PENERPA LAUT MALAM
(Nelayan Malam)

Sapa tapakmu memijak kersik halus
Mengarah senyap nada gabas kakimu
Kuyu sayu rengguh mata bolamu
Tatap ulum janji pada si riak biru
Ya, pada riuhan tawa pecah ombak manja itu
Jangat coklatmu berpadu keriput
Menyising dingin disulam pekat malam
Di sana, perahu sudah bergirang menantimu

Syahdu irama jangkah kakimu di atas perahu reyot itu
Membawamu menyisir decakan laut
Candikmu bergurau menyusup laut
Memikat mereka bermarkas di candikmu
Si riak biru makin merayumu
Menengadah dipayung rembulan
Dipeluk canda riang angin berlarian
Oh, jangan berdesah memikul hari malam


TOREH DIRIKU

Bulir asa diulam masa
Setetes peluh telah menjadi jutaan tetes
Merayap padu bersama denyut nadi
Melekat di raga lemah ini

Daku menyibak tenaga diri
Dua mata mengasah tapak kaki
Benak merajai dentuman hati
Warna ekspresi bagai hujan dan pelangi

Percikan kata orang melambai manis
Menelisik menembus dua telingaku
Pahit, masam, maupun manis
Bibirku terus meminta tuk melengkung senyum

Hari esok ku nampaknya masih bersembunyi
Masih kalut memandang langit tinggi
Sepasang tanganku terus menggali angan
Entah akan runtuh atau melangkah lagi


CUIL KIPRAH KUPU JALANAN
(Pengemudi Ojek)

Hujan bertamu, kau tetap menyambut
Panas berkunjung, kau tetap menadah
Kendaraan merayap hingar, kau tetap menembus bagai lalat terbang
Kau, sudah biasa makan debu jalanan
Ke sana-sini menunggang mesin roda berjalan
Berhinggap dengan orang ini dan orang itu
Lalu terbang mengarah tempat orang berlabuh
Berteman dengan nada oceh mulut orang
Sambil menghirup atmosfer aspal
Dalam hati berkata, “orang harus kubuat aman dan nyaman”
Dan tulus mengangkat sebias senyum
Demi membawa segenggam arta


SI MANIS HANGAT PENGISI MALAM
(Martabak manis)

Tumpahan lembut seburai adonan
Bercucur riang ke atas aluminium yang tenang
Merebak ke dinding-dinding panasnya
Menggeliat ria ditelan malam
Dijinak indah oleh tangan cekatan
Diselimut bijian kercik gula
Ditimpa baur lumeran coklat kacang
Menutup rampak satah adonan
Disasak indah berbaris-baris
Manis jelita diterpa angin malam


YANG LALU, AKU TERJATUH

Jurang lalu menyingkap pilu
Saat ku jatuh tersandung kerikil berserak
Sudah jatuh di antara pasir bertajam
Ditambah badai datang merajam
Bergemuruh tak ampun meracau aku
Gelintir salju pun sekadar menyapa
Lalu pergi merantah entah ke mana
Sempat ku jumpai pelangi membuka warnanya
Namun, ah, dia hanya singgah setepis saja
Badai tetap berkecamuk merajai pamitnya pelangi
Tak acuh akan diriku yang terus merajuk mencari cerah
Kaku lamanya, akhirnya, semua itu perlahan kabur
Lelah puas menghujam diriku
Kini, secercah cahaya mentari merangkulku
Membenih salam pemulih luka
Untukku yang lemas tertatih


Princessica Olivia, lahir di Malang, 8 Juni 2002. Saat ini tengah duduk di bangku kelas 10, SMAN 7 Malang. Masuk kelas bahasa. Masih belajar menulis puisi yang bagus. Pernah menjadi kontributor beberapa perlombaan menulis puisi. Penulis dapat dihubungi lewat:
IG: olivia_sica
FB: Olivia Sica

Facebook Comments