Terus terang. Seminggu tidak pulang ke rumah membuatku jadi sedikit sentimen, jika ada orang yang memanggil namaku. Apalagi jika si pemanggil adalah wanita seusia ibu. Sering kali kupikir ibu yang datang menjengukku ke kos. Meski aku tak berharap banyak dari kedatangan ibu, setidaknya aku sangat berharap rinduku akan ibu dan rumah lekas terbayar.

Siang ini setelah kegiatan perkuliahan berakhir pada pukul 1, aku tak lantas beranjak menuju kos. Seperti biasa, aku dan teman sejawatku, Agni membuka stan sederhana untuk menjajakan jus buah. Ya, kupikir dengan begini uang jajanku akan bertambah tanpa perlu menyusahkan ibu di kampung.

Seperti matahari tidak ingin berkedip barang sedetik, sinarnya jatuh menembus batok kepala setiap manusia. Tak terkecuali aku dan Agni. Hanya saja, dagangan kami yang mulai banyak laku sedikit menghibur hati. Lalu tiba-tiba saja seorang wanita yang terlihat meringkuk di depan ruko kosong seberang jalan menyita perhatianku. Kutaksir, usianya sebaya dengan Ibu. Hanya bedanya, wanita itu terlihat lebih bugar dari Ibu.

“Ag, aku pergi ke sana sebentar.” Pamitku pada Agni.

“Kamu mau kemana Mir?”

“Nanti kamu juga tau.”

Segera kuseberangi jalan raya yang tak begitu padat. Seperti tau ada seseorang yang hendak mendekatinya, ibu itu mengangkat kepalanya lurus menatapku. Dengan nafas yang sedikit terengah-engah, aku duduk menyejajarkan posisiku dengannya. Ia tampak memandangiku heran. Sementara ia memandangiku, aku justru mendapati seorang bayi mungil dalam dekapan wanita itu. Wajah si kecil yang tidur pulas dan tampak sangat damai. Kemudian tiba-tiba ia menyembunyikan wajah bayinya dariku dengan menggendong bayi itu lebih rapat lagi.

“Maaf, apa Ibu baik-baik saja?” tanyaku memulai percakapan.

“Ada apa kamu kemari?”

“Saya lihat tadi Ibu terus meringkuk. Saya pikir Ibu sedang sakit.”

Kulihat wajah wanita itu sekilas tampak lesu. Seperti tanaman yang sudah berhari-hari tak tersiram air. Ia sangat lemah, dan juga bayinya. Kutengok sekilas mangkuk kecil yang berisi kepingan uang logam yang berjumlah tak seberapa banyak di samping wanita itu. Seperti ada sesuatu yang terketuk dalam hatiku, aku berinisiatif untuk membelikannya sebungkus nasi di warung yang tak jauh dari kami. Begitu aku kembali dari warung membawa kantung plastik berisi makanan, ada setitik harapan yang menyeruak dari balik mata sayunya. Sesekali wanita itu menyeka keringat pada dagu dan dahinya. Lalu aku menyerahkan bungkusan nasi kepadanya.

Riak wajahnya tak menghiraukan siapa pun di sekitarnya yang memandangnya dengan rasa jijik karena begitu beringas ketika menyantap sebungkus nasi. Tak dibiarkannya seupah nasi pun jatuh sia-sia di atas tanah tanpa menyentuh lidahnya. Tangannya beberapa kali menyuapkan makanan ke dalam mulut, meskipun mulutnya masih tampak penuh. Sesekali ia tersedak, lalu kembali melanjutkan pesta makannya dengan asyik.

“Pelan Bu. Nanti Ibu bisa tersedak.”

Seperti tak mendengar peringatanku, wanita itu malah memberingas pada suapan-suapan nasi terakhir. Bahkan tulang belulang ikan pun tak rela ia sumbangkan untuk kucing yang sedari tadi mengawasinya, mengharapkan sisa tulang ikan. Sungguh kelaparan Ibu ini, pikirku. Sejenak pandanganku beralih pada seorang bayi yang sama sekali tidak terganggu oleh gerakan ibunya yang begitu blingsatan saat makan. Bayi itu tetap tenang dan bernafas teratur, pertanda sama sekali tak terganggu oleh apa yang dilakukan ibunya baru saja. Lalu tiba-tiba tanganku tertarik untuk menyentuh pipi bulatnya.

“Jangan! Jangan sentuh dia, atau kamu akan membangunkannya! Jika ia bangun, maka aku akan berada dalam kesulitan. Sebab, ia sangat susah untuk ditenangkan.” Ia memperingatkan tiba-tiba.

“Maafkan aku,” mata kami saling bersitatap. Rupanya wanita itu kini terlihat tak selesu tadi. “Siapa nama Ibu?”

“Sejak kecil aku tidak tahu siapa namaku. Tapi orang-orang biasa memanggilku Gambleh.”

“Gambleh?”

“Iya. Aku membenci panggilan itu. Tapi mau bagaimana, jika aku tidak menerima, maka selamanya aku akan menjadi wanita tanpa nama.”

Ia bangkit perlahan sembari membuang bungkus nasi secara asal. Lalu ia menimang pelan bayinya.

“Jarang sekali ada anak muda sepertimu yang memperhatikan sampah seperti kami.”

“Mengapa Ibu berkata demikian? Mengapa Ibu menyebut diri Ibu sendiri sebagai sampah? Dan bayi Ibu? Lihatlah, ia sangat lucu. Begitu menggemaskan. Lalu mengapa Ibu membawanya ke luar rumah saat cuaca sedang panas. Lagi pula ia terlihat tidur pulas. Apa tidak sebaiknya ia direbahkan di atas ranjang?” tanyaku beruntun.

Gambleh tersenyum samar. Pantulan sinar matahari yang mengenai tepat di sisi kiri pipinya meraibkan senyum yang beberapa detik lalu sempat terlihat. Ia menarik nafas panjang.

“Apa yang bisa diharapkan dari kedamaian seorang tuna wisma?”

Gambleh seorang tuna wisma. Dengan bayi yang tertidur tenang dalam gendongannya, tidak mungkin jika setiap hari ia harus bermandikan panas matahari tanpa mengusik ketenangan tidur bayinya. Bayi itu sama sekali tak terganggu, meski Gambleh sengaja berdiri di tengah panas sekalipun.

“Aku hanya mengandalkan latar ruko kosong setiap harinya untuk menumpang tidur atau beristirahat” lanjutnya.

“Jika Ibu mau, Ibu bisa sementara tinggal di kos saya. Kebetulan di kamar kos hanya ada saya.”

Wanita itu tercekat. Seperti baru saja ditiup angin surga, ia menoleh dengan cepat ke arahku dan menatapku seolah-olah tak percaya dengan apa yang kukatakan barusan. Lalu suara brong knalpot meredam gumamnya. Bibirnya berkomat-kamit tanpa bisa aku dengar karena bisingnya suara knalpot. Setelah bising itu mereda, berhenti juga gumaman Gambleh.

“Maaf, apa bisa Ibu ulangi perkataan tadi? Saya tidak mendengar.”

“Ah sudah, lupakan saja.”

“Saya hanya khawatir dengan keadaan bayi Ibu jika tidur dengan kondisi sekitarnya yang seperti ini. Lebih baik, tidurkan dia di kamar kos saya.”

“Jangan terlalu khawatir. Bayiku ini sama sekali tidak menyusahkan. Kami selalu ada di sini dari pagi sampai sore. Kamu bisa menemui bayiku lagi besok.”

Aku diam. Keputusan Gambleh seperti tidak dapat digugat sama sekali meskipun aku berdalih khawatir dengan kesehatan bayinya sekalipun. Wanita itu tetap bersikeras, tidak ingin menumpang tidur di kamar kosku. Tanpa mengucapkan kalimat lagi, Gambleh beringsut menyeberang dan menyusuri pinggir jalan. Hanya dengan kain jarik nyaris pudar dan kumal, Gambleh menentang terik matahari seakan-akan ingin menunjukkan kehebatannya dalam melawan terpaan panas. Lalu kuputuskan, aku segera kembali menemui Agni. Ia terlihat kepayahan meladeni para pembeli yang ingin mengguyur tenggorokannya dengan jus buah dagangan kami.

“Siapa Ibu tadi?”

“Gambleh.”

“Gambleh? Nama yang aneh.”

***

Tidak ada jadwal perkuliahan siang ini. Itu artinya, aku bisa membuka stan jus buah lebih awal meski tanpa kehadiran Agni. Persediaan susu kaleng sebagai bahan tambahan jus daganganku kosong. Maka sebelum membuka stan terlebih dulu aku membeli susu kaleng di sebuah swalayan yang terletak di dekat ruko kosong kemarin, tempat Gambleh dan bayinya beristirahat setiap siang hingga sore. Kupikir-pikir tidak ada salahnya jika aku sekalian mampir untuk menanyakan kabar bayinya. Sejujurnya ketenangan bayi itu membuatnya terlihat semakin menggemaskan.

Seorang pegawai kasir swalayan menyambutku lalu menawar-nawarkan barang dagangan lain kepadaku. Tidak lupa ia menyebutkan beragam promo hingga potongan harga dengan nada yang sedikit memaksa.

“Tidak Mbak. Terima kasih.” Tampak jelas seketika wajah pegawai perempuan itu berubah kecut. Aku menyerahkan selembar uang dua puluh ribuan kepadanya.

Aku menangkap kehadiran Gambleh. Sembari menunggu pegawai itu menotal belanjaanku, aku mengamati Gambleh dari dalam swalayan. Seperti kemarin, ia menggendong bayinya dengan selempang jarik coklat pudar. Kali ini sepertinya bayi Gambleh sudah terbangun. Aku melihat tangannya meronta, memukul-mukul wajah ibunya. Sepertinya apa yang dikatakan Gambleh memang benar. Jika bayi itu terjaga dan menangis, ia akan sulit untuk menenangkannya. Malang sekali Gambleh.

“Ini uang kembaliannya.” Pegawai swalayan itu menghentikan pengamatanku terhadap Gambleh.

“Terima kasih.”

Gambleh duduk di depan latar ruko kosong seperti pertama kali aku melihatnya. Lalu meringkuk. Dari jarak yang lumayan dekat, aku dapat melihat Gambleh membuatkan susu formula ke dalam botol dot. Seperti tak ingin mengganggu Gambleh dalam usaha menenangkan bayinya, aku mengawasinya dari depan swalayan.

Beberapa menit kemudian, susu formula itu telah siap untuk disusukan kepada si bayi. Ah Gambleh memang ibu yang sigap.  Lalu selanjutnya, aku melihat Gambleh membuka tutup botol dan memasukkan sebutir pil ke dalamnya. Apa bayinya sedang sakit?

Seperti terdorong oleh rasa penasaran, aku berlari kecil menghampiri Gambleh yang kini kembali meringkuk sembari menyusukan sebotol susu formula itu kepada bayinya. Dalam dekapannya, bayi itu dengan beringas pula meminum susu. Persis seperti tingkah ibunya ketika memakan nasi bungkus kemarin.

“Bu?”

Gambleh berjingkat.

“Apa bayi Ibu sakit?”

Gambleh bergeming. Ia tetap meringkuk dengan bayi yang menyusu dalam dekapannya.

“Apa yang bisa saya bantu? Kasihan bayi ibu. Rupanya ia membutuhkan tempat yang nyaman untuk tidur siang ini.” Aku berusaha menyentuh kepala bayi itu yang sedikit menyembul di ujung ketiak Gambleh.

“Jangan! Jangan sentuh dia, atau kamu akan membangunkannya! Jika ia bangun, maka aku akan berada dalam kesulitan. Sebab, ia sangat susah untuk ditenangkan.” Gambleh lalu bangkit, meraih mangkuk kecilnya dan berlalu dari hadapanku tanpa mengucap sepatah kata lagi.

Di tempatnya meringkuk tadi, terdapat bungkus obat yang biasa kukonsumsi jika rasa kantukku tak kunjung datang pada tengah malam. Aku meraih bungkus obat itu. Masih tersisa sebutir pil. Lalu aku memandang Gambleh telah berjalan jauh dengan bayinya yang sudah kembali tenang.


Ade Vika Nanda Yuniwan, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Trunojoyo Madura. Penulis adalah pecinta literasi dan senja. Kritik dan saran dapat disampaikan melalui e-mal: adevikananda24@gmail.com atau inbox ke FB Ade Vika.

Ig : adevikananda

 

Facebook Comments