Hujan turun lagi hari ini. Aku sungguh beruntung membeli jaket ini tiga minggu yang lalu. Sempat aku mengira jaket ini hanya bualan saja seperti produk-produk aneh lainnya. Bagaimana mungkin sebuah jaket yang berfungsi sebagai mantel hujan namun dapat dipakai di musim panas karena bahannya yang sama seperti jaket pada umumnya, hanya saja bahan luarnya memang didesain untuk menolak air. Namun kenyataannya jaket ini memang sesuai dengan fungsi yang dijelaskan dalam situsnya. Bahkan mereka bilang model jaket seperti ini sudah lama ada di negara lain namun hanya sedikit yang benar-benar memproduksinya di Indonesia. Tampaknya aku saja yang ketinggalan informasi.

Aku berhasil mencapai gazebo favoritku. Dua bangku kayu panjang dengan meja di tengahnya, dan sebuah kanopi yang melindungi dari hujan. Tempat ini sudah menjadi favoritku sejak aku bertemu dengannya pertama kali enam bulan yang lalu, tepat pada saat momen pergantian tahun. Tak lama kemudian suara yang familiar itu memanggilku dari arah belakang gazebo yang mengarah ke hutan kota.

“Sudah lama ya?”

“Enggak kok. Aku bahkan belum sempat lepas jaketku.” Aku menepuk tempat kosong di sebelahku, “duduk sini.”

Gadis itu beranjak duduk di sebelahku dan mengeluarkan sebuah wadah merah berbentuk oval seperti telur.

“Buat kamu,” katanya sambil memberikan benda itu.

“Apa ini?”

“Bukannya sudah kelihatan kalau itu telur?”

“Bentuknya memang seperti telur, tapi aku nggak tahu ada telur semacam ini.” Aku amati lebih jauh benda itu. Daripada sebuah telur, benda itu mirip dengan wadah cincin, hanya saja tidak berbentuk kotak dan berbahan kain.

Aku membuka wadah oval itu dan menemukan sebuah sirkuit terintegrasi hitam, dengan garis-garis putih di permukaannya.

“Tunggu, ini sirkuit kan? Kenapa kamu…”

“Hadiah. Kamu pernah bilang ponselmu menggunakan sirkuit jadul dan kamu ingin merasakan rasanya menggunakan teknologi dari zamanku.”

“I-iya aku memang pernah bilang begitu, tapi…” Aku masih tidak percaya bahwa sirkuit yang aku pegang adalah sirkuit yang tidak akan diciptakan, setidaknya hingga satu dekade mendatang. Sebuah teknologi dari masa depan, “…kamu nggak perlu bertindak sejauh ini, Lysa.”

 

Aku pertama kali bertemu Lysa di penghujung tahun 2025. Momen pergantian tahun akan diperingati di tengah kota, seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun, di kota baru dan berkembang seperti Proxima, hal itu tidak akan terjadi. Kota ini baru diresmikan pemerintah pada tahun 2020 sebagai usaha untuk mengakselerasi inovasi dan riset ilmiah dalam bidang teknologi. Pemerintah mengadopsi konsep kota sejenis Silicon Valley dan Cyberjaya dalam membangun kota ini. Disebut sebagai kota siber pertama di Indonesia, Proxima diharapkan mampu menjadi focal point dalam perkembangan teknologi negara. Kebanyakan dari warga Proxima akan melakukan perjalanan ke kota besar di sekitar Proxima dengan menggunakan kereta levitasi magnetik yang menghubungkan Proxima sebagai kota satelit dengan kota-kota lain. Wacana untuk membangun kereta hyperloop tampaknya akan mengalami penundaan karena faktor keselamatan dan keamanan masih belum tuntas dikaji.

Saat itu, aku salah satu dari sedikit orang yang bertahan di kota ini, dan memutuskan untuk menghabiskan malam pergantian tahun dengan pergi ke satu-satunya taman di sini. Aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat saat mataku menangkap cahaya putih yang menyeruak di dalam hutan kota. Aku lebih tidak percaya lagi saat aku melihat sosok perempuan keluar dari hutan sesaat setelah cahaya itu menghilang. Perempuan yang mengenalkan dirinya sebagai Lysa itu menggunakan pakaian seperti biasa, tidak ada hal yang tampak futuristik selain bando berwarna silver yang membingkai rambutnya. Bando itu memiliki dua indikator lampu di sisi kanan dan kirinya.

“Bando ini yang mengikat tubuh fisikku supaya nggak hancur ketika melakukan perjalanan lintas waktu,” kata Lysa saat itu. Aku tidak bisa menutup mulutku karena tidak percaya bahwa aku baru saja bertemu dengan seseorang dari masa depan.

“Sebenarnya perjalanan lintas waktu sangat berbahaya bagi tubuh manusia, karena kita bergerak mendekati kecepatan cahaya dan tubuh kita nggak didesain untuk menahan beban seberat itu. Belum lagi faktor meta material yang…”

“Iya, iya, aku paham. Aku pernah baca artikel tentang itu kok,” kataku menyela. Memang aku sempat membacanya di sebuah situs daring, tentang kemungkinan manusia melakukan perjalanan melintasi ruang waktu, namun saat itu, hingga kini, belum ada yang mampu menciptakan algoritma yang sesuai, dan tentu saja, belum ditemukannya benda ciptaan manusia yang mampu mencapai kecepatan cahaya.

“Kamu umur berapa, Lys?”

“Dua puluh, kenapa?”

“Dan tahun berapa saat kamu lahir?”

“2064.” Aku hanya bisa melongo.

 

Aku menimbang-nimbang sirkuit yang Lysa berikan padaku. Aku tidak yakin apakah bijak jika menggunakan teknologi yang, pada dasarnya, belum diciptakan di era sekarang.

“Kenapa nggak kamu pasang di ponselmu?”

“Aku nggak yakin kalau sirkuit ini kompatibel dengan teknologi sekarang. Maksudku, sirkuit ini didesain untuk digunakan pada alat-alat di masa depan.”

“Hmm, iya sih. Tapi kamu bisa menyimpannya untuk keturunanmu nanti.”

“Apa untungnya bagi keturunanku?”

“Sirkuit ini harganya mahal, dan masih sedikit orang yang menggunakannya.”

“Lalu kenapa kamu bisa dapat sirkuit semahal ini?”
“Itu salah satu keuntungan jadi asisten professor di universitas. Profesorku memberikan sirkuit itu padaku sebagai ucapan terima kasih karena mau jadi subyek dalam riset perjalanan lintas waktu ini.”

Aku terperangah mendengar kalimatnya yang barusan, “hah? jadi, perjalananmu ini cuma eksperimen?”

“Iya. Itulah alasannya aku nggak pernah bisa lama bertemu denganmu.” Perkataannya membuatku ingat bahwa ada batas waktu dalam perjalanan lintas waktu yang dilakukan Lysa. Bando silver itu, selain pengikat tubuh fisiknya, juga sebagai pengingat. Indikator lampu akan berkedip semakin cepat ketika waktunya hampir habis, ketika itu Lysa sudah harus kembali ke portal di hutan.

“Lalu, kenapa kamu bisa terlempar ke tempat ini? Apa itu artinya taman ini akan menjadi universitas di masa depan?”

“Nggak tahu juga, sih. Kata profesor, kami belum bisa mengendalikan destinasinya, tentang kenapa selalu di tempat yang sama, itu karena profesor nggak mau ambil resiko dengan mengutak-atik meta material yang menjadi jembatan portal antara masa ini dengan masa depan.”

“Oohh.” Aku manggut-manggut mendengarkan penjelasan Lysa tentang alat perjalanan waktu ketika indikator lampu bandonya mulai berkedip. Waktunya Lysa untuk pulang ke masa depan.

“Oh, sudah waktunya pulang.” Lysa beranjak dari kursi dan memberiku sebuah pelukan hangat yang mengagetkanku karena kami tak pernah berpelukan sebelumnya.

“Eh, Lys?” aku sempat ragu untuk membalas pelukannya walau pada akhirnya kulakukan juga.

“Sampai ketemu minggu depan, Levi,” ucapnya sembari melemparkan seutas senyuman yang akan selalu kuingat, mungkin hingga beberapa dekade mendatang. Namun, aku merasa ada hal yang berbeda dengan pertemuan kami selain pelukan tadi.

“Tunggu! Lys!” aku beranjak dari bangku dan berlari menerobos hutan untuk menanyakan sesuatu kepadanya. Tubuh Lysa mulai terurai di antara pancaran cahaya putih menyilaukan.

“Kenapa pertemuan kali ini sebentar, Lys?” aku meneriakkan pertanyaan itu, berharap dia mendengarnya di antara gemuruh suara yang ditimbulkan oleh distorsi ruang dan waktu. Sekali lagi, dia hanya tersenyum.

 

Tiga hari berikutnya aku tidak bisa fokus dalam bekerja. Pertanyaan itu terus menerus mengganggu pikiranku. Pertemuan terakhir terasa singkat, durasinya makin pendek. Biasanya kami dapat ngobrol hingga satu jam setengah. Waktu itu rasanya hanya lima belas menit kami berbicara, bando silver sudah menunjukkan tanda harus kembali. Aku berasumsi ada sesuatu yang rusak dari mesin portal yang membuat durasi pertemuan kami berkurang. Dan pelukan itu, apa maksudnya?

“Lev! Gimana kerjaan?” seorang rekan kerja membuyarkan lamunanku. Seketika itu juga aku langsung teringat akan desain bangunan tiga dimensi yang harus aku selesaikan hari ini.

Aku baru bisa meninggalkan kantor ketika jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Pada akhirnya aku harus kerja lembur untuk menggarap desain bangunan. Entah mengapa malam ini aku memutuskan untuk menggunakan rute pulang yang berbeda. Biasanya aku pulang  dengan berjalan kaki menuju stasiun bawah tanah yang berjarak tiga meter dari kantor. Kebetulan apartemenku terletak tepat di sebuah stasiun pinggiran kota. Tapi malam ini aku menumpang taksi dan turun di taman. Rasanya pikiranku dibimbing untuk menuju taman tempatku dan Lysa biasa bertemu. Sesampainya di gazebo, aku menemukan Lysa duduk di bangku.

“Lysa! Kenapa kamu di sini? Ini baru tiga hari.”

“Nggak kenapa-kenapa, Lev, aku memang pengen ke sini,” katanya sambil melingkarkan tangannya ke tanganku. Kepalanya bersender di bahuku. Aku merasa ada yang aneh hingga membuat Lysa melakukan perjalanan lintas waktu di momen seperti ini. Dari sudut mataku, aku melihat ada luka di kaki kirinya. Aku menunduk untuk memeriksanya. Lukanya tampak baru.

“Kakimu kenapa?”

“Biarkan saja, itu karena aku terlalu banyak tingkah ketika portal aktif. Kakiku terluka karena distorsi.”

“Lukamu parah, Lys. Harus segera diobati. Ayo ikut aku ke rumah sakit.”

“Aku sudah bilang ‘kan? Biarkan saja.” Aku tidak menghiraukannya dan segera membantunya berdiri. “Aku nggak mau ke rumah sakit, Lev.”

“Tapi lukamu harus diobati Lys.”

“Ada obat khusus untuk luka semacam ini di laboratorium kampus. Waktu aku pulang nanti pasti aku obati.” Lysa kembali duduk. Dia sangat bersikukuh untuk tidak pergi ke rumah sakit.

“Ada apa, Lys? Kenapa kamu tiba-tiba datang ke sini?”

Lysa hanya diam dan pandangannya menerawang ke arah lain. Aku tidak melihat ada ekspresi kesakitan di wajahnya, terlepas dari luka di kakinya yang masih mengucurkan darah. Aku mengambil beberapa lembar tisu di tasku dan membersihkan darah yang membasahi sepatunya.

“Waktuku nggak banyak, Lev.” Ucap Lysa tiba-tiba. Aku tidak memahami arah pembicaraan ini.

“Apa maksudmu?”

“Kamu pasti sadar kalau durasi pertemuan kita sangat singkat kemarin. Itu bukannya tanpa alasan. Memang ada sesuatu yang memotong durasinya.” Akhirnya Lysa menjawab pertanyaan yang membuatku resah belakangan ini. Aku tahu pasti ada sesuatu.

“Apa masalahnya?”

“Sejak bulan lalu, aku dan profesor mendapat banyak masalah, salah satunya dari pemerintah yang menuntut agar profesor menyetorkan formula perjalanan lintas waktu kepada pemerintah. Profesor jelas menolak karena jika jatuh di tangan yang salah, formula itu bisa saja digunakan untuk kejahatan. Lalu aku mengusulkan untuk memindahkan formula itu ke media lain dan menyembunyikannya di tempat yang tidak bisa mereka temukan. Dan tempat itu adalah kamu, Levi.”

Aku masih berusaha mencerna kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Lysa. “Apa maksudnya, Lys?”

“Sirkuit yang aku berikan padamu. Sirkuit itu sebenarnya juga menyimpan hasil penelitian dan formula algoritma yang profesor buat, serta cetak biru mesin portalnya. Kami akan hancurkan mesin portal yang ada di universitas agar tidak ada pihak yang bisa menggunakannya. Konsekuensinya, tentu kamu sudah tahu ‘kan? Kita nggak akan bisa ketemu lagi.”

Kalimat itu menghantamku dengan sangat telak. “Jadi karena itu juga kamu peluk aku kemarin?”

Lysa mengangguk pelan, aku bisa melihat air yang tertahan di matanya. “Untuk terakhir kalinya, Lev, tolong jaga sirkuit itu dengan nyawamu. Hancurnya mesin portal juga akan meruntuhkan jembatan meta material yang menghubungkan masa ini dan masa depan. Dan juga, jika kamu masih hidup sampai saat itu tiba, kamu bisa kembalikan sirkuit itu padaku.”

Aku ingin sekali tidak mempercayai setiap kata yang diucapkan oleh Lysa namun aku juga tidak bisa menyangkal kebenarannya. Kami tidak akan bertemu hingga tiga puluh tahun kemudian ketika Lysa lahir. Dan di saat itu pula, aku tidak bisa memastikan diriku masih cukup usia.

Bando silver Lysa berkedip dengan cepat saat aku masih memproses setiap ucapannya. “Levi…”

“Lysa?” aku mengusap air mata di pipinya, sembari menahan air mataku sendiri.

“Ingat aku. Ingat aku setiap malam pergantian tahun hingga nanti suatu saat kita bisa bertemu lagi.”

“Kalaupun kita bertemu lagi di masa depan…” aku menahan luapan emosi yang mulai membuncah di pelupuk mata, siap untuk meledak, “aku sudah pasti nggak akan setampan ini.”

Lysa tertawa kecil di balik tangisannya. Tangannya melingkari leherku dan kepalanya terbenam di dadaku. Aku memeluknya dengan sangat erat hingga tidak menyadari kedipan indikator lampu yang semakin tidak beraturan. Aku menggandeng Lysa erat saat kami berlari menerobos hutan. Mesin portal akan kembali aktif dalam beberapa menit.

Distorsi sudah mulai terjadi ketika kami sampai. “Jangan, Lys! Kamu bisa terluka!”  aku memperingatkan Lysa akan luka di kakinya karena distorsi, dan hal yang sama sedang terjadi saat ini.”

“Aku harus pergi, Lev! Kalau aku tetap di sini aku bisa menimbulkan paradoks. Eksistensiku di masa sekarang akan menjadi masalah dan itu jelas keputusan yang lebih buruk!” Lysa melepas genggamannya di tanganku.

“Lysa!” aku menahannya agar aku bisa melihat wajahnya untuk terakhir kali. Aku tidak akan melupakan wajah gadis dari masa depan ini seumur hidupku.

“Aku pergi, Lev…”

 

Aku terbangun di kamarku dengan keringat dingin. Aku mengira baru saja mendapatkan mimpi buruk tentang Lysa namun sebenarnya itu adalah kenyataan yang terjadi semalam. Aku ingat menangis semalaman mengingat beban berat yang ditimpakan kepadaku. Aku harus menjaga sirkuit berisi ilmu pengetahuan dari masa depan dengan segenap nyawaku, demi seseorang yang aku sayang, yang aku temui dari masa depan.

Sebelum berangkat ke kantor, aku pergi ke taman itu sekali lagi dan melihat masih ada sisa distorsi di dalam hutan. Dedaunan yang terpotong dengan rapi, tanah yang tidak rata namun dalam bentuk yang di luar nalar, dan udara yang terasa menyesakkan. Aku baru sadar hal inilah yang dialami Lysa setiap kali ia melakukan perjalanan lintas waktu untuk bertemu denganku. Aku mengambil sirkuit yang aku simpan di kantong jaket dan menggenggamnya dengan sangat erat, bersumpah untuk melindunginya sampai kapan pun. Semalam telah berlalu namun otakku masih saja berusaha memproses semuanya. Dalam hati kecil aku bertekad untuk terus hidup setidaknya hingga aku dapat bertemu dengannya lagi di masa depan. Aku juga sempat memikirkan perkataan Lysa tentang konsekuensinya jika ia memaksanya untuk tidak kembali. Paradoks yang ditimbulkan akibat eksistensi Lysa di masa ini jelas akan merusak aliran waktu. Tidak hanya merusak, bahkan berpotensi menghancurkannya. Nampaknya, sejauh apapun manusia berkembang, hukum alam tetap menjadi dinding yang tidak boleh dilewati. Paradoks adalah sebuah keniscayaan, namun manusia dapat memilih untuk menghindarinya alih-alih melawan. Aku tidak ingin mempercayainya, namun pertemuanku dengan Lysa, walau cukup singkat, jelas menimbulkan sepercik harapan bahwa di masa depan, manusia mampu melampaui pencapaian generasi sebelumnya, dan pemerintah kerap kali menjadi pihak antagonis di setiap episodenya.

“Ingat aku, Levi…” kalimat itu kembali terngiang di kepalaku.

“Lys…” aku melihat ke arah arlojiku, berharap dapat menghitung waktu demi waktu hingga aku mencapai umur sekian agar bisa menemuinya lagi, “…mana mungkin aku tidak mengingatmu.”


Bill Alexander adalah seorang mahasiswa sebuah perguruan tinggi swasta di Malang. Cowok yang biasa dipanggil Ale ini memiliki minat pada bidang sastra sejak duduk di bangku SMP, bersamaan dengan tumbuhnya minat membaca novel. Cita-citanya adalah menulis novel dengan genre sci-fi yang epik dan juga menulis skrip cerita untuk dijadikan film layar lebar. Untuk berdiskusi lebih lanjut, bisa dihubungi melalui email ke billyalexander3018[at]gmail.com, atau ke akun Instagram: @gtfobilly.

 

Facebook Comments