Fon Tess adalah seekor tikus yang selalu punya ambisi tinggi menjadi kaya raya. Punya istana megah bertingkat, kendaraan yang baris di garasinya, ponsel-ponsel yang selalu up to date, uang berlimpah dan tentunya wanita-wanita cantik di sekelilingnya. Ia tak pernah menyerah dalam meraih semua mimpinya itu. Ia hanya ingin membuktikan bahwa tikus got seperti dia pun bisa menjadi penguasa.

Petualangan Popon -sapaan akrabnya- pun dimulai. Kubangan demi kubangan lumpur ia telusuri satu per satu, sama dengan hari kemarin. Tujuannya hanya satu, mendapatkan sisa makanan yang mungkin saja tercecer di sana. Sekadar untuk mengganjal perutnya yang sedari tadi sudah berdering.

“Hei, Pon? Apa kau tak bosan setiap hari hanya mengais makanan sisa?” seekor tikus yang terlihat lebih bersih dari Popon menegurnya.

“Mau bagaimana lagi? Hanya ini yang bisa kulakukan,” jawab tikus malang itu dengan wajah yang pasrah.

“Datanglah kau malam nanti ke tempat ini. Kutunjukkan tempat yang jauh lebih baik dari lumpur-lumpur itu.”

Malam tiba. Kegelapan mulai menyusup ke dalam ruang-ruang sempit lubang tikus. Ini sering terjadi. Maklum saja tempat kumuh di lingkungan Popon belum tersentuh penerangan yang layak dari lampu-lampu bertenaga listrik. Walau telah beberapa kali warga tikus sekitar mengeluh dan melakukan aksi demo hingga membakar ban, tetap saja pemerintah kerajaan tikus tak menghiraukan. Mereka seperti asyik dengan takhta mereka sendiri dan lupa dari siapa takhta itu mereka dapatkan.

Sesuai janji, malam itu Popon datang. Sempat terbersit ragu di benaknya antara memenuhi panggilan para berandal itu atau tidak. Namun, di sisi lain Popon pun ingin mengubah hidupnya dan keluarganya; tak perlu lagi makan makanan sisa atau menggali lumpur-lumpur menjijikkan itu.

“Semua baik-baik saja,” pikirnya, “lagi pula aku hanya perlu belajar dari mereka lalu melakukannya sendiri.”

“Akhirnya kau datang juga.”

“Di keluargaku, berbohong dan tak menepati janji masih termasuk dalam dosa.”

Beberapa tikus tersenyum sinis mendengar jawaban Popon. -tak perlu membayangkan bagaimana tikus tersenyum-.

“Memangnya apa yang akan kita lakukan?” tanya Popon kepada yang lain dalam perjalanan mereka menuju suatu tempat yang tak ia ketahui.

Mereka tak menjawab untuk beberapa langkah kaki. Di langkah selanjutnya seekor tikus menjawab pertanyaan itu.

“Kita akan menjarah rumah seorang manusia yang kaya raya.”

Langkah Popon terhenti,

“Menjarah? Maksudmu kita akan mencuri?” Popon terkejut.

“Iya!” seekor tikus bernama Jojon -bukan nama sebenarnya- menjawab.

“Bukankah mencuri adalah perbuatan dosa? Dan barang yang kau curi adalah haram hukumnya?”

“Lalu apa bedanya dengan yang sering kau lakukan selama ini?”

“Maksudmu?”

“Bukankah makanan kotor pun termasuk haram?”

Popon terdiam. Benar juga, makanan kotor memang haram.

“Sudahlah, Pon. Bukannya kau ingin menyudahi kesengsaraanmu? Jika ingin maju, kau harus sedikit berbuat nakal. Lagi pula rumah manusia yang akan kita jarah adalah rumah seorang lintah darat.”

“Jadi, dia manusia atau lintah?”

“Hahaha,” mereka menertawakan keluguan Popon.

“Itu adalah perumpamaan yang digunakan untuk para rentenir.”

“Nah, itu adalah rumah target kita malam ini!” Jojon menunjuk ke suatu arah.

“Waaaaahhhhhh….”

Betapa terkejutnya seekor Popon melihat sesuatu yang dimaksud. Pintu yang terbuat dari lapisan emas; tiang-tiang dan tembok yang bertakhtakan berlian. Ini terlalu indah dan begitu sempurna untuk disebut sebagai ‘rumah’. Ini lebih tepat jikalau disebut ‘istana’. Tempat yang sangat didamba-dambakan oleh seekor Popon.

Misi dilaksanakan. Beberapa makanan di dapur ‘lintah darat’ itu dijarah habis-habisan oleh segerombolan tikus liar yang usil. Sepanjang melakukan misi pertamanya ini, jantung Popon berdebar-debar tanpa henti, wajahnya pucat tak karuan dan keringat dingin berkucuran di mana-mana. Ia sangat panik, takut, kalau-kalau nanti si pemilik ‘istana’ ini terbangun dari tidurnya. Namun, yang ditakutkan tak terjadi. Akhirnya misi selesai. Mereka selamat dengan membawa hasil jarahan yang melimpah.

Tiada disangka, insting mencuri Popon mulai terasah. Kini Popon berubah 180 derajat, sekarang dia adalah seekor tikus pencuri yang lihai. Entah sudah berapa banyak aksi yang dilakukannya, dan kesemuanya berujung pada sukses besar, walau beberapa kali harus melawan berbagai perangkap tikus yang dipasang oleh manusia.

Hal ini menjadikan Jojon, senior Popon merasa iri dan berniat mencelakainya. Suatu malam Jojon dan komplotannya merencanakan sesuatu terhadap Popon. Ia mengajak tikus malang itu mencuri di rumah -atau dalam pandangan Popon adalah ‘istana’- seorang koruptor terandal di negeri manusia.

“Kau lakukan seperti biasa, jangan sampai tertangkap!” seru Jojon.

“Baik!”

“Waaaahhhh…”

Jojon kembali terperangah. Dapur manusia ini terlihat seperti surga makanan. Buah-buahan segar, daging-daging yang terlihat sangat berkualitas dan tumpukan keju yang menjadi makanan paling Popon gemari. Popon terlena oleh surga dunia yang ada di hadapannya. Ia mulai kalap.

“Hahaha… lihat semua ini! Semua ini milik kita!” dengan penuh kesombongan Popon mulai menjarah makanan demi makanan di sana.

Sesekali Popon mengendus penuh nafsu pada makanan-makanan itu. Tak jarang ia memakannya langsung di tempat itu.

Saking asyiknya seekor Popon menikmati ‘surga’-nya, ia tak sadar teman-temannya sudah memulai rencana jahat mereka. Para anggota komplotan diam-diam meninggalkan Popon yang kalap. Tiba-tiba lampu dapur itu padam dan semuanya tak terlihat.

“Teman-teman?” Popon panik.

Tak ada yang menjawab.

“Halo? Teman-teman? Apakah kalian ada di sini? Jawab aku!”

Masih tak ada jawaban.

Lampu pun kembali menyala.

“Haaah… Syukurlah!” Popon lega.

Hingga tanpa disadari oleh Popon bahaya besar mengintainya. Dari arah belakang tikus itu, seorang manusia datang dengan perangkap jaring di tangannya. Dan….

HAAAPPPP…

Popon tertangkap. Wajahnya sangat ketakutan. Manusia itu memegang bagian ekor dari tikus malang itu dan mengayun-ayunkannya tepat di hadapan wajahnya yang sangat marah. Popon sudah sangat pasrah dengan apa yang akan terjadi, mungkin inilah hukuman untuk semua tindakannya selama ini. Ia memejamkan mata. Dan tiba-tiba…

“Jupri!”

“Iya, Ayah!”

“Seekor tikus telah mencuri makanan di dapur kita. Segera siapkan istana untuknya, makanan dan minuman yang lezat, mobil mewah dan perlengkapan mewah lainnya!”

Hah?

Apakah hukuman di dunia manusia seaneh itu? Bukannya seorang pencuri harusnya dipenjarakan di balik jeruji besi yang dingin; diberi makan seadanya; dan bahkan dihukum mati? Setidaknya itu yang berlaku di dunia tikus.

“Maaf, Ayah. Jika aku menyediakannya mobil mewah lagi, aku takut nanti dia tak bisa mengendarainya dan justru menabrakkannya ke tiang sama seperti tikus yang pernah kita tangkap sebelumnya.”

Popon terbangun dari mimpinya yang aneh. Matanya melihat ke sekeliling kamar dan mendapati beberapa ekor makhluk aneh dan menjijikkan berkeliaran, bahkan ada yang menggigiti kakinya.

“Bu! Ibu! Tolong, bu! Beberapa ekor manusia berkeliaran di kamarku.”

Palopo, 12 November 2018


Ahmad Muslim Mabrur Umar, lahir 10 Agustus 1998. Saat ini sedang menempuh pendidikan S1 di Universitas Cokroaminoto Palopo, Fakultas Teknik Komputer, Program Studi Informatika. Facebook: Ahmad M Mabrur Umar. IG: ahmadmuslim_mu10. Karya-karyanya yang lain bisa dibaca di blog: http://kosankarya.blogspot.com

Facebook Comments