“Kakak!” Panggil adikku. Zara. Saat aku pulang ke rumah.

Zara sedang memeluk bonekanya sambil menonton film kartun. Aneh memang. Ia sudah berada di usia dewasa, 22 tahun bukanlah seorang anak kecil lagi. Namun, tingkahnya seperti anak usia 12 tahun. Saat orang-orang seusianya lebih suka kopi, ia lebih memilih susu kotak rasa stroberi. Lihat saja di lemari es dipenuhi susu kotak kesukaannya itu. Ia suka bermain boneka, menonton film kartun, memilin-milin hordeng, merengek, menangis karena hal-hal sepele dan cara bicaranya benar-benar seperti anak kecil. Padahal, ia berprestasi, IP-nya bahkan selalu mendapat nilai yang hampir sempurna. Bahkan, ia sudah diterima kerja di sebuah perusahaan ternama sebelum ia lulus. Tapi terkadang emosinya sering berubah-ubah, seperti menangis untuk alasan yang tidak jelas. Aku takut ia mengalami gangguan psikologi. Jika ditanya mengapa ia bersikap seperti itu, ia selalu menjawab dengan jawaban yang sama.

“Karena aku habis berkunjung ke Never land!” ujarnya dengan ceria. Never land adalah tempat di mana anak-anak menolak untuk tumbuh dalam film Peter Pan. Namun, itu hanya dongeng, aku yakin adikku hanya berhalusinasi atau semacamnya.

Ketika aku menyarankannya untuk konsultasi pada psikolog, ia selalu menolak.

“Kakak pikir aku sakit jiwa?! Kakak pikir aku nggak normal?! Kakak pikir aku punya kelainan mental?! ” serunya sambil membanting pintu kamar berhias Doraemon.

Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Aku hanya ingin ia seperti orang seusianya, nonton ke Bioskop, mendaki gunung, hangout dengan temannya, melakukan hal-hal yang ia suka  selama masih berada dalam batasan. Aku tidak mau adikku tidak normal. Bagaimana pun aku harus terus berusaha agar ia dapat bersikap sewajarnya.

Pernah sekali, ia ketahuan oleh tetangga sedang bermain pasir di halaman rumah, lengkap dengan ember dan sekop mainannya. Lalu apa yang dikatakan oleh tetangga itu? Tetangga bilang adikku idiot. Aku menangis melihat hal itu di ambang pintu. Zara tidak idiot, ia adalah anak yang cerdas. Ia normal. Hanya saja punya kepribadian yang aneh.  Aku sangat menyayanginya karena kami hanya tinggal berdua di rumah. Aku memiliki usaha restoran kecil, sedang Zara kuliah sambil bekerja.

Setelah selesai berganti baju sepulang kerja tadi, aku menghampiri Zara di ruang tengah. Zara yang tadi sedang menonton kartun, kini beralih sedang memasukkan susu kotak ke dalam lemari es. Ia membeli sekardus lagi.

“Ra, skripsimu sudah?” tanyaku pelan.

“Oh, udah Kak tinggal nunggu sidang aja.” Jawabnya sambil tetap memasukkan susu kotaknya.

“Nanti anter Kakak check up ke rumah sakit ya” pintaku yang dianggukinya.

Kami pun pergi ke rumah sakit karena ini memang sudah jadwalku. Zara menunggu di luar ruangan.

“Ra, dokter bilang besok Kak Dina harus dirawat untuk mendapat perawatan lebih intensif.” Wajah Zara terlihat sendu, namun kembali ceria.

Nggak papa Kak, nanti aku temani.”

Di hari ketiga ketika aku dirawat, aku mengetahui fakta bahwa Zara tidak gila, Zara bukan idiot seperti yang mereka lihat, Zara sama sekali tidak mengalami gangguan mental. Zara normal. Zara hanya berpura-pura untuk alasan yang belum kuketahui. Ada beberapa alasan aku dapat menyimpulkan seperti itu. Pertama, ketika ia berbicara dengan dokter, ia berbicara dengan intonasi layaknya orang dewasa. Kedua, ketika ia mengobrol dengan teman-temannya di koridor rumah sakit saat akan menjengukku, ia bersikap sewajarnya, tak ada rengekan yang biasa ia lontarkan padaku, dan saat berkemas sebelum ke rumah sakit, boneka beruang yang biasa ia peluk, ia jauhi, seperti memang tidak ada minat untuk memainkannya. Kini aku tahu, ia hanya bersikap ‘tidak normal’ kepadaku saja. Yang jelas, ia telah berhasil membuatku khawatir.

Zara aneh. Aku tahu, namun aku menyayanginya.

Bosan. Itu yang aku rasakan ketika terbaring di rumah sakit, dengan jarum infus yang menancap di lenganku. Aku putuskan untuk keluar ruangan dan duduk di taman. Terlihat dari jauh Zara melambaikan tangannya sambil membawa sebuah kardus. Susu kotak lagi?! Huh, anak itu! Untuk apa membawa minuman itu ke rumah sakit. Tidak mungkin untuk bagi-bagi, Zara kan pelit.

“Kakak!” ia langsung duduk di sebelahku.

“Ngapain bawa itu ke rumah sakit? Mau jualan?” Ejekku.

Ia cengengesan, “Tadi ada promo di mini market depan, diskon 30% kan lumayan kak untuk persediaan. Hehe.”

“Zara…” Nada bicaraku mulai serius.

Ia menatapku heran.

“Berhenti berpura-pura.” Ucapku pelan.  Ia menatapku lama, ia mengerti ke mana arah pembicaraan kami. Hening beberapa saat. Zara menatapku sambil tersenyum dengan senyuman yang tidak bisa aku artikan. Yang jelas itu bukan senyuman Zara yang biasa ketika sedang bersamaku.

“Aku hanya ingin tetap menjadi adik kecil kakak.” Intonasi bicaranya mulai berubah. Ada kesedihan di matanya.

“Untuk apa?! Waktu berjalan maju Ra, jika kamu terus berharap memundurkan waktu padahal kamu nggak bisa, kamu akan kehilangan waktu itu di mana seharusnya kamu menjalaninya bukan sibuk mendorongnya mundur.” Jelasku.

“Banyak masalah yang dialami orang dewasa, dan sedikit masalah yang dialami anak kecil Kak. Apalagi dengan menjadi anak kecil, aku kan bisa terus jadi adik kecil Kakak. Selalu jagain Kakak” Ucapnya tersenyum miris.

“Ubah asumsi kamu. Setiap orang punya masalahnya masing-masing. Tidak tergantung usia, tapi  bagaimana cara mereka mengatasi masalah tersebut dan lagi pula jika kamu terus bersikap layaknya anak-anak, justru kamu yang harus Kakak jagain.”

”Apa salahnya sih Kak? aku cuma mau jadi adik kecil Kakak yang selalu jagain Kakak, selalu di samping Kakak, selalu ngasih senyum cerianya buat Kakak, karena selama ini Kakak punya Leu..”

“Leukemia.” Aku mempertegas kata itu. Kulihat mata Zara mulai berkaca-kaca.

“Kamu pikir kakak tidak bahagia sehingga butuh senyum ceria kamu, tingkah konyol kamu yang telah buat Kakak khawatir?  Atau kamu beranggapan Kakak lemah?! Sehingga harus selalu kamu jagain?! Orang lemah nggak selalu lemah Ra. Kakak nggak selemah yang kamu bayangin, kamu lihat! Kakak punya usaha Resto untuk memenuhi kebutuhan kita, kakak masih kuat dan mampu! Kamu lihat kakak sekarang! Kakak masih bertahan dengan penyakit ini juga karena kakak nggak lemah seperti yang kamu bayangkan. Orang lemah nggak selalu lemah dan orang kuat nggak selalu kuat. Ubah jalan pikiran kamu.” Ucapku sedikit merendahkan suaraku di kalimat terakhir.

Zara mulai terisak.

“Kamu nggak seharusnya bersikap seperti ini Zara! Kamu masih punya masa depan, suatu saat kamu akan sukses dan…suatu saat kamu akan punya pendamping. Bukan terus-menerus jagain kakak. Bersikaplah sewajarnya saja jika kamu ingin jagain Kakak.”

Zara menangis.

“Aku nggak mau ninggalin Kakak.”

“Kamu nggak mau ninggalin Kakak atau kamu nggak mau Kakak tinggalin?”

Tangisan Zara semakin kencang, hingga beberapa orang menegurnya karena ini masih di lingkungan rumah sakit.

“Zara udah! Kamu bukan anak kecil lagi!” ujarku sedikit membentak walau pun pelan.

“Zara dengerin Kakak, mulai berubah ya? Jadi dirimu sendiri seperti saat kamu bersama teman-temanmu. Jika kamu terus berusaha agar menjadi anak kecil lagi, padahal kenyataannya tidak, lalu apa jadinya jika kamu menyadari hal itu di usia yang tidak lagi muda. Kamu-bukan-anak-kecil. Menyesal karena begitu banyak waktu yang kamu lewatkan.”

Zara mengangguk, kemudian ia bertanya, “Usia yang tak lagi muda? Maksudnya tua?”

“Ya… bisa dibilang begitu.”

“Ngomong-ngomong soal tua, aku masih muda loh kak, 22 tahun. Kakak… 8 tahun lebih tua dari aku. Jadi kakak juga harus sadar, Kakak yang sudah tua.”

Jleb!

Tua. Tua. Tua. Kata-kata Zara terngiang di kepalaku.

Kata-katamu itu menusuk Dek.


Ati Rahmiati. Lahir di Cirebon, 20 tahun silam. Sekarang sedang menempuh pendidikan di IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Bisa dihubungi melalui IG : atirahmiati FB : atirahmiati_mia E-mail : atirahmiati.ipa3.2015.2016@gmail.com

 

Facebook Comments