Angin sore berhembus seakan mencoba menghibur. Langkahku terhenti di depan sebuah kafe. Terlihat baru dan bagus juga kalau dilihat-lihat. Temboknya berwarna merah bata dengan pot-pot bunga menghiasi bagian depan kafe. Jendela kaca besar mengekspos ruangan di dalamnya. Sepertinya nyaman. Aku membaca tulisan besar di depan atap datarnya, coffee cafe katanya. Aku pun melangkah masuk, dengan harapan kepenatan ini akan sedikit hilang. Kulirik arlojiku, masih banyak waktu.

Tring!

Bunyi bel terdengar saat aku membuka pintu. Aroma kopi langsung menerobos ke penciumanku. Aku memilih tempat duduk di dekat jendela depan, menikmati lalu lalang kendaraan yang dihiasi langit senja.

Kafe ini cukup ramai. Seorang pasangan abg sedang menikmati kopi dan camilan, kurasa mereka duduk terlalu dekat. Ada juga seorang wanita, sepertinya seumuran denganku, tengah menyesap kopinya pelan. Di ujung sana ada tiga bapak-bapak yang mengobrol asik.

“Selamat sore, Nona.. ingin memesan sesuatu?”

Aku menoleh saat mendapati pemilik suara jernih itu. Seorang pria tampan dengan senyumnya yang manis. Lesung yang terlihat di pipi kanannya adalah daya tarik besarnya. Aku terpesona sebentar sebelum balas tersenyum.

“Biar kulihat,” aku mengambil buku menu di meja.

“Mau berangkat kerja?”

“Bagaimana kau tahu?”

Dia tersenyum lagi, “Pakaian dan wangi Nona yang mengatakannya,”

Aku kembali membaca menu. Si pelayan telah pergi. Tak lama hatiku agak sedikit heran, kopi cinta? Kopi pedih? Aku mengangkat wajahku sejenak, sungguh menu yang tak diduga-duga. Aku memanggil pelayan tadi, dia bergegas ke arahku dan sampai setelah membalas pujian si wanita penyesap kopi tadi. Wanita itu melambai dengan wajah sumringah,

“Aku akan sering-sering berkunjung. Kopinya enak sekali, tampan!”

Pelayan itu sampai ke mejaku. Dia mengeluarkan senyum mautnya, “Kau bisa meneriakkan pesananmu, Nona.”

“Aku bingung harus memesan apa… apa kopi sepi rasanya manis? Atau pahit? Bagaimana dengan kopi patah?” tanyaku seraya menunjuk sederet tulisan di buku menu.

Pelayan itu tertawa, “Hmm,, maaf jika kau bingung. Cukup pilih saja sesuai seleramu..”

“Aku tetap bingung.. kopi mana yang paling enak?”

“Mau kurekomendasikan?” tanyanya. Aku mengangguk. Kemudian dia menunjuk dua kata di buku menu.

Kopi murah.

Dan aku tak mengerti kenapa si tampan—aku memutuskan untuk memanggilnya begitu, dia yang salah tidak memakai name tag atau tanda pengenal apapun—merekomendasikan ini. Apa aku terlihat seperti orang tak berduit? Kulirik harganya. Tidak, harganya tidak murah, bahkan lebih mahal daripada kopi mahal.

“Bagaimana?”

“Apa maksud kata murah di sini?”

Si tampan tertawa, “Mau tidak?” dia balik bertanya. Aku mengangguk saja.

Langit semakin berwarna kemerahan. Sebenarnya aku sedang malas bekerja, namun apa daya. Aku butuh uang untuk hidup. Kedatangan si tampan mengalihkan perhatianku. Dia menaruh pesananku sebelum duduk di depanku. Aku heran namun memilih diam. Kenapa dia? Ingin menggodaku.

“Mau bekerja denganku, Nona?”

“Hah?”

“Kubilang, mau bekerja di sini? Denganku?”

“Aku sudah punya pekerjaan.”

Dia menatapku lama, lalu berdiri setelahnya, “Oke.. jadi tawaranku ditolak?”

Aku tak menjawab. Malas menjawab.

“Sungguh tidak akan menyesal?”

Kenapa aku harus menyesal?

“Aku sudah punya pekerjaan.” Jawabku. Dia tersenyum penuh arti lalu pergi. Aku menatap kopi di depanku. Aromanya yang menggoda menari-nari di hidungku. Aku menghirup bau kopinya, dengan pelan aku mulai meminumnya. Satu sesapan menghentikanku.

Pahit?

Dengan heran aku kembali mendekatkannya ke bibirku, menyesapnya pelan sekali. Dan aku terbatuk hebat saat cairan itu mengalir ke kerongkonganku.

Ini tak salah kan? Kenapa rasanya pahit sekali, bahkan lebih buruk dari tegukan pertama?

Aku bersiap untuk protes pada si tampan yang sedang sibuk sendiri di balik meja kasirnya. Kulirik sekali lagi kopi yang baunya sangat menggoda itu. Agak tak yakin, apa pengecapku bermasalah?

Kuambil lagi cangkir itu, pelan sekali aku menyesapnya lagi. Dan saat aku menelannya, rasanya seperti cairan beracun baru saja masuk ke mulutku. Kerongkonganku perih akibat kepahitan kopi ini. Aku terbatuk hebat. Dengan sedikit kasar aku meletakkan cairan beracun itu di tempatnya. Aku kesal, aku merasa dibohongi. Dengan tergesa aku menuju meja kasir. Si tampan di sana, lengkap dengan senandung ceria dari mulutnya.

“Aku mau bayar.” Ucapku dengan suara menahan kesal.

“Oh.” Dia tersenyum, tangannya terulur menunggu uang dariku.

“Apa kau tahu bahwa kau bisa membunuh seseorang dengan kopi murahmu itu?”

Si tampan mengernyit, “Apa yang salah dengan kopiku?”

“Kopimu adalah hal terburuk yang pernah kuminum. Apakah aku masih harus membayar?”

Tawa si tampan malah semakin menambah kekesalanku, “Tentu saja. Kau tahu sendiri susahnya mencari uang, kan?”

Aku mendengus lalu membayar kopi tak enak tadi. Aku salah mengira perasaanku akan lebih baik setelah keluar dari sini. Aku menemukan sebuah tulisan di dinding tepat saat aku akan menarik gagang pintu.

Semakin baik dirimu, semakin enak rasa kopimu.

“Apa kau tahu kenapa aku menamai kopiku seperti itu?”

Aku terlonjak kaget, suara si tampan terdengar sangat dekat. Entah sejak kapan dia berada di belakangku. Aku memilih diam.

“Mereka adalah cerminan seperti apa diri si pemesan. Menakjubkan, bukan?”

Aku mematung sebelum sadar dan cepat keluar dari tempat itu.

Jalanan bertambah ramai. Hari sudah gelap. Aku berjalan agak cepat, berusaha menghilangkan rasa kesalku. Aku mengambil ponsel pintarku yang berdering dengan kasar, “Halo?”

Aku berusaha sabar mendengar suara di seberang sana. Klien menyusahkan.

“Om… om tahu kan, istrimu menjambakku kemarin? Hatiku sakit.” walaupun sedang tidak mood namun suaraku berusaha dilembut-lembutkan. Harus profesional.

“Om ngirim berapa? Kalo cuman sepuluh juta aku tolak.”

“Tiga puluh? Hem… aku pikir-pikir deh. Iya, bye!”

Belum sempat kutaruh, ponselku berbunyi lagi. Oh, klien satunya.

“Hm.. iya Om? Iya aku inget… jam sembilan kan? Aduh, aku lupa.. aku belum punya dress.”

Hatiku senang akan ucapan si penelepon, boleh juga.

“Oh.. sepuluh? Ya transfer aja ke rekening aku.. bye!”

Aku melangkah dengan hati agak ringan. Saatnya bertemu dengan klien.


Durroh Halim, lahir di Pamekasan, 21 April 2000. Sudah berumur tujuh belas tahun dan sedang menuntut ilmu di SMAN 1 Pamekasan. Bercita-cita menjadi psikolog dan penulis. Suka membaca, dan berkhayal. Gadis yang memiliki prinsip ‘hadapi dunia dengan senyuman’ ini mulai menulis saat usianya empat belas tahun. Jika ingin menghubunginya bisa melewati akun facebook dengan nama akun Durroh Haliim.

 

Facebook Comments