Tahun 1995

Pagi-pagi benar, Ujang bergegas menuju kontrakan yang baru saja ia sewa. Sesuai rencananya, kontrakan itu akan disulap menjadi kedai kopi kecil-kecilan. Tampak puluhan bungkus kopi hitam, gula, dan susu bubuk memenuhi ruangan. Hari ini mereka –ia dan istrinya– akan memulai usaha. Istri Ujang, Soleha, membantu membersihkan perabotan dari debu dan menata letak meja-kursi.

“Akhirnya setelah sekian lama, Mas. Kita punya kedai kopi sendiri.” Soleha bermanja.

“Iya, dek. Aku percaya, racikan kopimu yang lezat itu bakal laris terjual.” Ujang tersenyum, memeluk istrinya.

“Ah, Mas bisa aja.” Soleha tersipu.

Sembari menyiapkan bagian intern kedai, tiba-tiba terlintas ide untuk memberi nama kedai mereka.

“Dek, kira-kira apa nama yang cocok untuk kedai kita?”

“Mmm…nggak tahu, Mas. Baiknya Mas saja yang memutuskan.”

“Ayolah, Dek. Ini kan milik bersama. Beri aku ide.”

Hening sejenak. “Keluarga Kopi?”

“Apa maknanya, Dek?”

“Kedai ini ‘kan berdiri karena Mas dan aku suka kopi. Jadi adek pilih nama itu.”

Ujang mengangguk, mengiyakan saran istrinya.

Begitulah awal mula kelahiran kedai ‘Keluarga Kopi’ tahun 1995. Tulisan itu terlukis di atas papan tripleks bekas, menggunakan cat coklat tua. Perjalanan panjang akan segera dimulai.

 

Tahun 1997

Kedai ‘Keluarga Kopi’ berkembang pesat. Mereka merasa kewalahan melayani pembeli berdua.

“Dek, aku rasa kita perlu merekrut karyawan. Lihatlah kedai kita telah tumbuh besar. Kamu pasti kelelahan jika harus mengurus dapur sendirian.”

“Tak masalah, Mas. Yang penting rezeki mengalir, Adek tidak keberatan bekerja sendiri.”

“Tetapi kamu terlihat lelah. Maukah kamu kucarikan satu karyawan?”

Hening.

“Aku dengar ada seorang gadis yang membutuhkan pekerjaan. Kasihan, ia putus sekolah karena tidak memiliki uang.”

“Adek menurut saja, Mas.”

Gadis yang dimaksud Ujang bernama Surti. Tubuhnya kurus kering karena kelaparan, rambut sedikit beruban –karena derita yang ia tanggung. Ia resmi menjadi anak yatim piatu tahun 1995, persis saat kedai ‘Keluarga Kopi’ berdiri. Karakternya yang ulet sejak lahir sedikit-banyak bisa membantu Soleha memproses pesanan kopi-kopi itu.

“Selamat datang, dek Surti. Hari ini kamu resmi diangkat sebagai karyawan di sini.”

“Terima kasih banyak, Mas. Saya akan mengabdi sebaik mungkin untuk kedai Mas.”

“Perkenalkan, ini istri saya. Namanya Soleha. Sehari-hari kamu akan bertugas bersama beliau. Aku harap kalian bisa dekat satu sama lain.”

Surti dan Soleha saling tatap. “Siap, Mas.” Jawab mereka kompak.

***

Malam telah tiba. Namun, kedai kopi justru semakin ramai didatangi pembeli. Soleha yang tak kuasa menahan kencing, memilih meninggalkan Surti sebentar.

“Sur, tolong antarkan pesanan ke meja, ya. Aku kebelet kencing.”

“Baik, Mbak.”

Surti sendirian di dapur. Melihat kiri-kanan tidak ada yang mengawasi, dengan cepat ia menggeledah seluruh laci. Secarik kertas bertuliskan ‘Resep Rahasia’ berhasil dimasukkan ke dalam saku celana. Celaka, kini resep rahasia ‘Keluarga Kopi’ berpindah tangan.

Soleha kembali dari kamar mandi. Ia melanjutkan membantu Surti yang seolah-olah kewalahan melayani pembeli –padahal gara-gara tadi ia sibuk mencuri resep sehingga pesanan menumpuk. Tak ada yang tahu perbuatan Surti, sebab Soleha sendiri sudah hafal resep tersebut sehingga tak perlu membukanya lagi.

23.59. Saatnya kedai kopi tutup. Ketiga orang tersebut pulang, meninggalkan kedai dalam posisi terkunci. Ujang dan Soleha berboncengan, sedangkan Surti berjalan kaki menuju ke rumah. Pasutri itu tak berapa lama menjauh, hilang dari penglihatan.

“Sayang, gimana? Udah dapat permintaanku?”

Surti mengeluarkan secarik kertas dari saku celana. “Nih, lihat sayang apa yang kupegang.” Surti tersenyum bangga.

“Pintar. Sesuai janjiku, aku akan menikahimu. Kita akan mendirikan kedai kopi bersama. Dengan resep ini, kita ambil alih kedai mereka.”

“Ayo, bawa aku pergi dari sini.” Surti bersemangat.

***

Tujuh hari berturut-turut, Surti tidak berangkat kerja. Tentu saja karena ia pergi bersama calon suaminya. Ujang dan Soleha bertanya-tanya.

“Mengapa ia tak datang juga? Padahal sudah seminggu.”

“Tidak tahu, Mas. Mungkin sakit.”

“Bagaimana jika kita datang ke rumahnya sebentar? Barangkali ia butuh bantuan.”

Mereka memutuskan berkunjung ke rumah Surti. Sia-sia, tidak ada orang di dalam. Kamarnya kosong, seperti telah lama ditinggal penghuni.

“Ke mana ia pergi?”

“Entahlah. Mungkin ia merantau, hehe.”

“Aneh sekali. Firasatku tidak enak. Jangan-jangan…”

Mereka bergegas menuju kedai lagi. Seluruh laci dibongkar. Ujang tak menemukan resep rahasia mereka. Firasatnya benar, pasti Surti pergi membawa resep itu.

“Soleha! Kamu ke mana saja selama ini? Lihat, resep kita diambil orang.” Ujang membentak, menunjuk laci kosong.

“Hah? Aku tidak pernah meninggalkan ia sendiri. Eh…” Soleha teringat kejadian saat ia kebelet kencing.

“Ah, dasar Surti bocah sialan! Sudah, tutup saja kedai ini. Sudah tidak istimewa!”

“Tapi, Mas…”

 

Tahun 2005

Kedai ‘Keluarga Kopi’ resmi ditutup. Kontrakan itu dikembalikan kepada pemiliknya. Ujang dan Soleha sedang dalam masalah luar biasa. Sepanjang tahun, mereka fokus memeras otak guna mendapatkan resep itu kembali.

Di tahun yang sama, sebuah kedai kopi baru resmi didirikan. Tempatnya sama, bekas kedai kopi Ujang dan Soleha. Pemilik kedai baru itu tak lain adalah Surti dan suaminya.

“Akhirnya, sayang. Kita berhasil menggantikan kedai mereka.” Surti kegirangan.

“Iya, sayang. Aku yakin dengan resep rahasia ini, kita dengan mudah menyamai kualitas kopi mereka. Pengunjung tak akan sadar kalau kedai ini berganti kepemilikan.” Suaminya tersenyum jahat.

Nama kedai mereka sengaja tidak diubah, tetap ‘Keluarga Kopi’. Keputusan itu menjadi alasan agar kedai tetap ramai.

 

Tahun 2007

Seperti dahulu, kedai kopi selalu ramai. Namun, ada satu hal janggal yang terjadi di kedai. Pengunjung pun bertanya-tanya.

“Mbak Surti, kok Mbak Soleha dan Mas Ujang sekarang jarang kelihatan, ya?” tanya seorang ibu, langganan kedai.

“Oh iya, Bu. Kedai ini kan sudah besar, jadi mereka tidak mungkin mengurus kedai sendiri. Jadi, mereka meminta saya dan suami untuk mengurusnya.” Jawab Surti santai.

Kali ini suaminya menimpali.

“Tapi sudah lima tahun loh, Mbak. Masa mereka tidak sekali pun berkunjung?”

“Saya kurang tahu mengapa, Pak. Saya ‘kan hanya pekerja di sini. Urusan itu saya tidak berhak tahu.”

Pelanggan tersebut tak lain adalah Ujang dan Soleha, yang hendak mengambil kembali resep mereka. Sengaja menjadi pelanggan, berharap dapat menyusup dan merebut kertas ‘Resep Rahasia’ itu. Belakangan mereka tahu, kertas itu ada di laci dapur, letaknya persis sama seperti saat benda itu dicuri dahulu.

Ujang dan Soleha menjalankan strategi. Ujang pura-pura menuju kamar mandi, sedangkan Soleha dengan sengaja menarik perhatian Surti.

“Bah! Ada paku di dalam kopi pesananku.” Teriak Soleha mengejutkan seisi kedai. Pengunjung mendadak berbisik-bisik.

Surti segera menghampiri Soleha, mendapati sebuah paku berkarat bercampur air ludah di lantai. Paku tersebut sebenarnya dibawa Soleha dari rumah.

“Maafkan saya, Bu. Insiden ini baru sekali terjadi, mohon maafkan kelalaian saya.”

Begitu Surti keluar, Ujang langsung menuju dapur, menggeledah laci itu. Didapatkan secarik kertas ‘Resep Rahasia’ miliknya. Ia cepat keluar menghampiri Soleha, turut menimpali kejadian yang menimpa Soleha.

“Ada apa ini ramai-ramai?” Ujang berkata lugu.

“Ini, Pak. Masa di kopiku ada pakunya. Bahaya dong!”

“Keterlaluan. Ayo kita pergi, tidak usah ke sini lagi.” Ujang menggeleng, menarik tangan Soleha pergi keluar kedai.

“Pak, Bu, tunggu, saya bisa jelaskan…”

Seluruh pengunjung kedai keluar, berbisik-bisik. Semua berpikiran sama, tak ingin kembali lagi ke kedai.

***

Ujang senang sekali. Resep itu sekarang berada di saku celananya.

“Ayo, mas, buka kertasnya.”

Ujang mengeluarkan lipatan kertasnya dengan bangga. “Ini dia, kembalinya ‘Resep Rahasia’ yang hilang.”

Namun, takdir berkata lain. Dalam surat itu tertulis,

Resep Rahasia Kedai ‘Keluarga Kopi’

Berikut resep secangkir kopi nikmat:

1 bungkus kopi instan

1 sendok makan gula pasir

1 sendok makan susu bubuk

Air panas secukupnya

Kalian percaya itu resep rahasia? Tidak mungkin kami simpan resepmu di dalam laci, bodoh! Kami tahu kalian pasti berniat mengambilnya kembali. Kami sudah menyimpannya di tempat yang aman. Yang pasti, letaknya tak jauh dari kedai. Selamat berburu!

Salam,

NN

Setelah membaca isi resep, Ujang dan Soleha saling pandang. Itu memang bukan resep rahasia, itu petunjuk untuk memulai petualangan merebut resep kembali.

 


Melisa Tristie Angelina P, seorang amatir yang mengenal dunia literasi tahun 2017. Saat ini sedang menempuh studi di Teknik Kimia Undip. Ia dapat dihubungi melalui facebook https://facebook.com/melisa.trist dan email melisa.tristie9@gmail.com.

Nomor HP: 089654780330

 

 

 

Facebook Comments