SEMENJAK LANGIT MENDUNG

Semenjak langit mendung
Aku menyukai bayang-bayang
Yang memanjang di depan
Kadang di belakang

Tiba-tiba aku ingin menjemur diri di tepi pantai
Dengan tubuh telentang dan mata terbuka
Lalu, silau

Akun ingin mencuci sebanyak mungkin
Dan menjemur di halaman
Berharap tak lama kemudian
Cucian kering.

Tetapi jika engkau kembali
Dengan matahari paling cerah
Di pagi hari.
Aku tak menginginkan apa-apa
Selain bersama abadi.

Maret, 2018


DALAM SUATU MIMPI

Kita duduk di depan kelas
Hujan begitu deras

Aku berkata kepadamu
Jika kepulangan kita adalah
Perpisahan yang pahit itu
Biarkan hujan ini tak reda
Sepanjang usia kita

Aku menyukai hujan
Selagi kita berteduh
Berduaan.

Maret, 2018


KETIKA DI LUAR HUJAN

Ketika di luar hujan
Aku berteduh di dalam kamar
Duduk memandang kenyataan
Tentang dunia yang tercemar

Setiap benda berbagi gigil
Setiap jiwa berdzikir

Selain rintik hujan
Yang kekal dalam ingatan
Adalah lantunan adzan

Maret, 2018


TENTANG KURSI
Di kafe basa basi

Kutatap engkau saat pengunjung sepi
Di tubuhmu malam sepenuhnya tenggelam

Setiap jejak menanggalkan kenangannya

Di mejamu
Asbak menampung segala
Kesunyian

Aku menatapmu berkali-kali
Dan sepi selalu tampak pertama kali

Maret, 2018


SEUSAI HUJAN

Seusai hujan
Pohon kehilangan angin
Malam kehilangan bulan
Dan aku kehilangan segenap ingatan kepadamu

Sedang di jalan
Bunyi kendaraan adalah satu kebisingan
Yang tersisa, tak ada pejalan kaki seorang pun

Begitu pun di sampingku
Hanya sebuah kursi dan meja yang menyendiri.

Aku terus mencarimu
Jauh di dalam ingatan

Hingga akhirnya
Ladang kehampaan terhampar
Di dalam alam pikirku.

Maret, 2018


AKU DUDUK BERSAMA BULAN

Aku duduk bersama bulan
Keberadaanku ditandai dengan cahayanya
Memancar dari langit, mengaliri air sepanjang sungai
Jatuh di pohon-pohon, merayap di tanah.
Kemudian sepasang kekasih mengabadikan
Dengan ciuman paling nikmat.

Bersama malam kutampung segala sunyi
Bersama detak jam kubiarkan waktu menjejak bumi
Langkahnya tak kuhitung, ia melesat jauh
Bayangannya berkelebat di tengah cahaya bulan
Barangkali ia merindukan langit
Atau tempat asing di luar alam semesta.

Aku masih duduk
Dengan mata mengantuk
Kepala menunduk
Tiba-tiba angin berbagi gigil
Menyuruhku tidur
Menggapai mimpi-mimpi
Menggapai yang abadi.

Maret, 2018


SEBUAH MALAM
Kepada Mila

Seperti buih
Malam mengapung di udara
Gelapnya menghalau pandangan mata

Setitik cahaya memancar
Di langit malam
Aku berkata, pancaran cahayamu
Jauh lebih terang

Malam mengapung di udara
Dingin-dinginnya jatuh di jalanan
Sebuah rencana berbagi gigil
Sebuah usaha menerka takdir

Maret, 2018


AKU INGIN

Seperti bulir embun
Malam menempel di kaca jendela
Detak jam mengusir sunyi dari kamar

Di halaman cahaya remang oleh hujan
Seperti cecak gigil merayap di dinding-dinding

Sedang ingatan tak kuasa membendung
Kenangan yang bergejolak di alam pikirku.

Maret, 2018


Hendri Krisdiyanto lahir di Sumenep, Madura.alumni Annuqayah daerah Lubangsa. Puisinya pernah dimuat di: minggu pagi, buletin Jejak, buletin kompak. Antologi bersamanya :Suatu Hari, Mereka Membunuh Musim (Persi :2016 ), Kelulus (persi :2017) Dan The First Drop Of Rain 2017. Sekarang aktiv di Garawiksa Institute, Yogyakarta.

Facebook Comments