BROKEN HOME

Buah hati kecil pilu sendirian
Ingin berdiri namun dalam keruntuhan
Ia bingung mana sandaran, Mana pelukan
Dimana buah hati bisa rasakan?
Ingin rasanya ia terpejam agar tak melihat percekcokan
Juga meletakan telinga, agar tak ada tangis setelah mendengarnya
Atau mungkin
Ingin serahkan raga agar tak merasakannya
Lihatlah buah hatimu yang malang
Ia butuh kasih sayang
Ia juga ingin tumbuh dengan tenang
Seperti kebanyakan orang
Jika nanti temanya bercerita
Tentang hangatnya keluarga
Maka ia hanya bisa mendongeng
legenda keluarga bahagia


 

HUJAN DI KALA SENJA

Aku pernah di sini dengan hujan di kala senja
Merasakan hangatnya secangkir kopi di gelas tua
Berpadu suara tawa
Engkau pernah di sini dengan hujan di kala senja
Hadir sebagai insan penuh cinta
Menghadirkan ceria bagi mereka yang terluka
Kau dan aku pernah di sini dengan hujan di kala senja
Sibuk bercerita
Seakan dunia milik kita berdua
Kita pernah disini dengan hujan di kala senja
Asik bercanda
hingga tersadar tengah malam tiba
kembaliku disini dengan hujan dikala senja
tanpa tawa, canda juga ribuan cerita
hanya ada tetes air dari mata
hanya ada sisa kenangan kita
hanya ada kata
seandainya kau masih ada


 

RINDU

Rindu menginginkan kau kembali
Kembali membawa rasa yang berlalu pergi
Bahkan rindu ingin lagi merasakan
pahitnya kopi berlatar senyuman manismu
atau indahnya senja yang bersatu dengan paras ayumu
Rindu selalu berhasil mengalihkan semua pikiranku
Dengan rindu aku tak berhenti berkhayal tentangmu
Jika kau masih di sini menemani setiap langkahku
Namun khayalan manis tentangmu seketika berlalu
Terganti linangan air mata
Mengingat hanya pahitnya kopi juga senja yang menemani
Namun tidak disertai kedatanganmu
Kini rindu telah berada di denyut nadiku
Setiap denyut memanggil namamu
Ketika nanti aku sudah tak merindukanmu
Saat itu pula sudah tak ada denyut dalam nadiku


 

KOTA RANTAU

Jauh jauh perantauan kutelusuri
Berbekal doa dan keridhoan orang tua
Menyelusuri jalan demi jalan kota yang asing dimata
Mencoba menemukan hal baru dengan penuh tanda tanya
Bertemu orang-orang baru yang sulit batinku cerna
Tanpa ayah, bunda dan saudara aku berani untuk lebih dewasa
Walau kadang mulut ingin berteriak aku ingin pulang
Tetapi hati selalu mengajukan pertanyaan” apakah kau ingin pulang dengan tangan kosong?”
Lelah, tangan memerah dan kaki berlumuran tanah
Tak menjadi halanganku untuk tetap mengangkat seember bata yang nantinya membentuk sebuah bangunan
Tak ada yang bisa menghilangkan kepenatan disini
Selain….
Nikmatnya secangkir kopi yang lidahku idolakan sambil berimajinasi di atas gedung sambil menyaksikan senja menghilang
Seandainya senja adalah manusia mungkin dia akan mengerti begitu banyak beban yang aku pikul sendiri
Begitu banyak cerita duka aku lalui dengan tawa namun mata tetap ingin mengeluarkan air mata


 

HASIL MERINDU

Biar aku tangkis sang waktu
Biar aku hasut kilometer jarak
Agar tak bisa menciptakan rinduku padamu
Mau apa aku dengan kebekuan rindu
Diam diri dalam dinginnya hasrat temu
Ataukah menciptakan kalbu mimpi
Untuk bayang semu
Ah tak tau…
Di mana lagi kuletakan rindu
Dalam pikiran, hati atau kubiarkan terhanyut ombak masa lalu
tak ada pihak yang mau menawarkan rindu
Selain sosokmu
Tunggu, tunggu, tunggu kata hatiku
sudahlah lama kau menunggu apakah masih mampu? ujar logikaku
Entahlah mana yang kumau
Logikaku ? hatiku ? Bukan itu, tetapi kabarmu
Tak terdengar lagi kabarmu dari ujung kota rantau
Hanya ribuan pertanyaan terulang “kapan pulang sayang?”
Masihkah kau simpan namaku dalam saku hidupmu
Atau kau buang dan tergantikan pujaan baru
Husst.. rindu berhasil memudarkan kepercayaan
Mengikis ketenangan, menumbuhkan kecurigaan
Ataukah rindu memang benar Cintaku akan berganti penderitaan
Menghadirkan kekecewaan dan berujung kesengsaraan
Sungguh rindu membingungkan…


 

CORETAN CANTING TUA

Coret demi coret canting tua tak berwarna….
Digayungnya lelehan lilin tak berdaya…
Mulai ternodai kain mori putih tak berdosa..
Noda demi noda canting tua torehkan…
Kawung, Ceplok, Parang bentukan hasil karyanya..
Jogja, Cirebon, Solo tempat canting tua bersinggasana…
Dari sabang Merauke hingga mancanegara mengenalnya
Penjabat hingga rakyat jelata berhak memakai coretannya
Mungkin kini canting tua terganti kuas berwarna
Bahkan generasi muda bingung menggunakannya
Untuk kesekiankali tak ada rasa dosa meninggalkan budaya
Hingga budaya negeri orang yang dibawa
Kini canting tua hanya tinggal cerita
Yang terdengar dari mulut nenek moyangnya
Canting tua memberimu pelajaran berharga
Jika Tua bukan berarti tak lagi berguna


Rizki Andini Ayuwantari adalah pelajar Jurusan Teknik Audio Video di SMK N 3 Semarang. Aktif di beberapa organisasi sekolah Jurnalistik, Osis dan PMR (Palang Merah Remaja). Saat ini diamanahi sebagi Ketua Organisasi Jurnalistik di SMK N 3 Semarang periode 2017/2018. Pernah menjadi pimpinan redaksi Buletin Kreasi edisi 1 dan pernah berpartisipasi dalam penerbitan Buletin Gemilang edisi 1.

Facebook Comments