TIADA
Kita pernah menjadi dua kutub yang berbeda;
Aku bisu, sedang kau asyik merayu
Kau pun pernah berkata;
Diriku syair dan kau melodinya
Namun,
Setelah kita tidak lagi saling bersinggungan
Kau menjaga jarak
Hingga menjauh dari pandanganku
Sekarang aku pertanyakan;
Mengapa kita berusaha jika akhirnya kau memilih tiada?
Kendari, 6 April 2018


 
PAGI YANG TAK BIASA
Renjana pagiku membuka
Pada bait-bait puisi tak bernama
Lariknya membawa pilu
Bersama hati yang dirundung rindu

Pagiku diusik nestapa
Ungkapan sajak-sajak metafora
Dikau sang pemilik tawa
Mengapa tak jua kita jumpa?

Terpaan angin tak seindah surga
Sepoinya tak lagi menyejukkan rasa
Sebab tak ada lagi lentera
Yang senantiasa menyorot pada sang gadis bernetra lara

Padamu wahai sang pengusik tenang
Janganlah datang jika tanpanya
Bila kau telah tahu rinduku saja
Mengapa kau tak temukan jua?

Kendari, 23 May 2018


 
PHILOPHOBIA
Aku datang menawarkan segenggam hati
Tapi kau balas dengan senyum jemawa
Aku diam, kau datang memaki
Diam-diam kau merebut hati

Lalu …
Aku datang membawakan binar ketulusan
Tapi kau enggan menyambut senang
Aku berlari, kau tertawa
Diam-diam kau menyakiti

Aku ingin menggenggam harapan
Tapi kau menendang hingga hilang
Aku terisak, kau mencibir
Diam-diam, kutanya apa yang salah?

Lalu …
Kau datang mencetuskan jawaban
Katamu “philophobia”
Lalu … berlalu.
Kendari, 29 May 2018


 

ANAK-ANAK DI JENDELA
Anak-anak di jendela
Melirik
Mendesah
Kecewa
Anak-anak di jendela
Menanti
Tersedu
Di bawah atap kelam
Anak-anak di jendela
Teriakan-teriakan di rumah
Mereka takut
Anak-anak di jendela
Patah hati karena pertengkaran orang tua.

Kendari, 3 Juni 2018


 

JARAK
Kutempuh jarak tanpa alas
Melewati belukar bernama rintangan
Aku masih mencoba bertahan
Namun kau belum kutemukan jua

Sepiku tak lagi menghinggapimu
Kau seolah tertelan pilu
Tak kutahu pilu apa itu

Dukaku tak temukan dirimu
Sudah lama kita tak berjumpa pada titik temu
Sudah lama kau ditelan jarak tanpaku

Kusampaikan pada jarak
Lewat angin yang memberontak sendu
Dan kicauan burung yang tak mau berlalu
Berbahagialah kau
Tanpaku
Tanpa ada kita
Hanya jarakmu denganku
Itu yang nyata.

Kendari, 8 January 2018


 

SESAK
Gemerlap sunyi yang memanggil tuannya
Tak kutahu mengapa sesak ini masih menjadi candunya
Sedang tawa telah menghilang di balik punggungnya
Lenyap!
Bersatu bersama kesakitan yang kian nyata

Pernah sekali kutuntut pengharapan
Namun yang kudapat hanya cacian
Tenggelamkan saja aku Tuhan
Biar tak lagi kulihat tangis yang menyesakkan.

Kendari, 8 February 2018


 

SAJAK TANPA TUJUAN
Lelap tawa tanpa kisah
Ragu menjadi alarm resah
Tak berkesudahan
Meski lirih telah menjadi jawaban

Sempurna menjadi penggalan
Lewat nama yang tak pernah dipajang
Bisakah mendapat ruang
Sekedar untuk menumpah keluh kesah?

Lesuh datang mengoyak jiwa
Sedarah namun tak sejalan
Sajak tanpa tujuan
Tuangkan saja jangan memendam.

Kendari, 22 Februari 2018


Rini Surastika seorang gadis yang sangat suka bermimpi dan juga pecandu cokelat, lahir pada tanggal 10 Desember 1999, sedang melanjutkan pendidikannya di Universitas Halu Oleo. Bisa berteman di Facebook: Rini Surastika.

Facebook Comments