Jeda mengabadikan ruas di pangkalan waktu.  Biru udara merekah, menyelaraskan muara manik-manik hujan di tepi payung. Tidak seperti ilusi yang menjadi hening, tidak pula seperti titik yang menjadi jejak. Tatkala senyum itu hadir, ada bimbang yang mulai tumbang. Saat kau ingin menyeimbangkan antara dentuman hujan yang jatuh dan langkah kaki, kau tak akan mampu mendengar irama langkah yang jelas, yang ada hujan membuatnya pudar. Semuanya mampu dicairkan oleh waktu, namun kisah sporadis di kala itu, terlanjur terpatri di hatiku.

Tahun lalu. Malam yang bisu memang. Tidak. Malam yang dipenuhi irama hujan di atap halte bus. Aku Alma Sasmita, siswi kelas 3 SMA Negeri 10 Jakarta. Sambil mengunyah beberapa tusuk cilok, kulihat arloji mungil yang melingkar di tangan kiri, sudah pukul 19.00 WIB. Acara festival tahunan memaksa setiap muridnya untuk bekerja ekstra. Lelah sudah sejak tadi melumat tulang punggungku. Bus sekitar 30 menit lagi akan tiba dan hujan belum ada tanda-tanda akan reda.

Aku berjalan di sekitar halte untuk membuang tusuk cilok di tong sampah. Kebetulan halte sepi, jadi tak apa bila berjalan mondar-mandir. Rambut panjangku bertebaran tatkala angin kasar lewat meniup rintikan hujan. Sembari merapikan rambut yang berantakan, kakiku tak sengaja menginjak kulit pisang dan terpeleset hingga terduduk di lantai halte.

Kusadari, jam tangan terpental entah ke mana. Tak kudapati jam tangan di sekitar kursi tunggu di halte. Terpaksa aku keluar dan berjalan di bawah hujan untuk mencari jam tangan. Tak akan kubiarkan jam tangan limited edition hilang begitu saja. Tangan kiriku memegang bokong yang sakit; sedangkan tangan kanan mengais-ngais dedaunan di bawah pohon. Tetap saja tak kutemui, karena tempat itu begitu remang. Seragam sekolahku mulai basah kuyup.

Hingga tiba-tiba, suara hujan itu mirip seperti rintikan di atas atap. Aku menengadahkan wajah ke atas, ada sebuah payung berwarna cokelat menjadi pembatasku dengan hujan. Kubalikan badan ke belakang. Sosok laki-laki berkaki jenjang dan berambut hitam ikal dengan alis mata yang tebal sambil memegang tangkai payung. Bola matanya begitu tenang bak danau Ranu Kumbolo. Bibirnya sama sekali tak bergumam. Waktu seolah berjeda, bahkan dunia saat itu seperti tak bergerak. Hanya mataku yang tak mampu berkedip.

Kulihat sosok di depanku yang mematung. Jantungku memacu gendang bersuara. Kudapati ribuan tanda tanya di wajahnya, namun kosong jawaban. Tatkala aku masih sibuk dengan perasaan yang berkecamuk, dia mengulurkan jemari yang menggenggam sebuah benda berwarna putih.

“Kau mencari ini?” ujarnya membangunkan lamunanku.

Aku tersentak kemudian, ketika melihat benda itu ada di tangannya.

“Kau bertemu jam tanganku di mana?” jawabku dengan wajah yang terlihat linglung.

“Di bawah tong sampah, di halte.”

“Oh. Ter-” Belum sempat kata terima kasih terucap di bibirku, bus yang aku tunggu sedari tadi telah tiba.

Dengan cepat, ia meninggalkanku lalu menuju bus. Aku pun menyusulnya menuju bus tersebut. Setelah memilah tempat duduk, mataku menyapu kursi penumpang yang ramai dan terhenti pada sosok yang telah menggetarkan hatiku, kini. Namun, matanya menerawang keluar, pada jendela yang berembun.

Sejak malam itu hatiku mulai berkecamuk tak menentu. Kurindu bila hujan tiba. Tidak. Tepatnya sebuah payung cokelat. Aku mengitari ruas antara aku dan hujan. Kulihat banyak orang berjalan sambil memegang tangkai payung. Terlihat samar, namun tak ada dia di antaranya.

Malam kemarin suasananya terlalu remang untuk dapat melihat wajahnya dengan jelas, namun tetap saja aura tak dapat membohongi sebuah perasaan. Dia begitu tampan dan tinggi.

Festival sekolah telah selesai, seluruh murid pulang sore hari ini. Kuharap bertemu dia lagi di hatle kali ini. Bukan karena sebuah kata terima kasih belum terucap, bukan pula karena sebuah senyuman harusnya aku berikan, namun karena hatiku terlanjur mempertanyakan dia.

Aku tak mampu menerka kapan hujan tiba, tak mampu menerka kapan tepatnya Si payung cokelat itu datang. Namun, aku mengenali sebuah detakan yang berasal dari hatiku. Ada sebuah pertanyaan yang sampai saat ini menukik hatiku. Pertanyaan yang begitu melanglang kabut. Sebuah kalimat yang begitu mendasar. Tepatnya, siapa dia?

Bus telah tiba. Satu hal baru yang membuatku kesal di saat bus telah tiba, dia tak terlihat.

Kubiarkan saja hari-hari itu berlalu.

Hingga beberapa minggu kemudian, tak pernah lagi kudapati manusia dengan payung di tangannya seperti malam itu.

Terlalu pelik hatiku, bila terus memikirkan seseorang yang tak sengaja membantu bahkan tak pernah bisa mengenalnya. Aku tak berharap lagi ada sebuah payung yang melindungi di kala hujan turun. Karena di saat aku berharap, payung itu tak pernah ada.

Sepertinya musim panas telah tiba. Aku hampir tak melihat hujan turun lagi. Pengalaman kemarin begitu sporadis bagiku. Bahkan tak mampu digambarkan oleh sebuah diksi. Namun, analogi eksperimen itu telah menuklir di perbatasan antara ruang realita dan dilusi. Juga hardiknya waktu terlalu meremehkanku. Kerap aku menunggu malam tiba di sekitar halte bus. Aku bahkan digilas seton hujan hanya untuk melihat sebuah payung. Namun, sejak kapan kebisuan mampu berubah menjadi nyanyian bila aku tak tertawa sendiri akan ulahku yang terlalu ambisi. Namun, tetap saja selama ini kutapaki jalan ilusi untuk membalas sesalku karena tak sempat memberanikan diri bertanya waktu itu.

Bila mengharapkanmu adalah sebuah fiksi, maka menunggu adalah sebuah kesia-siaan. Bila hujan adalah sebuah kekecewaan, maka payung adalah sebuah kepalsuan.

Keesokan harinya cuaca begitu cerah. Bel tanda pelajaran pertama pun berbunyi. Dari balik pintu Pak Hardi masuk  bersama seseorang. Mataku terbelalak.

“Si payung itu,” gumamku pelan.

Kulihat banyak siswi terpana dengan lelaki yang datang bersama Pak Hardi barusan.

Pak Hardi mempersilakan lelaki itu untuk memperkenalkan dirinya.

“Halo, perkenalkan saya Gilang guru baru di sini. Mulai hari ini, saya menggantikan Pak Hardi yang akan ditugaskan di SMA Negeri 2 Depok.”

Setiap siswi kaget saat mengetahui lelaki yang tampan dan masih muda itu akan menjadi guru kami.

Lantas aku? Jangan tanya bagaimana perasaanku.

Tak sadar bibirku berucap, aku bertanya mengenai statusnya. Dan lelaki yang tak asing di hadapanku pun tersenyum malu, lalu menjawab, “Saya telah menikah lima hari yang lalu.”

Mendengar penuturan itu aku manggut-manggut sambil tersenyum hambar.

Bom itu baru saja meledak.

Dan pada akhirnya, payungku telah terbang bersama angin kasar. Bahkan tak tersisa sebuah tangkai yang mampu kupegang, juga melindungi di kala hujan.


Penulis lahir pada 30 Oktober 1997 di Lubuk Linggau, Sumatra Selatan. Bernama lengkap Ledi Diana Anggraini.  Saat ini penulis telah menyelesaikan pendidikannya di bangku Sekolah Menengah Kejuruan, jurusan Teknik Komputer dan Jaringan. Impian terbesarnya adalah menjadi seorang penulis yang dengan karyanya, ia bisa bermanfaat bagi orang banyak.

Penulis dapat dihubungi via email :ledidianajimin@gmail.com, No. HP: +6281369413059 dan Facebook : Khumairoh.

Moto : Kegigihan mengalahkan bakat, ketekunan mengalahkan bakat, kerja keras mengalahkan bakat, dan lapisi dengan hati yang baik maka kau akan jadi juaranya. Hal ini menyadarkan kita bahwa mengandalkan bakat saja itu tidak cukup.

Facebook Comments