REMINISENSI

Biru kehitaman yang terus melekat pada tiap sudut dinding ruang jiwa
Naungan di cakrawala sana sudah tak lagi sama
Kaki-kaki kecil itu bergerak lincah tak sabar buntuti semesta bertualang ke luar sana
Berhentilah bercermin. Luruskan pandangan, tepat ke titik tujuan
Jangan nanti yang tak pasti lagi. Hanyalah keraguan yang membayang-bayangi hari
Kau harus bangun dan bernapas lagi
Ukir reminisensi sejak kini, agar nanti tak kau sesali perjalanan tanpa daya tak berarti selama ini
Agar kau tahu siapa tokoh utama dalam skenario indah ini
Jangan terlalu sering ditimpa dengan torehan tinta lainnya, kotor
Kau bisa merealisasikan aksara di lembaran itu, asal kau mau menyelam dulu. Ke mana? Ke bagian dasar samudra
Ke satu bagian dimana reminisensi terkubur rapi, sembunyikan kunci agar dapat kau buka dan temui;
Siapa tokoh utamanya
Jangan berdiam diri dan bergurau dengan jelaga saja ya
Kau harus berani berdialog dengan senja dan alam semesta
Mereka baik-baik saja
Kau juga harus sama, apa adanya

— Jogja, di bawah purnama


 
DI SELA-SELA HUJAN (1

Aku pulang kala hujan
Berderap langkah kaki sendu
Tidak mengadu, namun Semesta tahu
Tangisanku dan hujan ciptakan melodi melankolis
Terbelenggu oleh mesin waktu, dikuasai rintik hujan kala itu
Perasaanmu itu sedang dikuasai nada hujan, katanya
Persetan dengan perasaan
Aku hanya ingin mendengar hati ini bercerita
Perihal apa yang dikatakan Semesta tatkala temaniku duduk di beranda


 
DI SELA-SELA HUJAN (2

Di sela-sela hujan sore itu,
Kubisikkan padamu
Sejatinya, kau adalah singkat cerita dibalik seduhan teh tanpa gula buatanku
Kunikmati kala petrichor menyapa, rasanya sah-sah saja;
Karena itu dirimu
Detik tak pernah berhenti di tengah jalan
Pun selalu terselip namamu pada tiap menit yang tak sempat kucatat berapa jumlah angkanya
Waktu tak pernah marah jika yang kuhabiskan bukanlah teh itu, melainkan dirimu
Hanyalah aku yang egois;
Menjadikanmu abadi dalam paradigma hina ini
Di saat diriku hanyalah suatu kata sesaat dalam masamu


 
PENANTIAN

Tuan, ada sebuah pertanyaan dari Nona
‘Kenapa kau datang dan pergi seenak hatimu begitu?’
Satu, dua dasawarsa dilalui sendiri dalam nestapa oleh nona
Duduk bermuram durja di penghujung senja
Namun seringnya hujan;
Karena kau tak kunjung datang, tuan
Jangan hobi membuat penantian penuh pengharapan seperti itu
Nona adalah sarjana kesabaran


 
KAMU YANG KU PILIH

Di bawah cakrawala
Jingga menghapus torehan biru di sana
Terselubung abu-abu dan pilu
Kau bertanya perihal siapa
Buat bibirku kelu
Kau tahu saja, jantung ini sudah berdebu
Penuh rindu tak bertuan
Ke mana akan kembali jika rumah tak berpondasi?
Namun kau berdiri; selalu di sana
Bagai sang bulan pada malamnya
Seperti duri pada mawarnya
Gundah gulana kau hapuskan dengan aksara
Abaikan biru pada tubuhmu
Lalu di sini;
Di bawah sendu tangis sang jingga
Kau sudah dapatkan jawabnya


 Sativa Azzahra. Email: sativaazzahra23@gmail.com. Facebook: Sativa Azzahra. No HP/WA: 081917720992

 

Facebook Comments