BICARANYA WAKTU

Kita akan berjumpa lagi
setelah malam puas membawamu pergi berkeliling
dengan segenggam oleh-oleh bunga tidur
di tangan kanan dan kirimu

Kita pasti bertemu, nanti
setelah habis kaugantung lembarlembar kosong
yang selama ini kau biarkan tercecer
di lantai-lantai kamarmu

Sampai saat itu, kau hanya perlu menutup telinga
dan fokus memungut satu per satu
kertas yang berserakan untuk kaulukis
yang kelak akan menjadi pintu
bagi segala keringat dan air mata

Hingga detik itu, kau hanya harus berjalan lurus
teruskan langkah kaki dan jangan berhenti
sebab kita akan bertemu lagi
di persimpangan kecil yang kau sebut harapan

Bali, 7 Juni 2018

 


 

LEMBAR KOSONG

Lembar kosong
menjadi tempat dan alasan
bagi pertemuan kita
yang sejatinya tak pernah dimulai.
Mungkin kita hanya berusaha singgah
dari rasa lelah perjalanan
; sekadar menghapus dahaga—namun terlena,
dan jadilah aku: lupa tempat lupa waktu

Lembar kosong
masih menjadi tempat dan alasan
untuk sebuah perjumpaan
yang belum sempat kita akhiri.
Sebatas lembar kosong; kita bersua
tanpa kata tidak pula cerita.
Lalu dengan setengah ragu, aku menulismu
:sebagai catatan yang tertinggal.

Bali, 28 Mei 2018

 


 

MENIT KESEPULUH

Menit kesepuluh
Sebelum jarum jam mulai melangkah
Sejenak kita berhenti
Memeriksa satu per satu denah
Hasil gambaranmu semalam penuh

Semoga tidak ada yang salah
Batinmu dengan sedikit gelisah
Sambil sesekali membenahi diri
Mengatur ulang pikiran-pikaran lemah
Agar tak sampai hilang arah

Menit kesepuluh
Kita mulai mengayuh
Membelah hiruk pikuk jalanan
Dengan doa di tangan-tangan
Juga harap yang dinanti-nanti

Bali, 8 Juni 2018

 


 

DI PINTU RUMAHMU

Di pintu rumahmu
Aku bertamu menitip waktu
Sesekali mencoba membuang rindu
; pada punggung pintu milikmu
Atau sekadar menampar dindingmu yang batu

Berkali-kali, aku masih saja bertandang ke rumahmu
Barangkali hari ini kau ada di sana; pikirku
Sambil membayangkan pintumu yang mulai terbuka
Aku berjalan dengan getar di dada

Aih, rupanya kau masih sama
Pintumu tertutup rapi dengan jendela tanpa celah
Dindingmu pun kian dingin terasa
Dan di pintu rumahmu
Aku pulangkan; rindu beserta luka-lukanya

Bali, Juni 2018

 


 

SUATU HARI

: kantuk di matamu

 

Suatu hari
Pada legam matamu yang sendu
Senja terasa pulang lebih awal
Membawa serta malam tanpa bintang dan rembulan

Matamu mulai terkatup-katup
Seperti api yang dijatuhi hujan
Semakin lama semakin redup kemudian berasap
Dan bola matamu berkaca-kaca

Awan tampan jelas di netramu
Samar-samar kulihat gerimis selepas kau menguap
Lalu seperti hujan yang menidurkan langit
Kau pun tertidur pulas
Setelah kantuk yang kau tahan sedari tadi

Bali, 3 Juni 2018


 

MASIH TENTANGMU

Pada selembar kertas usang
Masih kubaca; huruf-huruf dengan tinta biru pudar
: tulisan tanganmu
Kalimatnya masih sama—seperti dahulu
: masih indah di pandang mata
dengan diksi pilihanmu—yang kau bilang hasil negosiasi hati

Barangkali jika kubaca esok dan esoknya lagi
Atau sekalipun usia telah membawanya menua
Dengan wujud yang tak lagi utuh
Robek sini robek sana
Suratmu; dirimu
Masih menjadi satu-satunya diksi yang tak pernah lelah
Untuk kutulis menjadi puisi paling rindu

Lalu aku menjadi candu
Sekadar meneguk kenanganmu
Memeluk bayang imaji
Kemudian terkapar dengan segudang ironi
: tentangmu

Bali, 6 Mei 2018


 

DI MATAMU YANG DINGIN

Ini masih sama
: seperti dulu atau sebelumnya
Matamu masih menjadi dinding tak terjamah
Entah rahasia apa yang kau simpan di dalamnya
Barangkali itu rumahmu; di baliknya
yang enggan orang lain kan tahu
Tatapanmu masih serupa embun basah
dari sisa hujan kemarin; dingin
Dengan gigil tulangtulang yang hampir ngilu
Lalu sesegera mungkin aku berlari
Pulang ke rumah
Menutup pintu rapat-rapat
: enggan bersitatap

Atau bila tanpa sengaja
Kita telanjur melempar pandang
Dengan sisa-sisa keberanian
Aku mulai memungut
Satu per satu
Ketakutanku yang jatuh di matamu
Sembari berpikir: hari ini aku menjadi es lagi
Sebentar lagi aku akan membeku
; mematung kaku

Bali, 16 Mei 2018


 

PINJAMKAN AKU

Pinjamkan aku binar di matamu
Agar kulihat segala hal yang kau tanam
Sore itu; di bawah langit gelap
Aku ingin tahu
Apa yang mungkin tersembuyi di balik wajahmu
Yang selalu malam

Bisa kau pinjamkan aku?
Kunci rahasia milikmu

Biarkan aku menyelami matamu
Biar kutemukan sendiri
: tinggi dinding yang perlu kupanjat
: seberapa jauh jalan untuk menuju rumahmu
Sebab, aku ingin mengetuk pintumu
Barang sekali; kemudian menunggu

Bali, 8 Pebruari 2018


 

MONOLOG MILIKNYA

Waktu masih berputar—akan terus berputar
Tapi waktu miliknya mungkin berhenti sejenak
Ini bukan akhir; pikirnya
Barangkali ini hanya musim gugur yang datang lebih awal
Seperti dedaunan yang mulai menguning
atau bungabunga yang menjatuhkan diri ke lantai
Lalu tinggallah aku seorang diri
: tanpa mimpi dan harapan

Bali, Mei 2018


 

MENJADI LUPA

Hari ini kita lupa,
Menyisihkan barangkali sedikit kata-kata
Yang tercecer begitu saja
Pada ruang pembicaraan

Lama kita bicara, panjang lebar
Hanya untuk memastikan siapa yang benar
Atau siapa yang bisa disalahkan

Berdebat—kita satu sama lain
Demi sebuah kebenaran dan pembenaran
Lalu kita sibuk sendiri
Mencari-cari alasan juga kesalahan

Hari ini, kita menjadi lupa
Menyisihkan barangkali sedikit kata-kata
: terlalu banyak bicara, begitu banyak luka

Bali, 27 Juni 2018


Ida Ayu Sri Widiyartini, gadis kelahiran Bali yang saat ini sedang menempuh pendidikannya di Universitas Terbuka. Menyukai dunia sastra dan literasi. Beberapa karyanya pernah dimuat dalam buku antologi puisi. Dapat dijumpai melalui akun facebook: Ida Ayu Sri Widiyartini.

Facebook Comments