Semua masih segar dalam ingatanku. Tak terkecuali. Seakan memutar kaset usang yang selalu kuputar berulang kali tanpa kata henti dan juga bosan. Kali ini kuputar kembali bukan dengan air mata seperti yang lalu, namun sebuah senyum terbit sebagai tanda pelepas rindu. Rindu yang selalu menderaku, menikamku pada asa yang tak dapat kugapai. Semua terasa sesak dalam relungku. Hingga mungkin pernah inginku mati agar mengakhiri rindu yang berat ini.

Tanah ini bahkan sudah dipenuhi ilalang liar yang tanpa izin menyelimuti gundukan tanah sejak lima tahun silam. Sejak terbaring sebuah jasad yang pernah aku sayang dan hingga kali ini selalu kukenang. Jasad yang pernah bangunkan aku sebuah mimpi pada masa depan yang cerah. Sebelum pekatnya waktu dan semesta hantarkan apa itu rasa kecewa dan patah.

“Manusia akan kembali ke pencipta-Nya. Kita di sini hanya untuk berpulang,” ucapmu kala itu masih terngiang dengan sangat jelas dalam pikiranku.

Aku ingat, saat itu aku hanya tersenyum. Menganggapnya hanya sebuah ucapan receh pemuda yang baru saja belajar agama Islam di sekolah. Pemuda yang masih menggebu-gebu dan semangat dalam hal baru. Aku kira itu memang ucapan lalu yang tak bermakna barang seujung kuku pun.

“Lalu apa tujuanmu?” tanyaku penasaran. Kutatap kedua netra yang kini tengah memandang hamparan ilalang yang sangat luas. Lapangan basket yang juga bersebelahan dengan lapangan sepak bola itu tampak biru dan segar. Menentramkan netra-netra yang memandang. Namun aku tahu, di sana imaji-imaji dan harapanmu muncul.

“Aku ingin ke Surga,” jawabmu dengan penuh semangat setelah beberapa saat mengumpulkan ceceran imaji tersebut. Kamu tanpa memedulikan perasaanku dengan sangat bangga menyuarakan hal tersebut. Namun lagi, aku bersugesti bahwa kamu hanya bercanda, hanya omong kosong yang tak berarti. Dan aku harap memang begitu.

Sesaat kulihat kamu yang masih semangat menceritakan tujuan mimpimu itu. Bahkan kornea matamu memancarkan sinar yang entah mengapa menurutku kala itu sangat indah dan bercahaya. Aku mengangguk paham. Berpikir memang semua manusia mencitakan surga sebagai tempat peristirahatannya yang terakhir. Tak ada yang aneh menurutku kala itu.

Semua tetap berjalan dengan semestinya. Berkenalan denganmu adalah hal yang belum aku pikirkan dalam hidupku. Itu semua di luar keinginanku. Hanya saja semesta dengan ajaibnya juga memperkenalkan kita dalam sebuah ketidaksengajaan. Kita berpasangan dalam sebuah urusan yang tak memungkinkan kita untuk bersama.

“Aku nggak mau kerja sama dengan kamu,” ucapku tegas dengan nada yang sangat sebal. Bagaimana tak sebal saat harus berpasangan dengan orang asing.

“Oke. Biar aku saja yang mengerjakannya. Kamu terima jadi,” ucapmu dengan nada lembut tanpa merasa tersinggung dengan penolakanku.

Keegoisan kala itu tetap menyambutku, namun entah dari mana hilang dan tergantikan rasa luluh atas segala kesabaranmu. Hingga sebuah kebiasaan baru muncul, aku mulai mengandalkanmu. Pada setiap kesempatan, kamu harus selalu ada di depanku.

“Bagaimana jika aku tak ada, pada siapa lagi kamu akan bersandar?”

Aku diam. Menimang jawaban yang harus aku berikan.

“Aku akan ikut tiada,” ujarku singkat. Tak berpikir apa arti jawabanku. Yang aku tahu hanya aku akan selalu ikut ke mana pun kamu pergi. Bahkan ke surga sekalipun. Itu hanya jawaban bocah yang dapat aku lontarkan kala itu.

“Bersandarlah pada Tuhan. Aku nggak bisa selalu ada, dan kamu nggak bisa selalu mengikutiku.”

Diamnya aku kala mendengar jawabanmu mungkin sebagai tanda bahwa aku kalah berdebat denganmu. Namun lebih dari itu, satu pemahamanku muncul, aku harus mengenal Tuhanku dan bersandar padanya. Aku juga selalu berdoa semoga Tuhan selalu menjadikan kamu sandaran setelah penciptaku.

Namun itu sangat singkat sejak aku berdoa. Tuhan menjawab doaku. Seharusnya aku senang bila jawaban itu adalah sebuah jawaban yang menggembirakan, namun jawaban itu adalah jawaban yang tak pernah aku pikirkan sebelumnya. Tuhan seakan berkata ‘Selamat Datang’ padamu. Tuhan ajak dirimu melangkah terlebih dahulu pada cita-cita yang selalu kau ucapkan.

Bahkan masih kuingat pada setiap rembesan darah di kemeja putih itu. Seharusnya kau kesakitan karena aku yakin luka itu bukan luka gores silet. Itu adalah luka yang cukup panjang hingga sanggup membuatmu memuntahkan darah berkali-kali. Namun, kau tersenyum. Mengusap pipiku dengan sangat lembut meski berlumuran darah. Membisikkan kata-kata cinta yang seharusnya aku ucapkan padamu. Namun aku tahu, lidahku sudah teramat kelu untuk berkata.

“Aku tunggu kamu di Surga.”

Itu kalimat terakhirmu yang aku barengi dengan isakan kencang. Sebuah pelukan pun tak dapat aku berikan sebagai hadiah terakhir untuk segala cinta yang kau berikan. Bahkan aku tak dapat membalas ajakan indahmu saat itu. Hanya menangis dan menangis yang dapat mata ini lakukan.

“Jangan pergi, sayang. Aku tak bisa menggapaimu bila kamu di surga.”

Itu hanya kata-kataku lima tahun silam. Kini aku tahu, aku bisa menggapaimu. Aku bisa menyentuhmu dalam doa-doa yang selalu aku panjatkan saat bersujud pada Tuhan. Meminta dengan sepenuh hati agar dapat bersamamu dalam satu tempat yang indah. Membangun rumah dalam surga, itu mimpiku.

Kusiram lagi air bunga terakhir. Mengusap nisan itu terakhir kalinya sebelum aku harus pergi dan melanjutkan perjalananku. Langit mungkin tak terbatas, terlampau luas dan tinggi. Begitu pun dengan doaku padamu. Semoga di kehidupan kedua, kita dapat lebih lama bersama dan bertemu dengan Maha Kekal. Kisahmu selalu aku hidup kan dalam peradaban dan terselimut cinta kasih yang halal.


Agustin Handayani. Perempuan kelahiran Probolinggo, 1996. Memiliki hobi membaca dan menulis. Termasuk mahasiswa aktif, seoarang pustakawan dan juga aktivis literasi daerah. Dapat dijumpai di akun medsosn Fb: Agustin handayani

Facebook Comments