SEJAM SEBELUM KEPERGIANMU

Kemarin kau bertanya tentang sayap yang patah. Kau ingin aku percaya matamu bukanlah makna kehilangan. Tapi sulur yang keluar dari lubangmu tak pernah berkata bahwa kehilangan bukan jawaban.

Biarkan bintang padam saat aku bertanya terakhir kalinya kau pergi. Seperti kemarau, kau bersuara dan berterik di antara nadanya. Sepotong jalan yang pernah kau hinggapi kini berdarah gembira yang dipaksa.

Layaknya kemarin, hujan hanyalah rayap yang melayang dan bersukma di atasmu. Dan kau menyukainya daripada orang yang membencinya. Dan saat kau kehilangan jiwamu-ditelan angin selatan, aku mulai bercerita tentang kepala-kepala dalam dirimu.

Sebagian dirimu pernah berkata benar mengenai kebohongan. Menghapus diri dan menyisakan kesedihan agar kau mengerti dunia. Seperti yang tuanmu katakan. Kau bersama kesunyian yang merayap dalam katakutan besarmu-kehilangan. Layaknya orang yang berkata benar, ketidakpahaman memaksamu melangkah di atas makammu. Dan bulan yang kau belah, kini bersinar di atas nisanmu.

-Pinrang, 27 Desember 2017.


 

SEPOTONG SAJAK UNTUKMU

Kau pernah hadir dalam kepala dan aku pernah membakarnya ketika kau menggandeng yang parak. Dan kau kembali tumbuh dalam kenangan dan aku semakin mencintaimu. Hingga aku maklum, rambut apimu telah membakar jiwaku.

Kau pernah bercerita isi kota-kota dalam kepala, tentang pemuda dan wanita yang saling membenci dalam mencintai. kau bahagia bercerita saat mereka bersatu dalam kebencian. Walaupun kau dan aku tahu kota-kota dalam kepala dan ceritamu tak pernah ada.

Aku mencintaimu dan kau mencintaiku-meskipun tak selalu. Aku menggulung langit seperti karpet dan kau berjatuhan di atasnya. Kesalahanku adalah hujan di bulan Desember. Angin barat yang membawa rahasiamu membuatku tak ingin tahu kematianku berada di ujung hidungmu yang lancip.

Seorang anak datang padamu, bertanya mengenai dirinya dan kau mengambilnya untuk teman dapurmu. Andai saja darah yang keluar dari hidung berbohong padamu-meskipun takdir bertanya. Pekat yang memukat dirimu menjadikannya lebih dekat dari kematianku.

-Pinrang, 27 Desember 2017


 

SAJAK ORANG GILA

Dulu aku tak paham bagaimana kau menjauhkanku darinya. Tapi rumah kayu yang kita tempati mengajakku berhenti untuk melawanmu. Kau memang benar jika aku gila, aku yang tertawa saat memandang cermin retak dalam kepalamu.

Maaf saja jika aku tak sengaja membunuh anak kita. Kegilaanku adalah kedekatanku dengan Tuhan yang Maha Besar. Bagai bahtera, ombak adalah tiupan dari api lubang daratan yang aku ciptakan. Besarmu berkata kecilku dalam genggamanmu sebagai manusia gila.

Aku bersenandung ria saat tahu kau dan kota ini mengusirku kembali. Aku bingung bagaimana kau tahu taman bunga di kepalaku menjadi hal yang paling hujan rindukan. Meskipun kau dan gurun kegilaanku sudah lama menguburnya bersama kebahagiaanku.

Sementara aku, hal yang paling baik adalah menunggu jam kembali berputar. Meskipun rasa diam adalah delima yang dihinggapi dua kutilang. Jangan harap aku kembali karena harapan adalah persamaan kehilangan. Percayalah bahwa aku pernah hidup di wajahmu. Di antara hidung dan bibir darahmu. Meliuk di antara rasa dosa yang lebih dekat dari sebuah kebiasaan.

-Pinrang, 28 Desember 2017.


 

PERASAAN SEORANG ANAK ASING

Aku sungguh sakit. Dua hati yang kusimpan tak pernah berkata padaku. Mereka hanya mengenal nama batu yang seseorang simpan di dalam bukuku. Aku tak bisa berkata jika sakit itu datang. Sungguh rasanya sakit.

Aku adalah mimpi buruk pohon di sekitarku. Jadi aku lari. Membiarkan jendela yang tak berlangit membasuhiku. Mimpiku adalah di mana aku bersembunyi. Aku sungguh benar-benar sakit. Kepalaku dipenuhi kertas hitam yang membakar.

Andaikan orang tua mengasihaniku, mungkin batu yang kutanam di sekitar mataku takkan pernah menyatu. Harapanku adalah malam yang berlalu agar menyatu dengan jari-jari dan sela-sela leher belangku.

Aku ingin belajar menangis tanpa air mata. Aku ingin cahaya-dan gelap ditanganku. Aku ingin berteriak. Tapi suara yang keluar adalah kesepian yang aku ciptakan dalam kesendirianku. Aku sakit. Itu sungguh-benar-benar sakit. Hatiku sakit. Dimakan masa lalu.

-Pinrang, 28 Desember 2017


 

WAJAH TIGA RUPA

Baiklah, aku akan mengabdi pada yang esa agar langit dan seutuhnya menimpaku dalam jendela ini. Penjarakan aku dalam tempat tidurku agar kau bisa mencari harta yang lebih berharga daripada kesunyian.

Pikirku seorang dara yang berbicara pada laut dan bumi yang merangkulnya. Jangan kalian hentikan walau ujung dan kepastian adalah buku yang merekat dalam penjara pikiran. Topan dan badai menyatu dengan nada alam walau tak bersuara.

Kedua adalah rasa dari citra sebuah nama. Disebut tak bersuara dalam gelapnya dasar lautan. Hampa rongga dada menelan angin laut selatan. Teriknya membutakan kepala dan menghanguskan tulang. Arti dari nama. Sebuah rasa lahir di tengahnya.

Ketiga adalah lukisan wajah tersenyum. Di pantai, kapal, dan padang. Sungguh indah. Bersama sanak keluarga-dan rasa sakit. Tak ada yang melihatnya karena itu menyakitkan. Tertawa riang. Dan saling membunuh.

-Pinrang, 28 Desember 2017


Ainun Najib, siswa semester kedua di SMAN 11 Pinrang. Lahir di Pinrang pada 17 Desember 2001. Puisinya beberapa kali dimuat dalam buku antologi finalis lomba Puisi tingkat Nasional.  Juga aktif dalam menulis esai, cerpen dan karya tulis ilmiah.

Email: najibexcel11@gmail.com

No kontak: 089603238098

 

Facebook Comments