Cerpen Yoga Permana Wijaya*

Sebuah Tetesan Perjuangan

Teriknya matahari dan panasnya udara kian terasa menambah penderitaan. Keringat bercucuran dengan deras membasahi sekujur tubuh dan membuat kering tenggorokan. Haus dan lapar harus mampu aku tahan, itu yang ada dibenaku saat ini. Saat dimana hari pertama bulan suci umat Islam berada dan matahari tepat berada diatas ubun-ubunku, membakar sekujur tubuh dengan suhu yang kian hari semakin bertambah tinggi. Semua itu akibat kita, akibat manusia yang seenaknya menebangi pepohonan, menebarkan polusi dan berkehendak sesuka hati tanpa memikirkan lingkungan sekitarnya.

Aku berjalan dengan langkah santai, tak peduli betapa banyaknya waktu yang telah aku buang hanya untuk berjalan kaki. Anak-anak berlarian saling berkejaran dengan pekik suara yang riang gembira, semuanya berlarian menyusul langkah kakiku yang berat. Hanya beberapa menit saja suara pekik mereka sudah tak terdengar ditelan belokan gang didepan mata, berkelok-kelok membingungkan para tamu yang baru pertama kalinya menginjakan kaki ditempat ini.

Anak-anak itu sepertinya telah berada jauh didepanku, terasa jauh, entah itu jauh dari jarak dimana tempatku berada atau jauh dari waktu dalam memori ingatanku. Dalam pikiranku terlintas keindahan saat aku masih berumur sekitar 6 tahunan, berlarian dengan bebas tanpa ada beban dijiwa, semuanya memang sungguh terasa jauh. Ingin rasanya kembali kemasa kanak-kanak berlari kesana-kemari dan bermain sepuasnya.

Akupun tersadar, yang aku bisa saat ini hanyalah berangan-angan, memang begitu mudah untuk berangan-angan. Pada kenyataannya, hidup ini harus ditempuh dengan usaha. Tergantung usaha apa yang kita lakukan dengan waktu terbatas yang takan mungkin untuk diulang. Banyak jalan yang aku dapat tempuh untuk mencapai suatu tujuan yang ingin aku capai, hidup ini sama seperti jalan yang aku lalui, penuh gang yang berliku dengan segala halang rintangannya. Untuk mencapai suatu tujuan ada banyak gang dan jalan yang dapat dipijak. Tuhan tidak akan meubah semuanya apabila kita tidak berjalan untuk meubah semua itu, tergantung apa yang akan aku lalui, jalan yang baik atau jalan yang buruk, jalan menurun atau jalan yang menanjak, semua itu butuh gerakan atau momentum gaya dalam langkah baik besar ataupun kecil yang sering kita sebut usaha.

Untuk jadi dewasa dan membahagiakan orang tua memang bukan hal yang mudah. Aku menjalani hidup ini, semuanya memang selalu membutuhkan perjuangan. Kadang tujuan yang aku inginkan tak dapat aku raih. Kadang akupun mengeluh, namun aku sadar Tuhan selalu memberikan yang terbaik bagi makhluk-Nya, kita semua dituntut untuk berusaha dan bekerja keras untuk mencapai kebahagiaan yang kita inginkan. Selalu ada keindahan dalam setiap tetesan keringat yang kita cucurkan untuk mencapai maksud yang ingin kita raih. Begitulah hidup, seperti lagu dan syair yang mengalir dengan ritme dan irama yang kadang naik dan turun “Hidup adalah perjuangan”.

Kadang aku merasa diriku bukanlah apa-apa, aku selalu iri kepada seekor lalat yang beterbangan dijalanan penuh sampah ini, meskipun tulisan jelas terpampang disetiap sudut gang yang aku lalui “buanglah sampah pada tempatnya”. Lalat dan semua mahkluk yang kadang sering kita anggap tak berguna semuanya pun bekerja keras secara mandiri untuk dapat hidup, betapa luar biasanya perjuangan makhluk kecil itu, begitu lalat lahir untuk pertama kalinya kedunia, ia mampu untuk tidak hidup bergantung lagi kepada orang tua, lalat mampu hidup mandiri semenjak pertama kalinya lahir kedunia, sedangkan aku?.

Aku adalah seorang manusia yang mempunyai akal dan pikiran, namun kadang aku tak dapat menemukan tempatku melangkah, dimanakah aku?, dimanakah manusia ?, dimanakah kita menempatkan diri dimuka bumi ini?. Kita semua khalifah dan perusak alam nomor 1 dimuka bumi. Ya itulah aku, itulah tempatku saat ini. manusia yang jadi benalu, dan seharusnya aku malu.

*

Aku adalah seorang manusia, manusia dengan sifat-sifat manusiawi sebagaimana mestinya dengan segala kekurangannya. Aku memiliki nafsu, keinginan dan cita-cita serta rasa ingin tahu yang melebihi segalanya. Aku ingin diriku ada, ada dalam artian merasa dimiliki dan berguna bagi semua orang, aku ingin hidupku bermanfaat. Tapi dengan keadaanku, apa yang bisa aku lakukan?.

Langkah yang masih berat dan lesu, aku berjalan menuju rumah milik orang tua, tempat tinggalku. Aku masih menjadi tanggungan kedua orang tua yang rambutnya sudah memutih, jauh ditinggalkan adik-adikku yang sudah memiliki tempat tinggal sendiri dan mampu memberikan sebagian hartanya bagi mereka. Masih terngiang dikepala ini kata-kata tadi pagi saat aku mengajukan lamaran pekerjaan kesekian puluh kalinya.

“Maaf, tapi tampaknya orang seperti anda tidak cocok untuk bekerja ditempat ini, tempat ini hanya diperuntukan untuk orang yang benar-benar berkompeten, sehat jasmani dan rohani”.

Disudut jalan, seorang pengemis tunanetra menggenggam sebuah mangkuk berisikan uang recehan, aku terdiam sebentar menambahkan recehan kedalam mangkuknya. Sambil tersenyum dan berkata didalam hati

“Tidak aku tidak ingin seperti mereka, aku manusia yang diberikan kesehatan, aku masih bisa berjalan, aku tidak cacat !”.

Dengan kepala setengah menunduk dan bercucuran keringat bersama angan-angan yang menyatu dalam semangat yang hampir layu. Pandanganku masih menunduk kejalanan yang kotor dan berdebu, tak sengaja mataku memandang kearah genangan air bersama dompet merah digenangannya. Dompet merah!. Seketika tanganku bergerak memungut benda merah tersebut, kulihat sekitar ternyata tidak ada orang yang melihat sama sekali, tak peduli lagi Tuhan selalu melihat aku. Aku membuka dompet tersebut dan terbelalak ketika melihat isinya. Subhanallah, banyak sekali uangnya. Kulihat seluruh lipatan isi dalam dompet itu, didalamnya ada kartu Kredit, ATM, SIM dan surat berharga lainnya termasuk KTP, serta foto-foto si pemilik. Seorang wanita berparas cantik, disana tertulis “Siti Habsah, Alamat Perum Indah Permai no 8A”.

Bulan suci, tapi tampaknya pikiranku berkata untuk memiliki benda merah yang berkilap bersama dunia yang semu didalamnya, merah menyegarkan jika dimiliki untuk diri yang haus ini. Aku tahu hatiku kotor, akan tetapi pikiranku masih jernih, aku tak mampu menahan nafsu dan angan-angan, ini keberuntunganku pikirku. Aku berhak untuk memilikinya.

**

Hari ke 20 bulan Ramadhan. Stasiun Kereta Api Kota Bandung, pukul 08.00 WIB kereta ekonomi Bandung-Yogyakarta. Dompet merah itu masih kusimpan dan kurahasiakan bersama  merah darah dijiwa yang diliputi hitamnya nafsu. Ditemani seorang teman dekat sekaligus tetanggaku, Riko. Kami bersama harapan dalam gerbong kereta melaju dari Bandung menuju Yogyakarta, sebuah perjalanan mudik. Aku hanya mengantar sahabatku Riko sambil mengadu nasib, mungkin ada pekerjaan yang cocok di sana.

Ditemani suara peluit panjang keberangkatan, hempasan benturan roda baja dengan rel kereta yang kadang berirama sesuai dengan detakan jantung ini. Semuanya, angan-angan dan nafsu yang kian memburu menyelimuti jiwa dibulan yang suci. Lapar dan dahaga telah berhasil aku tahan, akan tetapi nafsu buruk ini tidak mampu aku bendung. Semuanya menyatu, menyatu dalam kecamuk perasaan bersalah dan bahagia tak tentu arah. Meski kereta melaju dengan arah yang pasti menuju Yogyakarta, hatiku ternyata berada dalam ketidakpastian, imanku tak lagi aku bawa pergi dan tertinggal jauh dalam lubuk hati kecil yang paling dalam. Bersama dompet merah yang rapi kusimpan.

Yogyakarta, Pukul 13.15 WIB. Bersama Riko dan Sopir taksi, kami melaju menuju Malioboro, bahagianya hati ini. Pemandangan diperjalanan dan perumahan yang megah berdiri kokoh di sepanjang jalan. Ingin rasanya memiliki satu diantara sekian rumah-rumah megah tersebut.

“Kawasan perumahan ini megah-megah yah pak Sopir”.

“Oh, iya mas, ini perumahan Indah Permai, tempatnya para elite bercokol”.

Perumahan Indah Permai, sepertinya nama itu tak asing bagiku. Kuingat-ingat lagi, lalu perlahan tanpa sepengetahuan Riko dan Sopir taksi aku membuka dompet merah dan mengambil Kartu identitas pemilik asli didalamnya. “Siti Habsah Alamat Perum Indah Permai no 8 A, Yogyakarta 70124”, seketika jantungku berdetak lebih cepat daripada biasanya. Yogyakarta, mengapa tidak sejak awal aku membaca tulisan itu.

Bersama goncangan taksi yang aku tumpangi, lamunankupun melaju, tiba-tiba terbersit kenangan masa kecilku. Kenangan itu, kenangan ketika masa-masa saat aku masih bisa berlarian dengan riangnya.

Akupun tersadar dari kesalahan yang kulakukan. Tidak!, Aku harus bertanggung jawab. Secepat detakan jantung dan secepat itu pula diriku tersadar akan kesalahan selama ini, menikmati sesuatu yang bukan haknya.

“Stop! Stop Pak Sopir!”

“Ada apa mas?”

“Tolong kembali berputar, ini tujuan kita sekarang!”

Aku sodorkan alamat yang tertera di kartu Identitas pemilik dompet merah kepada Sopir itu. Sopir dengan tulisan Suryatno didada kanannya memutar haluan kendaraan yang kita tumpangi. Riko hanya memandangku dengan wajah heran.

“Ini tempatnya Mas”, Supir taksi itu mengangguk dan tersenyum.

“Terima kasih pak Sopir, saya turun disini”

“Loh, Kenapa malah ketempat ini?”. Riko yang masih bingung menepis pundaku.

Aku hanya terdiam memandangi rumah yang berdiri megah, No 8A dihalangi pagar yang tinggi, halaman yang hijau dan luas, kolam renang di sisi kanan, dan sebuah garasi dengan 3 buah mobil serta 1 buah sepeda motor. Mobil Sport, Honda Jazz dan Jip Merah, Jip Merah itu sepertinya pernah ada dalam memori ingatanku. Di pojok paling kiri garasi kulihat sepeda motor Harley Davidson dengan warna mengkilap berdiri, ditemani 2 anjing penjaga yang terlihat kurang bersahabat dengan orang asing.

“Ayo kita masuk dan temui pemiliknya”

“Maksudmu Dan?”

“Sudahlah ikuti aku saja Rik…”

Aku berjalan kearah satpam rumah tersebut dengan langkah yang berat.

“Permisi pak…”

“Maaf Mas, Tuan suka marah kalau ada pengemis yang datang kemari, sebaiknya anda pergi sebelum Tuan menyuruh saya mengusir anda, akhir-akhir ini Tuan jadi sensitif”.

Astagfirullah, apa maksud dia mengatakan aku pengemis.

“Maaf pak, saya bukan pengemis, saya kemari ingin bertemu dengan Siti.”

“Oh non Siti, maaf mas. Saya salah menduga, tapi Tuan jadi sering marah-marah kalau waktunya terganggu. Semenjak meninggal anak bungsunya yang masih kecil sebulan yang lalu tuan jadi begitu”.

Aku, Syakur Ramdani yang biasa dipanggil “Dan” bersama Riko mendekati pintu rumah berwarna coklat kayu alami dengan gagang pintu keemasan yang megah. Mataku menatap kosong Jip berwarna Merah yang sepertinya pernah aku lihat sebelumnya. Seketika pikiranku menerawang ke masa silam, saat aku berlari dengan riang gembira bermain sepak bola dengan teman-teman SD dahulu.

“Dan, ambil bola nya, tuh dia terlempar keseberang jalan!”

Aku pun beranjak dari lapangan rumput hijau, berlari menyeberangi jalan raya untuk memungut bola yang terlempar akibat tendangan kaki-kaki mungil. Hanya ada kami, sekumpulan anak-anak kecil yang asik bermain bola dan aku tidak ingat lagi apa yang terjadi.

***

“Siapa yang berani mengganggu jam istirahat saya!”

“Maaf Tuan, mereka ingin bertemu non Siti”

“Siti sedang kuliah, usir mereka dari hadapan saya!”

Akupun menghampiri tuan yang memarahi satpam tersebut sambil menyodorkan dompet merah mengkilap lengkap dengan isi didalamnya yang sudah berkurang beberapa ratus ribu, sambil meminta maaf.

“Saya hanya ingin mengembalikan dompet ini, sesuai dengan alamat yang tertera disini, mungkin ini milik non Siti pak”.

Tuan dengan perut buncit itu mengerutkan dahinya, seketika wajah merah padamnya meredam menyimpulkan sudut bibir yang tersenyum malu.

“Oh, maafkan kelakuan saya barusan. Saya hanya sedang tidak ingin diganggu, anak lelaki saya satu-satunya baru saja pergi meninggalkan saya, sebuah kendaraan dengan sopir tak bertanggung jawab menabrak dia ketika berlari dipinggir jalan raya. Pelakunya berhasil kabur dan saat ini masih buron”.

“Tidak apa-apa, maafkan kami yang menganggu bapak, kami turut berduka cita”.

“Silahkan masuk nak, siapa nama anda?. Biar Satpam saya membantu anda berjalan”

“Syakur Ramdani Pak, tidak apa-apa saya bisa berjalan sendiri. Dahulu sewaktu kecil saya begitu mudahnya berlari, namun kini dengan keadaan seperti ini kehilangan kaki kiri, berjalan saja kadang susah. Semenjak umur 8 tahun dokter mengamputasi kaki kiri saya. Semua itu sama seperti yang dialami putra bapak, tapi saya masih beruntung, masih diberi kesempatan untuk hidup. Saya turut berduka cita sedalam-dalamnya atas apa yang menimpa putra Bapak”.

Bapak berkumis lebat dengan rambut putih berkacamata didepan kami mengerutkan dahinya dalam-dalam, tampak kesedihan dan kecemasan dalam raut mukanya. Lama ia menerawang.

“Kalian pasti lelah jauh-jauh datang kesini, ngomong-ngomong dimana kalian tinggal?”

“Kami berdua dari Bandung pak”

Tuan yang tampak berwibawa berambut putih itu tiba-tiba tersungkur dihadapanku. Berlutut, dan dari matanya keluar isak tangis diliputi penyesalan. Dari mulut basahnya keluar kata-kata yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.

“Maafkan saya nak, sepertinya 25 tahun yang silam saya telah melakukan kesalahan besar, saya pernah menabrak seorang bocah tak berdosa di dekat lapangan bola dipinggiran Bandung, waktu itu saya sangat panik dan tidak berpikir jernih. Saya malah kabur karena merasa tak ada yang melihat kecuali bocah-bocah yang belum mengerti apa-apa, mereka berhamburan dari lapangan menghampiri bocah yang saya tabrak. Saya benar-benar menyesal nak, maafkan saya..”.

“Tidak pak, saya yang bersalah. Saya telah memakai uang didalam dompet merah itu”.

“Demi Allah nak, saat ini saya tidak memikirkan lagi harta benda, semua itu tidak ada harganya dibandingkan sebuah nyawa, andai waktu bisa terulang kembali, mungkin saya bisa lebih memperhatikan anak saya daripada harta benda ini”.

Cucuran keringat tak mampu melampaui linangan air mata saat itu, meluap bersama penyesalan yang mendalam.

“Saya memaafkan anda pak, sayapun akan berusaha membayar uang yang telah saya pakai dari dompet ini, namun saya tidak mempunyai harta untuk menggantinya, mungkin saya dapat melakukan pekerjaan untuk bapak, saya tidak ingin semuanya berakhir tanpa usaha.”.

“Kiranya kamu mau memaafkan saya tentulah saya sudah sangat memaafkan kamu nak, jika itu yang kamu inginkan apapun pekerjaan yang anda lakukan akan saya hargai dan terima.”

Uang yang telah kupakai Rp 120.000,-. Kini telah lunas bersama keringat yang deras saat itu, aku membayarnya dengan merawat taman dipekarangan rumahnya. Tanpa kusadari sebelumnya, ternyata aku berbakat dalam mendesain segala sesuatu. Semua orang terkagum apabila melihat hasil karyaku dalam menghias taman.

****

Dengan pekik “Allahhuakbar”, aku mampu mematahkan anggapan kebanyakan mereka, bahwa aku bisa. Aku kini merasakan hidup yang sesungguhnya. Hidup bahagia memang membutuhkan keberuntungan, tapi mustahil sebuah keberuntungan tercipta tanpa adanya usaha, kalaupun ya, hidup dengan usaha lebih indah daripada hidup dengan keberuntungan.

“Mas Ramdhan!, sudah bedug dari tadi jangan melamun saja, ayo kopinya diminum ntar keburu dingin..”.

Istriku yang rupawan dengan senyuman manisnya selalu menenteramkan hati dan jiwa, lebih manis dari kopi buatannya. Sama seperti arti bulan Ramadhan bagiku, “Syakur Ramdhani” tak salah kedua orang tuaku memberikan nama tersebut bagiku, nama ini telah menjadi doa dari mereka berdua, Ya Allah ampunilah hamba dan kedua orang tua hamba dari dosa yang terasa maupun tidak terasa.

“Ya Siti!, terima kasih!, kamu memang istriku yang cantik dan soleha. Aku beruntung takdir telah membuatku memilikimu..”.


*Yoga Permana Wijaya. Lahir 31 Maret 1989. Meski baru serius menulis cerpen dan puisi pada akhir 2015, karya-karyanya dapat dinikmati dalam puluhan buku antologi bersama. Kenali penulis melalui blog sederhannya di http://yogapermanawijaya.wordpress.com

Credit Image: https://encrypted-tbn3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQvIhBY4JK3-41fhmFI3GJkLzBLGGKWIKFti-r3y6ffab3ueD2ggA
Facebook Comments