Aku mengaduh pelan tatkala kaos kaki hitam-putihku lembap. Jari-jari kakiku bergerak-gerak karena tak nyaman. Semuanya terasa aneh di sepatu tua ini. Sudah satu tahun lebih aku memakainya dan orang tuaku belum menunjukkan tanda-tanda untuk membelikannya yang baru.

Aku menoleh ke arah papan tulis, mengamati kata demi kata yang tertulis di sana. Jari-jari kakiku bergerak. Tanganku menyusul, badanku membungkuk perlahan untuk membuka sepatu juga kaos kaki yang lembap. Aku tak mau kena kutu air.

Ini terjadi saat apel pagi. Alas sepatuku pecah dan air-air yang menggenang di lapangan masuk dengan cepat ke dalam kaki. Ika, teman sebangkuku, nyengir sekaligus bingung melihatku yang bertelanjang kaki saat pelajaran berlangsung.

“Kau, kenapa tak pakai sepatu?”

Wajahnya gemas melihatku yang memiringkan kepala. Lalu aku menjawab, “sepatuku basah, alasnya pecah.”

Maafkan aku, Guru. Aku bukanlah siswa teladan yang punya sepatu terbaik.

Aku duduk manis di kursi, menyembunyikan kakiku dari pandangan guru mapel yang melintas, lalu berpura-pura semuanya baik-baik saja. Kakiku bergerak-gerak, mengeringkan diri. Jujur saja, tak bersepatu seperti ini membuatku nyaman karena kakiku bisa bernapas sepuasnya tanpa ada penghalang.

Ika mengajakku ke kantin saat jam istirahat mulai didengungkan. Seluruh teman-teman segera keluar kelas dan menuju kantin. Sepatu-sepatu mereka berderap diiringi candaan tawa bahagia. Ika menungguku yang sedang memasang sepatu.

Terdengar keriuhan di kantin, selalu begitu. Anak-anak berdesakan dan berjalan membawa makanannya masing-masing. Jari kakiku bergerak, merasakan kaus kaki dan sepatu yang lembap. Ika mendorongku ke salah satu gerai. Aku terbengong karena bukan gerai ini yang menjadi tujuanku.

“Aku yang traktir. Kau mau apa?” Dia mengalihkan pandangan dan menelisik setiap jajan yang dijajakan. Aku masih belum memilih saat dia sudah mengambil dua makanan, tapi masih belum dibayarnya.

“Tumben. Uang sakumu banyak?” celetukku saat pembeli gerai semakin banyak. Ika masih bertahan di tempatnya, di antara desakan anak-anak yang meronta ingin membeli makanan.

“Tidak, hanya dua puluh ribu untuk hari ini.” Dahi Ika berkerut, mulai merasa tak nyaman berada di antara lautan manusia. “Ayo, cepatlah. Ini mulai ramai!” teriaknya di sela-sela suara gaduh pengunjung kantin. Aku mengambil cepat satu jajan satu minuman dan Ika segera membayarnya. Pak Penjual sempat berteriak menyerukan uang kembalian Ika, tapi anak itu langsung melesat ke arah kelas bersamaku yang tergopoh-gopoh menyusul.

Hanya dua puluh ribu, katanya. Padahal uang sakunya empat kali lipat dari uang sakuku di hari biasa. 

Pintu kelas ada di depan sana. Aku berlari masuk dan langsung duduk dengan kaki telanjang. Ika datang dan duduk di sampingku dengan terheran. Tapi saat dia mengecek sesuatu di bawah kursi, dia jadi maklum dan memakan makanannya dengan tenang.

Kakiku bergerak-gerak. Kaos kaki yang basah kujemur di bawah kursi. Ika tertawa saat mengetahui hal itu. “Jemur saja di jendela. Bukankah lebih cepat kering saat di sana?”

Aku membawa kaos kaki basahku ke jendela. Untung kursi kami berada di samping jendela sehingga aku tak perlu malu anak-anak akan mengetahui tingkah konyol ini. “Di sini?” tanyaku dengan wajah polos. Karin dan Jena melirikku yang mencuri perhatian Ika sampai membuatnya tertawa. Mereka berdua memiringkan kepala, aku menoleh dan menyeringai tanpa dosa.

“Apa yang kau lakukan?” Jena melirik kaos kakiku yang berada di jendela dengan tatapan heran. “Apa-apaan kau? Kau juga tak memakai sepatumu.” Sedangkan Karin, tawanya langsung meledak dan berpadu bersama Ika.

Aku nyengir lebar. Saat banyak anak yang tercuri perhatiannya karenaku, aku menurunkan kaos kaki dari jendela dan melemparkannya ke bawah kursi. Ika melonjak jijik karena itu hampir mengenai kakinya dan membuatnya menutup hidung. Lembap, basah, bau. Tak usah tanya karena kodrat kaos kakiku memang begitu.

“Ada apa?” tanya seseorang. Aku salah tingkah dan mengibaskan tangan.

“Tak ada apa-apa.” Aku nyengir dan kembali ke tempat duduk, meladeni Ika dan Karin yang tawanya tak kunjung berhenti. Sedangkan Jena, dia hanya geleng-geleng kepala mengingat kelakuanku barusan.

“Kalau sudah tahu sepatumu bocor, kenapa tak beli yang baru? Ini sudah minggu ke-tiga musim hujan. Sejak kapan sepatumu bocor?” tanya Jena. Aku menurunkan pandangan, berusaha mengingat-ingat.

“Dari awal musim hujan, sepatuku sudah begitu.” Aku melirik sepasang sepatu yang tergeletak di samping kakiku. Jari-jariku bergerak mencari udara.

“Beli nanti saja, Ya.” Karin tiba-tiba ikut bersimpati dan melongok untuk melihat sepatuku. “Dari luar memang masih bagus, tapi kalau bagian alasnya sudah pecah dan bocor…. Lebih baik kau ganti.”

Ika mangut-mangut dan menepuk bahuku. Dia menghela napas sejenak sebelum berbicara. “Kau mau kakimu kena kutu air, Liya?”

Bah. Bahkan aku sudah mencemaskan itu sejak awal kebocoran ini.

“Ya, mungkin nanti aku akan meminta pada Ibu.”

Aku mencopot sepatu basah setibanya di rumah. Tak lupa dengan kaos kaki yang bernasib sama. Aku menjemurnya di halaman yang terkena matahari, tapi awan lebih dulu menutup langit. Aku mendesah, masih berdiri di halaman, aku teringat pertanyaan Ayah tadi pagi.

“Kakak mau jadi apa kalau sudah besar?”

Aku tak menjawabnya karena bingung dan malu. Setitik air mengenai hidungku. Saat aku menengadah, awan sudah menggembung abu-abu dengan air-air mulai menetes membasahi halaman rumah. Aku menghela napas, mengambil sepatu, dan masuk ke rumah dengan seragam sekolah yang basah.

Ibu sedang duduk di ruang tamu. Dia tahu kalau aku sudah pulang, sengaja membiarkanku menjemur sepatu yang ternyata tak ada matahari. Aku berjalan lunglai ke arahnya. Saat Ibu mengambil gelas untuk menyeruput tehnya, aku sudah berdiri di depannya dengan wajah lelah.

“Bu, kapan beli sepatu baru?” Sudah berkali-kali aku mengingatkan Ibu dengan kata-kata seperti itu, tapi permintaanku tak pernah terwujud. Ibu melirikku sekilas di antara seruputan tehnya.

“Masih hujan. Kau mau beli sekarang?” Itu bukan pertanyaan, itu tantangan. Aku mendengus, lalu pergi masuk ke kamar. Malas berganti pakaian, kukenakan saja baju basah dan langsung membaringkan tubuh di kasur.

Lampu kamar belum kuhidupkan, menjadikan ruangan ini temaram. Aku menatap langit-langit sambil sesekali melirik ke handphone yang tergeletak di samping kepalaku. Tanganku bergerak-gerak. Akhirnya aku mengambilnya setelah banyak berpikir dan menimbang-nimbang sesuatu.

“Halo?” Aku menunggu jawaban dari seberang sana. Wajahku menjadi cerah saat mendengar suara berat seorang laki-laki. “Ayah, kapan sepatuku diganti yang baru?” rajukku. Berbeda dengan Ibu, aku hanya bisa merajuk pada Ayah. “Tidak bisa, ya? Ya sudah, tidak apa-apa. Tidak, di sini masih hujan. Ibu tak mau mengantarkanku kalau sedang hujan. Hmm… ya, tadi bocor sewaktu apel. Jadi, selama sekolah aku tak pakai sepatu. Apa? Tidak, tak apa. Aku masih bisa mengeringkannya dengan hairdryer untuk kupakai besok. Oke, sampai nanti, Ayah!”

Aku membuang napas keras. Kamarku masih gelap, hanya sedikit cahaya di dalam sini. Hujan turun deras di luar sana, diikuti petir dan guntur. Kuharap Ayah datang sore ini sambil membawa sekotak sepatu yang kunanti, tapi dia tak berjanji.

Aku memejamkan mata, tidur sejenak sambil menikmati suara hujan yang pecah. Guntur dan petir sedikit membuatku takut. Tapi… cukup. Hari ini aku sedang lelah.

Terdengar suara mobil mengklakson rumah kami. Aku melirik sekilas ke jendela. Ibu berjalan tergopoh-gopoh dengan payung di atas kepalanya, membukakan gerbang bagi Ayah yang hendak masuk. Setelah memarkirkan mobil, Ayah langsung disambut Ibu yang memayungi kepala keduanya. Ayah menatap Ibu sejenak, mereka berdua nyengir manis dan berjalan bersama masuk ke dalam rumah.

Aku beranjak dari kasur dan menghampiri ruang keluarga untuk menyambut Ayah. Terlihat tas plastik yang ditentengnya selain tas kerjanya sendiri. Di dalamnya ada sebuah kardus cokelat yang terlihat masih baru dari toko.

Ayah berhenti di depanku. Aku yang masih terheran mendapat sodoran tas plastik itu. “Untuk Kakak.” Ayah dan Ibu melaluiku begitu saja, menuju kamar dengan obrolan-obrolan ringan.

“Loh, padahal Ayah bilang tak bisa membelikan ini.” Aku menatap sepasang sepatu di dalam kardus cokelat. Tercium bau khas dan terlihat kilatan kinclong dari kulit sepatunya.

Ayah menoleh sembilan puluh derajat ke arahku. “Tadi Ayah minta tolong ke teman saat dia mampir ke toko sepatu. Coba dipakai, itu sudah sesuai ukuranmu, kan?”

Aku ber-oh pelan. Ayah dan Ibu sudah menghilang. Mataku tak lepas memandang sepatu baru itu. Kurasa aku tak perlu mencoba memakainya karena aku yakin Ayah tahu seberapa besar kakiku. Jari kakiku bergerak-gerak. Bisa kubayangkan hari esok yang tanpa harus bertelanjang kaki karena kemasukan air saat apel atau habis dari kamar mandi.


Namanya Sayyidah Zahratul Aulia. Lahir di Probolinggo, 28 Oktober 2003. Menjadi seorang pelajar di SMPN 1 Probolinggo. Mengidolakan One Direction alias Directioners. Bisa komunikasi dengannya lewat Facebook : Aulia Zahra, Instagram : @sayyidah_zahraulia, E-mail : sayyidahzahratul@gmail.com.

 

 

Facebook Comments