LANTUNAN PUISI INI MALAM

Angin ingin mengajakku menyembah rindu
Bulan ingin menyandingku dengan matahari
Bintang ingin memelukku seperti bidadari

Karena mereka tau yang tercipta bukan sekedar dihina
Melainkan mereka ada karena sebuah karunia

Titip salamku pada manusia yang selalu kecewa
Pada kejam dunia namun masih menyayanginya


 

LETAKMU DIKEDIAMAN
Malam temaram seperti biasa melumat bibirku
Agar aku dapat menelan pahitnya sebuah rindu
Rindu yang tak biasanya dapat digelitik para babu
Dan tak menghardik para yatim piatu

Namun aku mengadu pada langit kamarku yang biru
Kekasihku seperti apa yang bisa melumat dan menelan rindu?

Aku tak bermaksut menikam sebuah perasaan cinta padamu wahai Tuhan
Aku hanya menguliti diriku yang terdiam dan menikam perasaan
Dari ciptaanmu yang tak kunjung meredam nasib dalam kesunyian
Dia tidak mengetahui perihal jalan yang berkelok di perempatan
Hanya tau perihal makanan yang akan disiram dengan kata kediaman


 

SAJAK TIKAMAN

Aku di sini Bang,
Di antara bintang yang penyayang,
Dan di baris bulan yang benderang

Maaf kata cinta sudah tertelan dengan kebohongan
Namun kata rindu masih terpancar dengan kejujuran
Dan kata sayang pastinya terlihat dari tindakan

Kau mengerti bukan?
Jika kau tak mengerti akan kubuang sebuah harapan


 

PEJAMKAN MATAMU!

Sejenak saja
Pejamkan matamu!
Yang telah menganga dengan percintaanmu

Aku tak menahu perihal siapa saja
Dan takku ingat waktu yang melilit rasa

Pejamkan saja!
Aku tak akan melukaimu
Namun akan kuberikan mata hatiku untukmu

Maka pejamkan matamu!

Izinkan rinduku menyelusup pikiranmu
Izinkan mataku melihat senyum terbaikmu

Segera beritakan jika kau sudah merasakan
Agar sujud syukurku tak berkeliaran
Teruntuk padamu sang pujaan


 

BIDIK ITU MELESET
Kala itu bias senja masih menyapa
Pada diri yang penuh dosa
Hingga pohon meranggaskan daunnya
Kudapati pesan botol ke-3
syarifah memang untuk sayye’
bergemuruh hati acuh tak acuh

aku tidak ingin berarung jeram lagi
sudah kudapati hartaku tuk Guzhu
yang hasilnya tak kembali
pada diriku yang memburu
hatiku masih meletup-letup
sebab yang kudamba
tersurut dalam makna

siapa sangka kini bidik itu meleset
mataku membelalak ke sajak kata


Assalamu’alaikum wr wb
Penulis bernama Shollina. Lahir di Pringgabaya, Lombok Timur NTB. Sedang menempuh pendidikan di Universitas Hamzanwadi Selong dengan jurusan S1 Pendidikan Ekonomi. Bisa bertegur sapa melalui sosmed FB Sholli Wasallim. HP. 087830403571
Wassalamu’alaikum wr wb

Facebook Comments