SEKANTONG BIJI ‘TUK MERPATI-MERPATI GEMUK

Adalah konglo menggepok selembar-selembar
Berbenah ria di minggu pagi nan cerah
Menguak jendela, mendorong pintu pelan-pelan
Menghirup udara segar, dalam-dalam

Mengusik sepi penjaga toko di emperan jalan
Menepis debu di antara telunjuk dan ibu jari
“Aku tak suka berada di sini”
Adalah sekantong biji
Adalah sereceh koin
Berpindah tangan

Adalah konglo dua tiga empat, berbaris di bibir jembatan
Di antara merpati-merpati gemuk
Yang bodoh
Kekenyangan
Egggh!
Ups.

Aku mematung perih sebilah bambu ngilu
Terbayang olehku…
Orang-orang yang mengorek tong sampah
Dengan buas dan beringas
Liar!


 

SESOBEK KAIN

Burung-burung punai mengabarkan kisah lara seorang gadis
Pengumpul damar yang dicegat oleh kawanan lanun
Lalu dihinakan tanpa rasa iba dilucuti kehormatannya lalu dibunuh lalu dibuang ke dasar jurang di sebelah utara hutan damar.

Burung-burung punai berlinang air mata
Burung-burung punai mengabarkan ini pada serigala yang bijak
Lalu mengendus bau sesobek kain terkoyak yang berlumuran darah yang entah darah luka atau darah perawan.
Dia tak sanggup menerka-nerka tragedi apa yang baru saja terjadi

Serigala bijak berlinang air mata
Serigala bijak membawa sesobek kain hingga di batas desa dimana orang biasa berlalu-lalang
Menunggu siapa yang akan melihatnya dan apa yang akan terjadi setelahnya. Seorang wanita tua menggamit sesobek kain yang sangkut di semak belukar. Mengamati lekat-lekat lalu menangis meraung-meraung.

Wanita tua berlinang air mata
Memeluk sesobek kain sambil berguling-guling

Orang-orang berlinang air mata
Penuh rasa iba dan geram

Kawanan lanun berlinang air mata
Sambil bernyanyi riang


 

RUMAH KAYU

Rerumputan bertanya penuh kepedihan
Pada tiang-tiang keropos yang berdiri kokoh
Memijak bumi. Tancapan tombak-tombak raksasa
Menjunjung langit. Menjunjung kabut
Sesekali ada kerlingan dari dinding bambu yang bergayutan
Rumah kayu itu tiada berpenghuni
Lagi
Penuh semak belukar berserakan
Menghangatkan tikus-tikus tanah dalam semusim
Sesayup yang ada hanya sepi
Mengusik rasa
?
Rumah kayu itu tiada seorang
Lagi
Diam
Kemana gerangan orang-orang itu?
Orang-orang yang mana?
Orang-orang yang dulu saling menarik jenggut pasal harta warisan
Orang-orang yang saling hunus badik pasal kehormatan tanah perbatasan
Orang-orang yang berlaga dalam simbahan darah menegaskan hak-hak semu
Orang-orang bakhil, jahil, yang merengut pada pusarnya sendiri
Orang-orang itu…
Oh, adakah orang-orang seperti itu…?
Adalah mereka sepanjang abad. Sepanjang matahari bersinar
Adalah mereka tampak dan lupa dengan peti malunya
Adalah mereka sebagai burung dari seberang pulau
Menebar kerusakan mengusik kedamaian
Selalu


 

TOPI BELUDRU

Lukisan itu bukan sekedar lukisan surealis
“Arpala” melukisnya langsung melihat objek
Waktu itu masih anak-anak betul
Baru tiba dari pertunjukan opera
Setelan perlente masih melekat

Dua bocah laki-laki yang saling berangkulan
Yang satunya putih pucat dengan rambut kuning keemasan
Satunya lagi sawo matang dengan rambut hitam berkilau
Dia tampak genit dan nelangsa dengan topi beludru di kepalanya

Masalahnya ada pada topi beludru itu
Topi berhiaskan jalinan jerami tulip dari kebun di bawah naungan kincir-kincir angin
Setumpuk kembang biru dan violet melekat di sana
Yang menebar aroma lavender dan dandelion hutan

Masalahnya ada pada topi beludru itu
Topi yang ada dalam lukisan yang dibuat 17 tahun silam
Topi bersisi lebar yang mungkin mengisahkan musim semi
Ya waktu itu memang musim semi
Aku ingat betul
Tak salah lagi

Masalahnya ada pada topi beludru itu
Sekarang topi itu sedang menutup erat kepalaku
Di tanganku sebuah tiket pesawat Garuda
Kuremas dalam kepala
Lalu meluruskannya
Dengan linangan air mata


 

GADIS KECIL DI JENDELA

Anak siapa yang duduk di jendela itu?
Di trotoar selaksa barang-barang jualan
Bagaikan manekin bisu, pucat dan lapar
Laksana pigura-pigura sedih

Pertanyaan menggantung yang jatuh dari langit
Memenuhi naungan sepasang sepatu kecil
Setumpuk bagaikan kado hari Natal
Pertanyaan buat si kecil yang berkuncir dua
Siapa gerangan merpati kurus itu
Gadis kecil di jendela menjawab dengan senyum pahit
“Aku gadis yang lahir dari kebahagiaan
Diinginkan laksana musafir mendamba air
Diharapkan bak doa sepanjang abad
Dipuja sebentuk cinta dan harga diri
Lalu dibuang…
Aku bukan pendosa
Namun tulang ekorku terpaku di bingkai jendela
Jangan acuhkan aku


 

BIARKAN MATAHARI-MATAHARI BERSINAR

Enyahlah mega mendung jauh di daratan mimpi
Terserah padamu menyertai kapal perompak Dewi Calypso
Menggoyang layar, mendeburkan pusaran air biru
Tertawakan riak keperakan dan malam yang berlari
Aku tak peduli dengan bukit berduri itu
Kubiarkan dia menyeruak dengan buasnya
Dengan liar

Saban hari kukenang elegi kemarin sore bersama sambaran koloni camar
Terserah padamu menggebuk kerak langit merah tua
Menabung gelombang demi gelombang, titik demi titik
Dan bintang-bintang kesepian
Cesss. Gelap ini masihkah gerangan merindukanku
Merindukan kala kita bergumam dalam sentuhan
Menghitung kawah-kawah bulan
Seiring napas beratmu
Mari kita tuntaskan cinta itu

Aku buka papa yang bermahakan kuasa
Hanya berharap cinta, kedamaian, dan cahaya
Ya, cahaya
Di sandal butut ini kutuliskan kata cabulku untuk pertamakali
“Biarkan matahari-matahari bersinar
Di sini…
Selamanya…”


 

SAYAP-SAYAP PATAH

Bila mimpi itu seperti membuat telur-telur di celah malam yang dingin
Di balik rimbunnya belukar dan genitnya sang rembulan
Sudah kubuat sesarang penuh
Bila mimpi itu seperti mengerami telur-telur di atas jalinan serat-serat jerami
Di bawah rindangnya juntai beringin dan hangatnya sang mentari
Sudah kuerami berabad lamanya
Bila mimpi itu seperti menangkap capung belalang dan ulat-ulat
Di antara rumput-rumput padang dan gulungan daun pisang
Sudah kutangkap semesta alam… hanya demi
Bila mimpi itu seperti menanti bulu kuning jadi putih
Tongkat rapuh jadi kokoh, sayap lembut jadi sepat, cericit pilu jadi gelegar, oooh…
Sudah kumainkan simfoni alam… haturkan hanya demi padanya…
Bila mimpi itu seperti terbang tinggi menggores langit memekik keras
Menyambar ganas mencengkeram buas, menoleh tajam, membusungkan dada
Mengoleng angkasa biru
Sudah kusimpan jejakku di awan. Tak lain…

Mimpi ini mimpi burung murai atau kenari
Entah, burung gagak…mungkin burung garuda
Sayangnya mimpi terkadang berjalan egois. Dia meninggalkan kita
Dan bagaimana bila…

Bila mimpi itu seperti kepakkan sia-sia
Kepakkan dari sayap-sayap patah
Yang berjuntai dengan bulu-bulu perak
Yang berkilau
Menyilaukan mata


Penulis bernama Ahcmad Ridwan Palili, anak ke-dua belas dari tiga belas bersaudara. Lahir di Maros pada tanggal 30 Maret 1998. Merupakan seorang mahasiswa Universitas Negeri Makassar dengan konsentrasi Pendidikan Bahasa Inggris. Mulai aktif menulis sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Tulisan-tulisan hasil karyanya berupa puisi, cerpen, essai dan sementara sedang berjuang untuk merampungkan novel pertamanya. Gemar membaca dan menggambar. Bercita-cita menjadi seorang perancang busana muslim dan seorang penulis sastra yang produktif dalam berkarya. Dapat dihubungi via Handphone/sWhatsApp 083892973672, Facebook Ahcmad Ridwan Palili, Fanpage Goresan Pena Ridwan Palili dan e-mail thekingdomofpalili13@gmail.com.

 

Facebook Comments