Peran Jurnalis Industri 4.0

Rp70,000.00

 

CARA PEMESANAN:

Whatsapp atau SMS ke 081774845134

atau pesan melalui message IG/FB Jejak Publisher (https://www.facebook.com/JejakOfficial) dengan format pemesanan:

Judul Buku/Jumlah Buku/Nama Pemesan/Alamat Lengkap/No HP/

Contoh: Peran Jurnalis Industri 4.0/2/Budi Hartono/Jln Jenderal Sudirman No 4, Sukabumi 43355/0812345678

Setelah mendapat balasan konfirmasi, silahkan transfer harga buku + ongkos kirim sesuai alamat yang telah dituju ke rekening

Bank Mandiri: 132-00-1162500-2   a.n. Yoga Permana Wijaya

atau Bank BRI:  4099-01-022688-53-0 a.n. Yoga Permana Wijaya

atau Bank BCA: 352-052-763-9 a.n. Yoga Permana Wijaya

atau Bank BNI: 058-396-222-5 a.n. Yoga Permana Wijaya

Lalu kirimkan bukti tanda transfernya melalui balasan pesan/whatsappnya.

Description

KATEGORI BUKU:
Antologi Cerpen, Esai, Puisi

JUDUL BUKU:
Peran Jurnalis Industri 4.0

PENULIS:
Bima Maarschal Rizky Kurnia Falah, dkk

EDITOR:
Rizki Nuraini Ramadhani, Muhammad Quraishy Thariq B, Wisnu Prasetya Utomo

PENYUNTING DAN PENATA LETAK:
Tim CV Jejak

DESAIN SAMPUL:
Tim Pekan Journal

PENERBIT:
CV Jejak (Jejak Publisher), anggota IKAPI

JUMLAH HALAMAN:
350 halaman

DIMENSI:
14 cm x 20 cm

ISBN:
Proses

E-ISBN:
Proses


SINOPSIS:

Dunia hari ini tumbuh begitu cepat, melebihi laju pertumbuhan ketika ditemukannya mesin uap hingga datangnya listrik, atau dari ketika adanya listrik hingga masa otomatisasi industri.

Kaum intelek di Barat sana menggambarkan kemajuan industri saat itu, yang kemudian mereka namakan “Revolusi Industri”. Mulai dari revolusi industri 1.0 dengan ditemukannya mesin uap pada abad 18; kemudian pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, ditemukannya listrik menjadi era revolusi industri 2.0 kala itu; sedangkan revolusi industri 3.0 diawali dengan perkembangan semikonduktor dan proses otomatisasi industri pada akhir abad ke-20; dan yang teranyar, revolusi industri 4.0, setelah sebelumnya ditemukannya internet hingga membawa pada pemanfaatan Internet of Things (IoT) dimana kita hidup hari ini.

Walau begitu, di dunia bagian Timur nun jauh seperti Indonesia, yang selalu terlambat kebagian jatah perkembangan teknologi informasi, setidaknya telah ada lebih dari 50% masyarakatnya yang telah memanfaatkan dalam jaringan (daring) atau yang biasa kita kenal dengan internet. Melalui data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2018, telah ada 143 juta orang Indonesia yang menggunakan internet.

Setidaknya, internet telah banyak membawa dampak baik bagi tumbuh dan berkembang dunia hari ini, walau tidak sedikit pula dampak buruk yang muncul akibat adanya internet. Internet seperti halnya dua mata pisau yang tidak bisa dipisahkan, yang siap memotong apa saja, tidak terlepas juga bagi mereka yang berprofesi maupun yang giat mewartakan berita.

Bagi pewarta berita misalnya, kehadiran internet seolah menjadi awan cumulonimbus yang menutupi bumi dari sinar matahari. Tidak bisa dibendung, dan menjadi cobaan berat bagi dunia pers. Pasalnya, hari ini, sebuah berita bisa diciptakan oleh siapa saja dan dimana saja. Mereka yang bukan merupakan pewarta berita namun turut serta mengabarkan berita, orang-orang biasa menyebutnya citizen journalism. Sebuah tren baru yang hadir di kala pewarta tak sanggup menjangkau tiap-tiap daerah untuk mewartakan kondisi yang sedang terjadi di tempat tersebut.

 

  • • •

 

Di tengah berita yang berseliweran yang hanya dalam hitungan detik. Persebaran informasi menjadi begitu bias, kita kemudian kebanjiran informasi. Efeknya, kita tak lagi punya waktu untuk memikirkan, mana informasi yang valid, dan mana informasi yang tidak valid atau invalid.

Apalagi beberapa waktu lalu, negara ditimpa berbagai permasalahan yang tak kunjung usai dan terus bertambah. Pewarta berita kemudian dituntut untuk dapat menjalankan tugas sebagaimana mestinya. Tidak ikut tergerus dan menanggalkan independensi untuk kepentingan yang lain. Meski di lapangan, terkadang masih ditemui represifitas yang kerap dilakukan oleh para pengayom masyarakat.

Namun jika ditilik ke belakang, kehadiran internet membuat kerja-kerja pewarta berita menjadi lebih mudah. Memperoleh data-data, verifikasi narasumber, dan berkirim naskah berita bisa dilakukan tanpa harus mengeluarkan tenaga dan biaya yang banyak.

Mari kita kembali ke dua dasawarsa ke belakang. Saat itu, ketika internet belum ditemukan, proses penggarapan berita bisa dilakukan seharian. Ketika proses peliputan telah usai, kamu harus mengemas naskah jadi untuk kemudian dikirim ke kantor berita setempat. Belum lagi jika kantor beritanya tidak berada di dalam kota, melainkan di luar kota. Lebih repot lagi karena harus menitipkan naskah tersebut ke bus antar kota hingga diambil oleh seseorang yang telah menunggu di kota tujuan.

Bayangkan betapa ruwet dan melelahkannya sebuah berita dihasilkan kala itu. Sangat berbeda ketimbang segala kemudahan yang mereka (pewarta) rasakan saat ini. Namun dibalik segala kemudahan hari ini, lagi-lagi, bayang-bayang masa depan jurnalisme  kerap terancam setelah hadirnya Artificial Intelligence (AI). Inovasi terus berkembang, dan berita, sudah bisa digarap oleh robot cerdas yang telah diatur dengan komputasi terkini.

Meskipun, kita tahu kualitas berita yang dihasilkan masih monoton dan tidak bervariasi. Namun tidak menutup kemungkinan suatu saat pemilihan kata dan pengolahan datanya bisa melebihi manusia. Di saat seperti itu, akankah kerja-kerja pewarta berita punah dan tergantikan oleh robot?

Walau banyak kalangan yang optimis dengan mengatakan jurnalisme robot ‘hanya’ akan membantu kerja-kerja pewarta―untuk mendapatkan informasi, namun tidak menutup kemungkinan jurnalisme robot akan mampu menggeser profesi pewarta berita.

Pewarta berita hari ini mungkin akan berharap-harap cemas mengenai dampak buruk yang datang bersamaan dengan perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat saat ini. Atau barangkali mereka seharusnya tetap optimis menepis segala stigma yang mulai menjalar dalam tubuh jurnalisme. Sambil memikirkan sikap negara yang makin kesini malah keenakan membendung setiap informasi hanya dengan menutup akses internet.

Disaat negara lain mulai membuka diri dan mempersilahkan semua warganya mengakses informasi, negara ini justru menutup akses internet dengan alasan dan kekhawatiran bahwa rakyat ini akan menerima informasi invalid yang berseliweran di internet, sambil menyebarkan informasi-informasi yang sebenarnya juga invalid dan tanpa verifikasi.

Pewarta dimanapun juga harusnya marah, ketika hasil kerja jurnalistik dicap invalid oleh elemen negara hanya karena tidak terima dengan isi berita tanpa melakukan mekanisme hak jawab. Bukankah hal tersebut berarti sama dengan pembungkaman terhadap kerja-kerja yang kalian (pewarta) lakoni selama ini?

Namun jika kita tak mampu melihat segala tingkah aneh negara terhadap jurnalisme hari ini, saya menduga, seberapa dekat kita dengan mereka? Atau barangkali independensi tersebut telah luntur oleh semangat NKRI harga mati? Jika sudah begitu, lantas bagaimana bisa kita disebut sebagai pewarta.

Ketimbang memikirkan hal-hal yang belum terjadi terhadap perkembangan jurnalisme ke depan, kita saat ini harusnya fokus terhadap segala kemungkinan lain yang bakal diterima pewarta hari ini. Baik mengenai setiap informasi tak terbendung dari internet, segala represifitas yang dilakukan negara, dan pengecapan berita invalid, sambil terus memperbaharui metode jurnalisme dengan membaca zaman terhadap perkembangan teknologi yang dihadapi oleh pewarta berita hari ini.


KONTRIBUTOR:

  1. A A. Yulia Anggiani
  2. Abraham Qodry Noor Saputra
  3. Achmad Adil Ma’sum
  4. Ade Lanuari Abdan Syakura
  5. Adisty Riska Hardianti
  6. Ahmad Kholiqul Khoir
  7. Ainul Mardhiah
  8. Ajeng Maghviroh Puspitaningrum
  9. Aji Budiono
  10. Akbar Pratama
  11. Aldoni Maulana
  12. Anak Agung Yulia Anggiani
  13. Annisa Dzata Sabrina
  14. Annisa Sabarina Rezki
  15. Ariani Agung Pradiptha
  16. Arief Budiono
  17. Ariel Seto Adinugraha
  18. Ayu Atikha Reinaty
  19. Baiq Mir-Atul Kulub
  20. Bayu Nugroho
  21. Bima Maarschal Rizky Kurnia Falah
  22. Blasius Erik Sibarani
  23. Brigitta Adelia Dewandari
  24. Dani Cipta Ami
  25. Dewi Safrida
  26. Dian Rahmawati
  27. Dini Azhari
  28. Ellyca Susetyo
  29. Fadhilah Salsabila
  30. Fatma Ariyanti
  31. Firda Mawaddah
  32. Harianto
  33. Hasbi Ash Shiddiq
  34. Ima Dame Theresia Manalu
  35. Imelda Santi Yuarifka
  36. Ina Nilaning Tyas
  37. Joy Rema
  38. Judith Vanesha Ahar
  39. Juju Junengsih
  40. Juni Priani
  41. Juwilda
  42. Kamilia Rizqo Maulida
  43. Kenedi Dwi Saputra
  44. Kotimatul Alfi Nurohmah
  45. Laila Mukaromah
  46. Abdul Irhas I. M.
  47. Maryani
  48. Moch Zainul Arifin
  49. Solichin
  50. Nadiyah Idzni Kusuma Dewi
  51. Nandita Ika Qothrunnada
  52. Neng Sri Sinta Asih
  53. Ni Putu Yuliatiningsih
  54. Nia Ermawati
  55. Novita Eka Andriyana
  56. Nurferika Dyah Widyawati
  57. Nurhana
  58. Nurlena Dewi
  59. Pangesti Rahayu
  60. Putri Mariam Anindita Erline
  61. Putriana, S.Pd
  62. Rachmat Priyanto
  63. Restu Amalia
  64. Reta Vioreta
  65. Retno Purwaningsih
  66. Salma Ainunnisa
  67. Saqib Fardan Ahmada
  68. Sherlynn Yuwono
  69. Syahril Alvi, S. Pd.
  70. Titin Harti Hastuti
  71. Untung Rianto
  72. Utia Mufliha
  73. Wahyu Tyan Rizqi Kurniawan
  74. Wilbert Bernardi
  75. Wuri Sadewi
  76. Yachya Rifqi Andiko
  77. Yukaristia
Facebook Comments

Reviews

There are no reviews yet.

Be the first to review “Peran Jurnalis Industri 4.0”

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.