Mommy told me something

A little kid should know

            It’s all about the devil…

And I learned to hate him so

She said he causes trouble when you let him in your room

He’ll never ever leave you if your heart is filled with gloom

Dentingan piano terus mengalun dari dalam kamar musik. Tuts-tuts yang ditekan oleh jari-jemari mungil menghasilkan alunan musik gembira. Suara jernih dan lugu semakin membuatnya terdengar sempurna. Gadis kecil itu terlihat begitu manis dengan warna gaunnya yang berwarna putih bergradasi dengan warna merah muda.

Rambutnya hitam kebiru-biruan. Sesekali dia menyentakkan kepalanya dengan pelan seiring tekanan tuts-tuts piano yang mengalun lembut dan ceria. Dia tampak sangat menguasai dan begitu menikmati lagu dan melodi yang dimainkannya.

Pintu berderit terbuka. Tampak Arsey berdiri di sana. Pria itu sepertinya dirundung kecemasan. Tampak dari keningnya yang dipenuhi lumayan banyak bulir-bulir peluh. Napasnya turun naik tidak teratur. Mungkin dia berlari sepanjang koridor di katedral ini.

“Anna, ternyata kau di sini. Aku mencarimu ke mana-mana.”

“Untuk apa kau mencariku? Aku mendengar pembicaraanmu dengan Lydia bahwa kau akan membawaku ke panti asuhan.” Anna bicara pelan. Dia berbalik dengan kasar dan seketika menghentikan permainan pianonya. Anna memandang tajam ke arah Arsey.

“Aku minta maaf untuk hal itu. Aku tak akan melakukannya. Kau adikku.”

“Omong kosong! Kau bukan hanya kakak tiri yang jahat melainkan kau juga seperti kaum Gipsi kanibal yang mengerikan.”

“Aku minta maaf. Aku mabuk.”

“Maaf katamu! Bagaimana dengan rambutku yang berantakan dan berserakan di lantai setelah kau jambak? Bagaimana dengan luka bakar di lenganku ini? Bagaimana dengan memar di betisku? Kau sangat kejam!”

“Anna, aku janji. Aku tak akan pernah mengulanginya.” Arsey memelas sembari mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada.

“Mungkin sekarang kau minta maaf, lalu bagaimana dengan Lydia yang gemar berkencan itu. Dia sangat menyebalkan. Dia juga merusak boneka fairy tale-ku. Dia mencuri semua kembang gulaku.”

“Jangan berprasangka buruk. Bahkan Lydia yang mengatakan bahwa membawamu ke panti asuhan adalah yang keterlaluan.”

“Sungguh?”

“Ya. Tidak diragukan lagi.”

“Buatlah aku yakin.”

“Dengan apa?”

“Nyanyikan lagu Frente untukku. Aku akan mengiringinya dengan piano.” Anna memohon dengan binar di matanya.

“Baiklah! Arsey mulai bernyanyi

Anna mengiringinya dengan alunan dentingan piano.

Let the sun shine in

Face it with a grin

Smilers never lose

And frowners never win

So let the sun shine in

Face it with a grin

Open up your heart

And let the sun shine in

“Terimah kasih Arsey. Aku harap kau bersungguh-sungguh.”

“Apa lagi yang meragukanmu?”

“Kau terlalu sering berbohong.”

“Maaf.”

“Yap, lupakan saja. Ayo kita pulang.”

“Baiklah.”

***

“Lydia, apa yang pernah kau lakukan pada Anna?”

“Pertanyaanmu begitu serius Arsey. Kenapa?”

“Entah kenapa, sekarang aku merasa menyayangi Anna. Aku tak mau lagi mengerjainya. Bagaimana dengan dirimu?”

“Kamu pikir aku tahan dengan semua ini. Bahkan mata polosnya itu membuatku selalu merasa bersalah tiap kali aku mengganggunya.”

“Aku rasa juga begitu.”

***

Mungkin kedewasaan telah menghinggapi Arsey dan Lydia sebagai kakak tiri Anna. Mereka yang sudah berusia 17 dan 15 tahun selalu mengusik ketenteraman Anna yang masih bau kencur. Karenanya Anna menjadi gadis 10 tahun yang selama beberapa minggu terakhir mendapat perlakuan tidak berperikemanusiaan dari kedua kakak tirinya.

Anna selalu berpikir bahwa dia dalam masa pembaptisan. Perlakuan kedua kakak tirinya akhir-akhir ini mengingatkannya pada cerita Cinderella yang selalu dibacanya di dalam dongeng. Cinderella yang selalu disiksa oleh ibu tiri dan kedua kakak tirinya Anastashia dan Grisella. Bedanya Anna tak punya ibu tiri yang jahat melainkan ibu tiri yang sangat menyayanginya. Satu lagi, apa yang dialami oleh Anna bukanlah cerita di dalam dongeng yang direkayasa oleh penulisnya melainkan cerita kenyataan yang benar-benar terjadi.

Mengenai pembaptisan, Anna punya pikiran bahwa siapa saja yang menjalani hidup dengan sedikit-atau banyak-kemalangan akan menjadi bidadari-bidadari penghuni surga. Sebetulnya pernyataan ini dibaca dalam dongeng Myrabella Corona. Namun tetap saja, di samping Anna mencoba berpikir dewasa dan positif tentang apa yang dialaminya, sekali lagi dia juga mencari solusi akan tindakan apa yang harus diambilnya saat Arsey dan Lydia kembali menjelma menjadi monster. Hal ini sangat membingungkan. Terkadang Arsey dan Lydia “lepas kontrol”. Terkadang begitu rapuh-pengiba dan penyayang. Hal ini membuat pikiran Anna beralih kepada Madame. Potts penghuni panti jompo yang selalu uring-uringan pada semua orang di sekitarnya.

Soal perlakuan Arsey dan Lydia biasanya menjadi-jadi tatkala ayah kandung Anna dan ibu tirinya-ibu kandung Arsey dan Lydia- keluar kota untuk urusan bisnis dalam waktu yang lama. Seperti sekarang. Sudah dua minggu Anna ditinggalkan di rumah bersama dua orang kakak tiri yang dianggapnya sebagai sepasang troll itu namun,  hanya dua hari Anna diperlakukan dengan “bersahabat” selebihnya diisi dengan perlakuan-perlakuan “pahit” dari Arsey dan pelayanan “full service” dari Lydia. Anna beranggapan bahwa semua hal itu hanyalah ilusi dan sudah mempersiapkan diri untuk perlakuan-perlakuan selanjutnya. Anna sudah pasrah.

***

“Anna, Bolehkan aku masuk kamarmu?” Tanya Lydia di depan pintu?”

“Tentu. Ada apa?”

“Aku merasa aku akan tidur di sini bersamamu malam ini.”

“Kenapa?”

“Aku ingin menebus kesalahanku.”

“Dengan cara apa?”

“Mungkin membacakan dongeng Putri Salju.”

“Sungguh?”

“Ya…”

“Kenapa tidak!?”

Pada zaman dahulu, hiduplah seorang…

Lydia terus bercerita hingga Anna benar-benar tidur pulas. Diusapnya jidat Anna yang lebar. Pelan-pelan dirapikannya rambut Anna. Tanpa sengaja tangannya menyentuh sesuatu yang basah di bawah pelipis gadis yang terlelap itu. Sebuah luka terbuka yang agak dalam. Melihat luka tersebut, Lydia teringat kejadian lima hari yang lalu. Lakon emosional yang terjadi di dapur.

“Hei! Upik Abu. Kau tak boleh menyentuh apa pun di dapur ini. Terutama lemari makanan dan kulkas.”

“Tapi aku lapar dan haus Lydia.”

“Itu urusanmu!”

“Ini rumahku juga kan?”

“Oh yah? Sejak kapan anak manis?”

“Sejak kau tak ada di tempat ini. Di rumahku!”

“Apa!? Beraninya kau menghinaku!”

“Aku berkata kebenaran.”

“Rasakan ini!”

Lydia mendekati Anna lalu menggores pelipis gadis itu dengan pisau dapur. Darah muncrat dan Anna menjerit kesakitan. Lydia meninggalkannya. Meninggalkan Anna yang terduduk di lantai sambil memijit luka di pelipisnya. Tangannya berlumuran darah. Matanya mulai berkunang-kunang. Akhirnya Anna pingsan berurai air mata. Gadis itu tergeletak di lantai dapur sampai darah di pelipisnya mengering.

Ingatan Lydia buyar tatkala setetes air matanya di lengannya sendiri.

***

Kring kring kring!!!

Suara telepon berdering nyaring. Arsey mengangkatnya dan membawa telepon ke telinganya.

“Halo! Dengan siapa?”

“Ini ibu Arsey.”

“Oh ibu. Kapan ibu pulang?”

“Mungkin sebulan lagi sayang. Apa kabar denganmu? Lydia dan Anna?”

“Kami semua baik-baik saja Bu. Ibu juga baik kan? Dimana ayah?”

“Di kamar mandi sayang. Ibu baik-baik saja.”

“Oh, syukurlah.”

“Ya sudah. Nanti ibu telepon lagi. Selamat malam sayang. Ibu mencintaimu.”

“Selamat malam ibu. Arsey sayang ibu.” Arsey meletakkan telepon kembali. Dia berbalik dan duduk di sofa depan televisi. Beberapa saat kemudian, Lydia datang dari lantai atas lantas duduk di dekatnya. Sepertinya dia ingin membicarakan sesuatu yang penting

“Siapa tadi yang menelepon?”

“Ibu. Dia menanyakan kabar kita semua.”

“Oh, aku pikir apa.”

“Arsey.”

“Hm, ada apa?”

“Sepertinya dia trauma.”

“Karena apa?”

“Karena perlakuan kita padanya.”

“Kau tahu dari mana kalau dia trauma?”

“Aku melihat di buku diary-nya. Dia bahkan menuliskan tanggal, jam, menit, dan detik waktu kita minta maaf padanya. Menuliskan saat-saat dimana kita menyiksanya beserta kapan itu berakhir dan juga menulis daftar berapa kali kita berbuat baik padanya dalam seminggu. Dia menulis segala hal yang menimpanya dengan sangat teliti. Sepertinya dia sangat tertekan dengan ini semua.”

“Lalu?”

“Aku pikir, dia tidak percaya akan kesungguhan kita  meminta maaf padanya.”

“Anna itu masih kecil. Dia hanya perlu diperlakukan dengan manis. Hatinya pasti langsung luluh.”

“Aku tahu itu. Tapi ada satu hal lagi yang sempat kubaca di bukunya. Sesuatu yang sangat penting.”

“Apa itu?”

“Anna berencana bunuh diri.”

“Kenapa bisa sejauh itu? Padahal kita sudah baik padanya selama kurang lebih tiga hari.”

“Itu kan belum seberapa. Toh kita pernah tidak mengganggunya selama seminggu penuh dan minggu berikutnya kita kembali mengganggunya. Aku yakin Anna meragukan kita. Bahkan Anna menuliskan bahwa pembawaan kita nyaris sama dengan Madame. Potts penghuni panti jompo di sebelah rumah.”

“Ah. Jangan terlalu terbawa suasana. Anna memang suka mendramatisir keadaan.”

“Aku harap itu tak terjadi.”

“Itu tak akan terjadi Lydia.” Arsey berdiri dan beranjak meninggalkan Lydia. Dia keluar dari rumah lalu mengambil sepeda di gudang. Dia mengayuh sepeda menuju jalan di sebelah kanan depan rumahnya dan baru berhenti di depan sebuah bangunan yang menyerupai menara katedral tua dengan lonceng besar di puncaknya. Arsey masuk ke bangunan itu setelah menyandarkan sepedanya di sebuah pohon.

When you are unhappy

The devil wears a grin

But oh, he starts to run in

When the light comes prowling in

Anna terus menggesek sebuah biola besar. Gerakannya sebat seperti orang kesurupan. Lagi-lagi dia menyanyikan lagu kesukaannya. Sepertinya dia begitu menikmati gesekan biolanya berpadu dengan suara merdunya. Anna memang punya bakat bermusik luar biasa. Dia sudah berkali-kali tampil di berbagai pentas. Mulai dari pentas di gereja hingga acara sekolah.

I know he’ll be unhappy

Cause I’ll never wear a frown

Maybe if we keep on smiling

He’ll get tired of hanging around

Anna terus bernyanyi disertai gesekan biola yang semakin terdengar sulit. Tiba-tiba sebuah suara ikut bernyanyi menyambung lagunya.

If forget to say my prayers

The devil jumps with glee

But he feels so awful, awful

When he sees me on my kness

So if you feel of trouble

And you never seem to move

Just open up your heart

And let the sun shine in

Suara yang berasal dari mulut Arsey. Anna menghentikan permainan biolanya kemudian mendelik ke arah Arsey. Penggesek  biola di letakkan di dekatnya.

“Ada apa Arsey?”

“Suaramu semakin bagus.”

“Siapa yang meragukannya?”

“Aku!”

“Kenapa?”

“Aku meragukannya seperti kau meragukan permohonan maafku dan Lydia.”

“Kenapa meralatnya sekarang?”

“Aku kecewa.”

“Orang sepertimu tak pernah merasa kecewa melainkan selalu ingin membuat orang merasa kecewa. Kau pikir aku percaya. Permohonan maafmu sudah berulang kali. Aku masih mengingat dengan jelas Arsey. Pernah sekali kau di suatu siang meminta maaf padaku sambil menangis dan malam harinya kau merusak mainanku. Ingatanku sangat tajam Arsey.”

“Tapi kali ini lain Anna. Kau benar-benar kejam.”

“Jangan mengataiku dengan bermacam-macam kata buruk sebab semuanya lebih pantas untuk ditujukan padamu. Bukan kepaadaku!”

“Anna. Aku ti…”

“Sudahlah kau dan Lydia hanya pura-pura. Jangan harap aku akan tinggal diam. Aku akan melakukan apa pun untuk menghentikan perlakuan burukmu dan Lydia. Aku akan bun…”

“Diam Anna!!!” Arsey membentak.

Anna terdiam kaget. Matanya berkaca-kaca. Gadis itu berdiri dan hendak beranjak pergi namun Arsey mencekal lengannya. Anna kaget disertai gerakan spontan melindungi wajahnya.

“Kenapa?” Anna mendengus. “Mau memukulku lagi? Silakan!”

“Tidak Anna.”

“Lalu apa?”

“Kenapa dengan lenganmu?”

“Kenapa katamu? Kau ini sudah pikun ya? Ini itu luka bakar sayangku. Bekas pijakan setrika tempo hari kasihku. Setrika panas yang kau genggam itu cintaku.” Anna berusaha melepaskan lengannya dengan tarikan sebat namun Arsey mencekalnya lebih erat lagi.

“Lepaskan!!!” Anna menjerit keras.

“Tidak Anna. Aku menyayangimu adikku.”

Arsey meraih tubuh Anna kemudian membawanya ke dalam pelukannya. Arsey memeluk tubuh mungil itu dengan sangat erat.

Tampak di jendela sepasang mata yang merah dan basah sedang mengintip. Mata Lydia.

***

“Mama.”

“Ada apa Qyla?”

“Apakah semua keluarga tiri itu jahat?”

“Maksudmu?”

“Maksudku apakah ibu tiri atau saudara tiri itu selalu jahat. Seperti yang ada dalam dongeng Cinderella dan Putri Salju?”

“Siapa bilang? Tidak semuanya sayang. Bukankah mama pernah bercerita tentang saudara tiri mama?”

“Arsey dan Lydia?”

“Ya, benar sayang.”

“Bukankah mereka sangat jahat kepada mama?”

“Ya memang benar. Tapi pada akhirnya mereka menyayangi mama.”

“Oh iya. Aku lupa.” Qyla menarik selimutnya sebatas dada.

Kali ini Emanuel yang bertanya.

“Mama.”

“Ada apa sayang?”

“Aku juga punya teman bernama Anna. Dia anak paman tukang pos. Namanya Anna Lambert.”

“Oh yah?”

“Ya, benar. Dia anak yang baik. Dia berbagi coklat denganku di sekolah.” Emanuel membalik badannya membelakangi ibunya dan Qyla adiknya. Sepertinya dia sudah mengantuk.

“Selamat malam mama. Aku mencintaimu.”

***

Wanita itu meninggalkan sisi ranjang setelah mengecup kening anak-anaknya satu per satu lalu keluar menuju ruang tamu.  Dia duduk di sofa dan terpekur cukup lama. Ingatannya terbang jauh kepada masa-masa kecilnya yang nyaris “bahagia”.

Kenangan setelah Arsey memeluknya di katedral. Kenangan saat sepasang mata merah dan basah di pilar jendela, mata haru Lydia memandangnya iba. Wanita itu merindukan masa-masa seperti itu kembali. Namun mengingat atas apa yang dilakukan Arsey dan Lydia tiga hari setelahnya, rasanya dia tak sanggup mengenangnya.”

“Buka bajunya Lydia!”

“Oh, tentu Arsey!”

“Anak ini tak tahu diuntung!”

“Dikasih hati minta jantung!”

“Ambil tali tambang!”

“Baik!”

“Ikatkan di kakinya!”

“Ambilkan katrol!”

“Tentu!”

“Buka penutup sumur!”

“Okay!”

“Celupkan!”

“Huuuuuuuu!!! Ini sangat menyenangkan”

Tubuh Anna dimasukkan ke dalam sumur yang cukup dalam. Sumur yang sudah lama tak terpakai dan dipenuhi dengan lintah. Anna dicelupkan ke dalam sumur dalam keadaan telanjang bulat dan kepalanya berada di bawah sedang sepasang kakinya diikat dengan tali tambang yang  dihubungkan ke katrol timba. Anna digantung dan terus dicelupkan ke dalam sumur lalu kemudian diangkat. Kadang celupan itu cukup lama dan Anna kehabisan napas. Belum sempat mengambil napas baru Anna dicelupkan lagi ke dalam sumur. Serta merta puluhan lintah berwarna hitam berlengketan di tubuhnya.

“Celup lagi!”

“Angkat lagi!”

“Ayah pulang!” Sebuah suara mengagetkan wanita itu. Lamunannya buyar seketika. Suara itu suara Roberto suaminya.

“Lembur?”

“Tentu sayang. Dimana Qyla dan Emanuel?”

“Sudah tidur.”

“Pertanyaan apa lagi yang mereka tanyakan hari ini sayang?”

“Pertanyaan seputar keluarga tiri yang selalu jahat.”

“Lalu apa jawabanmu?”

“Aku mengatakan bahwa tidak semua keluarga tiri itu jahat.”

“Cerdas sekali!”

“Oh tentu. Sebab aku bukan hanya istri yang baik tapi juga ibu yang baik.”

“Oh yah?” Roberto mengecup bibir istrinya lalu beralih ke keningnya. Dia mengajak Anna masuk kamar. Di dalam kamar mereka bicara lagi.

“Menurutmu apa reaksi mereka nanti saat tahu jika aku ini ibu tirinya?”

“Entahlah. Tapi aku pikir Qyla dan Emanuel bisa menerimamu. Sebab kau telah merawat mereka dari usia mereka baru beberapa hari. Menyayangi mereka seperti anakmu sendiri. Mewakili Cynthia yang meninggal waktu melahirkan mereka.”

“Oh, maafkan aku membuatmu terkenang padanya sayang. Tapi… apa kau yakin aku akan berlaku adil  kepada mereka saat anak-anakku lahir dan kau akan keluar kota dalam waktu yang lama?”

“Oh sayang… kau pasti teringat semuanya lagi. Aku yakin sepenuhnya padamu. Percayalah.”

“Sungguh?”

“Kenapa tidak?”

“Oh, aku mencintaimu.”

Mr. Roberto mengecup bibir istrinya.

***

Roberto sudah tertidur pulas di sampingnya. Lain halnya dengan Anna. Sepertinya pikirannya bercabang ke mana-mana. Anna kembali teringat apa yang terjadi setelah dirinya dicelupkan ke dalam sumur. Dia demam tinggi. Ironisnya lagi, dengan penuh rasa bersalah Arsey dan Lydia memohon maaf sambil menangis meraung-raung. Mereka merawat Anna namun gadis itu tak kunjung sembuh hingga orang tua mereka pulang. Ketika Arsey dan Lydia ditanya oleh kedua orang tuanya atas apa yang terjadi dengan Anna, mereka menjelaskan bahwa Anna terjatuh ke dalam sumur dan mereka berdua telah merawatnya dengan sangat baik. Imbalannya Arsey dan Lydia diberi hadiah berupa video game.

Sekarang Anna berpikir bahwa hal semacam itu tak akan pernah terjadi di keluarga kecilnya yang bahagia. Sebab dia sendiri telah puas dan cukup berpengalaman diperlakukan demikian.

Anna juga teringat dengan jelas saat-saat di mana Arsey dan Lydia harus berurusan dengan psikiater. Pada akhirnya mereka dinyatakan mengidap penyakit yang agak aneh bahkan membutuhkan penanganan serius. Semacam rehabilitasi intensif. Setidaknya hal seperti itulah yang dibicarakan psikiater dengan kedua orang tua mereka. Mungkin….

***

“Sayang, besok aku ingin menjenguk Arsey dan Lydia di House Syndroma. Maukah kau menemaniku. Aku ingin mengajak anak-anak bersamaku. Akan kuperkenalkan Qyla dan Emanuel kepada mereka. Pasti mereka akan senang.”

“Oh tentu sayang.”

***

 


Penulis bernama Ahcmad Ridwan Palili, anak ke-dua belas dari tiga belas bersaudara. Lahir di Maros pada tanggal 30 Maret 1998. Merupakan seorang mahasiswa Universitas Negeri Makassar dengan konsentrasi Pendidikan Bahasa Inggris. Mulai aktif menulis sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Tulisan-tulisan hasil karyanya berupa puisi, cerpen, esai dan sementara sedang berjuang untuk merampungkan novel pertamanya. Gemar membaca dan menggambar. Bercita-cita menjadi seorang perancang busana muslim dan seorang penulis sastra yang produktif dalam berkarya. Dapat dihubungi via Handphone/sWhatsApp 083892973672, Facebook Ahcmad Ridwan Palili, Fanpage Goresan Pena Ridwan Palili dan e-mail thekingdomofpalili13@gmail.com.

 

 

Facebook Comments