Itu gadis pertama yang kulihat siang ini. Berjalan melingkar api unggun bekas para nelayan. Di pinggir, ia berdiri. Ujung kakinya sentuh bibir laut. Sejuk dan dingin. Sekarang, ia bukan siapa-siapa. Ibunya hilang setelah pesawat yang ditumpang jatuh. Ketika sadar, ia tak bisa mengaduh. Ia hanya berteriak minta tolong. Menjerit sekuatnya. Sampai-sampai burung beterbangan. Burung itu pun tak ingin kembali ke sarang.

Sebentuk tiada berbekas. Di pasir hanya ada jejak kasar. Tanda yang tertinggal. Mungkin jejak orang lain. Atau bisa saja jejak nelayan setelah pulang. Kini, ia lelah…

Ia ingat satu pesan. Pesan yang dicatat dalam telinga. Bukan pesan dari Ibu. Tapi, pesan dari seorang tak dikenal. Seperti kilat pesan itu sampai padanya. Begitu sempurna. Ketika linglung, pesan itu selimuti pikirannya.

“Kau gadis manis yang tercipta. Selepas ini, kau harus sendiri. Di mana pun tubuhmu berdiri. Di sana hidupmu bermula. Kita tak punya kontak lagi. Hubunganku sebatas tumbuhkan kepercayaan diri buatmu. Namun, kau harus ingat, bahwa ibumu tak lebih cepat menjemputmu kali ini.”

Di situ, ia terasa asing. Ia bergerak susuri gigir pantai. Berharap seseorang muncul di tengah laut. Dan mau menolong. Sisi lain pantai itu, begitu berbatuan. Namun, ia tak peduli. Meski ada halangan, ia terus melangkah dan melangkah. Untuk kembalikan napas, ia mencari mentari di timur. Bersama angin, ia harap berita baik. Sambil mengangkat tangan ke langit, ia berdoa. Kemudian raba udara yang berkisar depan mata. Arahkan pandang ke laut luas. Ia butuh simpati. Moga, ada yang datang bawanya pulang.

Di hutan juga begitu. Gadis yang seumur dengannya hilang. Tanpa alasan. Tanpa sebab. Awalnya, ia berjalan melebihi batas rumah. Kemudian, sesuatu menariknya lebih dalam ke hutan. Ia pun lenyap. Situasi berubah. Ia tidak mengerti, apakah hutan itu hutan biasa!

Di dalam sana, ia tentukan nasibnya sendiri. Masih goyah umurnya. Sedikit takut, ia paksakan diri terobos serpihan kayu-kayu, belukar dan semak. Sampai satu titik, ia melihat gubuk reot. Gubuk itu telah lama ditinggal oleh penghuninya. Mungkin, sekadar tempat pelindung bagi pembalak liar. Atau bisa saja gubuk siluman, saat tersesat.

Ia bingung temukan jalan pulang. Ketika itu ia pun teringat satu pesan. Pesan yang tak ia mengerti asalnya. Ia memikirkan isi pesan itu. Bunyinya seperti amanah. Keniscayaan singkat yang ditujukan untuknya.

“Kau gadis pemberani. Makanya, kau dilepas di hutan ini. Di mana pun kakimu melangkah, di sanalah hidupmu bermula. Kita tiada kontak. Hubunganku sebatas tumbuhkan kepercayaan, agar kau kuat. Ibumu akan datang menjemput, di satu tempat yang tak harus kau tahu.”

Gadis itu lebih tegar sekarang. Ia lalu mengurung diri di gubuk reot.  Melamun sekejap saja. Berpikir mencari jalan keluar. Meski resah, ia coba untuk beranjak. Melangkah ke arah jalan sempit. Kakinya lebih ringan sekarang dibanding sebelum.

Matanya liar. Sebentar lirik atas pohon. Sebentar melirik ke bawah. Di tanah, matanya tatap daun lembab berwarna kuning lapuk. Ribuan daun itu terlihat bagai karpet bekas. Dengan bau menyengat. Antara timbunan daun itu terdapat jejak besar. Bagai guratan tapak kaki macan. Ia gugup. Lalu, tutupi ketakutannya dengan mengatur irama napasnya sendiri. Dalam hati ia berkata.

“Setiap makhluk punya kelemahan sendiri-sendiri. Aku percaya, selama tak menyakiti, aku akan selamat!” serunya.

Sebelah selatan, ia terngiang suara orang memanggil. Ia resapi suara itu. Ikuti irama yang tertiup angin. Lalu berharap, suara itu mendekat. Dengan cara itu, usahanya untuk kabur lebih mudah. Sampai sore, suara itu makin kuat. Ia yakin pertolongan pasti datang. Waktunya, bisa selepas magrib.

Di kota asing banyak orang-orang. Suara hiruk pikuk bercampur pekat bersama bunyi mesin kendaraan yang hilir mudik. Mereka entah dari mana…!

Tapi, semua mereka menuju ke suatu tempat. Ternyata, itu pemandangan di sebuah pasar. Mereka melakukan proses jual beli. Pasar yang kasat mata.

Gadis ini terlempar sendiri di sana. Dibiarkan berdiri di antara kerumunan orang asing. Sebelum ini, ia hanya duduk di pinggir sebuah sungai. Melamun panjang tentang dirinya.

Di sana, di antara keriuhan orang aneh itu, ia sempat ingat sebuah pesan. Kuat dan sempurna terekam dalam telinga.

“Kau punya kelebihan. Kekuatanmu membaca apa yang tak kau pikirkan terjadi. Selepas ini, kau juga mengerti. Di mana pun kakimu melangkah, di sanalah hidupmu bermula. Kita tak punya kontak lagi. Hubunganku sebatas lahirkan kepercayaan tentang dunia yang tiada. Namun, ingat! Meski tak lebih cepat, ibumu akan menjemputmu di tempat lain.”

Ia tak berkeluh. Tidak juga sakit hati. Sampai di situ, ia pun tak resah.  Langkah pertama, ia hanya ingin segera keluar dari dunia itu. Mencari pertolongan sebisa mungkin. Di matanya, ia tangkap beberapa cahaya. Cahaya yang benar-benar riil. Sebab, di sana siang bagai malam, malam sepanas siang. Ketika ini, ia tak mengerti bagaimana cahaya itu berubah cepat. Begitu kusam dan blur. Bayang dirinya pun tak bisa jelas tampak. Ia seolah-olah berdiri tanpa rangka. Bagai kaca tembus pandang. Tak buram dan tiada energi. Hanya roh yang sia-sia. Wujudnya tak mampu ia rasa. Padahal, ia manusia biasa. Ia muntah dengan semua ini. Riuh tak pernah mau berhenti. Layaknya, pesta yang baru saja dimulai.

Menyusuri dunia aneh, bagai si buta yang baru melihat. Sorot matanya tajam tiap sudut. Tapi, ia ragu, apakah mereka benar-benar ada! Apabila bersentuh, orang-orang itu tak terusik. Apabila ia ucapkan salam; sebagai upaya basa-basi,  mereka pun tak peduli. Ia seperti berada di gurun pasir luas. Ia pun tak temukan cara terbaik untuk berkomunikasi. Dalam langkah bingung, di satu pojok pasar itu, ia istirahat. Situasi  tak bersahabat buatnya.

Mereka tetap sibuk bernegosiasi. Entah apa yang dicari. Entah apa pula yang dibicarakan. Suara mereka samar sejak awal.  Terkadang, terdengar berdesis. Terkadang kasar. Terkadang juga parau. Ia tak mengerti sedikit pun bahasa itu.

Setelah cahaya berganti, ia ragu. Matanya pun tak lagi melihat hal aneh di pasar. Mereka lenyap. Mereka hilang tanpa jejak.

Akhirnya, ia melihat jalan terang depan mata. Sekian meter dari tempatnya berdiri. Di ujung jalan itu, berdiri rumah besar bagai istana. Ia melongo heran.

Di tengah perjalanan, ia temukan dua gadis yang tak dikenal. Mereka juga menuju ke rumah itu. Mereka tak bicara. Mereka kaku dalam langkahnya. Sepanjang perjalanan, mereka diimpit oleh rimbunan taman dan bunga. Harum bunga bahkan menyesakkan dada mereka. Seolah-olah, aroma tersebut adalah sebuah magnet agar segera ke rumah besar tersebut.

Ada yang tak bisa tersimpan. Semua ingatan serta pengalaman sebelumnya, tiba-tiba lebur sekejap. Mereka tak merasakan kesulitan dan perasaan aneh. Mereka pun tak rasakan sedih. Di mata mereka, gembira begitu terlihat. Mereka pun hilang dalam angan mereka sendiri.

Mungkin ketika ini, Ibu mereka telah menunggu. Mungkin ada orang lain. Atau, bisa jadi si pemberi pesan memanggil mereka ke sana.  Atau, mereka akan menerima pesan lagi di rumah itu.

Tiada seorang pun paham. Setidaknya, sekarang mereka tak peduli apa yang akan terjadi. Sebab, utopia kegembiraan begitu bergelora. Kini, mereka berhenti untuk bicara panjang tentang derita. Di sana, pasti mereka mendapat hal baru. Tapi, aku pun tak yakin, apakah itu yang mereka cari! Indah ternyata tak lebih jelek dari dosa-dosa…


Lydia Nahkluz Petrovaskaya  lahir di Bengkalis. Eks Penggiat Komunitas Pencinta Sastra dan Seni (KOMPENSAS) Bengkalis serta anggota komunitas Forum Aktif Menulis (FAM) di Kediri, Jawa Timur. Pernah memenangi beberapa perlombaan menulis. Di samping menulis, ia menyukai sketsa. Sketsa pertamanya terbit di Harian Riau Pos,12 Agustus 2012.

Facebook Comments