KEPADA SENJA AKU INGIN BERCERITA

Kala itu, anganku berubah asa
Hampir saja aku lengkapi separuh liku jalanan ini,
Saat angin sore menelisik tiap helai rambutku sambil menghitung satu, dua dan tiga
Aku hampir menangis, rancu benar rasa hati ini
Entah apa yang ada dalam bayang-bayang langkah ini
Kadang terasa aku ini manusia, tapi kadang juga bukan
Anganku terus melayang mengeja sedikit lagi apa yang ada di sana
Ingin kugambarkan warna pelangi, tapi perlahan mengabur dalam senja
Sedikit pun tak mengucap salam perpisahan
Ahh, mungkin aku yang salah menaruh lembaran ini
Atau mereka yang tak sempat membacanya
Keresahan itu terus mengadu, berlomba menuntut keadilanku
Entahlah aku lelah, atau mungkin tak mampu lagi
Hanya tuhan yang tahu ke mana diriku melayang
Senja sore itu masih mendekapku, terasa benar air matanya di pundakku
Masih tak kumengerti maksudnya, sampai akhirnya kisahku berhenti bersama hilangnya senja
Kepada senja aku ingin bercerita
Tentang kisahku yang tak pernah bersahabat dengan waktu


MENGEJA JANGKAH SUNYI

Sapa rembulan merajuk malam kian sunyi, entah ke mana kemudian pergi
Riuh ramai malam kian sepi, jarum jam melesat tanpa permisi
Menghujam bayangmu, si gadis kecil
Dalam remang lampu jalanan kau bertengadah
Sendiri…
Lengan kecilmu menyibak sunyi
Dengan nyanyian sumbangmu kau mengharap belas kasih
Ah…
Suaramu makin parau saja, dan malam enggan memberi keteduhan lagi
Terpaksa kau akhiri perjalanan malammu
Bersama kenangan yang mengalir sederas hujan air matamu kala itu
Rupanya, kau telah lama tak berkasih

Kini kau makin meringkuh di malam sunyi
Sendiri mengeja jangkah sunyi
Banyak gores asa belum terurus rapi
Seusai kau khatamkan doamu, terdengar lirih nada sendu
“Berapa lama harus kuhitung sunyi sendiri sebelum mati”
Diam-diam aku menembus bayang wajahmu yang kian sepi
Sayang, tak sanggup lagi kuterka kesunyian yang kau rasakan


 
SAJAK KERINDUAN

Layaknya aku yang mengagumi puisi mungkin seperti itulah rinduku…
Kerinduan yang memenjarakanku begitu lama
Ada hal yang belum kukhatamkan
Jangankan untuk disampaikan, menangkap bayangmu saja tak sempat
Sepi dan sunyi kian membeku menggiring anganku pada argumen yang tak tentu
Bagaimana aku menata hatiku kembali?
Saat takdir tak ada di antara kita
Jika tuhan memberikan pilihan yang lain?
Ke mana rindu ini kuungsikan?

Ada banyak hal yang tak sempat kusampaikan,
Tentang kerinduan dan rasa yang dulu kau tanyakan
Sayang, semua hanya sanggup kusimpan dalam bilik aksara
Membiarkan waktu menenggelamkan rasa, meski jejaknya masih berbekas di sana
Hatiku tak selapang lautan
Yang menyuguhkan keindahan batu karang, terus berdebur pada kuasa tuhan

Kenangan dengan sombongnya menyelinap, menciptakan kebisuan dan kebekuan
“Banyak cara tuhan berikan kebahagiaan, meski kadang kau pura-pura tak tahu”, katamu
Aku tahu itu, lantas bagaimana dengan kerinduan ini?
Apa aku harus aku pura-pura tak merasa lagi?
Lalu mendekapnya dalam deretan aksara yang tak pernah sampai


 
DEBAR ITU MEMBUNUHMU

Senja sore itu sedikit pucat, mengiring kepergianmu dari dekapan
Senyummu masih begitu, tak seriang riak ombak lautan
Apakah ini salah untukmu?
Kau hanya mengangguk, mengaduk isi kepala jadi satu
Aku berjalan di sisi pantai, menyusuri antara pasir dan buih
Air pasang bakal menghapus jejakmu . . . ., begitu katamu
Namun, kau salah. Lautan dan pantai akan tetap merindu
Aku tak mengerti bila kau salah menyemai rasa
Aku tak bermaksud begitu
Namun, kau berhak tahu pelaminanku tinggal menghitung waktu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, layaknya rindu yang kutitipkan dalam do’a . . ., layaknya isyarat yang tak sempat angin kabarkan padamu.  Tambahmu
Kenyataan ini sebengis kematian,
Kemarin kau adalah sebuah kata yang tak bersuara dalam hening malam
Hari ini menjelma menjadi nyanyian duka yang mencekam
Ini berlangsung sedetik saja, dari perjumpaan kita yang melahirkan luka dalam tembang cinta
Debar itu membunuhmu . . . .
Sialnya saat cinta memanggilmu, aku malah mematahkan sayapnya
Senja menggiring langkahmu menjauh bersama isak yang tak bisa ku lerai
Apakah nyanyian laut ini akan berakhir di pantai ini? atau dalam hati kita yang tak bisa bersatu
Entahlah, Angin masih memenjarakan kakiku, membisu atas kepergianmu …


 
SEKEDAR BARIS PUISI

Izinkan aku menulismu
Menyelamatkan waktu yang kian silam, suram dan karam
Membariskan abjad
Merapikannya sampai benar-benar rapi menjadi baris puisi
Aku tak peduli biar tak ada yang menyebutku penyair
Kutumpahkan saja kata demi kata dari semua abjad
Jangan Tanya berapa banyaknya, sungguh aku tak mengenal itu
Yang ada hanyalah diksi rindu yang kian candu

Menulismu kian candu untuk memilikimu
Bukan sekedar ilusi yang sekejap saja mampir lalu sirna
Aku ingin menyepi bersama ragamu
Mengeja rindu layaknya dulu
Biarlah penaku membisu, tapi jangan bakar habis kertasku
Karena hanya itu caraku mengenangmu

 


Lailatul Mufidah, lahir di Ponorogo, 27 Oktober 1997. Saat ini tengah menempuh studi S-1 Mu’amalah di IAIN Ponorogo, serta anggota komunitas Litbang binaan IPNU IPPNU Ponorogo. Disamping itu aktif menulis dan pernah menjadi kontributor beberapa perlombaan menulis. Penulis dapat dihubungi lewat:
IG: sajak_musyafir
FB: Ilha_Lailatul

Facebook Comments