Hujan tahu kapan ia harus turun dan kapan harus berhenti. Ia tahu kapan harus datang dan berpulang. Waktunya tak akan pernah tertukar. Maka, mungkin karena itu juga, hujan selalu dirindukan oleh mereka-mereka yang menyukai kenangan. Hujan selalu memiliki kenangan yang mampu dirindukan. Itulah sifatnya.

Begitu pun dengan aku. Kenangan dan hujan selalu berputar pada otak dan pikiranku. Menimbulkan sebuah perasaan yang kusebut rindu. Bukan rindu yang dimaksudkan pada seorang lelaki atau kekasih. Ah, ini lebih kepada rinduku pada sebuah tawa dalam tempat surgaku. Tawa-tawa dan gelitikan yang sering kami lakukan saat malam hari tanpa terlewatkan semalam saja.

Dulu, saat langit meredup, aku dengan senyumku akan duduk di teras depan untuk menunggu. Menunggu sumber-sumber bahagiaku. Ayah yang baru pulang dari kulinya dan Bunda yang juga baru selesai di kantornya. Mereka pulang saat senja tertelan di ufuk barat.

“Ayah dan Bunda pulang!” seru Ayah dengan raut wajah lelahnya, namun tersembunyi saat melihatku yang sudah menunggu dalam senyum kerinduan.

Setelah pulang dari kantor, Bunda selalu rutin menjemput Ayah di tempat kerja proyeknya. Itu adalah kebiasaan yang selalu kunikmati tiap petang. Paginya mereka berangkat bergandengan tangan, tak lupa kecupan-kecupan yang selalu mampir di pipi dan keningku. Hal yang tak pernah luput dari bahagia adalah saat gelitikan dan tawa yang membahana di malam harinya. Saat di mana Bunda akan bermanja dan duduk di pangkuan Ayah. Sesekali kami bercerita tentang bagaimana keseharian yang kami jalani. Sempat aku berpikir, suara merdu katak-katak bahkan tak guna lagi, sudah tak merdu. Sebab, tawaku, Ayah dan Bunda adalah melodi malam yang tak ternilai harganya.

Namun seingatku itu sudah berlalu setahun yang lalu. Setahun penuh suka itu kini mulai tergelincir hingga duka menyapa dengan sangat kejam. Setiap malam, hanya terdengar bentakan, teriakan, dan cacian. Suara pecahan bahkan menemani amarah tersebut. Seakan tak akan pernah ada habisnya. Mungkin lelap adalah waktu tersunyi sebelum amukan dan cacian menyapa di pagi harinya. Tak akan pernah kujumpai lagi tawa dan kemanjaan tersebut. Semuanya telah hilang dan hancur.

“Aku kerja keras untuk keluarga dan kamu malah menuduhku ini dan itu. Ingat, aku kepala keluarga di sini! Hormati aku!”

“Cih, kepala keluarga kamu bilang? Bahkan bayaranmu tak seberapa dengan gajiku. Ingat juga. Kamu hanya buruh, kuli dan tukang pekerja kasaran!”

“Jaga ucapanmu! Ada Loli di sini.”

“Kenapa memangnya? Biar saja Loli tahu Ayahnya tak becus.”

PLAK

Saat itu juga, aku hanya bisa menangis di pojok kamar. Menepi pada sudut lemari, mencoba mencari perlindungan pada kayu mati tersebut. Aku mulai takut pada suara-suara gesekan kulit yang beradu di luar sana. Aku terpuruk di umurku yang seharusnya penuh belaian dan hangat sebuah pelukan.

Hari tetap silih berganti seingatku. Masih pada musim kering yang menyapa. Di situ bahkan aku mulai mengenang hujan tahun lalu. Saat tanpa sengaja aku mendengar gombalan janji Ayah dan Bunda di depan televisi malam itu. Kini semua seakan mimpi. Angin lalu yang tak berarti. Janji-janji sakral itu mereka lupakan dengan sebab yang belum aku tahu awalnya.

“Kamu selingkuh!”

“Kenapa? Dia lebih kaya dari kamu yang hanya seorang buruh.”

“Kurang ajar kamu! Isteri tak tahu diuntung.”

Dan gesekan kulit itu terdengar lagi. Kini lebih keras, lebih penuh emosi. Bergema dari kamar sebelah. Ini bukan hal baru di beberapa bulan terakhir. Aku mulai terbiasa hingga menghilangkan rasa takut. Aku membatu dan dingin. Mengabaikan keegoisan dari sumber bahagiaku. Bahkan, entah sejak kapan, aku mulai diasuh oleh seseorang Nenek yang dibayar rutin setiap bulannya. Aku mulai beranggapan Nenek itulah Bundaku yang baru. Bunda yang memberikan sebuah kasih sayang yang telah hilang dari Bunda pertamaku.

Hingga anggapanku menjadi nyata. Hari itu, dikedatangan hujan pertama kali, Ayah menyeretku ke sebuah kantor di mana ada Bunda yang duduk menghadap ke depan tepat kepada tiga lelaki. Di depan lelaki tersebut terdapat sebuah palu kayu. Mungkin aku belum kenal dan tahu apa itu dan sedang apa aku di sana. Hingga sebuah ketukan palu dan kata ‘cerai’ menjadi PR-ku kala itu. Saat Bunda menciumku untuk yang terakhir kali, membisikkan sebuah pesan pada Nenek dan terakhir menatap Ayah sesaat sebelum akhirnya keluar bersama seorang lelaki tampan berkemeja hitam.

Kini, di umurku yang kedua puluh. Saat aku tengah menatap rintikan hujan dan tampiasnya. Aku mulai mengingat bahwa sepuluh tahun lalu aku pernah memiliki Bunda dan Ayah yang berada dalam rumah yang sama. Pada kasur yang sama. Kue di tanganku bukan seperti kue-kue kebanyakan. Kue ini sudah sepuluh kali aku rayakan tiap tahunnya. Sejak kepergian Bunda dan kata cerai itu. Malamnya aku membeli kue hitam tanpa gula atau tambahan manisnya sebuah misis, benar-benar kue hitam yang pahit. Sengaja memang. Kue hitam, pahit, dan gelap. Seperti hidupku sepuluh tahun ini. Ayah yang masih bekerja bahkan lebih giat lagi seakan tak memiliki rumah. Bunda yang kudengar memiliki anak dengan keluarga barunya mungkin sudah lupa denganku. Sempat aku menghujat pada semesta, mengapa sangat kejam? Apa salah keluargaku di masa lalu? Bila dosaku di masa lalu memang besar, mengapa aku tak bereinkarnasi menjadi hewan saja seperti dewa-dewa lain.

“Nek, bukankah Bunda seharusnya di pangkuan Ayah?

Nenek yang menemaniku itu diam. Tak menjawab pertanyaanku saat melihat Bunda duduk di pangkuan lelaki lain dan bukan Ayah. Saat itu juga pemahaman itu yang kubawa hingga kini. Tak selalu, Bunda di pangkuan Ayah. Waktu telah membedakan keadaan. Tak ingatkah mereka padaku? Pada kebingungan yang sering hinggap dalam sempitnya pikiranku kala kecil? Lupakah mereka pada bocah sepuluh tahun yang menangis di sudut ruangan kala pertengkaran itu dimulai. Mungkin mereka memang lupa, karena Bunda saja tak selalu ada pada pangkuan Ayah.

Mereka telah sama-sama terlena pada indahnya kepuasan semata. Melupakan dan mengingkari suatu kebenaran yang hakiki. Semua yang salah, selalu benar di mata masing-masing yang tertutup kabut. Melupakan pula seorang yang tak seharusnya mendapatkan getahnya. Lupa akan seorang anak yang harus mendapat cinta dan kasih sayang. Lupa, bahwa hujatan akan mengarah pada sang anak dan bukan mereka. Karena setan yang bersemayam, memang bisa melumpuhkan pikiran.

Probolinggo, 18 Februari 2018.


Agustin Handayani. Perempuan kelahiran Probolinggo, 1996. Mahasiswa, Pustakawan dan juga penggiat literasi daerah. Hobi membaca dan menulis. Dapat dijumpai di akun media social seperti Fb : Agustin Handayani

Facebook Comments