KURSI, WAJAH ILALANG DAN SEPOTONG MALAM

Di taman pagi, di ujung kursi panjang, aku mendekapkan wajah pada daun-daun dan embun pagi. Aku ingin mengenang disetiap wajah orang-orang yang tak kukenal sambil berlalu, hingga lipatan-lipatan pada bajuku mulai membentuk sebagian ingatan yang terpotong. Walau sepenuhnya adalah ingatan di waktu kau mati.

Aku seperti sepotong kue malam yang tak habis dimakanmu. Aku seperti pekerjaan-pekerjaan yang tak pernah selesai sedangkan setiap detik adalah pembatasnya. Aku seperti penghabisan bagimu disetiap dusta. Kau?


 

PERNYATAAN YANG TIDAK (DAN MUNGKIN) SEHARUSNYA KUSAMPAIKAN.

Aku menemukanmu disetiap kalimat yang orang lain bicarakan. Terselip rapi dalam buku hijau yang seharusnya tak terlalu berarti.

Jika

ada buku yang datang dan beralamat ke rumahku, kau harus membawanya ke pedalaman ilalang kepalaku. Otakku takkan mencoba untuk menyakitimu. Kali itu saja.

Jika

perkalian yang kau hitung hasilnya adalah satu, kuharap kau menggantinya dengan lima atau yang lainnya. Satu terlalu padam untuk menyatakan perkataan yang tersimpan.

Jika

saja musim ini adalah buku, aku akan mencoba untuk mengembalikan diri pada kenangan yang kita lewatkan.

Jika

kau pergi dan tak kembali, kuharap kau hidup dalam kebohongan. Itu mungkin lebih baik agar kenangan tak perlu bertanya bagaimana kabarmu hari ini.

Jika

aku tak pernah mencoba apa yang kucoba, malam ini mungkin kau akan sembahyang pada tulisan dan puisi yang tidak seharusnya kau simpan.

Jika

aku mati, setidaknya puisiku masih bisa menyapamu di setiap pagi.


 

PERIHAL-PERIHAL WANITA MALAM

Kau tuangkan padaku secangkir kisah malam saat aku lupa bagaimana pagi akan menyambutku dalam remang-remang. Singkirkan senyum lautmu agar aku lebih mudah untuk bicara waktu-waktu saat perempuan yang lain datang dan bertanya padaku.

“aku, gumpalan kertas dan surat senyum”

Kaukah yang membelaku waktu itu?

Alasan mengapa pagi penuh dengan kunang-kunang saat kesunyian menyapa lewat seluk-beluk keraguan –aku selalu mencintai keraguan. Beberapa hal yang kau lakukan adalah alasan waktu berhenti menyapaku. Bertanya, melupakan dan kesendirian.


 

DUA LANGKAH YANG MENJADIKANKU MANUSIA

/1/

Pencarian paling sulit adalah bertanya tentang tangan dan malam. Jika dia balik bertanya padamu, katakanlah bahwa cinta tak pernah datang pada perihal yang lebih sulit.

Sekarang duduk dan bertanyalah pada laut malam. Katakan bagaimana mereka melupakan cinta dan rindu. Jika mereka menjawab langit dan kesendirian, ambil dan berikan kesengsaraan pada perihal yang lebih mudah.

 

/2/

Bersembunyi pada celah sepatumu adalah tugasku di pagi hari. Merayakan kebahagiaan duka adalah saatku bersamamu.

Jika ada yang datang dan bertanya kesendirian padamu, berputarlah dan cari kesendirian yang lebih daripada kesedihan.


 

KETIKA TUHAN TERTIDUR

Kemarin aku menggulung langit. Lalu bintang berjatuhan dan membentuk semesta dalam kopiku. Berputar dalam aliran waktu. Menyaring rasa rindu diantara waktu pagi. Membutakan hati dan –kehilangan. Selalu.

Aku tak pernah ditemukan, karena aku tak pernah bersembunyi. Tapi pada saat malam kau datang, aku mencoba untuk bersuara dalam air, dan –kau membawaku ke dalam tarian api malam.  Membakar semua puisiku. Aku kembali pada renggang pelukan –kehilangan. Selalu.

Kamus siang ini adalah kau meninggalkan buku di langit saat kau mencari. Diri yang kau tempati mencoba untuk bertarung diantara rasa penyesalan dan –kehilangan menggeliat dalam sungai air mata dan danau di hidungmu. Aku merindukan keraguan. Dia mencoba untuk membunuhmu di hari ketiga. Aku tetap pada penyesalan –kehilangan.

Di hari ke empat puluh kau mati, mereka bertanya tentang dosa dan doa. Kau hanya mencari. Sedangkan menemukan adalah kau yang cari. Semua orang kini bicara pada air dan batu. Menebang kesunyian dan hidup diatas pengorbanan. Mereka –kehilangan. Kau hanya –menghilangkan. Aku. Terus mencari.


Ainun Najib,seorang pelajar semester ketiga di SMA Negeri 11 Unggulan Pinrang, Sulawesi Selatan. Penulis pernah diundang untuk mengikuti kegiatan Temu Penyair Asia Tenggara di Padang, Sumatera Barat atas Puisinya yang lolos seleksi. Beberapa karayanya juga pernah dibukukkan dalam buku antologi Puisi dan beberapa media. Menulis Puisi, Essay , Cerpen dan Karya Tulis Ilmiah.

Facebook: Najib Hirata

Instagram: nbtrash

Email: najibexcel11@gmail.com

No Telepon: 08999179558

“Thinking is difficult, that is why most people judge”

Carl Jung

 

 

Facebook Comments