AKU PERGI

Pada jalan-jalan berlampu putih, berkaki tinggi,
Aku ingin pulang
Pada bapak atau ibu, terserah siapa yang paling menginginkanku
Bukankah sedari dulu aku direbut-rebutkannya,
kemudian akulah yang sangat kehilangan rumah.

Bersama rintik rindu, aku ingin pulang
Agar adil itu datang pada yang menghadang
Sembari kutemui malam yang kini pagi,
lalu menusukmu dengan jarum-jarum perih.

Aku ingin pulang,
Pada rumah yang kutemui ibu di depan pintu.
Aku ingin pulang,
Pada bapak yang menungguku datang
Akulah seorang anak yang kau sia-sia pada hari lalu.


HARI YANG KAU SIAPKAN

Pada hari di mana kita memulai,
siapa yang kalah, dialah jerami yang dibakar,
mengabu dan gugur.

Pada hari di mana kita memulai,
bukankah pahit pun manis?
Setengahnya berisi hitam.
Yang indah adalah mencintaimu,
pada panas dan hujan.

Pada hari di mana kita memulai,
dialah akhir yang kau siapkan.
Subur bersama masa lalu yang tak kau padam.
Akulah pergi yang kau inginkan.
Tunggulah, pagi segera datang bersama yang kukabulkan.


KEPADA JUNI

Purnama-purnama berapi kini tengah kau bakar,
yang kutunggu adalah episode terakhir: alias tamat.
Akulah Juni yang kau ratapi sembari menghitung mati,
terlalu brengsek kau rindui.

Pada hari-hari yang segera ingin kau temui,
ternyata pedang merah mendarat sempurna.
Pada bulan-bulan yang kau lalui sendiri,
Juni terlalu pagi menjadi bangkai,
Kuburlah ia dengan pasir-pasir pantai.

Pada Juni yang kau akhiri sia-sia,
yang kau sumpahi tanpa mata.
Pada memori yang tak kau sisakan hati,
tak lagi kau temui suci.
Pada yang kini kau akhiri, akulah yang pantas pergi


MELAWAN MERAH

Aku hampir mati kutu tiap pagi,
berakhir terjaga bersama air dari mata kemarin malam.
Sekuat tenaga, akulah penantang merah,
pada palu yang kau ketuk tanda selesai.

Nelangsa pada lembayung yang kian sobek akarnya,
Kaulah Raja pada gurun tandus yang kucipta,
Ia kering kerontang, sekali kubakar, hangus-lebur, mengabu tanpa jejak tanah
Akulah seorang laknat pada sekuel terakhir.

Tunggu aku di surau itu,
aku pasti datang bersama tandu berkelambu hijau.
Beriringkan seruan para tetangga lantang menyebut nama Tuhan,
jangan menangis, sayang.


AKU PERGI 2

Akhirnya aku terlelap terlalu sore,
Akhirnya aku menenggak butir-butir pahit putih.
Aku menang pada malam-malam yang kujaga bersama air yang gagal jatuh dari kelopaknya

Tunggulah sebentar, sekian tubin lagi kau akan terbang
dan aku akan berselamat tinggal pada ketinggian,
akhirnya tak perlu kau haru aku pada bendera kuning pertandaku.
Kau cukupkan saja pada yang kau mau

Akhirnya kukabarkan pesan terakhir pada surau itu,
pada jalanan yang tak henti padamu,
pada jejak-jejak yang kau buat untukku,
kusisakan riwayat-riwayat yang kupastikan temani banjiran matamu pada tanduku.


Ratri Mia Fitriani, perempuan kelahiran Pasuruan 28 Mei 1994 ini pernah menulis beberapa berita di kolom citizen reporter pada koran lokal Surabaya tentang anak-anak di pedalaman Nunukan, Kalimantan Utara. Kini Ia ingin mencoba menyelami kehidupan sastra. Surel fu.aewz@gmail.com

Facebook Comments