DI JENDELA

Di jendela
Dingin menghujam remuk tulang-tulangku
Jemari terpaut tepian kaca yang berdebu
Perlahan cahaya matahari terjerat dalam netraku

Di jendela
Kulihat kau mengukir senyum di antara embun
Suaramu bersenandung kecil mengusik kebekuan
Kau kah itu, sayangku?

Sungguh, aromamu telah sampai memelukku
Kedua tangan pun telah bersiap ikut membalutmu
Maaf, jika rinduku memaksamu datang sepagi ini
Kemarilah, manisku!

Di jendela pula
Kau pergi, bersama tiga ketukan pintu yang menyadarkan
Menyisakan aku dan sepasang burung gereja yang saling tatap
Tak membekas hadirmu, nyatanya kau tak pernah datang

Kepahiang, 24 Juli 2018


 

SURAT SENJA

Kutuliskan sepucuk surat pada senja yang sendirian
Beberapa jingganya menyusup dalam amplop untukmu itu

Di depannya, tersebut namamu sebagai tujuan
Pastikan kau menerimanya dengan utuh

Untaian kata sudah menjadi cerita tentang kita
Itu pun jika kau sedia bersamaku

Ayolah, manisku!

Aku telah di penghujung paragraf
Sedari tadi asyik merayumu yang bisu

Kepahiang, 24 Juli 2018


 

ORANG LAIN

Sempat kudekap seluruh warnamu
Dalam lamunan lembayung hari
Kala itu, kau terjatuh bersama gelap
Yang menenggelamkan seluruh harap

Biarlah resah, biarlah tersiksa
Debur ombak pun setuju
Tak perlu mengusik nyatamu
Atau menyentuh bayangmu lagi

Kini pelantaran hatiku telah usang
Cinta, kasih akan dirimu sia-sia
Sekelebat lewat di benakku
Getarmu mengisyaratkan orang lain

Kepahiang, 27 Juli 2018


 

AKSARA SECARIK KERTAS

Kemarilah, kita harus berkisah
Di atas meja kayu tua yang berdebu
Menghapus diri dari hingar bingar dunia
Barangkali segaris berharga, bila kukenang

Biar peluh dan pilu di kepala masing-masing
Tiada rupa lain, hanya kau dan aku saja
Berkertap di antara ruang-ruang hampa
Dihibur seruling angin merintih lirih, sepi

Kali ini, kubawa aku dan kau seutuhnya
Menambal luka di sinar rembulan tahun lalu
Semoga abadi, dalam aksara secarik kertas
Kutoreh indah ceritakan tentang cinta kasih
Meski direngkuh perih sepanjang hariku, kasih

Curup, 14 Februari 2018


 

SECANGKIR KOPI

Pagi terpuruk di cengkeraman langit
Tertahan jiwa pada beranda diri
Gigil getarkan geligiku
Sepi, tempias angin melambai jenuh

Kau tunjukkan bahasa mesra
Hangat menyapa hitam di antara hitam
Suka duka tumpah dalam cangkirmu
Menggugah semangat di dada

Aku suka rasamu yang jujur
Gula dan susu tak bisa menyembunyikan pahitmu
Tiada selain kau kawanku, sambutlah matahari pagi
Sementara banyak yang bersandiwara di luar sana

Kepahiang, 26 Juni 2018


 

HADIAH

Aku ingin yang terindah untukmu
Sesuatu dari langit dan bumi
Sederhana atau rumit sekalipun

Malam kubawa bulan, bintang serta cahayanya
Besok kukirimkan fajar dan seisi pagi
Sore kuhantar senja bersama hangatnya

Terimalah

Jangan kau keluhkan dingin dan sepi
Ataupun awan hitam di langit pagi

Sebab aku ada
Menaungimu dari kejauhan
Mendekapmu dalam senyum

Kepahiang, 27 Juni 2018


Penulis kelahiran Kepahiang, Bengkulu ini bernama Elisa Maharani. Tercatat sebagai mahasiswi S1 Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah di IAIN Curup. Email: elisamaharani01@gmail.com Fb : Elisa Maharani No. Telepon : 08992236317

Facebook Comments