STASIUN MALAM

Antara Jember dan Semarang, jarak dan ruang.
aku selalu menunggu, setiap malam di stasiun itu.
Menunggu kereta yang akan membawaku kepadamu. menuju mimpi atau surga

Malam yang sepi, sunyi, sendiri, bertekuk hangat di sana;
semua tahu dialah sang pembawa mimpi

Dua kota dengan jarak sebatas mimpi
yang akan menuntun ke mana saja.
Kereta itu menuntunku sampai ke surga, sampai kepadamu Kasihku.
Lewat Stasiun Malam yang sepi, sunyi, dan sendiri.

(Jember, Juni 2018)


MALAM HARI DI KUDUS

Kudus begitu rapat menyimpanmu.
Kota itu bisa jadi tempatmu pulang, tempatmu hilang.
Aku mungkin akan menjemputmu.
Naik kata di tengah malam.
Tentunya juga akan melewati jalan-jalan kalimat hingga berhenti sebentar di terminal paragraf.
Dan lanjut hingga sampai menyusun surat rindu.

Ternyata jalan di Kudus tak sepuitis yang aku kira;
semua kata, kalimat, dan paragraf tetap saja tak mampu mengantarkanku kepadamu.
Kudus, kota itu menyembunyikanmu dalam-dalam.
Lewat tengah malam, dan ini adalah jalan yang terakhir aku mencarimu.
Aku berjalan kaki dengan doa, dengan mimpi.

Kudus, tolong beritahu kepadanya: jangan bangunkan aku, sebab aku sedang istirahat di atas doa dan mimpi.
Di atas namaku yang mati.

(Jember, Juni 2018)


SEBUAH SURAT

Pagi-pagi sekali aku menyusup dalam amplop suratku. warnanya putih dan merah jambu. Mirip sayatan rindu.
Kutanggalkan semua pernak-pernik kata dan kubawa saja seperlunya: namamu, wajahmu, matamu.
Mata tak mungkin terurai lewat kata, hati pasti jatuh dalam kita, dalam cinta.
Wajah sia-sia saja terbawa.
Sisa namamu, terselip bersamaku di dalam amplop ini.
Namamu terselip di dalam ruang kosong amplop, itulah mengapa suratku tak pernah sampai kepadamu.
Suratku tanpa kepada, tanpa siapa, tanpa tujuan di luarnya.

Kata sudah tak lagi bisa menjangkaumu, Kekasih.
Pagi ini aku kirimkan surat yang di dalamnya tersusun ruang-ruang sunyi, penuh raung-raung pergi.
Pagi hari di Kudus, kota yang menyembunyikanmu rapat-rapat.
persis surat yang menyimpan rinduku lekat-lekat.

(Jember, Juni 2018)


 

SEPERTI APA RINDU PADA KEKASIH?

Seperti ombak yang terpecah karang,
seperti hati yang tercacah kenang.

(Jember, Juni 2018)


JARAK DAN RUANG; JEMBER DAN SEMARANG

Sesederhana itu:
burung pagi mengercitkan namamu,
udara sejuk menyimpan aromamu yang pergi,
daun dipetik pagi, kenangan dibawamu lagi.
Tak hanya itu, gemuruh air sungai bersabda, “jarak dan ruang; Jember dan Semarang.” Lorong-lorong sunyi berisi mimpi,
ramai jalan-jalan doa terpanjat kaki, dan semuanya ingin bilang:
“Sesakit itu, mengenang pergi di waktu pagi.”

(Jember, Juni 2018)


Haryo Pamungkas. Penulis lahir di Jember, Jawa Timur. Saat ini sedang menempuh bangku kuliah semester empat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember. Anggota LPM Ecpose, PMII dan aktif di GenBI Jember. Menyukai cerita dan puisi sejak sekolah dasar, namun mulai menulis ketika sekolah menengah atas.

Facebook Comments