PERAHU TIADA BEROMBAK

Aku ingin mengeja tiap langkah peradaban kecil jejak kita
menggumamkan peribahasa klasik pada pencar sunyi di ranting waktu
dan keinginan bermanja-manja menatap rindu yang bergelayut
pada jejak Jembatan Barito sewaktu kita menghidu kabut menuba masa
tepat ketika ujung jemari tanganmu menyentuh daun ilung
yang bertandang dari ulu Barito
di kala senja keemasan memamerkan sebagian petuahnya kepada kesiur bayu.

Mari kita menatap pegunungan Himalaya hitam
di tiap sisi pendayung nelayan kecil.
Ada haru berkecamuk
membisiki tiap kenangan membaca degup angin
sembari menyaksikan pernikahan gerimis di tepi jembatan  ini.

Perhelatan akbar
dengung sindir dialog sibuk insan yang pulang pergi
tanpa mengenal betapa cakrawala dengan segala rupa bersedia menumpahkan tinta
sebelum bianglala terpenjara oleh pagar tiada bernama di ujung siluet malam.

Engkau ingin aku menulis lantas  melafalkan sajak embun
dari sayap pena ini. Ada serangkum halimun sebagai tirai sukma
sewaktu kita pernah memainkan jukung-jukung tanpa dayung
menjadi sebatang puisi putih di beranda sungai keruh.

Menafsir  ritus para sepuh bercerita
hikayat-hikayat lama sepanjang sejarah masa silam.
Merangkai  rindu pada balutan jilbab dan bingkai kaca matamu.

Baur ruas jemari camar menguak takdir buih
di persimpangan hutan ujung dermaga ulin
lesap dedaunan.

Rempah bisik-bisik riak
menjaring nyanyi perahu tiada berombak.

Aku menukik bayang, becermin pada sebidang senyum
yang hanyut bersama adat-istiadat para pendahulu.

Martapura, 2016


SUNGAI DI KENINGMU

Lampai rumpun bambu mampir sejenak pada dada sungai
mengucap salam kepada pemilik hikayat purba
ada sampan membelah raut kelam wajah keruh arus waktu.

Di ujung ranting karamunting
duduk membatu seorang pengembara tua
menjinakkan sajak-sajak liar yang menyembul dari rahim sungai
sembari membaca perjalanan pusara daun silara menuju bilik halimun
hingga perjamuan arus kian membawa lanting lewati semadi ilung
yang bermukim di Sungai Barito.

Ada kejenuhan menatap senja dari jembatan ini
membaringkan rindu pada peraduan di pentas lazuardi.
Payau, bermain tangkai-tangkai basah mawar yang usang
sebagaimana angin memanjat daun muda kala kita menyulam gercik sungai
menjadi sebatang metafora  dalam lekuk gemulai penari gerimis.
Masih asyik berenang pada dekapan riak sungai di keningmu
melupakan suluh yang hampir padam melawan kesiur bayu
ataupun aku hanya ingin menyudahi kenduri zaman ini
entahlah.

Dan aku kembali berpulang menuju sebidang rumah tua di sudut sunyi
melafalkan jejak-jejak tertinggal pada temali di tiang kelam
seusai isak tangis batu tua di pelataran debu membingkai senja kuning
beraroma melati berujung purnama berambut perak
tanpa kusadari sungai di belakangku menjadi seonggok batu.

Harapku, sungai di keningmu terus mengalirkan hikayat-hikayat nirmala
tiada terpanggang bangunan-bangunan congkak
dan generasi mendatang masih bisa bernafas dalam kearifan sungai.

Martapura, 2016


SAJAK KECIL II

Jee, di batas kota aku membatik puisi
dan doa berdarmawisata.

Ah, tiada sebijak  pertembungan
antara hujan dan kemarau
aku bermakam di gigil rindu.

Martapura, 2017


DI PENGHABISAN MARET

Di penghabisan Maret
kita saling melempar kata.

Rindu katamu adalah puisi
yang terlampau sunyi ‘tuk ditulis
bahkan seusai khatam
lelaku kalender mengantar hari-hari bising
kita masih ragib bersawala
ahwal  secangkir kopi dan kantuk.

Di penghujung sajak
Maret merajuk
dan kita diam-diam berpulang.

Martapura, 2017


HUSNUDZAN

Husnudzan: kausa.
Di praja, kata melahirkan lakon.

Sutradara bertaklimat: matlamat keguyuban.
Seorang kawan berteater: sepasang hud-hud menyelinap
di reranting metafora.
Dan pada palka tubuh: seikat puisi menafsir doa.

Jannah.

Martapura, 2017


Salim Ma’ruf, seorang Mahasiswa tingkat akhir yang berdomisili di Martapura. Bergiat di Sanggar Ar-rumi Institut Agama Islam Darussalam Martapura dan Kindai Seni Kreatif Banjarbaru Kalimantan Selatan. Puisinya tersiar di berbagai antologi bersama, di antaranya 6,5 SR Luka Pidie Jaya (2017),  Menembus Kegelapan Menggapai Kerinduan(2017), Maumang Makna di Huma Aksara (2017), The First Drop Of Rain (2017), Ungkapan Cinta (2018) serta di Linikini.id, Nusantaranews.co, Majalah Simalaba, dan Qureta.com.

Facebook Comments