A Cup of Tea Lady

Rp51,000.00

 

CARA PEMESANAN:

Whatsapp atau SMS ke 085771233027

atau pesan melalui message FB Jejak Publisher (https://www.facebook.com/JejakOfficial) dengan format pemesanan:

Judul Buku/Jumlah Buku/Nama Pemesan/Alamat Lengkap/No HP/

Contoh: A Cup of Tea Lady/2/Budi Hartono/Jln Jenderal Sudirman No 4, Sukabumi 43355/081234567

Setelah mendapat balasan konfirmasi, silahkan transfer harga buku + ongkos kirim sesuai alamat yang telah dituju ke rekening

Bank Mandiri: 132-00-1162500-2   a.n. Yoga Permana Wijaya

atau Bank BRI:  4099-01-022688-53-0 a.n. Yoga Permana Wijaya

atau Bank BCA: 352-052-763-9 a.n. Yoga Permana Wijaya

atau Bank BNI: 058-396-222-5 a.n. Yoga Permana Wijaya

Lalu kirimkan bukti tanda transfernya melalui balasan pesan/whatsappnya.

Category: Tags: , , ,

Description

KATEGORI BUKU:
Novel – Romance

JUDUL BUKU:
A Cup of Tea Lady

PENULIS:
Ly

EDITOR:
HoneyKim

PENYUNTING DAN PENATA LETAK:
Tim CV Jejak

DESAIN SAMPUL:
M. Gustiar Perdana

PENERBIT:
CV Jejak (Jejak Publisher)

JUMLAH HALAMAN:
190 Halaman

DIMENSI:
14 x 20 cm

ISBN:
978-602-474-427-4

E-ISBN:
978-602-474-428-1


SINOPSIS:

Hidup kita terlalu banyak perbedaan. Namun tak perlu merasa dibeda-bedakan. Setiap api hati memiliki rahasianya sendiri. Lalu untuk apa kita memaksa saling tahu, bahkan memaksakan diri mengatakannya. Kita sudah cukup dewasa untuk memahaminya atau mengartikannya sendiri. Biarkan ini berjalan dengan sendirinya. Setiap rasa tak penting memiliki nama. Anggap saja ini takdir atau sebuah kebetulan.

Aku dan dia masih terlibat perbincangan yang sebenarnya kita tak perlu tahu kualitas perbincangan kita. Terpenting adalah hati kita berdua bisa bicara. Titik. Aku melihatnya dengan mata dan hatiku, dia sungguh baik. Lalu apa yang orang-orang pandir itu lakukan? Mereka rela bolak-balik mengawasiku dan dirinya di ruang ini. Orang-orang itu seperti mencekik leherku dan menguliti tubuhku satu per satu.

Sudah kubilang aku orang baik dan terpelajar (katanya). Semua itu sudah mengontrolku untuk setia pada status itu, pada batasan dan norma-norma. Aku cukup tahu harus jaga sikap dan tutur kata. Meski dalam konstruksi imajinasi liarku mungkin saja aku ingin duduk berdekatan dengannya tanpa jarak sejengkal pun, biar aku bisa merasakan dan berbagi kelelahan yang dipikulnya, menyeka setiap butiran keringat di dahinya, memegang tangannya yang terjuntai lemah dan menyimpan kepalaku di bahunya sekadar melepas penat. Kemudian menatapnya lekat kepada kedua bola matanya yang selalu tampak berpijar (maaf yang ini agak berlebihan).

Hidup di sini itu sebagian tak bisa dinilai utuh atau sama.  Sebagian orang berdiri sendiri, sebagian lagi berkerumun, sebagian orang menjadi mata untuk orang lain, sebagian lagi menjadi telinga, tangan dan kaki. Tetapi jarang sekali aku melihat hati di sini, hati untuk dirinya apalagi untuk orang lain. Sebagian orang menuntutku bicara banyak, sementara yang lain menyuruh bungkam.

Beberapa orang ingin didengarkan bahkan sebagian lagi memaksa didengarkan dan ditiru. Terkadang aku kelelahan  tetapi tetap berjalan. Pelan-pelan saja, terkadang ke sana kemari, berubah-ubah, mencoba mengelabui hatiku bahkan dunia, mengikuti permainan hanya untuk melanjutkan hikayatku, biar aku tak tamat sebelum episodenya berakhir.

Aku terlahir seperti tanpa identitas, tanpa nama depan atau belakang. Aku merekayasa diriku sendiri untuk keamananku, sebab kutahu berapa harga diriku di sini. Aku merasa tak penting. Aku tak butuh pistol untuk membunuh memoriku, tetapi aku hanya butuh tinta dan penghapus saja untuk mencatat kebahagiaanku dan menghapus kesedihanku. Aku seperti berjalan di atas angin, melewatkan waktu yang kesulitan kuberi makna, kutinggalkan setiap detak dengan tanpa jiwa, terkadang membebaniku. Namun, hidup harus tetap berjalan suka atau tidak suka kita harus melewatinya. Nikmati dengan keterbatasan rasa dan carilah kebahagiaan dengan caranya sendiri.

Kewanitaanku ini begitu nyata, setiap lekuk tubuhku menyangga setiap inci bagian tubuh yang lainnya, hembusan aroma napasku cukup membiuskan kemelankolisan karakterku, dan degup jantung yang melekat pada setiap titik nadiku, mengantarkan sebuah identitas yang beda pada setiap bentuk dan fungsi. Aku memiliki semua itu. Apakah pembeda ini yang membuat mereka hilir mudik memerhatikanku? Aku sudah menyadari sepenuhnya akan dampak kesendirian ini. Ini hanyalah masalah persepsi. Lalu, salahkah aku dengan perasaan ini? Aku lama sekali menunggu rasa ini. Jadi kumohon beri pengertian padaku. Aku tak pernah meminta janji untuk apa pun. Tetapi aku tak pernah bisa mengingkari kekagumanku ini. Mungkin ini  teramat mencolok dan aku gagal merahasiakannya. Hingga membuat mereka curiga…

Ah, ini masalahnya yang tak perlu research untuk membuktikannya kemungkinan dan yang paling valid adalah kegagalanku bersumber pada keadaanku dan posisi yang tidak seimbanglah penyebabnya. Ini sangat signifikan. Posisiku dan dirinya tidak sama, tidak ada kecenderungan yang bisa saling memengaruhi, dan itulah asumsiku. Untuk itu tak ada korelasinya antara aku dan dia. Selesai. Harusnya memang tak ada hubungan. Itulah yang menjadi penyebab kenapa aku tidak diterima di sini. Titik.

Facebook Comments

Reviews

There are no reviews yet.

Be the first to review “A Cup of Tea Lady”

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.