Hidup itu tidak seindah yang dikatakan orang, yang dibayangkan dan yang dirasakan. Hidup ini butuh perjuangan dan pengorbanan. Siapa yang mempunyai uang, dialah yang akan bertahan hidup. Jika tidak, mungkin kemalangan akan dijumpainya.

Seperti aku, butuh perjuangan keras untuk melaksanakan hidup ini. Panas terik dan asap kendaraan menyapaku setiap pagi. Teman-teman seperjuangan senasib denganku. Kami semua butuh uang. Uang yang bisa memiliki segalanya.

Kadang kala, kami dipandang sebelah mata oleh orang-orang. Orang-orang itu selalu mengacuhkan apa yang kami butuhkan. Tidak ada rasa kepedulian dari sorot mata dan raut wajahnya. Mereka terlalu egois bahkan pada sesama manusia sekali pun. Aku lelah setiap hari mengadahkan tangan pada setiap orang yang lewat. Menghampiri mereka yang tengah duduk tenang di mobil, mengetuk kacanya dan berharap sedikit derma dari mereka. Kadang ada yang merasa iba, aku akan mendapat lebih. Jika tidak, aku hanya mendapat acuhan dan celaan. Belum lagi kami yang dikejar-kejar pria berseragam cokelat. Mereka begitu rakusnya ingin menangkap dan memasukkan kami ke mobilnya. Jikalau beruntung, kami bisa pulang dengan aman. Kalau tidak, kami akan dibawa entah ke mana.

Bumi terus berputar dan waktu terus bergerak, aku semakin sadar bahwa hidup dengan mengemis dan berharap kepedulian orang lain itu tidak baik. Masih ada cara lain untuk mendapatkan uang selain mengemis. Sudah waktunya aku berubah, tak apa berkeliling membawa karung daripada menampakkan diri pada pengendara mobil di lampu merah.

Aku tinggal di sebuah gubuk kecil yang berjasa melindungi kami¾ayah, aku dan kedua adikku¾dari terik matahari dan dinginnya air hujan. Sebagai anak sulung dari tiga bersaudara, aku menjadi tulang punggung keluarga. Ibuku sudah pergi meninggalkan kami beberapa tahun yang lalu setelah melahirkan adik bungsuku. Rasanya sangat sedih ketika ditinggal pergi oleh orang yang disayangi. Kesehatan bapak juga semakin memburuk sejak beberapa bulan yang lalu. Beliau hanya terbaring lemas di atas ranjang. Setiap melihatnya, aku berusaha menahan air mataku. Biaya adalah kendala aku mengantarkan bapak berobat. Lagi-lagi masalah uang, tetapi aku tetap tegar dan berusaha lebih giat lagi mengumpulkannya.

“Pak, aku janji bawa bapak berobat. Doakan biar aku dapat rejeki lebih hari ini.”

Aku selalu belajar setiap hari. Banyak yang aku temui di jalanan. Pelajaran hidup yang aku dapatkan secara langsung di depan mata. Bagaimana caranya bertahan hidup yang hanya mengandalkan barang bekas yang berserakan di jalan, bagaimana aku mampu bertahan dalam kondisi seperti ini, dan banyak lagi. Semua kejadian pernah aku lihat, seperti pencurian, perampokan, penodongan, penculikan bahkan pemaksaan, itu sudah menjadi hal biasa bagiku. Hingga sore itu, aku bertemu dengan seseorang.

Aku menyebutnya sebagai pria berdasi. Pria itu sedang bercekcok dengan dua preman di daerah ini. Tangan salah satu preman itu mencengkeram ujung leher baju hitam pria itu. Aku menganggapnya hal yang biasa, tapi berbeda dengan perasaanku hari ini. Aku terus bersembunyi di balik dinding untuk mengetahui percakapan mereka.

“Kau cari masalah hah?!” bentak preman itu.

“Siapa yang mencari masalah denganmu. Kamu saja yang sewot waktu aku menyenggolmu. Aku bilang itu tidak sengaja. Padahal aku sudah minta maaf padamu,” bela pria itu.

“Oh, jadi kamu berani ya? Sob, hajar dia!”

Setelah itu aku hanya mendengar suara benturan, rintihan pria itu dan tawa kedua preman itu. Tanpa terasa, aku mengepalkan tanganku. Sebenarnya aku tidak suka kekerasan, tapi karena keadaan aku selalu membiarkannya.

“Hei kau! Beraninya dengan dia. Apa kau tidak tahu siapa dia?” Aku nekat muncul di hadapan mereka.

“Siapa lagi ini?! Hei anak kecil! Jangan sok jadi jagoan di sini. Aku adalah preman daerah ini, hahaha.” Tawanya memuakkanku.

“Asal kau tahu, dia adalah putra orang paling penting di daerah ini. Ayahnya adalah pemilik perusahaan terkenal. Kalian berdua bisa dituntut hukuman berat karena telah berani melukai putranya,” ancamku.

Seketika aku merasakan cengkeraman pada baju pria itu mengendur. Aku berhasil mengelabuhinya. Meski nanti aku harus menanggung malu di hadapan pria itu.

Preman itu pergi seenaknya. Sebelum benar-benar pergi, dia menatapku lekat-lekat seolah akan kembali membalas perbuatanku. Aku tidak takut pada mereka. Mereka hanya pengangguran yang menjelma menjadi preman dengan mengaku berkuasa di daerah ini.

Aku kembali fokus pada pria itu. Wajahnya masih terlihat kusut sama seperti bajunya. Dia mengibas-ngibaskan bajunya dari paparan debu dan kotoran. Orang berada memang seperti itu. Dia berbalik menatapku, aku jadi takut dan mundur perlahan.

“Kenapa mundur? Kemari. Aku ingin berterima kasih padamu karena sudah menolongku dari preman sialan itu,” katanya sok santun, tapi benar-benar santun di telingaku.

Aku hanya memandanginya dari bawah, lalu keatas dan sebaliknya, hingga aku melihat wajahnya dengan jelas. Pria ini berbeda dari orang-orang berada yang aku lihat biasanya. Kurasa dia baik dan perasaanku menyetujui itu. Semakin dia mendekat padaku, semakin aku menjauhinya. Dahinya berkerut.

“Kenapa kau menjauh?” tanyanya heran.

Aku tidak ingin berurusan dengan pria berdasi itu. Terakhir kali, aku didorong ke tumpukan debu dan dicaci maki oleh pria berdasi lain karena aku mengganggunya merokok. Padahal aku hanya menasihatinya bahwa merokok itu tidak baik untuk kesehatan. Alhasil aku pulang dengan baju lusuh berdebu. Sejak saat itu aku membenci orang berdasi. Termasuk pria di hadapanku ini. Untuk apa dia mendekat? Sudah jelas aku menjauh darinya.

“Untuk apa kau mendekat? Aku ini kotor. Apa orang sepertimu tidak malu dekat denganku?!”

“Untuk apa aku malu? Aku hanya ingin berterima kasih padamu. Jika tidak ada kamu, mungkin aku sudah babak belur sekarang.”

Aku hanya mendiamkannya. Semakin dia maju, semakin aku mundur. Dia tampak kesal. “Aku tidak pernah bermaksud jahat pada orang yang telah menolongku.”

Kalimatnya menohok hatiku. Aku diam begitu saja. Matanya menunjukkan keseriusan. Dia mengambil sesuatu dari saku celananya. Sebuah benda berwarna cokelat yang asing di mataku. Dari benda cokelat itu, dia memperlihatkan beberapa lembar uang merah muda. Aku baru sadar kalau orang berdasi akan tetap sombong di mana pun dan di hadapan siapa pun.

“Ini sedikit pemberianku. Kau harus menerimanya. Aku ikhlas.”

Kedua mataku melebar seketika. Uang itu begitu menggoda imanku. Apa saja bisa aku beli dari uang itu, termasuk biaya bapak berobat. Namun, angin yang berhembus mengenai tengkuk menyadarkanku.

“Aku tidak menerima pemberian dari orang asing,” tegasku.

Nampaknya dia tidak kebal dengan penolakanku. Dia kembali menawarkan lima lebar uang merah muda itu padaku. Apa daya manusia, aku maju beberapa langkah mendekatinya dan mengambil uang itu. Tanganku bergetar.

“Terima kasih.”

Hari ini aku menemukan manusia dengan spesies lain dari biasanya. Dia begitu baik padaku. Entah karena aku telah menolongnya dari preman itu atau memang karena dia sangat suka memberi uang pada orang asing. Entah lah, biar aku tidak tahu saja. Hari ini menjadi hari yang paling bahagia dalam hidupku. Aku pergi berbekal karung bekas, kini aku pulang dengan lima lembar uang merah muda. Sungguh beruntung aku, Tuhan punya rencana sendiri untuk membuat makhluk ciptaannya ini bisa makan esok dan membawa ayah berobat. Senandung bahagia kulontarkan selama perjalanan pulang. Senyum bahagia selalu terpampang di wajahku. Namun, ketika aku sampai di sebuah gubuk kecil, aku melihat sebuah bendera kuning. Tanpa sadar, tubuhku bergetar hebat dan air mulai berjatuhan dari mataku.

Hari ini, di balik uang yang aku dapat, aku harus menghadapi kenyataan lain kalau kami tinggal bertiga.


Miyu Anggankara adalah sebuah nama pena. Tinggal di salah satu desa di kaki pulau Dewata. Saat ini berstatus sebagai pelajar sekolah negeri di Kuta Selatan. Sangat menyukai kisah berbau fantasi dan misteri. Penulis dapat dihubungi melalui email miyuanggankara@gmail.com

Facebook Comments