Kugenggam erat dua mug berukuran sedang yang sejak tadi mengepulkan asap, lantas membawanya ke teras depan. Tampak seorang lelaki paruh baya  berumur 50 tahun sedang duduk, asyik membolak-balik halaman korannya. Aku tersenyum sepertinya dia tidak menyadariku. Kuletakkan mug di meja kaca yang menimbulkan suara dan ikut duduk bersamanya menikmati hawa dingin sisa-sisa hujan yang sejak tadi sudah mulai reda.

Sesaat dia hanya menoleh padaku, tersenyum dan meletakkan korannya dan beralih ke minuman yang kubuatkan. Dia sedikit menyesapnya dan mengangguk-angguk seperti kebiasaannya

“Kopi susu untukku seperti biasanya dan kopi hitam untukmu terima kasih”. Ujarnya. Aku tertawa lantas menganggukkan kepala aku tahu bahwa ayahku sedang mengejekku sebenarnya. Menurutnya bagaimana mungkin seorang wanita minum kopi hitam meskipun dia tahu secara tidak langsung dia yang turut andil membuatku menyukai kopi juga. Meski kita punya pandangan dan selera yang berbeda dalam memaknai secangkir kopi.

Setiap kali duduk berdua bersama ayah dan menikmati secangkir kopi selalu membawaku ke masa lalu. Dulu saat tinggiku hanya sebatas lutut ayah. Tidak ada kata absen untukku saat menemani ibuku mengambil biji kopi di kebun. Dengan riangnya kupungut satu-persatu biji kopi dengan tangan yang tak seberapa besar. Biji itu selanjutnya diolah menjadi minuman yang selalu terhidang di meja untuk ayah dan selalu kucicipi diam-diam saat ayahku tak ada.

Masa anak-anak yang khas dan penuh dengan kesederhanaan. Jauh dari sentuhan teknologi dan permainan yang bertemakan layar. Sebuah kenangan yang kerap kali kukeluhkan ingin kembali ke masa-masa seperti itu, jika saja aku bisa.

“Jadi bagaimana pekerjaanmu”, kata ayahku sambil kembali melakukan aktivitas kembali membolak-balikkan halaman korannya. Aku yang sedari tadi sibuk memperhatikan tetesan hujan yang mengalir lewat atap sedikit tersentak

“Untuk saat ini semuanya baik-baik saja yah”. Ayah mengangguk-anggukan kepalanya dan mulai memandangku sebentar, tersenyum sebentar dan beralih menatap tetesan-tetesan hujan.

Aku selalu menyukai akhir pekan bersama ayah meski ayahku yang lebih banyak mendominasi percakapan kami dengan lebih banyak memberikanku pertanyaan-pertanyaan. Memberikanku petuah bijaknya yang sudah kuhafal. Kau perlu berbagi pada mereka yang bernafas juga, bukan hanya sibuk dikendalikan koneksi internet.

“Kau akan segera menemukan pria itu, dia akan datang dengan caranya sendiri  tak pernah merasa lebih. Menjagamu meski tidak tahu apa yang terbaik untukmu, sederhana bukan? Untukmu yang tak pernah menyukai takaran melodramatis” terkekeh-keh ayahku mengatakannya di tengah kesunyian yang menyergap selang beberapa menit.

Aku mendengus pada ayahku meski akhirnya diikuti rentetan tawa juga tiap kali duduk berbincang ia tak pernah lupa untuk mengatakannya padaku, rasanya seperti mendengar rekaman yang terus terulang.

“Jangan bahas itu terus yah, kau tahu aku hanya menganggap itu lelucon saja mana ada lelaki bersama wanita sepertiku yang bersifat Singa gunung”.

“Sebenarnya kau mencari lelaki seperti apa? jangan harap kau akan menemukan lelaki sepertiku karena aku adalah stok terbatas yang hanya dimiliki oleh ibumu seorang, lagi pula jika ayah perhatikan ibumu sepertinya penyakitnya mulai kambuh untuk menjodohkanmu lagi” kata ayah setengah mengejek

Aku memutarkan bola mataku sejenak. Untunglah ibuku tidak mendengar suara kami di teras depan rumah, sibuk membuat kudapan. Teman kopi kami sebelum bergabung bersama kami.

“Siapa yang hilang, kenapa aku harus mencari seseorang?” kilahku membalas ejekan ayahku.

Ayah hanya tertawa mendengar perkataanku, mengedikkan bahu dan menimpali, “Tunggu saja, tidak akan lama pria itu akan datang sebelum insiden memalukan kedua akan terjadi lagi”. Dengan memasang mimik muka serius yang dibuat-buat.

Wajahku merah padam mendengar ayahku menyebut insiden memalukan yang akan terjadi. Mengingatkanku kejadian sebulan lalu saat ibu sibuk mengingatkanku untuk pulang lebih awal dari pekerjaan. Menyuruhku untuk berdandan dan ini itu yang membuatku pusing. Ternyata maksud dan tujuan ibuku yang terselubung adalah menyuruhku mempersiapkan banyak hal karena ibu mengundang salah satu teman ibu bersama anaknya ke rumah untuk menjodohkanku. Bagiku hal ini tidak mengejutkan karena sebelumnya ibuku juga sudah melakukan ini.

Jadilah waktu itu kami makan bersama diselingi pembicaraan meskipun yang paling banyak bicara adalah ibuku, berulang kali ibuku menyikut lenganku agar ikut berbicara tetapi aku hanya lebih banyak melongo dan tertawa saja ibuku mulai kesal dan akhirnya membiarkanku.

Sejam, aku masih bertahan, dua jam aku mulai gatal-gatal dan risih apalagi anak dari temannya ibuku seakan-akan membanggakan dirinya yang kuliah di universitas ternama, pekerjaan dan gaji yang menjanjikan (katanya). Dia tidak berhenti bercoletah aku mulai bosan dengan sikap ibunya yang juga ikut mempromosikannya. Aku menoleh pada ayahku dan menyenggol kakinya dengan sengaja agar membantuku untuk bisa keluar dari lingkaran horor ini.

Tetapi ayahku adem-ayem saja, menikmati sisa puding buatan ibu sebagai penutup makan malam dan tidak menghiraukanku yang mulai kerasukan. Aku menghela nafas dan mulai merapikan bajuku, berpikir sesaat. Maafkan aku Bu, setelah kejadian ini kau boleh mencoretku dari kartu keluarga atau mengutukku menjadi batu kapur setidaknya aku bisa terbebas dari pria imut nan gemulai ini.

Mula-mula aku bernafas cepat, jatuh pingsan serta memegangi dadaku secara dramatis dan menaikkan bola mataku ke atas seperti orang terserang penyakit ayan, ibuku yang melihatku panik luar biasa karena sebelumnya aku tidak pernah seperti ini. Yang lebih mengejutkan teman ibuku histeris bersama anaknya yang (sok) ganteng mencurigaiku mempunyai penyakit keturunan dan ayahku ah, mukanya memerah karena menahan tawa jika tidak dimarahi ibu untuk membawaku ke rumah sakit terdekat.

Satu minggu lamanya berada di rumah sakit, dokter akhirnya memperbolehkanku pulang sebagai tambahan aku hanya dinasihati oleh dokter untuk tidak kecapaian saat bekerja meski sebenarnya aku tidak benar-benar sakit.

Setelah kepulanganku dari rumah sakit, teman ibuku memutuskan kontak dengan ibuku, pura-pura lupa ingatan bahwa akan menjodohkanku dengan anaknya. Ibu sebenarnya tahu bahwa aku sengaja berulah malam itu. Kekecewaan tergambar jelas di wajah ibuku sebagai hukumannya ibuku puasa bicara denganku. Aku tahu aku salah jadi saat ibuku sibuk merajut di waktu senggangnya aku menyentuh punggung tangannya dan mulai berbicara.

“Maaf, jika kelakuanku keterlaluan Bu tapi percayalah dia bukan laki-laki yang baik saat memutuskan perjodohan karena melihatku pingsan dengan pose aneh karena dari awal dia tidak pernah benar-benar menerimaku.”

Aku tersenyum tetap menggenggam tangan ibuku, ibu menghentikan aktivitas merajutnya, menghembuskan nafas panjang dan membalas tersenyum padaku. Aku memeluk ibuku dan akhirnya gencatan senjata dengan ibuku berakhir. Kadang saat meminta maaf dengannya tidak perlu quote-quote haru, cukup realistis dan menyesal karena ibu selalu punya sisi lapang untuk memaafkan kelakuan ajaib anak-anaknya.

“Lagi ngobrol apa nih, sepertinya seru” ujar ibuku yang sudah membawa sepiring kudapan bergabung bersama kami dengan teh melatinya.

Aku tersentak mendengar suara ibuku cepat menggelengkan kepalaku dan berkata, “tidak ada yang penting kok ibu”.

Aku melirik cepat ke ayah memberi kode padanya agar tidak membahas soal lelaki lagi.

Beginilah akhir pekanku bersama dua orang penting dalam hidupku, tak ada kata kerja, apalagi sibuk untuk mereka. Karena mereka selalu punya waktu untukku sejak saat aku belum tahu menggunakan kakiku berjalan hingga aku dewasa seperti ini. Bersama kopi susu, kopi hitam, dan teh melati membuat lupa sejenak memeras otak, tulisan rumit, hingga suara sumbang dari atasan kerja.

***

Memasuki bulan November hujan lebih sering datang. Kembali lagi berkutat dengan sekelumit pekerjaan. Untunglah hari ini tidak terlalu banyak yang dikerjakan jadi sisa waktu yang ada lebih banyak dihabiskan di kedai seperti saat ini, sibuk memandangi orang-orang lewat jendela dengan langkah cepat menghindari bulir-bulir hujan yang semakin cepat datangnya dan semakin deras. Aku mulai meneguk kopiku lagi dan mulai asyik kembali memerhatikan mereka yang sibuk berlarian dan berteduh.

Hujan sejak sejam lalu belum menunjukkan tanda-tanda akan reda. Ini sudah cukup lama bagiku sekali-kali biarlah bermain hujan aku mulai mengambil tasku dan membayar pesananku dan pulang. Saat membuka pintu kedai, hawa dingin menerpa wajah dan badanku, kurapatkan jaketku dan merapikan kerudungku yang berkibar karena angin yang cukup kuat.

Saat aku melangkahkan kakiku untuk menuju ke jalan, tiba-tiba seorang perempuan berjalan ke arahku dengan berlari-lari dengan maksud untuk mencari tempat berteduh, tetapi tidak sengaja menyerempet bahuku. Aku yang tidak siap kehilangan keseimbangan dan jatuh. Jangan tanya seperti apa sakitnya karena yang aku rasakan duluan adalah malunya jatuh di jalan di tengah hujan dengan bonus tatapan dari orang-orang.

Tetapi anehnya aku tidak merasakan hujan membasahiku, saat kudongakkan kepalaku ada seorang pria yang memayungiku dan membiarkan dirinya kehujanan. Aku terkejut karena dia tidak menawariku pertolongan untuk berdiri tetapi hanya melindungiku dari hujan dengan menggunakan satu payung dan membiarkan dirinya ditempa air hujan. Dengan sisa-sisa tenagaku, aku berdiri dengan kikuk tidak berani menatapnya. Sekilas kulihat ia menundukkan kepalanya juga  tidak berani melihatku dan hanya menyuruhku memegang payungnya. Dengan cepat payung itu sudah beralih ke tanganku.

Dan dia hanya mengenakan jaket dan menggunakan tudungnya sesaat dan dia meninggalkanku begitu saja. Aku tidak sempat melihat wajahnya karena terhalang oleh tudung jaketnya dan aku tak sempat berterima kasih padanya. Tubuhnya yang tinggi berbaur dengan orang-orang yang lain.

 

Aku mulai memikirkan pria itu saat jalan pulang ke rumah sampai aku tiba di rumah, sempat terlintas perkataan ayah berulang-ulang tentang datangnya pria yang menjagaku meski tidak tahu apa yang terbaik, apa dia orangnya?, aku mengusap wajahku sejak kapan aku percaya pada lelucon Ayah.

Aku ingin sekali memberi tahu ayah tetapi kuurungkan niatku. mungkin ayah akan heboh dan mengejekku habis-habisan, biarlah aku membicarakannya nanti jika waktunya memungkinkan.

***

Setiap ada waktu, aku menyempatkan diriku ke kedai itu sekedar memastikan dia akan lewat untuk ke sekian kalinya tetapi ia tak pernah datang, ia tak pernah muncul meski hanya sekelebat bayangan saja. Begitu banyak pertanyaan yang ada dikepalaku mulai dari dimana tempat tinggalnya, dimana aku bisa bertemu dengannya, bagaimana caranya berterima kasih padanya. Dan semua pertanyaan itu menguap begitu saja dengan adanya senja dikaki langit. Aku tak berhasil menemuinya kali ini.

Ini upayaku ke sekian kalinya datang ke kedai yang sama, memesan kopi dan menunggunya. Mungkin tindakanku ini patut diacungi jempol karena aku  yang buta informasi akan dirinya tetap nekat menunggunya. Aku melirik sebentar pada jam yang sudah menunjukkan pukul 4 seketika aku beralih mengedarkan pandanganku keluar lewat jendela kedai tersenyum sebentar melihat awan berkumpul dengan pekat sebentar lagi akan hujan menurutku. Dan perkiraanku tidak meleset mula-mula hanya rintik kecil yang semakin deras disertai angin yang berembus cukup kencang, aku menunggu di luar kedai agar  bisa melihatnya dengan jelas saat dia akan datang. Tetapi ia tak datang kakiku mulai kram berdiri di antara deru hujan, bosan  aku mulai menebak apa kali ini kau tak akan datang lagi?.

Ide itu tiba-tiba melintas begitu saja, tidak buruk tetapi layak dicoba aku melangkahkan kakiku berdiri di antara hujan membiarkan diriku kehujanan, tidak memedulikan bisik-bisik tetangga dari beberapa orang yang melihat tingkah ganjilku.

Aku mulai kedinginan, separuh dari bajuku basah tetapi aku tetap menunggunya, saat aku melihat ke bawah aku merasakan hujan tidak lagi membasahiku. Aku tersenyum dan mengangkat kepalaku dia datang memayungiku dan membiarkan dirinya sendiri kehujanan hanya dibungkus oleh jaket kulit (lagi).

Aku tertawa melihatnya dan dia hanya menatapku dengan pandangan datarnya dan menundukkan pandangannya, beberapa tetes air hujan membasahi anak-anak rambutnya dan wajahnya

“Terimakasih untuk datang” kataku mengeraskan suara mengimbangi deru hujan. Dia hanya mengangguk sebentar dan mengangkat wajahnya kemudian

“Jangan menungguku, karena soal waktu saja aku pasti menemuimu” akhirnya dia bicara suara yang begitu berat dari lelaki minim ekspresi sepertinya.

“Aku percaya tapi aku ingin menemuimu setiap saat bukan hanya saat hujan datang saja tapi di setiap musim yang ditawarkan oleh semesta”. Aku menghela nafasku yang disesaki kebahagiaan melanjutkan lagi perkataanku, “Mukamu memerah, kau baik-baik saja?”. Aku mencoba menggodanya dan tertawa melihatnya mengusap tengkuknya salah tingkah dan menggelengkan kepalanya kuat-kuat sebagai balasan dan semakin erat memegang payungnya untuk bisa tetap memayungiku dan membiarkan dirinya tetap basah terkena air hujan.

Kau benar ayah akan datangnya pria dengan caranya sendiri, Aku menyukainya lewat pertemuan pertama dan jatuh hati pada pertemuan kedua semoga dia adalah lelaki dalam ramalanmu ya, semoga….


Sri Anggriani Madanua yang lebih akrab dipanggil Anggi, Lahir di Kendari 04 November 1997. Seorang mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Konsentrasi Ilmu Perpustakaan, menghabiskan waktu untuk membaca buku dan mendengarkan musik. Penyuka Kopi dan Hujan. Bisa dihubungi melalui email: srianggrianimadanua04@gmail.com dan nomor HP 0819433555550

Facebook Comments