Namaku Swastamita Anggraini, ‘swastamita’ yang artinya matahari terbenam. Umurku 13 tahun dan aku sudah mandi, lengkap dengan aroma sabun yang menguap dari pori-pori kulitku.

Cakrawala kini kian mengubah dirinya menjadi jingga terang, aku hanya memangkukan daguku pada sebuah kusen jendela kamarku yang berada tepat di hadapan batas senja, semua keindahan itu tepat ada di depan mataku. Sudah lama sekali aku menatap kosong sejauh ujung pandangan, menikmati udara menjelang senja yang dibawa angin dari laut, seolah ia memberi pesan padaku. Desir ombak tualang jauh ke pinggir pantai, laut mulai pasang seiring mentari yang surut. Perlahan tapi pasti mentari rebah di peraduannya. Syahdu, sendu, namun pilu.

“Kau kenapa Mita?” Suara anak yang juga sedang duduk di sebelahku menyadarkan lamunanku.

“Lama-lama kau akan menua lebih cepat bila terus-terusan melamun seperti ini.” Ledekan disertai senyumannya membuatku jengkel, tapi aku tidak mampu marah padanya, entahlah aku pun juga heran.

“Kau tahu apa yang membuatku kecewa dan menyesal hingga saat ini, Jum?”

“Apalagi kalau bukan senja?” Senyumnya yang lebar tadi mengerut tipis dan agak berat kali ini. “Memisahkan kita bukan?” Lanjutnya tertunduk.

Sebelum bulatan matahari benar-benar sembunyi dan wajahnya menghilang dari ufuk langit, aku mulai mencari-cari sesuatu yang kusimpan lama dalam memori kepala. Senja memang suka mengembalikan duka, senja tak cocok bagi orang yang sedang kecewa.

“Kau tenang saja Mita, aku bisa saja bersamamu kapan pun kau mau. Semua orang juga tahu, akulah yang melindungimu dari anak-anak jalanan nakal itu.” Ucapan penuh kelicikan itu tambah membuatku geram padanya, tapi bila dipikir dia ada benarnya juga. Menjadi anak perempuan yang cengeng, memaksaku harus bergantung pada Juma untuk menjagaku ketika bermain di luar rumah.

“Apakah orang tuamu tahu kau ada di sini bersamaku Jum?” Tanyaku.

“Mungkin, sepertinya mereka sudah melupakanku lama sekali” Ucapnya lirih seraya beranjak menjauh dari kusen jendela.

Tiba-tiba saja pintu kamarku terbuka, seorang perempuan cantik menyapa dengan senyuman hangat, bahkan lebih hangat dari senja.

“Hei sayang, ibu punya biskuit dan susu cokelat. Kau mau?” Ujarnya penuh rasa lembut.

“Mita suka sekali! Mita mau Bu. Bawakan biskuit lebih banyak dan dua cangkir cokelat ya Bu.” Aku tersenyum tipis pada Ibu yang menutup kembali pintu kamarku.

“Ibumu cantik dan baik, persis seperti dulu.” Gumamnya sambil memutar-mutar sebuah pena di antara jari-jarinya.

“Tentu saja, aku rasa semua ibu itu baik.” Aku berkata sambil menatap matanya, wajahnya yang pucat pasi kini agak sedikit merunduk, seperti menahan beban yang ada di bahunya.

“Aku mungkin sudah hilang dalam ingatan Ibuku, sejak tragedi senja tempo hari.” Ujarnya.

“Padahal itu semua murni kesalahan anak-anak jalanan itu, mereka yang menantangku lebih dulu.” Wajahnya berubah memerah, tangannya mulai menggenggam keras.

Aku agak menjauh dari kusen jendela, mundur ke belakang dan memeluk sepasang lututku di atas kasur, persis di sebelahnya. Melihat wajahnya tadi membuat hatiku seperti tercincang rapi, Ibu Juma pastilah bukan orang yang buruk, ia tidak mungkin membela anak-anak jalanan kasar itu.

“Apa kau masih ingat tentang tragedi itu, Jum?”

“Tidak! Aku tak ingat sama sekali!” Jawaban dengan nada tinggi itu membuatku semakin erat memeluk lututku. Juma yang kukenal adalah anak yang kuat, tapi tidak kasar dan pendendam. Saat itu aku kehilangan wajah riang yang selalu ia pamerkan padaku, tapi paling tidak Juma sudah membuatku merasa aman di dekatnya.

“Hei apa itu topi punyaku? Kau masih menyimpannya?” Mata dan jari telunjuknya sama-sama tertuju pada sebuah topi di atas meja belajarku.

“Tentu saja! Itu satu-satunya barang yang kau tinggalkan padaku.” Kulihat wajahnya mulai tersenyum lebar.

Topi itu membuatku bisa mundur kembali ke senja hari itu, saat itu kami beristirahat di bawah pohon beringin seusai lelah bermain seharian. Segerombolan anak jalanan tiba-tiba datang dan merebut Juma dariku, mereka menyeretnya jauh ke tepi pantai. Suasananya persis seperti senja ini. Setelah mereka memukul kepalaku dengan kayu, semuanya lalu menghitam, kosong, dan gelap.

“Lihat Mita! Senja sudah usai, matahari sudah pulang ke peraduan!” Juma dengan sigap berdiri dan melompati kusen jendela yang membatasi kami dari dunia luar.

“Tunggu Juma!” Ucapku.

Aku segera beranjak mengambil jaket seraya menenteng topi Juma dari atas meja belajar. Menuruni tangga menuju pintu rumah melewati ruang tengah. Ibu yang sedang menggunakan celemek tiba-tiba menegurku.

“Mau pergi ke mana sayang? Hari sudah gelap sekali.” Tanyanya sambil mencoba mengejarku yang sudah setengah membuka pintu rumah.

“Juma kesepian Bu! Aku mau pergi ke makam Juma.” Jawabku tanpa berpaling muka.

Hening.


Bujang keren bernama Achmad Dandy ini memiliki kebiasaan menikmati senja, lengking tangisannya terdengar pertama kali di Kota Samarinda tanggal 2 September 1999. Alumnus SMK Farmasi Samarinda ini sedang melanjutkan S-1 Pendidikan Bahasa Indonesia di STKIP Al Hikmah Surabaya. (achmaddandy18@gmail.com)

Facebook Comments