Dentingan benda bersemu hitam putih itu mengalun indah, menelusuri jejak melodi yang sudah bertautan dengan irama sejak lama. Senja tampak memerah, langit semakin kelabu menampakkan kepekatan malam yang sunyi. Aku masih merenung menatapi piano usang itu, berkali-kali aku memainkan tutsnya tetapi nada yang kuhasilkan tak selaras. Hingga, jentik jemariku terasa patah. Aku menghela napas kasar, mengingat hasil yang nihil. Angin semilir yang keluar dari ventilasi udara itu menguap masuk ke dalam celah pori-pori kulitku. Menembus habis ruang tulang-tulangku.

“Elita!” panggil seseorang menyerukan namaku. Aku yakin itu suara ibuku yang akan marah, kala mengetahui anak gadisnya bermain alat musik hingga larut malam.

“Berhentilah! Cepat mandi dan pergi tidur! Angin malam tidak akan baik untuk tubuhmu!” ucap Ibuku memerintah dengan suara seolah mengultimatum emansiku. Bahkan, aku belum sempat menyela, namun Ibuku sudah memberikan tatapan menindas pada tolehanku. Aku beranjak dari tempatku. Lantas, aku menatap Ibuku walau tak ditatap. Sekadar menghargai orang yang lebih tua. Aku hanya menampakkan gurat kebahagiaan kepada Ibuku. Lalu, berlalu pergi dari seorang paruh baya itu.

***

 Malam semakin pekat, rembulan semakin jauh dari pandangan. Taburan bintang-bintang yang menghiasi langit melebur bersama gelapnya malam. Hampanya malam yang sunyi ini menjadi saksi bisu antara aku dan secangkir kopi pahitku. Kurasakan panasnya kopi pahit itu menjalar bebas di kerongkonganku. Menyebarkan rasa hangat di seluruh tubuhku yang berbalut selimut. Setidaknya dengan ini aku dapat merasakan indahnya dunia dan pahitnya kehidupan.

Tak jauh dari tempatku duduk merenung sendirian, aku melihat sepasang sepatu usang berwarna merah maroon yang telah pudar warnanya oleh usia. Bagian kulitnya terkelupas dan menampakkan bagian dalamnya. Itu adalah sepatu pemberian sahabatku yang sudah lama tidak aku pakai. Ia memberikannya saat ulang tahunku, 5 tahun yang lalu. Dan benda itu menjadi hal yang terakhir dari pertemuan singkatku dengannya. Di saat itu, aku ingat betul bahwa itu acara bahagiaku tetapi nyatanya, itu adalah hari dukaku. Dengan cepatnya ia memutuskan pindah rumah ke kota seberang tanpa memberiku alasan yang logis.

Aku memejamkan mata sambil berpikir tenang, pikiranku sering kali rancu karena hal-hal kecil. Hal itu membuat kondisi tubuhku kian memburuk. Aku ingin sekali menemukan titik celah tentang keadaanku ini, tetapi titik terang itu tidak kunjung aku temukan. Aku sempat tertawa miris di dalam lubuk hatiku, apa lagi yang kulihat dari kelebihanku, tak ada yang perlu di banggakan dalam diriku. Kau tahu! Aku hanya gadis berkulit putih bengkak yang aneh. Iya, kuliku aneh karena mengidap penyakit albino. Dengan keadaan ini aku harus menghindari paparan sinar matahari langsung yang akan membakar kulitku, angin malam yang akan merobek epidermis kulitku, apabila aku tak kunjung memakai kain tebal. Entahlah, seharusnya aku masih bisa bersyukur dengan keadaanku yang berkecukupan ini.

***

 Tumpahan air yang berasal dari langit mengguyur seluruh sudut kota. Aku memilih menikmati secangkir coklat panas di sebuah Kafe yang tak jauh dari rumahku. Merutuki hujan yang turun kian deras. Ini sudah 3 jam aku berada di Kafe itu, tetapi langit sama sekali tak memberi isyarat bahwa hujan akan reda. Malah ia kini turun semakin ganas, tanpa memedulikanku. Apakah ia tak mengetahui bahwa aku tak membawa payung dan jas hujan, atau apa pun yang akan melindungi agar tubuhku tidak basah?

“Bisakah, wajahmu tidak tertekuk seperti itu?”

Aku terlonjak kaget. Aku segera menyudahi tegukan dari sisa coklat panas yang tersisa di cangkirku. Siapa lelaki yang berada di depanku ini. Berani-beraninya ia berbicara seperti itu.

“Tersenyumlah, kau akan terlihat cantik, jika kau tersenyum.” ucapnya menggoda seraya mengangkat topinya yang menutupi wajahnya.

ASTAGA!

“AZU!” Pekikku riang sambil melongo kaget.

“Bagaimana kabarmu? Di mana tempat tinggalmu? Kau sekolah di mana? Kapan kita akan bermain bersama dengan biola kesayanganmu? Azu, apakah kau merindukanku?” tanyaku tanpa jeda dan koma. Itu mungkin efek dari rindu yang sangat berat, tetapi aku merasa tidak yakin dengan pertanyaanku yang terakhir. Kedengarannya sangat menggelikan.

Dan Azu malah tertawa renyah.

“Tenang saja, aku akan menjawab semua pertanyaanmu itu nona. Tapi untuk yang terakhir,” jawabnya mengantung dengan seringai lebar di wajahnya. Dan membuatku penasaran serta jantungku berdegup kencang, sedikit membuatku menunggu pernyataannya.

“Aku Merindukanmu.” Gurat senyum terlihat di wajahnya. Indah sekali.

“Karena kau sahabatku.” imbuhnya. Membuatku tak semangat untuk mendengar yang terakhir ini. Aku mengangguk mengiyakan, karena memang kita hanya sahabat, dan aku berharap akan selalu seperti itu. Akhirnya, hujan reda namun menyisakan gerimis kecil. Tanpa pikir panjang lagi aku keluar dari Kafe itu menembus jalanan yang hingar bingar. Sebelumnya, aku membuat perjanjian akan bertemu lagi di Kafe untuk bermain alat musik bersama dengan Azu.

***

 Tak bisa dipungkiri, berdiri di depan orang banyak membuat siapa pun gugup. Aku merasa tak pantas di panggung ini. Namun, ini kesempatan emasku. Walau aku tahu, aku hanya gadis albino yang tak diharapkan. Tatapan merendah dari seluruh pengunjung Kafe membuatku semakin bergelora penuh semangat. Penjaga kebersihan Kafe itu semakin geram untuk membersihkan jejak-jejak menjijikkan yang telah kubuat dilantainya. Aroma khas bau karbol memenuhi seluruh sudut ruangan. Entah apa yang kurasa saat ini, aku merasa ada yang berbeda dan janggal, terlalu berlebihan jika aku diperlakukan seperti ini.

Sepersekian detik aku mengaitkan jemariku dengan tuts pianoku mengalun nada yang selaras bersama paduan dawai-dawai biola milik Azu. tetap sama, aku berdiri di panggung sederhana milik Kafe tersebut. Tak ada, suara gemuruh tepuk tangan dari penjuru ruangan. Mereka menatapku aneh sambil berbisik. Ibuku juga seperti itu, ia malah menangis menyedihkan. Mungkin ia malu karena memiliki anak Albino sepertiku. Maafkan aku Ibu. Aku tidak bermaksud membuatmu malu di hadapan para pengunjung yang membicarakanku saat ini. Ibu, aku memang anak biadab, aku membiarkan ambisiku untuk menguji kelebihanku, tapi nyatanya salah! Kekuranganku yang aku miliki akan berujung seperti ini. Aku menjadi anak durhaka karena membuat Ibu menangis. Tak sengaja bulir air mataku jatuh membasahi pipiku.

“Elita, kenapa kau menangis?” tanya Azu khawatir. Dengan keadaan yang seperti ini ia malah menanyakan kepadaku kenapa aku menangis. Apa mata Azu benar-benar buta? Apakah ia tak melihat banyak orang yang menggunjingku?

“AZUU!! BERHENTILAH MENJADI ORANG BUTAA!! KAU TAK MELIHAT TATAPAN ANEH DARI MEREKA! HAH!” teriakku menahan tangis sesenggukan.

Aku tak percaya Azu dengan wajah pucat dan mata kelabunya itu malah  tersenyum.

“Aku tidak buta. Kau dan aku. Tidak ada yang aneh dari kita. Seseorang hanya bisa menilai tanpa bisa melakukan apa pun sepertimu. Mereka bersikap seperti itu karena mungkin mereka tidak bisa melihat apa yang bisa kau lihat.” katanya sambil tersenyum tulus.

Aku tertegun, dan jujur aku tidak paham maksud perkataannya yang terakhir tadi. Aku tetap dalam pikiranku yang rancu.

“Apa yang kau katakan nona? Kau berbicara dengan siapa?” tanya salah seorang dari pengunjung Kafe itu dengan dahi berkerut.

Akupun tak mengerti apa maksud dari pertanyaannya yang retoris itu. Aku jadi sedikit khawatir tentang kejiwaan ibu itu.

“N-nak b-bisakah kau bersikap n-nnormal.” ujar Ibuku yang tak kuasa membendung  tangisnya. Aku hanya bisa memeluknya dan ada goresan luka yang menyayat dari perkataan Ibuku tadi. Lebih sakit dari apa pun. Sungguh!

“Kau berbicara seperti orang gila nak. Tidak ada seorang pun di panggung selain kau!” teriak salah seorang dari sana.

“Benarkah?”

Semua orang yang berada di Kafe itu hanya mengangguk lemah.

Deg. Entahlah, tiba-tiba sekujur tubuh ini seperti membeku. Kaku. Meninggalkan jejak gigil di tubuh. Padahal di luar sama sekali tidak hujan bahkan cenderung dingin menentramkan. Tapi mengapa tubuhku bergidik. Sekarang aku tahu makna tatapan-tatapan pengunjung Kafe. Bukan karena penyakitku yang memiliki kulit Albino. Penuh dengan tanda tanya. Ya, dengan siapa aku bersahabat selama ini?

Kutengok seseorang di sisi panggung itu memudar puing-puing tubuhnya terbang berhamburan kembali ke asalnya.

“Elita, aku mencintaimu.” ucapnya lirih seraya hilangnya wujud itu di bawah rembulan yang syahdu bersama taburan bintang yang menghiasi malam.


 

Nur Ainin Febrianti, lahir di Sidoarjo, pada 07 Februari 2001. Ia tinggal bersama kedua orangtuanya, dan memiliki 3 saudara.  Ia masih bersekolah di SMAN 1 Pandaan jurusan IPA.

Facebook Comments