LELAKI INSOMNIA DAN WANITA PENUNGGU

mengapa kau masih di luar ? hari sudah malam
orang-orang pasti telah tidur, beberapa masih terjaga–membaca buku dan mungkin menenangkan bayinya terbangun.
pintu mereka telah ditutup rapat, mustahil sekali mereka membukanya untuk orang asing sepertimu.
mengapa kau masih di sana ? hari ini awan akan mengadakan hujan
tidak ada orang yang cukup bodoh untuk memaksa mata rindunya terbuka, meletakkan mimpinya di kasur sejenak hanya untuk menghampiri memberi selimut agar kau bertahan dari hembusan angin, kenangan, dan harapan.
mereka tidak akan dan pernah memelukmu—sekalipun kau berteriak di luar dan disiksa oleh airmatamu.
apakah yang sedang kau pikirkan ? menunggu pintu di depan matamu terbuka tiba-tiba.
kemudian dari dalam datang salam, mengucapkan selamat malam, mengajakmu masuk, menawarkan kopi atau teh, menyiapkan tempat tidurmu.
apakah kau sedang menafsir ? pintu mana yang akan terbuka, pintu mana yang lebih megah
lari dari situ, lihat kebelakangmu. ada rumah yang jedelanya menganga, panjatlah.

2018


 

TAHUN BARU

tidak ada tahun bagi kita
bagi orang yang tuhannya sama

akhir ialah akhir, ujung pertemuan
Januari adalah tempat doa-doa yang terlantar

setelah Desember tak mampu mengantar
dan kini, dirimu kian semakin jauh

doa-doa tak dapat lagi menyentuh
sebab alamat yang kau berikan palsu

2018


 

PERUMPAAN DATANG

Tak ada yang datang

kau pikir hujan jatuh, untuk membantumu mengingat kenangan
dia menua, butuh reinkarnasi

masuk ke tanah, merembes ke laut, suatu saat menguap ke langit, menjadi gumpalan awan, mendung
jatuh kembali

lalu mengapa kau menunggu dia datang ?
bukankah kau perlu pulang, menemukan dirimu yang hilang

lalu mengapa kau masih menunggu dia datang ?
bukankah kau telah hilang, menemukan dirimu ditelan bayang-bayang

lalu kenapa kau percaya dia akan pulang ?

2018


 

MATAKU MUARA BAGIMU BERLALU

mataku ini yang rabun
akan aku namai pelabuhan
tempat awal untukmu pergi ke negara yang lebih berkemajuan

bulu-bulu mataku akan kurontokan
menjadi alat bagimu menemukan pelukan
yang lebih mengerti dariku apa itu kepedulian

pucat pasi pipi ini adalah rute perjalanan
kelak saat di tengah badai dan hujan
kau tak perlu kompas untuk menemukan sebuah jalan

airmataku menjadi ombak keselamatan
untuk menemanimu sampai pada daratan
di kala kau pupus akan harapan

lalu saat kau di tengah kepergian
di pelabuhan ini, aku membangun kuburan
yang ada namamu di batu nisan
bertuliskan, mantan

2018


 

LAJU

pernah kau berseru
“aku pengen kita naik angkot sama-sama”
kemarin lusa kita pulang sekolah, memberhentikan angkot
kau duduk di sebelah, aku duduk di belakang sopir yang putus sekolah
lantas aku bertanya
“kau tau apa yang paling kubenci dari angkot?”
“tidak” suara pelanmu” menyahut
“lajunya yang kencang” sahutku tersenyum
“kenapa?” tegas suaramu heran
“karena itu membuat kita terpisah” sesalku berkata
lalu kau terdiam, aku pun juga. Sampai persimpangan menjemputku
dan kau masih terpaku,membisu
menanam benci pada laju.

2018


 

HUJAN DAN BANGKU TAMAN
segerimis hujan,
sejemu bangku taman

ada yang tengah kedinginan

menunggu
rintik-rintik berhenti
membasahi badan

ada yang dirudung harapan

menanti
langkah-langkah menghilang
untuk pelukan

2019


 

MATA HUJAN

di mata hujan
kita rata sama

ia,
yang maha perihal waktu

mengingatkan pada
yang lalu

memperlihatkan pada
yang mendatang

menyadarkan pada
yang sekarang : sadarlah

dia tak lagi
mengharapkanmu datang

2019


Radja Sinaga, lahir di Medan, Sumatra Utara pada 20 Januari 2000. Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas HKBP NOMENSEN (UHN) Medan. E-mail: radjasinaga031@gmail.com, Instagram: radjasinaga_ , Facebook: Radja Sinaga, Twitter: @radjasinaga1, ponsel: 082363513916

Facebook Comments