“Kamu bodoh!” teriaknya. Membuat siswa dan siswi yang sedang berjalan berlalu lalang berhenti untuk menatap kami.

Aku berbalik menemuinya kembali. “Apa kamu bilang!” seruku marah.

“Kamu b-o-d-o-h!” ucapnya dengan sengaja memperlambat intonasi di kata terakhir. “Kamu itu sudah diperalat sama Dhana untuk dijadikan pacar! Kau berikan dia uang! Segalanya yang kau punya! Tanpa memikirkan efek selanjutnya!” kata Alterio, sahabat sejak aku masih kecil. Kami dari TK sampai SMP selalu satu kelas. Bosan rasanya! Untungnya di SMA Garda kami berbeda kelas. Aku XII MIA 3 dan Al –panggilanku padanya- XII IIS 5. Aku dan Al jarang sekali berselisih paham. Kami selalu akur. Tapi entah mengapa, akhir-akhir ini ia mulai sering mengusikku. Salah satunya dengan kejadian hari ini.

“Aku benci kamu!”

Plak! Tanganku sukses mendarat di pipi kanan Al. Matanya membulat kaget tak percaya atas tindakanku terhadapnya. Ia mengelus pipinya perlahan, lalu berjalan mendekatiku. Suasana sekarang makin riuh. Aku menjadi gelisah karena kami berdua menjadi tontonan.

“Kalau ada apa-apa jangan pernah mencariku lagi. Anggap kita tak pernah saling mengenal satu sama lain, Sandya,” bisiknya tepat di telingaku.

Kemudian Al bergegas pergi. Punggung besarnya menghilang ketika ia berbelok ke arah koridor kelas. Entah mengapa rasa bersalah tiba-tiba menghantuiku. Mataku terasa panas, buru-buru aku berlari ke arah toilet. Tak peduli akan tatapan para siswa dan siswi yang memperhatikanku.

Di dalam toilet, aku menangis sejadi-jadinya memandang kedua tanganku. Kejadian saat aku menampar Al yang disaksikan orang banyak terngiang-ngiang di kepala.

“Apa yang telah kau lakukan, Sandya,” aku berbicara sendiri menatap cermin yang ada di toilet.

Tak lama kemudian bel masuk berbunyi, dengan gerakan secepat kilat aku membasuh wajahku dengan air untuk menyamarkan tanda yang membekas di mata saat aku menangis tadi. Lalu beranjak pergi ke kelas.

***

“Berdoa selesai! Ucapkan salam!” perintah Alan, ketua kelas XII IIS 5 ketika jam belajar telah usai.

Pak Andi, guru Bahasa Indonesia yang telah selesai mengajar di kelasku pun berjalan keluar. Diikuti para siswa dan siswinya.

“San! Kamu gak mau pulang?” tanya Andien, teman sebangkuku.

Aku menggeleng. “Duluan aja.”

Saat teman-temanku beranjak pergi, rasa bersalahku pada Al pun muncul kembali, kali ini lebih besar. Aku harus bagaimana?

“Sayang! Yuk kita pulang!” ajak Dhana yang tak lama kemudian masuk ke dalam kelasku. Ya, kami berbeda kelas. Hanya dipisahkan 2 kelas.

“Kamu kenapa? Sakit?” tanya Dhana panik saat melihat wajah pucatku.

“Enggak kok, ayo kita pulang,” ajakku seraya menarik lengan Dhana. Kami berdua pergi ke lapangan parkir sekolah.

Saat aku akan menaiki motor besar Dhana, mataku tak sengaja bertemu dengan mata Al yang memandangku dengan tatapan yang aku tak mengerti. Aku menundukkan kepala.

“Ayo, buruan,” desakku pada Dhana, mulai merasa tak nyaman.

“Pegangan,” katanya memperingatkan.

Selama perjalanan pulang, aku tak banyak bicara dengan Dhana. Tidak seperti biasanya, kami berdua lebih memilih diam. Ucapan Al yang mengatakan bahwa aku telah diperalat oleh Dhana semakin terngiang-ngiang.

Apa maksudnya? Tanyaku dalam hati.

“Sayang, kita udah nyampe nih,” beritahu Dhana.

Aku pun tersadar dari lamunanku dan segera turun dari motor besarnya. Entah mengapa terkadang saat aku turun dari motor Dhana, rokku selalu tersangkut.

“Hati-hati, San. Jangan lupa makan,” Dhana mengingatkanku seperti anak kecil.

Aku mengangguk, kemudian senyum terkembang di bibirku.

Motor Dhana pun melaju seiring lambaian tanganku padanya.

***

Malam harinya, saat aku sedang mengerjakan PR Kimia, tiba-tiba ponselku berdering nyaring menyanyikan lagu I Got You, tanda suatu panggilan dari seseorang masuk.

Nama Andien, tertulis jelas di layar. Aku pun segera menerima panggilannya. Kemudian kuarahkan ponsel ke samping telinga.

“Halo, Andien. Ada apa?” tanyaku.

“Sandya! Kamu harus tahu!” katanya seperti ingin memberitahuku informasi yang penting.

“Tahu apa?” aku semakin tak mengerti.

“Pokoknya kamu harus datang ke kafe kopi di dekat gedung balai kota ya. Kamu harus lihat sendiri!” serunya.

“Lihat apa?” saat aku bertanya lagi, Andien memutuskan panggilanku secara sepihak. Sukses membuatku penasaran. Terpaksa aku harus menghentikan aktivitas mengerjakan PR  lalu cepat-cepat pergi setelah berganti baju.

Aku merutuki keputusan Andien yang memintaku datang dan serba mendadak setelah sampai di kafe yang ia maksud. Mataku mencari-cari Andien si pemberi informasi. Rasa penasaranku sudah tak dapat terelakkan. Aku bernafas lega ketika aku menemukan Andien sedang duduk di sudut ruangan. Ia tampaknya sedang menikmati Ice Vanila Bubble Coffe. Kami sering memesannya jika berkunjung ke sini.

“Andien!” panggilku pada gadis dengan rambut ikal itu.

Andien segera menoleh dan memberikan kode padaku seraya berbisik “Cepat sini!”

Aku pun semakin bingung dengan sikap Andien. “Ada apa?” tanyaku setelah aku duduk di sebelahnya.

“Persiapin mental kamu ya? You strong girl!” katanya.

Dahiku berkerut karena bingung “Kamu bilang apa sih? Kamu lagi sakit ya?” kataku seraya menyentuh dahi Andien.

“Ya enggaklah! ” bantahnya kemudian. Aku hanya meringis.

“Sekarang kamu hadap kesana ya,” kata Andien seraya mengarahkan kepalaku ke arah kiri dari tempat kami duduk.

Mataku terbelalak dan mulutku ikut terbuka lebar saat aku melihat apa yang Andien ingin beritahukan melalui ponsel. Tampak jelas! Benar-benar sangat jelas! Dengan mata kepala sendiri, aku melihat Dhana sedang berduaan dengan perempuan lain. Tangan Dhana sedang melingkari leher perempuan itu, terlihat mesra. Kini aku sadar dengan ucapan Al tempo hari. Al benar.

Detik berikutnya, aku pun bangkit dari tempat duduk dengan amarah yang siap meledak. Aku mencoba menahan air mata agar tidak pecah. Aku tidak ingin terlihat lemah di depan lelaki gila macam Dhana.

“Wow! Hebat ya kamu! Berkencan malam-malam begini!” ucapku seraya bertepuk tangan, mengundang tatapan para pengunjung yang kini mengarah ke tempat perseteruan panas sedang terjadi.

Raut wajah Dhana terlihat kaget. Pucat. Sedangkan perempuan di sampingnya terlihat marah karena quality timenya terganggu dengan kedatanganku, tamu tak diundang.

“Lo siapa?” tanyanya ketus.

“Gue pacarnya Dhana! Kenapa memangnya?” balasku tak mau kalah.

“Apa pacar?” terdengar nada mengejek dari mulut perempuan itu. “Tapi Dhana bilang. Dia gak punya pacar. Dia baru putus dua bulan yang lalu!”

“Apa!” kataku kaget.

“Dhana jelasin dong! Jangan diem aja!” perintah perempuan itu tak sabaran.

Dhana terlihat frustasi. Ia mengacak-ngacak rambutnya. Permainannya kali ini terbongkar sudah. Rupanya ia kurang memahami arti dari peribahasa ‘sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga’.

“Iya sayang, dia cuma temenku kok. Enggak lebih,”

You crazy man! Kita putus!” seruku seraya menghadiahi salam tempel tepat di pipi Dhana. Kemudian menyiramnya dengan segelas minuman yang ada di meja.

Kini aku merasa sangat puas. Aku berjalan menghampiri Andien yang ikut menyaksikan duel dari kejauhan. “Thanks Ndien, untuk informasinya.”

“Oke,” ucap Andien seraya menganggukkan kepala.

***

Setelah kejadian semalam, berita putusnya aku dengan Dhana langsung tersebar ke seluruh penjuru SMA Garda dan menjadi trending topic. Aku pun segera menemui Al untuk meminta maaf atas perlakuanku padanya.

“Rin! Lihat Al gak?” tanyaku pada Rina, salah satu teman kelas Al.

“Al siapa?” Rina bertanya balik tak mengerti.

“Alterio.”

“Oh, dia lagi ada di belakang lab komputer,”

Setelah aku mengetahui  keberadaan Al, aku pun segera berlari menemuinya. Saat berjalan ke bagian belakang lab komputer, suasana lembap sudah menyambutku.

Al ngapain sih di sini? Batinku.

“Al! Al!” aku memanggil namanya beberapa kali.

Saat aku akan berbelok, tampak tubuh besar Al sedang duduk seraya menikmati sebatang rokok di tangannya. Kemudian ia membuangnya setelah sadar akan kedatanganku.

“Kenapa?” tanyanya.

Aku tertunduk malu. “Kamu benar. Aku bodoh, sudah mau diperalat sama Dhana. Aku berikan segalanya, tapi balasan yang aku terima nol besar. Aku sudah dibutakan dengan cinta.”

“Syukur deh kalau kamu sudah sadar,”

“ Aku minta maaf atas perlakuanku waktu itu. Aku benar-benar minta maaf. Waktu itu aku refleks,” ucapku mencoba menjelaskan.

“Iya gak papa. Aku maafin,” kata Al seraya mengacak-acak rambut hitam lurusku.

“Makasih ya.”

“Santai aja, San.”

“Tapi kok kamu tahu kalau Dhana membohongiku?”

“Rabu kemarin aku liat dia bermesraan di taman kota sama perempuan lain. Dan yang pasti asal kamu tahu, aku gak mau kamu terluka untuk kedua kalinya,” ucap Al hendak bergegas pergi.

“Karena apa?” aku bertanya seraya menyamakan langkah kakiku dengan Al.

“Karena aku jatuh cinta dengan gadis yang saat ini sedang ada di sampingku,”

Langkah kakiku pun terhenti. Mencoba mencerna pernyataan yang Al lontarkan. Aku tidak salah dengar kan?


 

  • Nama : Firman Agung Setyo Aji
  • Tempat Tanggal Lahir : Bandar Lampung, 12 Februari 2000
  • Nomor Ponsel : 0895321499303
  • Instagram : @firmanagungsa
  • Facebook : Firman Agung Setyo Aji
  • Twitter  : @FirmanAgungSet2
  • Email  : firmanagungsa1212@gmail.com

 

 

 

 

 

 

 

 

Facebook Comments