Tiada yang menduga, seorang pria pendiam dengan kertas kosong yang gemar duduk di latar kelas dekat lapangan pada waktu itu kini berubah menjadi sosok yang sangat mengagumkan. Bukan hanya bagiku, tapi juga banyak khalayak di luar sana yang begitu menggandrunginya. Apalagi pada beberapa permainan katanya yang bertebaran dalam jilid-jilid buku. Sudah tak terhitung berapa jumlah buku yang telah ia telurkan.

Pada tahun 2012 aku sering kali menjumpainya dalam keadaan yang kacau dan mencemaskan. Pasalnya pria itu, pria yang kukenal dengan panggilan Anggada itu, selalu berkutat dengan komputernya. Tak mengenal waktu, tak mengenal bagaimana pun kondisi di sekitarnya yang meraung berusaha mengejar perhatiannya.

Anggada. Aku mengenalnya karena kami kebetulan tinggal satu atap dan kami terlahir dari satu rahim yang sama. Sejak kecil meski aku belum terlalu memahami bagaimana tabiatnya, Anggada kecil selalu menunjukkan ketertarikannya pada deretan huruf. Bahkan tak jarang Ibu selalu disuruhnya untuk membacakan beberapa dongeng atau legenda sebagai pengantar tidur.

Awalnya bagiku hal itu sangat wajar. Lalu semakin lama, sosok Anggada berubah menjadi sosok pengurung diri di kamar yang akhirnya belakangan aku mendapatinya sedang memilah-milah tumpukan buku yang tebalnya mungkin dapat membuat mata setiap orang menderita myopia. Dan tanpa bisa kupercaya, Anggada mampu melahap buku-buku tebal itu dalam tempo satu hari. Dengan syarat, jika ia membatasi dirinya sendiri dengan kehidupan di luar kamarnya.

Hingga akhirnya pada tanggal 13 Februari 2012 usia Anggada menginjak angka 16 tahun. Berkat kepiawaiannya dalam bidang kesusastraan di sekolahnya saat itu, Ayah melanggar janjinya sendiri.

Ayah pernah berjanji, bahwa Ayah akan menghadiahkannya sebuah komputer atau gawai baru jika usianya genap 17 tahun. Malam itu, tepatnya ketika hujan tidak menyurutkan niatnya untuk mengguyur bumi, Ayah pulang ke rumah. Meski kata Ibu suaminya pulang lebih terlambat dari biasanya, namun suaminya berkilah bahwa sebab ia pulang terlambat adalah karena membeli seperangkat komputer tercanggih pada saat itu.

“Untuk siapa? Bukankah kerjamu tidak terlalu membutuhkan benda itu?”

“Kau pikir untuk siapa jika tidak untuk putraku?””

Ah, Anggada yang saat itu terasa disebut “putra” seketika melompat dari atas kasurnya. Seperti balita mendapat mainan baru, kulihat Anggada meracau kagum atas hadiah pemberian Ayah. Ia benar-benar keluar dari dunianya saat ini. Menjadi sosok Anggada yang berhasil mengekspresikan kebahagiaan. Bukan seperti Anggada biasanya yang tetap memasang wajah datar meski merasa sedih atau bahagia.

“Kau membuang uangmu untuk ini?” Tanya Ibu. Anggada langsung menoleh sedikit tak suka padanya.

“Sudahlah Bu. Tidak ada yang bisa disebut dengan membuang uang, jika hasilnya untuk anak sendiri.” Ujarku.

“Ya tetap saja, belum saatnya ayahmu membelikan hadiah itu! Benda itu bisa merusak konsentrasi belajar. Aku masih ingat benar ayahmu sudah berjanji padaku bahwa ia akan membelikan putranya sebuah komputer jika sudah genap berusia 17 tahun.”

Mendengar Ibu berceloteh demikian, aku benar tidak berdaya. Ibu memegang kendali.

“Bu sudahlah. Aku digaji setiap bulan juga untuk memenuhi kebutuhan anakmu. Lagi pula bukan tanpa alasan aku menghadiahi Anggada dengan benda ini. Tadi siang saat aku bertemu Wibowo di kantor, ia mengucapkan selamat padaku. Kau tahu sebab apa?”

“Memang apa? Gajimu lekas naik ya bulan depan? Ya bagus lah, itu tandanya sudah ada perkembangan dalam pikiran bosmu.”

“Dengarkan dulu, jangan buru-buru menangkap gagasan sepihak!””

“Lalu kenapa?”

“Anakmu, Anggada. Dia berhasil memenangkan lomba penulisan cerpen dalam rubrik karya sastra di koran nasional Bu. Jadi sudah sepantasnya aku berpikir, hal itu patut untuk diapresiasi.”

“Ya-ya. Tapi apa kau tau, sebanyak apapun Anggada meraih kemenangan, jika dalam lingkup sastra, dia tak akan bisa berkembang. Sastrawan mana punya masa depan? Aku tidak ingin karena hadiahmu itu, Anggada jadi malas belajar. Nilai-nilainya di rapor kulihat semakin menurun akhir-akhir ini. Itu juga sebab ia selalu membaca novel tidak jelas. Bukan malah membaca buku materi!” Ibu di atas kendali, sekali lagi.

Lalu semuanya tiba-tiba menjadi hening. Salah satu dari kami tidak ada yang berani membuka pembicaraan, kecuali Ibu yang beringsut menuju dapur untuk menyelesaikan hidangan makan malam.

“Tidak apa, mungkin Ibumu hanya lelah. Sudah, aku akan memasang perangkat ini di kamarmu. Semoga kau suka.” Aku tersenyum, pun Anggada.

Ibu benar-benar murka. Sejak peristiwa malam itu, hubungan Ibu dan Ayah merenggang. Ibu sengaja menghindar tiap kali Ayah berusaha menanyakan apa yang sedang diinginkan oleh wanita itu. Padaku dan Anggada juga. Ibu enggan memberikan tangannya saat kami akan menciumnya sebelum berangkat ke sekolah, seperti rutinitas biasa kami.

Anggada ingin memprotes Ibu.

Ibu macam apa yang tega menumpulkan harapan putranya?

Namun kalimat itu terus kutahan. Hingga Anggada benar-benar mengerti, bahwa ia tidak ingin memperburuk keadaan dengan melontarkan kalimat itu. Terlebih ia tidak ingin keinginannya semakin dibabat habis oleh Ibunya.

Anggada tetaplah Anggada. Di sekolah pun ia bukanlah sosok yang pandai bergaul. Ia lebih suka menghabiskan waktunya di depan latar kelas memandang ke arah lapangan.

“Lapangan sekolah adalah tempat yang sangat jujur mengungkap kehidupan di sekitarku. Dan aku menyukai kejujuran. Kau tau, dunia tempat bersembunyi para pendusta. Mereka berkilah ingin mendapat kebaikan dunia tanpa berpikir ada hal lebih baik yang patut diperoleh perhatiannya selain dunia.”

Lalu Anggada kembali menatap sebuah kertas kosong yang sama sekali belum tersentuh goresan tinta pulpen.  Katanya,  suatu saat kertas-kertas itu yang akan melahirkannya kembali ke dalam dunia yang baru. Tekadnya sudah penuh. Hingga tanpa disadarinya, ia beranjak dari latar kelas menuju mading di seberang lapangan. Sebab rasa penasaran, aku mengikuti Anggada.

“Bukan gerbang sekolah yang menjadi pintu masuk sekolah ini, melainkan mading inilah pintunya.”

Ia benar. Selembar harapan baru bagi Anggada dimulai sejak detik itu. Waktu ingin kupersingkat, agar kalian dapat jelas mengenal siapa sosok Anggada pada tahun 2012.

Memang benar kata Anggada. Ia terlahir kembali dari kertas-kertas. Menjadi sosok yang sangat mengagumkan berkat selembar kertas di tahun 2012 yang ditemukannya tertempel di mading sekolah. Benar juga katanya, jika mading-lah yang semestinya menjadi pintu utama sekolah, bukan pintu gerbang.

Sebut saja Anggada. Pria itu kurasa beruntung. Sebab saat ia mengikrarkan keinginannya, Tuhan sedang mengutus Mikail untuk membagikan rizki-Nya. Seminggu sebelum ia merayakan kelahiran barunya, Anggada benar-benar seperti seekor ulat yang mengepompongkan dirinya di dalam kamar.

Sudah kukatakan sebelumnya, jika Anggada selalu berkutat dengan komputernya. Tak mengenal waktu, tak mengenal bagaimana pun kondisi di sekitarnya yang meraung berusaha mengejar perhatiannya. Kini aku memahami betul keresahan Ibu malam itu.

Sejujurnya aku sempat mengkhawatirkan keadaan Anggada. Hingga akhirnya kuputuskan untuk berbicara dari hati ke hati dengannya.

Malam itu selepas Anggada menunaikan ibadahnya, aku mendekat. Melihat kekhusyukannya dalam momen peribadatannya, aku yakin bahwa Anggada benar-benar dalam kondisi stabil. Sehingga memungkinkanku untuk bicara secara baik-baik dengannya malam ini.

“Anggada? aku menyejajarkan pandanganku dengannya kali ini.”

“Ada apa?”

“Ada sebuah hal yang kurisaukan dari keadaanmu saat ini.”

“Aku? Kenapa denganku? Apa yang kau risaukan?”

“Tidakkah kau mengingat perkataan Ibu lusa malam?”

“Iya. Lalu kenapa?”

“Kini aku merisaukan juga. Jika keadaanmu lebih buruk dari ini boleh jadi aku yang akan pertama kali menentangmu selain Ibu.”

“Maksudmu?

“Kau benar-benar lupa bahwa kau mempunyai kehidupan lain di luar sana? Yang sebenarnya jauh lebih penting dari kau hanya sekadar mengerumuni imajinasimu dalam sebuah benda logam ini. Lagi pula, apa kau yakin jika menjadi sastrawan akan mengantongi harapanmu? Kataku memberanikan diri.”

Ia terkesiap mendengar perkataanku. Sungguh tiada yang lebih menyakitkan dari tampilnya wajah murung Anggada. Betapa selama ini aku selalu mendukungnya dalam menekuni kegemarannya. Namun aku sadar, ada sesuatu yang harus dibenahi dalam pikiran Anggada.

“K-kau meragukanku?” tanyanya tergugup.

“Tidak Anggada. Aku hanya mengingatkanmu. Aku hanya tidak ingin kau terlalu runyam dengan dunia yang masih belum nyata adanya. Kau masih memiliki orang-orang di luar sana yang perlu kau pikirkan.”

“Justru dengan inilah aku memikirkan mereka! Sebab dengan cara inilah aku mencintai mereka. Kutekankan padamu, aku takkan salah memilih jurusan keretaku.” Anggada bangkit dari duduk silanya. Ia menunjukkanku selembar pamflet yang terpasang di mading sekolah siang kemarin. Selembar kertas yang menandai akan adanya kelahiran sosok Anggada yang baru. Lalu ia menunjukkan layar komputer yang menyala menampilkan deretan aksara.

“Tunggulah aku. Semuanya takkan lagi kau ragukan!”

Aku mengecil. Aku takkan mampu menghalangi kelahirannya dalam beberapa tahun ke depan.

***

 Kini ia telah berubah. Bukan lagi sosok dengan wajah kumal dan berantakan seperti seseorang yang keluar dari sarang penyamun. Ia hanya sosok baru dari Anggada yang telah kunantikan.

Anggada tersenyum. Pemantik keberhasilannya telah dimulai separuh dasawarsa silam berkat selembar pamflet yang berisi sayembara kepenulisan cerita pendek yang diselenggarakan oleh media nasional dengan para juri yang ia idolakan. Pamflet itu didapuknya sebagai lubang rahim yang melahirkannya kembali.

Lihatlah, kertas-kertas kosong yang ia dulu ia nyatakan akan melahirkannya kembali dalam dunia baru, kini benar adanya. Kertas-kertas itu melahirkannya dengan wujud baru. Seperti pagi itu, Ayah dan Ibu menyaksikan kelahirannya pada halaman berita utama di koran.

 

(13/02/18) Usia tidak menghalanginya untuk terus melahirkan karya-karya baru. Ang, penulis muda yang berusia 22 tahun ini kini sedang memproses novelnya menjadi sebuah film dengan judul Terlahir Dari Kertas Separuh Dasawarsa. Film yang mengangkat kisah nyata perjuangannya menjadi seorang penulis kondang dikabarkan akan tayang di akhir tahun 2018.

Meski senang, Ang atau Anggada mengaku tidak akan puas dengan hasilnya saat ini. Pemuda asal Sidoarjo tersebut akan melebarkan sayapnya hingga kancah luar negeri untuk meraih penghargaan dunia, demi membanggakan sang Ibu dan ayah dan juga mengharumkan nama pertiwi.

Aku mungkin salah satu manusia beruntung yang dapat mereinkarnasi diriku sendiri dalam dimensi waktu yang berbeda. Aku merasa bahagia saat aku dapat terlahir dari kertas, namun aku haru atas kehebatan rahim Ibuku yang memperkenalkanku pada dunia. Tanpanya aku takkan mungkin bereinkarnasi dari kertas separuh dasawarsa silam. Pungkasnya.

 

“Aku bisa berkata apa lagi sekarang? Selain hanya dapat lebih mempercayaimu Anggada.”

Seharusnya malam itu kau tidak perlu bersikeras bahwa putramu tidak akan memiliki masa depan. Ia berkata benar juga. Tidak ada yang bisa disebut dengan membuang uang, jika hasilnya untuk anak sendiri. Kau lihat kini kita lah yang merayakan kelahirannya kembali. Apa kau merasa bahagia?”

“Apa yang harus kukurangkan kali ini? Benarkah kau masih menjadi putra semata wayangku, Nak?” wanita itu kini penuh haru dalam seberkas matanya.

Anggada tersenyum menyaksikan Ibu dan Ayah terhanyut dalam kebahagiaan momen kelahiran putra baru mereka. Aku telah salah karena malam itu aku justru menentang Anggada dan impiannya. Karena berkat kelahirannya kali ini aku turut dilahirkan kembali pada sosok Anggada yang baru. Aku menjadi lebih mempercayai Anggada sebagai rupaku. Karena aku adalah Anggada, dan Anggada adalah aku. Kami adalah satu. Anggada.

“Ya. Aku tetap putra semata wayangmu, Bu.” Jawab kami bersamaan.


Nama penulis Ade Vika Nanda Yuniwan. Perempuan yang lahir dua puluh tahun silam ini, sekarang tengah mengenyam pendidikan S1 Pendidikan Bahasa Indonesia di Unijoyo Madura. Baginya menulis tidak perlu alasan, karena selain sebagai cara mengabadikan momen, menulis juga salah satu cara untuk membuka dunia lain dalam pikiran.

Menulis adalah berbicara yang berbeda. Menulis juga memotret kejadian dengan indah. Berliterasi adalah melukis kejadian secara permanen dalam ingatan. Kritik dan saran dapat disampaikan melalui email: adevikananda24@gmail.com, atau FB: Ade Vika

 

 

Facebook Comments