Selepas Magrib, wanita itu beranjak dari tempatnya bersujud. Tenaganya tercecer oleh usia. Ia melangkah, kemudian sentuh sisi jendela. Tubuhnya bersandar di pojok dinding lapuk. Bingkainya terapung di udara. Tatapannya kosong penuh resah.

Sering ia melakukan itu. Tiap malam. Selepas sholat. Sejak ditinggal suami, justru itu yang ia kerjakan. Kisah masa lalu tumpah di bibir jendela. Perasaan luka berbanding lurus dengan penantian. Kesabaran menunggu adalah rangkai kecewa. Suami menghilang tak pernah kembali. Kesendirian dipenuhi oleh persoalan. Ia tak mengerti arti hidup. Selain, gelisah tiap detik dalam tarikan napas singkat.

Ia bingung. Melihat bulan sekarat di langit gelap. Di sudut hati, tersimpan rindu yang kuat. Perasaan tak terhapus, lalu bakar jiwa.

Sesekali, matanya melirik jam dinding atas kepala. Jarum pendek belum tunjukkan angka dua belas. Ia ingin waktu lagi. sedikit. Mencari ketenangan dalam kelam. Kemudian baru layangkan angan pada sekelumit kisah indah bersama suami. Penuh harap dalam sunyi…

Tubuhnya kurus. Ia tak peduli makan minum. Tetangganya tak rela biar ia lapar sendiri. Setiap kesempatan, mereka sering berkunjung. Bukan hanya menjenguk, tapi memperhatikan secara detil. Mereka tak segan beri nasihat padanya. Bahkan, mereka ingin membawanya pergi dari rumah itu. Mengajak hidup bersama. Agar kesepian berembus hilang. Hanya ini yang mampu dilakukan. Tapi, sungguh sayang! ia bersikeras menolak semua tawaran tetangganya itu. Ia yakin, bahwa dirinya masih sanggup. Masih mampu bekerja. Walau luka hati kian mengangga.

Akhirnya, tetangga pasrah. Mereka mengamini ucapannya. Kini, mereka tak tahu sampai kapan ia bertahan.

Sudah beberapa jam ia membisu. Angin berembus kencang. Menusuk badan dan rambut yang tergerai putih dan kasar. Ia merasa dingin. Mukena yang dipakai sejak tadi, diketatkannya kembali. Agar terasa hangat di bagian muka. Bulan penuh cahaya.  Sinar terobos celah dinding. Merayap pelan bawah lantai. Sementara, suara binatang, sayup terdengar. Daun palma terlihat seperti sosok yang berdiri tegap waktu malam.  Hitam terlindung daun lain. Penglihatan ini tak bikin ia beranjak dari tempatnya berdiri.

Peristiwa tiga puluh lima tahun atau lebih mengganggu pikiran. Momen yang menghancurkan impian seumur hidup. Ikatan batin bersama suami, hilang begitu saja. Kebahagiaan di awal pernikahan lenyap. Semua terkikis oleh satu peristiwa historis. Kini, ia  ingin mengingat kenangan itu kembali.

Kala itu, awal kemerdekaan. Mereka baru selesai laksanakan pesta. Kebahagiaan mengitari hati sepanjang malam. Keindahan di raih bersama suami. Selepas pesta, mereka lalu bergegas menuju rumah baru. Letaknya jauh. Seperti berada di pojok desa. Rumah yang dibangun oleh suami untuknya. Mereka tak mau berlama-lama numpang di rumah orang tua. Ia tak sabar ingin hidup mandiri kala itu.

Masa penjajahan, ketergantungan pasangan yang baru menikah sangat kuat pada orang tua. Tak ada jaminan mereka bisa secepatnya mandiri. Kecurigaan pihak Belanda terhadap pasangan baru adalah satu ancaman. Bagi penjajah kala itu, sebuah pesta, apa pun bentuk adalah upaya pengorganisasian kekuatan dari dalam. Itu harus dibasmi. Ini bisa timbulkan ancaman. Makanya ia memaksa suaminya segera pindah. Menempati rumah baru yang jauh dari pantauan pihak Belanda.

Tapi, apa mau dikata! Satu kejadian mendadak hanguskan impian. Tiga orang tentara Belanda, secara tiba-tiba menjemput suaminya. Dengan seragam lengkap dan senjata laras panjang, tentara itu mendobrak pintu masuk. Tanpa basa-basi, mencurigai apa saja yang ada. Kejadian berlangsung cepat, secara refleks suaminya selamatkan diri.   Meloncati jendela yang terbuka. Lalu sembunyi di bawah kolong rumah.

Istrinya diam terpaku. Ia bertekuk-lutut di depan tentara Belanda. Ia gemetar. Salah satu tentara Belanda menginterogasi isi rumah. Sedang tentara yang bertubuh tambun membentak-bentak.

“Hei, perempuan, ke mana suamimu? Kami telah tiga hari mencari. Kami yakin ia ada di sini?”

Istrinya takut. Ia tak sanggup melihat wajah tentara itu. Ia merunduk sambil melihat sepatu lars yang dipakai oleh tentara Belanda tersebut. Ia merespons pertanyaan tentara itu dengan takut yang amat sangat.

“Saya tidak tahu, tuan! Kalau tuan tak percaya coba periksa sendiri. Kalau suami saya ada, tentu telah tuan tangkap sejak tadi!”

Wajah tentara yang tambun tersebut memerah. Ada emosi yang lahir dari dalam. Matanya yang tampak makin bulat. Dengan cekatan,  tentara itu lancarkan satu pukulan keras ke pipi sang istri. Serta merta, ia tak mampu menahan pukulan itu. Ia tersungkur dan tak sadarkan diri. Rasanya, nyawanya seperti sudah hilang. Melihat ini, tentara Belanda yang tambun lalu berkeluh sendiri.

“Sial! Dasar perempuan banyak omong! Mampus… kau di sini!”

Dua teman tentara yang lain hanya melihat kejadian. Tak peduli. Mereka asyik mengutak-atik seluruh isi rumah. Kini, semua barang sudah seperti onggokkan sampah saja. Tak ada yang tersisa. Semrawut di mana-mana. Keadaan begitu mencekam. Si tambun lalu melihat kain jendela terkoyak. Ia dekati jendela itu. Menyuruh kedua anak buahnya keluar memeriksa. Mendengar dari bawah kolong rumah dengan situasi yang tidak menguntungkan, suaminya bergerak dari tempat sembunyi. Lari terobos bayang hitam menuju hutan. Hari gelap bantu selamatkan dirinya. Ia tak berpikir tentang istrinya yang terkapar. Tak kuasa mengingat seluruh kembali kejadian. Hal terpenting baginya saat itu, hanya untuk selamatkan diri. Mengenai nasib istri, ia berserah pada Allah.

Bulan sudah penuh. Cahayanya terang malam ini. Matanya tak berkedip sedikit pun melihat cahaya purnama itu. Ada bayangan istimewa dalam bulan. Ia melihat sebuah sosok terbentuk di sana. Gambaran orang bersujud mencium bumi. Perasaannya tersentuh. Ia sadar tentang usianya kini. Sesekali, ia sentuh papan jendela. Dengan tangan, ia meraba seluruh permukaan. Kenangan terusik kembali. Segala peristiwa terekam jelas di matanya kini. Sayang! Semua harus berlangsung dengan suram. Penuh tragis!

Kini, ia tak sadar kalau sudah larut malam. Di luar sepi. Jam yang berdetak kuat, tak pun ia dengar lagi.  Khayalan hamburkan ingatan. Lampu yang tergantung makin kusam oleh cahaya. Ia ingin segera akhiri petualangan hidupnya malam itu. Mengusir penantian dalam tidur  panjang. Menyelesaikan pertanyaan yang masih belum terjawab olehnya sendiri. Perlu waktu untuk putuskan seluruh penantian tersebut.

“Kapan suamiku pulang?  Di mana ia berada kini? dan apa sebabnya ia diburu oleh pihak Belanda?”

Itulah pertanyaan yang terucap. Kala, rasa bahagia hilang bersama malam di kamar sunyi.

 

PG, 08/0118


Lydia Nahkluz Petrovaskaya, eks Penggiat Komunitas Pencinta Sastra dan Seni (KOMPENSAS) Bengkalis serta anggota komunitas Forum Aktif Menulis (FAM) Kediri, Jawa Timur. Pernah memenangi beberapa perlombaan menulis. Di samping menulis, ia menyukai sketsa. Sketsa pertamanya terbit di Harian Riau Pos Minggu tanggal 12 Agustus 2012,Fb. Laupannya Cortez.

 

Facebook Comments