MALAM BERBATU ANGIN

Gelapnya langit tak mengusikku dalam diam
Gelapnya lampu membuatku nyaman tak bergerak
Fokus tidak lagi ada
Hanya ada untaian kata berkelana memecah dinding rumah
Diam berbelas kata, mengingat apa yang terjadi
Notifikasi berbunyi menyadarkan gerangan
Ingin berlanjut, tapi pemikiran berkata
“Malam yang gelap, bukan untuk cahaya terang”


SUDAHKAH KAU MENDAPATKANNYA?

Kuputuskan untuk menggapainya
Mengikuti jejak mereka
Beberapa kali kuberjumpa, bertegur sapa, berdiskusi suatu hal
Tetap saja, gemetar, gejolak di dada selalu menghantui
Pintu menatapku dan berkata “Kau bisa menunggu”
Helaan nafas berkali-kali kuhembuskan
Berpikir akan apa yang kusampaikan, apakah akan sampai?
Masuk dan bertatap, memohon bisa selesai
Wah “Anda perlu mencobanya lagi”
Aku bisa apa? Jika rumput ingin bergoyang, tapi kutahan untuk memangkasnya
Aku bisa apa? Jika Tuhan berkata demikian


MAMA, BOLEH AKU MENANGIS?

Diam-diam aku ingin mengucapkan terima kasih
Diam-diam aku ingin berkata “Ma, maafkan aku yang selalu merepotkanmu”
Ma, aku ingin selalu berada disisimu
Memelukmu di setiap saat
Ma, aku ingin bercerita banyak hal
Menangis di pelukanmu
Maaf, aku belum bisa membahagiakanmu Ma
Maaf, aku masih bergantung padamu Ma
Aku juga ingin memberi kebahagiaan
Bukan meminta terus Ma
Maaf, kenapa aku hanya bisa berkata Maaf Ma?


LAMA TAK BERJUMPA

Cerita dulu memang berbeda dengan sekarang
Dulu, sulit ada dirimu yang menemani
Cerita bersamamu, tertawa bersamamu, diskusi hal lain bersamamu
Rasa rindu akan cerita pun siap menunggu di kala malam
Kau selalu tahu masalahku, dan aku selalu siap mendengar ceritamu
Apakah kau kangen masa-masa itu?
Masa di mana, berbagi adalah hal yang wajar
Masa di mana, masa bodoh ada dalam dirimu
Masa di mana, kau mengenalkanku pada dunia
Dunia yang aku sendiri bingung, apa ini
Apakah hanya aku yang punya pemikiran ini?
Apakah kau memiliki pikiran yang sama?
Berjumpa pun akan tidak seperti dulu
Suasana berbeda, ada yang berbeda, walau tidak terlihat, tapi perasaan dapat membacanya


 

TIRAI KEHIDUPAN

Dinding, penghalang dan pembatas ruangan
Pintu, pembuka dan jalan ke ruangan
Jendela, celah kosong tempat angin berlalu
Suara dentuman pintu, berkali-kali kudengar
Suara kunci pintu, berterusan kudengar
Ada yang keluar, ada yang masuk dan ada yang mengunci diri
Tak saling bertatap adalah hal biasa
Menutup rapat diri seperti tidak memiliki siapa-siapa
Hidup di mana? Tanpa siapa?
Sehelai rambut menjadi beribu berjatuhan di lantai
Tatapan kosong, menjurus ke permukaan
Menyisakan tanda tanya
Apa ini pembatas antara kita?
Atau ini hanya penghalangmu saja?


Perkenalkan nama saya Shella Gestika, saya sangat suka menulis puisi. Puisi itu seperti jiwa saya, saya dapat mengutarakan isi hati dari sebuah puisi. Saya merupakan mahasiswa jurusan ilmu komputer USU 2015. Menyukai anime boruto karena banyak pesan moral dari anime tersebut.
Untuk media sosial berikut nama media sosial saya:
•Instagram : @shelgest,
•Facebook : Shellagesti Ka,
•Twitter : @gestika_shella,
•Blog : blogshllo.blogspot.com

 

Facebook Comments