RINDU
Dini hari;
Aku telah basah oleh bunga tidurmu
Ku kecup engkau setiap malam
Meski keraguan kerap kali membunuh kesunyian
Ku seduh kau seperti biasanya
Hangat di waktu dingin
Dingin di waktu hangat
Membasuh aku saat lembayung fajar telah hadir
Embun yang telah menyelimuti mata
Ku hirup kau seseduh
Meski pahit
Keraguanku
Esok pun jalan kutemui pahit
Hanya saja sekali ini
Telah lama namamu berdegup
Di dadaku yang telah terbius rindumu


SEDERHANA
Sesederhana itu kau ungkap rindu
Di cangkir kopiku
Sesederhana itu kau pikat aku dengan imajinasimu
Di kesunyian
Sesederhana itu kau lumat aku oleh bibir mungilmu
Dalam puisi-puisi yang sedang mengeram
Hangatmu telah melahirkan kata-kata
Yang termaktub di sejumlah aksara
Sederhana katamu
Untuk mengingat aku dalam kepayauan hati


HITAM
Aku lah yang merindukanmu
Kau lah yang tak menginginkan aku
Akulah yang mengecupmu
Kau lah yang berlari
Akulah yang terbangun
Oleh bunga tidur
Kau lah yang masih meratap sepi
Hitam!


SEPASANG COFFIE
Saat senja
Kita akan bertukar cerita
Di bibir pantai yang sunyi ini
Deburan ombak telah menggaung di kedua daun telinga
Hirup sepasang cangkir kopi agar mereka tidak kesepian
Saat malam
Terhambur dalam gelap
Terbaring di bawah ribuan bintang yang menyala-nyala
Berikan sebaris kata-kata manis
Tapi tak suka manis
Sembilu yang dulu telah membekas di relung hati
Membuat malam tidak seindah senja yang telah kita buru berdua
Malam pun telah bercerita
Kau adalah apa yang kau rasakan
Aku adalah apa yang aku rasakan
Kita telah termaktub dalam susunan aksara
Meski ruang waktu telah membangunkan fajar
Kita tertidur di sembilu yang masih membekas
Sedikit hati telah terobati
Kau pergi tanpa kata


COFFIE
Kekasihku
Biji-biji yang telah tersangrai
Menjadi racikan-racikan imajinasi
Kembali bersatu oleh pahitnya
Melukiskan senja yang telah membuka tirai mata
Menyelimuti kepayauan hati
Menjadi timangan malam yang lelah
Menyongsong pagi yang segar


Mohammad Oktavino berasal dari Tanjungpinang, lulusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Maritim Raja Ali Haji, mulai bersahabat dengan puisi sejak tahun 2015 dan saat ini aktif bergiat di Komunitas Fiksi Tanjungpinang dan Komunitas Kandil Sastra Tanjungpinang, beberapa karya telah termuat di sejumlah buku antologi puisi, salah satunya buku kumpulan puisi Suara Boedak Sastra terbitan CV. Jejak (Jejak Publisher)

Facebook Comments