setelah membaca pemaparan di atas, apakah Anda sudah mengerti dan merasa tertantang untuk menulis fiksi mini? Yuk, segera salurkan bakat menulis Anda melalui fiksi mini!

Facebook Comments

Jejak Publisher

5 thoughts on “Apa Itu Fiksi Mini?

  1. Antara Aku, Kau Dan Kehidupanku
    “Aku benci hidupku…” itulah kata pertama yang keluar dari mulutku setiap mataku kembali terbuka dari tidurku. Tak lama ku dengar suara ketukan pintu “tok..tok… non Aina sudah siang, nanti non telat ke sekolah lagi!…”, terdengar suara pembantuku yang selalu setia membangunkan ku setiap paginya. “ya bi…”.

    Namaku Aina, seorang siswi di salah satu SMK di Bandung, aku termasuk golongan keluarga yang di atas rata-rata. Kadang aku kesal mendengar teman-temanku yang selalu berkata “wah… Aina hidupmu enak, apa yang kau mau pasti tersedia…” aku benci mereka. “mang, ayah dan ibu sudah berangkat??” aku bertanya kepada supirku yang sudah siap untuk mangantarku. “sudah non, dari tadi, ayah non berpesan agar setelah pulang sekolah langsung pulang,,” “iya mang,, nanti kita langsung pulang,” jawabku.

    Saat aku mau menghampiri mobil, ada suara memanggil diriku, “ Aina,,,,,” saat ku menoleh ke belakang seorang gadis yang sebaya denganku menghampiriku, dia adalah sahabatku, aku panggil dia Tria. “tumben terlambat?” aku bertanya karena dia tak pernah datang telat seperti ini. “maaf, aku mencari buku bahasa ku, tapi tak ada!”. “buku apa?” tanyaku kembali, “bahasa..!” jawab Tria, “kau lupa atau gimana, kan buku itu di kumpulin, baru sekarang di kembaliin lagi,” aku mencoba menjelaskan, “ oh ya, aku lupa. Kenapa kau tak mamberi tahukan ku dari tadi, jadi kita nggak kesiangan kayak gini!” protes Tria padaku. “mana Ai tau, Tri gak ngasih tau,”. Tiba-tiba supirku ikut berbicara “monggo non Aina, non Tria kita brangkat. Dari tadi di tungguin.”. kami pun segera berangkat agar tidak kesiangan.

    Sampailah kami ke sekolah, tanpa berbicara kami langsung menuju ke kelas di mana kami terbiasa melakukan kegiatan belajar. Suasana kelas selalu ribut kalau guru belum datang, “huh… untung tak kesiangan…!” celetuk Tria. Tak lama kemudian lonceng bertanda jam masuk berbunyi tak lama setelah berbunyi Bapak guru datang ke ruang kelas. Tapi tak seperti biasanya pak guru datang ke kelas, beliau tak hanya membawa buku pelajaran tapi juga membawa saorang siswa. “ selamat pagi anak-anak “ Pak guru menyapa kami yang sedari tadi terus riuh melihat siswa yang di bawanya. “ Ai pak guru bawa siswa dari mana? Wah ganteng ya, seperti Vokalisnya Peter Pan,,” komentar Tria tentang siswa baru tersebut. “ oya?? Menurutku juga, tapi dia mirip Vokalisnya Peter Pan kalau dia duduk di bangkumu, lalu kamu melihat dia di ujung Monas sambil bawa sedotan,,!” komentar ku, “ apa sih, dasar jutek banget,,,” tambah Tria yang tak menerima komentarku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.