Aku mencoba berkonsentrasi. Deretan huruf di papan tulis serupa kalimat tanpa makna. Otakku tidak bisa mencerna sedikit pun. Entah kenapa.

Pikiranku berkelana. Ada sesuatu yang aneh sejak masuk ke sini. Sekolah ini terasa asing. Sebulan seharusnya waktu yang cukup untuk beradaptasi. Tapi tidak, setiap harinya aku merasa seperti baru berada di sini.

Aku merasakan bulu kudukku berdiri. Ketika berbalik, kudapati tatapan cowok itu masih seperti sebulan lalu saat kami bertemu.

Aku melirik cowok itu. Dan dia juga tetap menatapku. Seolah pelajaran yang diterangkan Pak Dede tidak membuatnya terusik.

“Adira,” tegur Pak Dede yang membuatku menoleh ke depan. Guru killer itu melayangkan mata tajamnya.

Aku bisa merasakan Via menatapku cemas. Aku menoleh ke samping, lalu tersenyum tipis. Meski senyum itu tidak kurasakan sama sekali.

“Sepertinya kamu tidak perlu mendengar pelajaran bapak lagi,” ujarnya dengan intonasi jengkel. Aku menunduk sungkan. “Bisa dijelaskan apa itu Reaksi fisi?” lanjutnya dengan muka garang.

Tentu saja aku tidak mendengarkan apa pun. Jadilah rangkaian kata yang menari di otak meluncur deras.

“Reaksi fisi yaitu reaksi pembelahan inti atom berat menjadi dua inti atom lain yang lebih ringan dengan disertai timbulnya energi yang sangat besar,” jawabku pelan. Tapi cukup untuk membuat raut Pak Dedi terkejut. Aku melirik sekitar. Mereka terperangah.

Mataku melirik ke belakang. Dua bangku di belakangku masih sama penghuninya. Dan, cowok itu lagi-lagi menatapku.

Bagaimana dia bisa tahu?

Pak Dedi belum menjelaskan sama sekali

Suara itu terngiang dan jelas sekali.

Bel berbunyi.

“Ke kantin yuk,” ajak Via sambil menepuk bahuku.

Aku tersadar. Lalu menggeleng pelan. Via tampaknya kecewa karena aku menolak ajakannya, lagi. Via mengenalku satu tahun yang lalu. Tapi aku tidak ingat sama sekali.

Aku ingin menjatuh kepala ke meja, tapi urung. Suara tuts piano membuatku menegak.  Ini bukan nada yang pernah kudengar. Tapi alunannya membuatku merasa damai.

Aku menoleh ke samping. Via masih berkutat dengan buku-bukunya. Sepertinya dia tidak mendengar apa pun

Alunan asing itu begitu jelas. Hingga rasanya berasal dari ruangan ini. Mataku mencari-cari, tapi tidak ada apa pun.

Nada-nadanya membuatku tenggelam. Hanyut dalam perasaan aneh yang tiba-tiba berdesir. Lagu itu menenggelamkanku. Kepalaku mendadak berputar.

Endless Love – Lionel Richie & Diana Ross

Suara itu entah berasal dari mana. Tetapi, aku bisa mendengarnya. Rasa asing dan familier menyatu di pikiranku. Dan, membuat hatiku sedikit terganggu.

“Ra… Kamu kenapa?” tanya Via sambil memegang bahuku.

Rasa tertusuk di kepalaku perlahan menghilang. Napasku tidak lagi terburu-buru. Aku bisa melihat Via sangat cemas.

“Aku beli minuman anget dulu ya,” ujarnya berlalu, setelah sebelumnya menepuk bahuku.

Aku memilih duduk sambil menunggu Via. Sebelum benar-benar duduk, mataku terarah ke belakang.

Kursi itu kosong

Aku tidak melihatnya keluar. Atau, dia keluar tanpa sepengetahuanku?

***

Jam menunjukkan pukul 06.30. Ini masih pagi memang. Kata Via, aku anak tunggal. Dan juga yatim piatu. Kenyataan itu menghantamku pada awalnya. Tapi seiring waktu berjalan, aku bisa menerimanya.

Ketika membuka pintu, seorang petugas perpus tengah berkutat dengan laptopnya. Aku masuk dengan hati-hati. Tidak ingin dia menyadari kehadiranku.

Mataku menyambar ke segala sisi. Deretan buku berjajar rapi, dan suasana nyaman langsung merasuk dalam hatiku.

Mataku terjatuh pada rak paling ujung. Tanpa bisa dijelaskan, rak itu menarik minatku dalam sekali lihat.

“Ara… Kamu ke mana aja?” pertanyaan itu sepertinya bukan untukku? Aku menggeleng. Memangnya siapa Ara?

“Ara,” kali ini suara itu berhasil membuatku mengalihkan pandang. Lalu meletakkan kembali buku yang hampir kusentuh.

Cowok itu. Dia, kenapa ada di sini?

Dahiku terlipat dalam. Dari jarak sedekat ini, aku bisa melihat wajahnya. Rambut cepaknya berwarna cokelat. Kontras dengan matanya yang tajam. Rasa yang aneh menjalar di seluruh tubuhku.

“Kamu manggil siapa?” tanyaku penasaran. Aku melihat sekeliling, tapi tidak ada siapa pun selain aku. Doa sama datarnya seperti kemarin. Dan kemarinnya lagi. Ah tidak, sejak aku pertama kali melihatnya.

Dia masih menatapku. Aku tersenyum canggung. Memilih berbalik dan segera melangkahkan kakiku.

“Kamu berubah,” ujarnya yang mampu membuatku berhenti. Lalu menatapnya bingung. Apa aku mengenalnya? Tentu saja tidak. Yang kutahu, dia hanya teman sekelasku.

Aku memegang kepalaku yang mulai berputar. Sakit sekali. Seperti ditusuk ribuan jarum. Aku bisa melihat, dia terlihat khawatir.

Aku menggeleng samar. Rasa sakit itu menghilang dengan sendirinya. Tapi kali ini, aku tidak menemukan apa pun tentang dia. Seperti halnya hatiku, aku tidak merasakan persetujuan atau penolakan.

“Kamu ingat aku?” tanyanya sambil menatapku penuh harap. Aku menciptakan keheningan sebelum menggeleng. Dia terlihat sangat kecewa.

“Maaf, aku nggak ingat Ken,” ujarku meminta maaf. Mataku membulat, seperti halnya Ken. Aku tidak tahu kenapa bisa tahu namanya.

Ken tersenyum tipis. Tapi cukup membuatku gugup. “Aku harus ke kelas,” ujarku setelah kesenyapan menelan dalam beberapa menit.

Ken tersenyum manis. Lalu mengacak rambutku tanpa sungkan. Dia berlalu setelah sebelumnya menatapku lama.

Hari itu, hatiku sangat bahagia.

***

Semingu berlalu. Dan anehnya, Ken tidak pernah berangkat ke sekolah. Bangkunya selalu kosong. Apa tejadi sesuatu padanya? Hatiku mulai khawatir.

Via sepertinya menyadari kediamanku. “Kamu nggak papa, Kan?”

Aku menggeleng. Bibirku yang semula terbuka, tertutup kembali. Tapi rasa penasaranku mengalahkan segalanya.

“Kamu lihat cowok yang duduk di sana? Dia kok nggak masuk?” tanyaku penasaran.

Via mengikuti arah yang kutunjuk, lalu matanya melebar sempurna. Dia menatapku lama.

“Kamu udah ingat?” tanya Via dengan roman bahagia.

“Ingat apa?” tanyaku berbalik. Sukses membuatnya tersenyum kecewa. Aku mencoba menggali ingatan di otak. Tapi aku tidak menemukan apa pun. Yang kurasakan hanya rasa pusing yang membuat perutku mual.

“Kamu bakalan ingat lagi kok. Tapi jangan dipaksa,” ujar Via sedih. Dia tersenyum lembut dan mengantarkanku pulang seperti biasanya.

Siluet di ujung lorong menbuatku terhenyak.

“Itu, Ken,” ujarku semangat.

Kerumunan murid yang berdesakan ingin pulang, menghalangi pandanganku. Aku berjalan cepat sambil menyeret Via. Sampai di ujung lorong, tidak ada Ken. Aku masih bingung. Mataku tidak mungkin salah lihat.

Via menatapku prihatin. Menyuruhku masuk mobil dan memberi arahan kepada sopirnya mengantarkanku sampai rumah. Dia tidak ikut. Via mengatakan akan mengunjungi sepupunya, anak dari Pak Hendra.

Aku mengenalnya sebagai teman ayah dulu. Dan, Pak Hendra yang selama ini membiayai kehidupanku. Begitu jawabnya saat aku membuka mata di rumah sakit dulu.

Aku ingin ikut. Tetapi Via melarangku dengan berbagai alasan. Akhirnya aku pasrah. Lebih karena otakku masih saja cemas, kenapa Ken tidak pernah masuk?

***

Via sedang ke kantor guru. Dan, aku memilih ke perpustakaan. Jaraknya memang sangat jauh dari kelas. Tetapi itu tidak menjadi masalah.

Suara tuts-tuts piano membuatku melayang. Alunan itu muncul kembali. Hampir seminggu aku tidak mendengarnya. Ragaku seolah sirna.  Suara gemeresik dedaunan, kicauan burung dan alunan piano itu menjadi satu. Berbaur dan menenggelamkanku tanpa bisa dicegah.

Langkahku terhenti. Alunan nada-nada indah itu semakin nyaring. Aku belum bisa mencerna kenapa bisa berada di perpustakaan sekarang. Dan, yang lebih penting lagi, kenapa ada suara senyaring ini dari perpustakaan?

Deretan rak yang kemarin kusentuh  terpampang di depan. Aku bisa melihat Ken, tengah duduk di padang luas. Banyak pepohonan rimbun yang berjejer tak beraturan. Ken duduk di sebuah bangku. Dilindungi pohon beringin besar, yang daunnya bisa disentuh dengan sekali loncat.

Ken mendongak. Tatapan lembut itu membuatku menghampirinya.

Alunan itu sangat nyaring. Itu berasal dari kotak musik di tangan Ken. Bentuknya persegi dengan ukiran-ukiran unik. Jika alunan musik berputar, sepasang kekasih akan berdansa. Diikuti merpati-merapi kecil yang terbang mengelilingi. Indah sekali.

Aku menikmati alunan itu. Membiarkan kesadaranku hilang sesaat. Alunan itu perlahan melambat. Detik-detik berlalu seiring dengan nada yang kian samar. Lalu lagu indah itu terhenti seketika.

Endless Love –

Lionel Richie & Diana Ross

Bisikan lembut itu membuatku membuka mata. Yang berada di hadapanku adalah Via. Dia menatapku khawatir.

“Aku kok di sini?” tanyaku sambil mengedarkan pandang. Kelas sudah ramai. Dan kulihat Bu Faya sedang melangkah ke mejanya. Kenyitan di kening Via menyadarkanku, itu semua mimpi.

Aku menoleh ke belakang, Ken sudah duduk di bangkunya. Dia melihatku dengan sorot yang sama. Tetapi terlihat lebih sedih dari sebelumnya. Dia melemparkan senyum kepadaku. Kubalas dengan senyum manis.

“Ra, kamu lihatin siapa sih?”

Aku masih menatap Ken. Menghiraukan pertanyaan Via yang sekarang tidak kuingat sama sekali.

Aku terlalu lega. Kini, aku tahu siapa yang selalu memutar nada indah itu. Dia, Ken.

***

“Kamu tahu lagu ini?” tanyaku penasaran.

Ken memandangku dengan mata elangnya. Dia lalu membuang muka. Memilih menatap kerumunan merpati di depan kami.

“Ini lagu kesukaanku,” jawabnya pelan. Aku setuju akan hal itu. Sebab, aku juga jatuh cinta ketika pertama kali mendengarnya.

“Alunannya indah,” ujarku tanpa sadar.

Ken tersenyum. “Ini lagu kesukaan dia,” ucapnya sambil menutup kotak musik itu. Mendadak, kerindangan yang kurasakan menghilang seketika.

“Siapa?” tanyaku dengan kening mengernyit.

“Pacarku,” jawabnya sambil menatapku lurus-lurus. Kata itu menghunusku. Aku bisa melihat kerinduan yang terpancar di matanya. Hal itu membuat kepalaku pusing sekali.

Ada seberkas ingatan yang menghantam otakku. Sekilas, aku bisa melihat bayangan kecelakaan. Aku melihat diriku sendiri terlempar ke tanah. Mobil yang kutumpangi menggelinding menuju jurang. Tubuhku penuh darah. Ada sebuah jaket yang menutup diriku. Aku yang pastinya hampir tak sadarkan diri, masih mencari-cari. Entah siapa.

Lalu seseorang datang. Tubuhnya lebih banyak mengeluarkan darah. Darah paling banyak keluar dari kepalanya. Orang itu menghampiri diriku. Lalu menggendongku dengan susah payah. Dari kejauhan, mobil itu mengeluarkan asap. Dan detik berikutnya meledak hebat.

Aku bersyukur dalam hati. Jika saja orang itu tidak menggendongku, aku pasti sudah terbakar bersama mobil itu.

“Ara… Kamu nggak papa?” tanya orang itu sambil menatapku khawatir. Darah yang keluar dari kepalanya bertambah deras. Aku meringis ngeri.

“Ken…”

Aku bisa melihat orang itu menatapku. Bukan diriku yang berdarah, tapi aku yang tengah berdiri menatap mereka berdua. Seulas senyum dari cowok itu membuat tubuhku bergetar.

Ken

“Bangun ra,” ujar Via sambil menggoyang-goyang bahuku. Dia menatapku cemas. “Kamu kenapa bisa di sini?”

Aku mengernyit. Kenapa aku duduk di bangku Ken?

“Di mana Ken?” tanya histeris. Via menatapku prihatin. Entah prihatin untuk apa.

Aku yakin, Ken tadi tengah berbicara padaku. Dua hari belakangan dia masuk  sekolah. Dan tadi, dia juga tengah mengobrol denganku. Aku tidak salah lihat. Apa dia keluar saat aku tertidur?

Aku melangkah keluar. Mencari-cari keberadaan cowok itu. Aku tidak peduli dengan tatapan murid lain yang menganggapku sinting.

Aku hanya ingin bertemu Ken. Aku ingin menanyakan sesuatu padanya. Semua kelas dari berbagai tingkatan, hingga ruang guru sudah kutelusuri, tetapi Ken tidak ada. Aku mendesah frustasi.

Hatiku hampir putus asa. Kutatap satu ruangan yang belum kucari. Perpustakaan terasa lenggang. Mungkin karena tidak ada murid yang berminat datang ketika jam pulang berbunyi.

Aku mendesah lega. Bisa kulihat Ken tengah tersenyum manis. Dia berdiri di tempat yang sama. Rak paling ujung itu seolah lenyap di mataku.

Aku tidak tahu kenapa merasa sangat rindu dengan Ken. Kerinduan yang menggebu-gebu hingga ingin memeluknya. Aku tahu, Ken juga merasakan hal yang sama.

Air mataku terjatuh tanpa bisa dicegah. Sebuah pelukan hangat membuatku melayang. Kelegaan langsung menyergapku tanpa kira.

“Aku kangen,” ujarku tanpa merasa malu. Pelukan ini membuaiku. Usapan lembut di kepala membuatku damai. Hingga semuanya terasa samar. Kehangatan itu mulai menghilang.

“Ra, ayo kita pulang,” ujar Via sambil menggandengku.

Aku melepaskannya. “Aku mau bicara sama, Ken,” tolakku sambil menunjuk ke belakang.

Ken tidak ada

Tidak, dia pergi lagi. Aku menahan rasa perih yang menghunus dada. Usapan lembut dari Via membuatku menatapnya nanar.

“Kamu mau ketemu, Ken?” tanyanya lembut. Via mendesah pelan.

Aku mengangguk. Aku ingin bertemu Ken! Sesegera mungkin!

***

Aku melihat tempat itu lagi. Kicauan burung seolah menyambut kedatanganku. Dedaunan yang mulai menguning. Semuanya sama. Hanya saja terasa lebih sepi karena Ken tidak di sana.

Dan, tidak ada lagu yang membuatku terhanyut. Keningku mengernyit. Baru tersadar bahwa aku berada di rumah sakit sekarang.

Via menggandengku menuju tangga terdekat. Tepat di depan bangku yang aku dan Ken duduki kemarin. Seingatku, tidak ada bangunan di sini.

Bangunan itu menelanku dalam kebingungan. Beberapa orang terduduk dengan mata mengantuk. Ada yang menangis. Dan, ada yang menatap kamar rawat dengan sedih. Kulihat Om Hendra duduk tak jauh dari tempat kami berdiri.

Via menggidikkan dagunya. Aku mengikuti arah yang ditunjuknya. Aku mengintip kamar itu dengan ragu.

Seseorang tengah terbaring di sana. Mataku melebar sempurna.

Kenapa Ken ada di sana! Apa yang terjadi!

“Dia koma sejak sebulan yang lalu, Ra,” ujar Via menjelaskan. Dia menahan bahuku.

Aku masih menggeleng tidak percaya. “Nggak! Kemarin Ken ketemu aku!” tegasku sambil menyingkirkan tangannya.

Via menatapku sambil mendesah pasrah. “Kalian punya mata ketiga. Kalian adalah anak indigo, Ra. Kamu dan Ken!” tegas Via.

Semuanya serupa benang tanpa ujung. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Indigo?

Via menuntunku untuk duduk. Tapi kutepis dan memilih berdiri di depan kamar Ken. Dia memang Ken. Berapa kali pun aku melihat, kenyataan itu tidak berubah.

“Kalian kecelakaan sewaktu pergi piknik. Kamu hilang ingatan, seperti yang kamu tahu. Dan, Ken koma.”

“Kenapa kamu nggak kasih tahu aku!” cercaku menyudutkan.

Via tampaknya merasa bersalah. Tapi amarahku lebih menguasai. “Kamu memang sembuh lebih cepat dari perkiraan Dokter. Dokter melarang kami untuk memaksa kamu mengingat atau memberikan informasi apa pun. Kamu harus ingat dengan sendirinya,” jawab Via pelan.

“Kenapa?” tanyaku histeris. Aku tidak peduli jika Om Hendra menatapku khawatir. Aku terlalu sibuk memegang kepalaku yang mulai berdenyut.

“Ini risikonya jika kamu memaksa.”

Aku menggeleng. “Ceritakan semuanya!”

Aku anak indigo. Begitu juga dengan Ken. Itulah alasan kenapa aku selalu menangkap pelajaran tanpa memperhatikan guru menerangkan. Itu juga alasan kenapa aku mendengar nada-nada indah itu, sementara orang lain tidak bisa. Dan itu pula, kenapa aku bisa melihat Ken. Alasanku sembuh cepat pun karena aku indigo.

“Kenapa Ken masih koma! Bukankah dia juga indigo?” tanyaku tidak terima. Aku menghirup napas dalam-dalam.

“Ken sudah sembuh. Tapi dia menolak untuk bangun,” ujar Via sambil mengusap punggungku.

Ken sudah sembuh. Tapi dia menolak bangun

Aku tidak tahu apa maksudnya. Jika ken sudah sembuh, seharusnya dia terbangun dan menemuiku. Seharusnya dia menceritakan segala hal tentang diriku. Tentang dirinya. Semisal, Via yang ternyata sepupunya, dan Om Hendra yang merupakan ayahnya. Dan aku yang ternyata pacarnya.

Aku tidak mengerti!

Kepalaku berputar cepat. Lebih cepat daripada waktu mendengar berbagai informasi itu dari Via. Ada yang menghantam diriku dan membuatku terjatuh.

Ketika aku membuka mata, taman itu terpampang di depanku. Aku tengah duduk di kursi yang sama. Nada-nada indah itu mengalun pelan. Tapi sanggup membuatku terjaga.

Aku mengedarkan pandang. Ken tengah tersenyum manis padaku. Tapi aku tidak lagi merasa bahagia sekarang. Ada beribu pertanyaan yang siap kulontarkan. Tetapi, Ken lebih dulu berujar.

“Kenapa?” tanyaku tercekat. Aku hampir menangis ketika menatapnya.

“Aku tidak bisa bangun ketika kamu tidak mengingatku, Ra,” ujarnya dengan mata nanar. Ada ketulusan yang membuatku benar-benar menangis.

Alasan yang konyol sekali. Aku tidak mengerti sama sekali.

“Aku nggak ngerti!” teriakku kesal.

Ken tertawa pelan. Tapi cukup membuatku jengkel dan ingin menjitaknya. “Kita berbeda dengan yang lain. Untuk itulah kita punya sarana komunikasi yang orang lain nggak punya. Itu cara agar bisa saling mengingat saat kita sama-sama lupa,” ujar Ken panjang.

Tetapi sebelum aku berujar apa pun, tubuhku seolah menghilang. Sebuah kesenyapan menelanku. Kesadaran menarikku dalam dunia nyata.

Aku berdiri di depan ranjang Ken. Dia sudah membuka matanya. Lalu tersenyum cerah kepadaku. Aku ingin mempertanyakan perkataan terakhirnya. Tapi dokter buru-buru masuk dan memeriksanya. Via dan Om Hendri ikut masuk setelah dokter mempersilakan.

Via memelukku berkali-kali. Seolah tidak percaya bahwa keajaiban ini akan datang. Aku masih mematung.

“Ara,” panggilnya pelan. Aku menyadari bahwa singkatan nama itu hanya Ken

yang mengucapkan.

Aku menatapnya dengan isyarat meminta penjelasan.

Dia tertawa kecil. “Jika aku bangun lebih dulu, mungkin, jalannya akan berbeda,” jawabnya lembut.

Aku hanya bisa menatanya bingung. Semuanya masih terasa mengejutkan di otakku.


Rissma Inarundzih lahir delapan belas tahun lalu. Hobi membaca di sela-sela kesibukan merajut asa. Bisa ditemui di akun fb: Rissma Inarundzih(Inar) atau email: rissma.inarundzih@gmail.com.

Facebook Comments