Aku ingin pulang,

Kalimat itu masih terngiang di hatiku. Sejak tujuh tahun lalu bapak memutuskan kembali ke kampung halamannya, selama itulah aku memendam inginku untuk kembali ke tanah kelahiranku. Majemau. Desa sederhana di ujung barat pulau tertimur Indonesia, Papua.

***

Januari 2011,

Bapak bilang, dia hanya ingin menyambangi sanak keluarganya di tanah Luwu, tanah kelahirannya. Dia pasti sangat rindu. Betapa tidak, dua puluh tahun di tanah perantauan di Papua, tak sekali pun ia pernah kembali. Bahkan kabar dari kerabat pun tak pernah ia dengar. Tak heran saat pertama kali berbicara melalui telepon dengan kakak kandungnya, ia disangka telah tiada.

Pertengahan bulan menjadi waktu yang sangat dinantinya. Itu adalah hari di mana dia akan memboyong keluarga kecilnya bersua dengan sanak keluarga yang kian lama tak terdengar berita. Aku, mama dan adikku yang baru berusia satu setengah tahun akhir mau mengikuti permintaannya. Setelah sebelumnya aku dan mama bersikeras tak ingin ikut, jelas adikku yang masih balita itu pun akan berada di kubu mama.

“Kita hanya jalan-jalan, hanya untuk bertemu keluarga di sana,” tegas bapak. Akhirnya kami pun menurut.

Pesawat pukul 08:00 WITA yang terbang dari bandara Jeffman, kota Sorong menuju bandara Hassanuddin, Makassar menjadi tumpangan kami. Semua sudah siap. Tapi, wajah mama masih terlihat murung. Dia pasti memikirkan nenek dan abah tua hanya tinggal berdua di Majemau. Juga bercampur pikiran kalau-kalau bapak tak menepati janjinya untuk balik ke Sorong. Ya, bapakku sudah terlalu dianggap pembohong olehnya.

Perjalanan dari kota Makassar menuju dusun Keppe di Luwu bukan perjalanan yang main-main. Jalanannya memang cukup baik, di beberapa titik aspal yang kami lalui sangat bagus. Yang menjadi kendala adalah lamanya waktu tempuh, sekitar sembilan jam perjalanan. Mama sudah pasti tak menikmati perjalanan itu.

“Tenang, sebentar lagi!” dari awal perjalanan hingga berjam-jam di mobil, bapak selalu berkata begitu, tapi nyatanya kami tak kunjung tiba di tempat tujuan.

***

Sebulan berlalu, bapak tak menepati janjinya. Aku mulai merengek meminta kembali ke Papua. Mama pun begitu. Tapi, sepertinya bapak mulai betah di sini. Jelas saja, ini kan kampung halamannya.

“Sudah sebulan Ali tak sekolah, apa kamu nggak mikir? Kasihan juga Yana, badannya panas-panasan, mungkin dia nggak betah di sini,” bujuk mama dengan dialek Sunda-Bantennya.

“Ya, sudah pale,” sepenggal dialek Bugis-Luwu bapak ini membuat hatiku sedikit bergembira, namun kalimat selanjutnya membuatku kembali tak bersemangat, “kalau begitu Ali sekolah mi dulu di sini. Hanya sementara waktu, sebulan saja. Setelah itu kita kembali ke Sorong.”

Aku menuruti lagi keinginan bapak. Entah kali ini skenario apa lagi yang dimainkan oleh bapak. Aku mencoba mengikuti alurnya. Mungkin dia masih sangat rindu dengan sanaknya di sini.

“Pak, kapan kita pulang ke Sorong? Saya mau pulang,” aku beranikan diri untuk bertanya.

Sambil menatapku dengan pandangan yang aneh, dia hanya berkata, “nanti!”

Entah nanti itu kapan. Ini sudah sebulan sejak aku masuk sekolah baru, MTs. Keppe. Aku pun harus beradaptasi dengan kehidupan masyarakat sekitar. Terutama dalam memahami dialek dan bahasa sehari-hari mereka. Tidak buruk, teman-teman baru, mereka sangat ramah.

***

“Saya berniat menetap di sini,” tegas bapak malam itu.

“Di sini? Di rumah kakakmu ini?” tanya mama yang terlihat kecewa.

“Bukan, ada rumah keluargaku di sana. Kita bisa tinggal di sana.”

“Kita? Bukannya kamu sudah janji bakal kembali ke Sorong. Sekarang kenapa malah berubah pikiran? Kenapa harus bohong?”

“Kalau ndak begitu kamu dan anak-anak tidak akan mau ikut ke sini. Saya cuma ingin berkumpul kembali dengan keluargaku di sini.”

“Lalu bagaimana dengan bapak dan mamaku di Papua?”

“Kita bisa bawa mereka kemari. Begitu juga dengan adik-adikmu yang lain.”

“Adik-adikku sudah menikah dan punya pekerjaan sendiri, mana mau mereka ikut. Bapak dan mama juga pasti nggak mau.”

“Kita bicarakan baik-baik, lagi pula sekarang Ali sudah sekolah di sekolah agama. Itu kan yang diinginkan bapakmu?”

“Kalau begitu saya yang pergi ke Papua menjemput bapak dan mama,” mama sudah menemukan cara untuk bisa kembali ke Sorong.

“Kita sama-sama.”

“Terus Ali? Kamu di sini saja dengan Ali, biar saya dengan Yana yang kembali ke sana. Lagi pula itu bisa menghemat biaya.”

Mereka memang tak pernah terlihat akur untuk waktu yang lama. Maklum pernikahan mereka hanya sebuah paksaan dari orang tua. Bukan atas dasar cinta seperti pernikahan pada umumnya. Terkadang aku iri dengan mereka yang punya keluarga yang akur.

***

Mei 2011,

Hari yang sangat berat. Aku ikut mengantarkan mama dan Yana ke bandara.

“Mama nanti balik, kan?”

Dia tak menjawab, tapi hanya tersenyum. Aku yakin itu artinya “Tidak.”

Perlahan langkah mama yang menggendong Yana makin menjauh. Air mataku makin terasa berat di ujung kelopak mata. Rasanya aku ingin berteriak saat itu. Memangnya mengapa jika laki-laki menangis?

“Mama pasti kembali, dia cuma ingin menjemput nenek dan abah tua,” bujuk bapakku.

Sebulan, dua bulan bahkan hingga setahun lamanya. Tak kunjung ada kabar dari mama ingin kembali. Dugaanku benar, mama memang tak akan kembali menemuiku dan bapak. Hingga suatu hari, sebuah kabar kudengar langsung dari mulut mama, bahwa dia akan menikah lagi dan meminta restuku.

“Kalau pun saya bilang ‘tidak’, mama pasti tetap nikah kan sama orang itu? Jadi, jawaban saya nggak penting.”

“Abah tua udah gak ada. Kalau bukan mama yang ngebiayain hidup nenek sama Yana siapa lagi? Bapak kamu juga nggak peduli dengan Yana. Itu alasan mama nikah lagi.”

Sebulan kemudian, terdengar kabar mama telah menikah lagi dengan seorang juragan sapi asal Makassar. Aku berpikir, mungkin semua orang tua sama egoisnya. mereka hanya peduli perasaan mereka tak peduli anak menjadi korban.

***

Bertahun-tahun berlalu. Aku masih sering berbicara dengan mama melalui telepon. Sekarang dia dan suami barunya itu berada di daerah Teminabuan, tak jauh dari kota Sorong. Dia juga sering mengirimiku uang jajan. Namun, akhir-akhir ini ia sering mengeluh tentang dirinya yang mulai sakit-sakitan.

***

2018

“Pak, liburan semeter depan saya ingin ke Sorong. Boleh?”

Senyum di wajah bapak menghilang. Berganti dengan tatapan tajamnya ke arahku.

“Kau ingin ke Sorong?” dahinya sedikit dikerutkan, “dengan siapa?”

“Sendiri.”

“Untuk apa? Jangan lakukan hal yang tidak penting! Kuliahmu jauh lebih penting.”

“Saya cuma ingin ketemu mama. Dan itu penting,” nadaku mulai menurun, rasa rindu bercampur sedih sedikit kutahan, “lagi pula hanya sebulan.”

Bapak tidak lagi menatapku, dia mengalihkan pandangannya ke arah TV yang seruangan dengan kami.

“Bapak mati-matian hidupi kamu. Sekarang kau ingin pergi meninggalkan bapak sendiri?”

“Saya pasti kembali, hanya sebulan saja di sana.”

“Bapak tidak percaya dengan mamamu. Kalau kau sudah di sana, dia pasti merayumu untuk tidak kembali kemari. Lagi pula sebulan itu bukan waktu yang sebentar.”

“Bapak boleh tidak percaya dengan mama, tapi apa bapak tidak percaya dengan saya?” seketika aku tak sadar, air mataku telah menetes, “sebulan itu sebentar, dibanding tujuh tahun tidak bertemu mama.”

Bapak terdiam, percakapan kami selesai. Harusnya aku sudah tahu, beliau tak akan memberi izin.


Ahmad Muslim Mabrur Umar, lahir 10 Agustus 1998 di desa Majemau. Akun Facebook: Ahmad M Mabrur Umar. E-mail ahmadmuslim604@gmail.com. IG: ahmadmuslim_mu10. Saat ini sedang menempuh pendidikan Strata 1 (S1) di Universitas Cokroaminoto Palopo, Fakultas Teknik Komputer, Program Studi Informatika.

Facebook Comments