Aku menggenggam lengan Hana, tak ingin dia pergi ke mana-mana walau aku tahu dia tak akan kabur jauh dariku. Apa yang dilihatnya adalah pasar malam yang indah, kecuali tentang diriku yang sedang mengantre di kedai es krim yang ramai. Pipinya merengut, menggembung menggemaskan tetapi aku sama sekali tak tertarik untuk mencubitnya dan bilang, “uh, kenapa kau lucu sekali!”

“Aku tak akan ke mana-mana. Hanya duduk di sana,” katanya, mencoba meyakinkanku. Mata yang bulat seakan dibuat lebih lebar lagi agar jurus pamungkasnya berhasil, tapi aku bukan orang yang mudah terbujuk rayuan. “Masa tidak boleh?” protesnya, kali ini dengan nada lebih tinggi dan lebih kesal. Tangan kecilnya terus memelintir kepunyaanku. Sebagai perlawanan, aku mendengus dan melemparkan tatapan dingin. Setelah itu, Hana diam walau beberapa detik lagi dia kembali memelintir tanganku sekeras yang dia bisa.

Memberi hukuman kecil tak akan ada salahnya. Aku memegang dua buah es krim di tangan, berpura-pura keduanya adalah milikku, dan dengan wajah datar aku tak mau memberikan salah satu di antaranya pada Hana. Hana terus merengek. Gadis kecil tujuh tahun itu melonjak senang setelah dia mengiyakan syarat yang kuajukan. Hana harus berada di sampingku, tidak boleh jauh walau dalam radius setengah meter pun. Gadis kecil itu mungkin akan menganggapku kakak yang berlebihan dan galak, tapi aku bersungguh-sungguh. Aku tidak ingin dia ke mana-mana.

Kami menjilati es krim di sebelah rumah hantu yang memiliki antrean panjang. Tadi aku telah menuruti obsesi Hana pada bianglala yang membuatku kesal setengah mati saat dia meminta naik permainan itu untuk ketiga kalinya. Wajahku masam, tak bersahabat untuk diajak tawar-menawar. Hana terdiam melihat ekspresiku. Walau begitu, aku bukan kakak yang jahat. Sebuah es krim cokelat dengan toping semangkuk dapat menjadi pengganti yang menyenangkan bagi anak kecil sepertinya.

Aku berhenti menjilat es krim. Udara dingin menusuk kulit. Bulan purnama kalah terang dari lampu-lampu pasar malam yang sangat ramai.  Mataku terhenti, terpaku pada orang-orang yang berlagak aneh, tidak seperti orang-orang yang sedang menikmati malam minggu di keramaian ini. Aku bergeming sesaat. Itu adalah tandanya.

Aku menyeret Hana yang es krimnya belum habis. Dia protes, sedangkan aku mencekal pergelangannya dengan kuat, tidak membiarkannya tertinggal di belakang hanya karena terlalu fokus dengan es krim setengah mencair itu.

“Kakak!” Hana mengaduh kesakitan karena tanpa sadar aku menggenggamnya dengan sangat kuat hingga kukuku tak sengaja menggores kulitnya. Mata Hana berair. Kucuran darahnya merembes dari sela-sela jariku.

Sebenarnya mataku juga memanas, berair. Orang-orang terlalu sibuk untuk sekadar melirikku yang tergesa-gesa menjauh dari keramaian. Tugasku hanyalah satu, membawa diri kami keluar dari pasar malam.

“Kak!”

Aku mengacuhkannya. Waktuku sempit.

“Radie!”

Langkahku terhenti. Kaki kecilnya pun ikut berhenti. Aku menatapnya dingin, begitu menusuk hingga membuat matanya kembali berkaca. Aku mengusap air mata, menatap luka di pergelangan tangan Hana sebelum memutuskan menggendongnya.

Aku berlari dengan kencang. Hana diam dengan seribu pertanyaan menumpuk di kepala. Kenapa tadi aku menangis? Hana berusaha mencari jawabannya. Tapi tentu saja dia tidak tahu. Dia tidak tahu mengapa aku menangis. Dia tidak tahu mengapa aku, tanpa pikir panjang, menolak mentah-mentah permintaan ibu, dengan kasar, untuk membawa Hana ke pasar malam dan menuruti keinginannya untuk naik bianglala. Dia tidak tahu apa rencanaku. Dia bahkan tidak tahu bagaimana kakak perempuannya meninggal dalam permainan di pasar malam ini. Bianglala itulah penyebabnya.

Aku mengabaikan tatapan orang yang bertanggung jawab atas pasar malam itu—aku tak tahu apa sebutan dan namanya, dan itu memang bukan hal penting yang harus kuingat. Harusnya dia bertanggung jawab atas kakakku. Tapi dia menang. Dia tak dinyatakan bersalah, tak masuk penjara, tak dihukum mati. Itu semua karena uang yang dimilikinya. Kakakku meninggal karena kerusakan sistem pada bianglala di pasar malamnya. Memang hanya satu korban jiwa dari peristiwa itu, tapi itu kakakku.

Hana tetap terdiam. Kami sudah jauh dari pasar malam. Keramaiannya masih terekam jelas di kepalaku. Cahaya-cahaya lampu masih terlihat walau aku telah menggendong Hana sejauh mungkin. Sesaat sebelum aku mengambil napas berikutnya, hawa panas menjalar sampai ke tempat kami berdiri. Hana bergidik, sangat ketakutan. Tangan kecilnya mencengkeram kerah bajuku, kepalanya menempel di dadaku. Dia tak mau melihat apa yang sedang kusaksikan.

Sebuah ledakan besar berhasil menulikan telingaku sesaat sebelum aku mendekap Hana dengan erat. Warna kemerahannya yang ganas membuatku bergidik. Langit malam tak lagi tercemar oleh cahaya-cahaya pasar. Sekitarku lengang. Tak ada penduduk dan rumah. Aku terus menyaksikan cahaya ledakan yang berangsur-angsur memudar.

Ledakan itu berhasil menyalurkan rasa dendamku pada pasar malam dan orang yang harus bertanggung jawab atas kematian Kak Nala. Aku menghela napas. Orang-orang itu mengerjakan tugas mereka dengan baik. Aku membalikkan badan, membisikkan sesuatu pada telinga Hana sehingga membuat anak itu tenang. Aku mengelus kepalanya. Kak Nala, kau boleh memarahiku karena telah melakukan hal yang tak pantas. Tapi itu semua pantas mereka dapatkan.


Sayyidah Zahratul Aulia, lebih suka dipanggil Aulia. Setia pada idola dan fandom yang bernama One Direction dan Directioners. Lahir saat peringatan sumpah pemuda tahun 2003. Instagram : @sayyidah_zahraulia, Facebook : Aulia Zahra, dan E-mail : sayyidahzahratul@gmail.com.

Facebook Comments