Bulan di Mata Airin

Rp65,000.00

CARA PEMESANAN:

Whatsapp atau SMS ke 085771233027

atau pesan melalui message FB Jejak Publisher (https://www.facebook.com/JejakOfficial) dengan format pemesanan:

Judul Buku/Jumlah Buku/Nama Pemesan/Alamat Lengkap/No HP/

Contoh: Bulan di Mata Airin/Budi Hartono/Jln Jenderal Sudirman No 4, Sukabumi 43355/081234567

Setelah mendapat balasan konfirmasi, silahkan transfer harga buku + ongkos kirim sesuai alamat yang telah dituju ke rekening

Bank Mandiri: 132-00-1162500-2   a.n. Yoga Permana Wijaya

atau Bank BRI:  4099-01-022688-53-0 a.n Yoga Permana Wijaya

atau Bank BNI: 058-396-222-5 a.n Yoga Permana Wijaya

Lalu kirimkan bukti tanda transfernya melalui balasan pesan/whatsappnya.

Description

KATEGORI BUKU:
Antologi Cerpen

JUDUL BUKU:
Bulan di Mata Airin (Kumpulan Cerpen)

PENULIS:
Damayanti

PENYUNTING DAN PENATA LETAK:
Tim CV Jejak

DESAIN SAMPUL:
Andi Tri Saputra

PENERBIT:
CV Jejak (Jejak Publisher)

JUMLAH HALAMAN:
275 Halaman

DIMENSI:
14 x 20 cm

ISBN:
978-602-5675-20-1

SINOPSIS:

Cuplikan Cerpen “Seuntaian Pesan Ayah”

Sampan kecil menghantarkan kami ke tepian pelabuhan raya yang dikelilingi kapal raksasa. Sekian lama berhari-hari aku menunggu tepian ini akhirnya harapanku untuk hidup bersama ponakanku akan terjawab. Kami bertemu dengan seorang nelayan miskin yang habis turun dari jembatan pelabuhan, nama nelayan itu pak Jarwo. Ketika Pocut kulihat sudah tak membuka matanya, aku berteriak dan hanya nelayan miskin itu yang peduli dengan jeritanku. Mungkin kami tak ada nilai di mata para penumpang saudagar yang semakin terlihat menjauh seakan-akan kami bagai beo yang tak dihiraukan kiacauannya. Tapi ini belum berakhir, aku takkan mengecawakan emak, ayah dan kakakku…

Cuplikan Cerpen “Pergi dan Kembali”

Bila saja itu disangkanya dari awal, dan kembali berpapasan pada masa lampau. Pasti akan dijalani biar pun lautan diarungi sekalipun demi mempersatukannya. Tetapi sayang. Tak ada guna dibangkitkan lagi. Toh lelaki itu juga sudah pergi. Lelaki itu sudah merajai egonya. Tetapi di balik itu ada sesuatu yang tersimpan darinya, sehingga membuat Zaara sulit untuk memadamkan dari pikiran apalagi perasaan halusnya. Ada persembunyian terpendam sesudah sakit itu meracuni, pikirnya terkadang. Setelah sumpah serapah terlontar untuk cinta yang meninggalkannya, lalu kepergian itupun kembali lagi dalam dekapan hati Zaara. Maka inilah awal ceritanya…

Facebook Comments

Reviews

There are no reviews yet.

Be the first to review “Bulan di Mata Airin”

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.