RIWAYAT AKU

aku. lahir dari rahim ibu. disusui lembu. besar di
jalan berbatu. aku membatu, kaku. Sesekali
pecah jadi seribu. mencari arah kian tak tentu.
suatu waktu mati di ketiak ibu.

Menceng Raya, 2017


KELAHIRAN AKU

bermula ayah menemukan tulang rusuk
yang hilang: ibu. ibu menjual perawan
kepada ayah: ijab-sah.

ayah musafir; ibu penyair
di tempat paling rahasia
mereka merajut rencana
beradu desah dari kata-kata penyair
dan derap langkah musafir

kata demi kata dieja
langkah demi langkah dijaga
maka lahirlah aku: puisi penyair tentang musafir

Menceng Raya, 2017


PENAMAAN AKU

setelah putus pusar dan tali ari-ari
ada dukun dan kiyai: pedaq api.

deret nama ditulis di atas kertas macam nota bukti
satu satu bayi dipaksa genggam tulisan nama
mana kala digenggam utuh satu nama
maka sejatinya diberkati dukun dan kiyai.

aku bayi. lahir menggendong ari-ari
dan menguburnya sendiri
tak ada ritual sakral pedaq api
kugenggam nama sendiri: puisi.

Menceng Raya, 2017


AKU PUISI

aku ini puisi
lahir dari penyair terakhir paling hilir
ia mati saat aku jadi setengah jadi
lalu aku ditumbuh-besarkan perawi.

perawi itu paman
pandai merawi syair dan puisi
disyiarkannya aku ini syair nabi
jadilah aku bait-bait suci
agar aku dipuji dan diberkati
supaya puji beruntuk jua kepada perawi.

nyatanya, aku tetaplah puisi
penyair terakhir paling hilir
yang telah lama mati.

Menceng Raya, 2017


BELATI BUNUH DIRI

telah kusiapkan belati bunuh diri
untuk aku yang tak tahu diri

sepanjang pagi kuasah ia
setajam pisau jagal
agar tak payah bila
leherku kupenggal
tak lupa kumandikan
kembang tujuh rupa
juga membaca mantra
pemberian para petapa

sebentar malam saatnya tiba

tepat tengah malam
belati hilang disembunyikan Tuhan

Menceng Raya, 2017


KEMATIAN AKU

aku tulis wasiat untuk mengantar
peziarah menuju makam tak beralamat
makam yang sengaja kubuat
ketika sekarat.
itu tempat keramat, dimana sesaat kubikin sesat.

sebab tak ada yang berduka
atas kematianku, kuantar sendiri jenazahku.
keranda. keranda itu seperti beroda
menggiringku sampai lahat
nisan tak kupahat, sebab lupa kapan aku wafat.

Menceng Raya, 2017


Yunk Putra El-Lefaqy; lahir di Lombok-NTB, 31 Januari 1991. Sekarang bermukim di Jakarta. Bekerja sebagai tukang bangun-an rumah (ber)tangga. Pecinta puisi dan senja. Karya-karya dimuat di beberapa media, juga terbit dalam antologi bersama “Senandung Paceklik: Murka Tu(h)an”, Oase Pustaka (2017). Selain menulis puisi, ia juga aktif menulis lagu (sebagai koleksi pribadi).

Facebook Comments