Aku berhenti dititik terakhir menghibur diri. Setahun kepergiannya serasa matahari baru terbit sejam yang lalu. Sinar surya yang kurekam hilang begitu saja dijemput oleh senja. Entah bagaimana memori tentangnya melekat erat pada nalarku. Aku ingin mengejar ke mana ia pergi, hanya saja mengikutinya pergi tak sesederhana bayanganku. Semua hal tampak berbeda. Bahkan termasuk senja yang selalu kunikmati sendunya. Dulu terasa begitu menenangkan, sekarang sukses untuk menyesakkan.

Petang kali ini surya menenggelamkan lagi dirinya di punduk awan. Aku mulai mengutuki langit gelap untuk ke sekian kali. Malam-malam yang berteman dengan mimpi buruk berhasil membuat kantung mataku menggelap. Seketika kuharapkan otakku mengalami pendarahan saja dan lupa semuanya.

Sudah hampir setahun melangkah jauh dari pekerjaanku. Masih ada saja yang menanyai alasannya. Tatapan tajam manusia masih saja menyileti hatiku. Kata-kata pun sanggup membunuh segala semangat yang pernah membuncah dalam diriku untuk hidup sebagai perawat gawat darurat. Aku berhenti bukan karena mereka, tetapi mungkin memang karenaku.

***

Sudah bertahun-tahun mereka bercerai. Jangan tanyakan rasa benciku dulunya sebesar apa. Bahkan berjuta tetes air yang memukuli, batu di hatiku tidak berubah sama sekali. Mengikis sedikit pun itu hanyalah keajaiban. Sementara 10 tahun itu aku lupa wujud keajaiban karena termakan panasnya hati.

Aku tahu ia pernah menghabiskan seribu senja hanya untuk menanti. Memupuk semua permohonan maafnya. Hanya saja langit mengikat kakiku untuk bisa mendekat atau bahkan meluluhkan hati

Malam itu aku berdua bersama ibu. Pandangannya masih kosong, tak mengenaliku sama sekali. Dari bilik ruangan departemen kejiwaan aku memandanginya dari jauh. Ia dengan piama yang sama setiap harinya dan aku masih berselimut seragam UGD. Rumah sakit ini lebih dari cara rumah menghangatkanku. Aku sudah lupa rumah itu senyaman apa.

Kudapati handphoneku berbunyi lagi. Nomor bapak yang tidak pernah bisa kuhapus berdering kelima kalinya di hari ini. Aku melepas baterai benda ini dan menenggelamkannya sampai ke bagian terdalam saku celana. Tak lama telepon di nurse station berbunyi. Aku menarik gagangnya menyadari tak ada perawat jiwa yang berjaga. Seketika suara dari seberang, membuat jantungku memompa tiga kali lipat. Kakiku gemetaran. Tetapi pengontrol di kepalaku menginginkan ia berlari sekencang kilat.

Koridor rumah sakit kering bak gurun pasir. Mengeringkan harapanku untuk bisa bertahan hidup. Lampunya terang. Pandanganku tetap kabur. Pintu otomatis UGD seolah membelah semua semangatku.

Kulihat beberapa manusia seumuranku mengerumuni brankar. Wanita berambut ikal yang membuat ibuku menginap di sini juga hadir. Kali ini langkahku jadi terseok. Kulihat dokter mulai menginkubasi dan tirai ditutup. Aku menyelip ke dalam dan mematung sejenak.

“Kamu ke mana aja… Ditelpon juga ga bisa!”

Flat-“ seorang rekan seperti meneriakiku dengan hasil rekaman jantung itu.

Rasanya baru disengat listrik. Sakitnya membuatku menaiki brankar, memosisikan lutut tepat di sebelah kanan pria paruh baya ini. Kutekan dadanya berharap ia kesakitan. Kedua jemariku bertumpu di atas jantungnya yang tak ingin lagi bekerja. Aku bahkan meninjunya berharap ia kaget dan mengaliri kembali pembuluh darah bapak.

“Kayla!!!” Kudengar beberapa macam suara merasuki gendang telingaku. Aku tak berhenti. Bahkan meminta obat pemacu jantung disuntikkan kesekian kalinya ke selang di tangan bapak. Kutahu mereka bahkan tetap memasukkannya karena melihat kegilaanku saja. Kenyataannya itu hanyalah kemustahilan. Pupil matanya melebar, tubuhnya dingin dan kaku. Tetes keringatku berayun-ayun menjatuhi raut wajah yang sangat lama tak kulihat lagi. Dokter menggenggam pergelanganku yang masih melakukan resusitasi jantung seolah berkata aku harus tetap tegar.

Beberapa menit berlalu dan bendungan air di lensa mataku sudah ingin meledak. Kutendang roda brankar lalu melebarkan jarak menjauhi keluarga baru bapak. Mereka yang tidak pernah kuterima lebih dari cara mereka menolakku. Kutahu sudut mata yang memandangiku seolah berkata, aku sudah membunuh pencari nafkah mereka.

Sudut ruangan UGD hening usai mayatnya dibawa. Lama kuhabiskan air mataku di pundak ibu. Serasa ada yang pergi dari kebencianku. Entah apakah ini namanya kehilangan tapi tidak memiliki atau memiliki sesuatu yang hilang. Kali pertama ibu memelukku lagi seolah mengartikan ia tahu bapak sudah lama mengalami gagal jantung.

“Ibu kumohon jangan tinggalkan aku juga…” itu saja yang kuminta sampai jam dinasku berakhir dan pergi ke penguburan bapak.

***

Aku menikmati senja tersepi dari lantai 10. Tergeletak lemas di atas kasur yang dulunya tempat ibu menatap keluar jendela. Katamu senja tidak pernah sesepi ini, Bu… Sampai suatu hari hatimu dihujam pisau berkali-kali karena keluarga baru bapak. Mungkin tusukan itu membuat jiwa ibu terguncang bertahun-tahun. Alasan terakhir yang ingin kutanam di hatiku hanyalah; kematian membuatnya lebih baik. Berpura-pura lupa dengan bekas lilitan di lehernya.

Seseorang berkata, tenanglah pada akhirnya hati juga akan sembuh dengan sendirinya. Dia bisa membalut lukanya dan menumbuhkan sel-sel baru untuk memulai hal yang baik. Kamu jangan memaksa waktu mendahuluinya atau ia mendahului waktu. Semua memang ada masanya. Kesakitan, kebahagiaan punya porsi masing-masing dalam hidup.

Walau pada faktanya setiap malam berlalu, masih saja ada yang meremas diriku sampai menyusut dan diinjak oleh kesalahan yang tidak akan terbayarkan. Tak melakukan apa-apa untuk memahami permohonan maaf bapak. Dan tak melakukan apa-apa saat keluarga yang kubenci adalah ternyata keluarga kandungku. Sudahlah… suatu hari ini pasti akan berlalu.


“Dian Mangedong, anak 1993. Suka buku, suka nulis, suka kata, dan suka kamu.”

Ig/Twitter        : @dianmangedong

 

 

 

 

Facebook Comments