AKU HARUS TENANG

Pikiranku kacau
Dan aku harus tenang

Setengah badanku harus ini itu
Dan aku harus tenang

Pikiranku di sini, di rumah, di jaringan-jaringan maya
Dan aku harus tenang

Setiap kata adalah milik nenek renta
Dan aku harus tenang

Barong Tongkok, 5 Desember 2017


INGIN BERTEMU

Biar saja angin dengan semilirnya
Biar saja tembok-tembok dengan dinginnya
Biar saja darah beku dengan merahnya
Biar saja tulang rapuh dengan letihnya

Aku tak peduli

Aku hanya ingin hati ini dipenuhi
Aku ingin bertemu
Temui aku dalam mimpi
Itu saja

Barong Tongkok, 29 November 2016


DRAMA

Kularut saja dalam ini drama
Entah siapa dalang, aku tak peduli
Kunikmati ini seolah aku mendamba sejak lama
Riang hati berbunga-bunga, memanja

Kata-kata mesra dan senyum manis
Lepas bebas di antara hati yang terikat
Di antara bahagia dan setia
Aku pilih larut dalam keduanya

“Ini drama. Nikmati saja”

Barong Tongkok, 29 November 2016


GERAH

Pagi tadi aku nikmati secangkir teh hangat dan sepotong roti
sembari geser-geser layar telepon genggam yang katanya cerdas elegan
Dan aku tiba pada laman warta daring
yang penampakannya bagus dengan gambar peri keriting di pojokan
Di tengah baris berbaris huruf-huruf yang tersusun rapi rata kiri
seperti pagar batas antara tanah si tengkulak dan pak tani
Dan bergantian gambar wajah ayu dan kata-kata padat
timbul tenggelam di antara para alenia

Aku hanya diam
Terpaku di antara sekat papan yang kikir ruang untuk beberapa patah kata
Dan tak terasa baju lusuh dibasuh peluh luruh di antara nafas bergemuruh
Tampaknya itu adalah cairan otak yang tak tahan tinggal
Aku gerah dengan aksara bisu dan lebih tuli itu
Teriaknya lebih lantang memekik telinga-telinga kering
Larinya lebih kencang dari pikiran-pikiran orang tua sepertiku

Tetiba saja aku menjadi gerah
Aku buka baju yang sudah melekat erat pada kulit keriput susut
Aku tak mau teriak terhasut dalam pikiran-pikiran kusut carut-marut
Dan aku akan diam saja di antara kepulan aroma teh yang mulai hilang jejak
Aku akan lebih bisu dan lebih tuli dari aksara-aksara itu

Barong Tongkok, 3 November 2017


MALING DALAM IRONI

Di antara gelap yang mulai terlelap kudengar ramai-ramai di seberang sana
Dari sini tampak nyala obor yang berbaris berkeliling seperti tarian di atas panggung seni
Aku si pecinta seni tak ingin melewatkan masa-masa itu tentunya
Aku bergegas lari dan lupa berkaus kaki, biarlah

Tiba di sana aku menyela kerumunan
Dan tepat di pusaran aku terpaku kaku melihat lumuran darah di wajah yang tak lagi tampak wajah
Darah meluruh membasuh baju lusuh
Badan-badan besar dan kecil sama melepas kaki kotor tanpa alas kaki menapak pada tubuh pasrah dari kanan, kiri, depan dan belakang

Mereka teriak,
“Bakar!”
“Bakar!”
“Maling pantas dibakar saja”

Dada ini sesak
Badan ini gemetar
Dan aku teriak,
“Hentikan!”
“Hentikan!”
“Hentikan!”

“Jika ini maling pantas dibakar, apa yang pantas untuk maling di Senayan sana?”

Mereka terdiam dan perlahan bubar
Dan tinggalah aku dan maling itu
Dengan mata tertutup dan nafas tersengal-sengal ia berkata terbata dengan nada lirih
“Tolong anak-anak dan istriku!”

Barong Tongkok, 4 November 2017


PERANG LAWAN KORUPSI

Perang Dunia I sudah selesai
Perang Dunia II sudah selesai
Tinggalah insan-insan merdeka

Belanda sudah pergi
Jepang sudah pergi
Tinggalah putra-putri pertiwi

Orde Lama sudah tiada
Orde Baru sudah tiada
Tinggalah reformasi dan demokrasi

Menteri silih berganti
Presiden silih berganti
Tinggalah rakyat jelata silih memilih dan menagih janji

“Nak! Jangan merasa merdeka. Perang belum selesai. Ini perang lebih besar. Ini perang melawan saudaramu sendiri. Ini perang melawan korupsi. Ingat ya, Nak!”

“Iya Ayah. Ini uang sakunya kelebihan, Ayah. Aku pergi sekolah dulu ya, Ayah.”

Barong Tongkok, 4 November 2017


ANDAI PUTIN ADALAH WANITA

Andai Putin adalah wanita
Ia kan kurayu
Ia kan kukirim puisi setiap hari tepatnya dini pagi
Dan ketika Ia luluh kita kan bertemu
Aku kan kenakan kemeja kotak-kotak yang sudah siap rapi tujuh hari lalu
Saat itu aku bawa bunga mawar yang baru saja merekah
Ia pasti kan mencium wewanginya dan mulai tersenyum dengan pipi kemerahan
Dan ketika simpul-simpul senyumnya bertahan lima detik saja maka aku yakin sekali
Akan kutuangkan secangkir teh hangat rosela rendah gula
Ia makin tergoda dan terpesona dengan sandi kedipan mata
Dan saat yang kutunggu tiba
“Putin, aku hanya minta satu”
“Apa itu?”
“Damaikan Amerika dengan Korea Utara. Itu saja”

Barong Tongkok, 3 November 2017


NURHOLIS. Lahir di Samboja, 4 Mei 1990. Bekerja di salah satu perusahaan tambang batubara di Kab. Kutai Barat, Kalimantan Timur. Kecintaannya terhadap puisi mendorongnya menulis puisi di sela waktu istirahatnya dan kini telah melahirkan buku berjudul ‘Kata Di Balik Prisma’.

Facebook Comments