Salsa menghempaskan tubuhnya di sofa biru yang ada di ruang tengah. Sejak tadi jari kanannya tak henti-hentinya menekan remote TV. Tetapi, ia tak kunjung menemukan acara tv yang menarik. Ia merasa sangat bosan. Sejak pulang sekolah tadi, ia tak menemukan siapa pun di rumah. Entah ke mana mama dan adiknya pergi. Tak ada pesan ataupun telepon dari mereka.

Salsa menghela napas panjang. Ia matikan TV dengan lemas. Ketika hendak meninggalkan ruang tengah, ia mendengar suara mobil dari arah halaman depan rumahnya. Mendadak ia kembali bersemangat. Orang yang ditunggu-tunggunya sejak tadi akhirnya pulang. Ia pun segera melangkahkan kakinya menghampiri mereka.

Salsa berdiri di ambang pintu depan rumahnya. Pandangan matanya tak pernah lepas dari gerak-gerik kedua orang yang sangat ia sayangi. Mama keluar dari mobil sedan putihnya bersama dengan Amara adiknya. Tangan kanan mamanya lalu mengelus lembut rambut Amara.

“Mama sama Amara ke mana aja? Kok nggak kasih tau aku? Aku kan juga pengen ikut kalian,” ungkap Salsa.

“Amara sayang, kita masuk yuk! Mama capek nih,” ajak mama lalu merangkul Amara. Mama dan Amara lalu melangkah masuk meninggalkan Salsa yang masih berdiri di depan pintu depan.

Salsa merasa aneh setiap kali mama bersama dengan Amara. Di matanya, mama sangat sayang dan perhatian pada Amara. Sikapnya itu berbeda sekali terhadap dirinya. Mama selalu saja mengacuhkannya. Setiap kali Salsa mendekati mama dan mencoba mengobrol dengannya, mama selalu pergi menjauh darinya. Sering kali Salsa merasakan sesak di dalam hatinya. Rasa rindu, iri, cemburu, dan marah, semuanya berkecamuk di dalam hatinya.

***

Tak terasa jam telah menunjukkan pukul 7 malam. Akhirnya semua makanan telah disajikan dengan rapi di atas meja makan. Malam ini Salsa sengaja memasak makanan kesukaan mama. Ia ingin memberi kejutan kepada mama di hari ulang tahunnya.

“Wah, pesta besar nih!” Ucap Amara tiba-tiba. Ia langsung duduk dan mengambil piring.

“Tunggu dulu…!” Salsa langsung menahan piring Amara. “Kita tunggu Mama dulu.”

“Emangnya lagi ada acara apa sih, Kak? Tumben banget masak banyak gini?”

“Memangnya kamu lupa? Hari ini kan Mama ulang tahun.”

Salsa tak sabar menunggu kedatangan mama. Salsa berharap mama akan menyukai makanan yang telah dibuatnya. Ia juga sangat berharap hubungannya dengan mamanya bisa kembali akur seperti dulu.

Wanita yang ditunggu-tunggunya akhirnya datang. Mama menghampiri Salsa dan Amara dengan mata yang menatap penuh ketakjuban.

“Ini semua kamu yang memasak, Amara? Makasih banyak ya, sayang…!” ucap mama lalu mengecup kening Amara.

Senyuman yang terus terukir di bibir Salsa langsung menghilang setelah mendengar ucapan dari mamanya itu. Rasa kecewa kini menyeruak di dalam hatinya. Sepertinya hanya ada Amara yang ada di dalam pikirannya, sedangkan dirinya sama sekali tak pernah ada dalam kehidupannya.

“Bukan, Ma. Ini semua Kakak yang masak. Selamat ulang tahun ya, Ma…!” Ungkap Amara.

Wajah mama tiba-tiba berubah drastis. Tak ada senyum kebahagiaan yang terpancar di wajahnya seperti tadi.

“Amara, temani Mama pergi!”

“Kita mau ke mana, Ma? Trus makanannya gimana?” Tanya Amara bingung.

“Mama lagi nggak nafsu makan. Ayo pergi!” Mama langsung menarik tangan Amara dan pergi meninggalkan Salsa.

Salsa menatap kecewa kepada mama. Susah payah dia memasak makanan kesukaan mama, tapi mama sama sekali tak memakannya.

***

BRAKKK!!!

Salsa membanting pintu kamarnya dengan sekuat tenaga. Badannya langsung dia sandarkan di balik pintu. Dipejamkannya kedua matanya yang mulai berair. Untuk ke sekian kalinya dia menangis karena mama.

Salsa menatap lekat sebuah foto yang tergantung di dinding kamarnya. Dadanya tiba-tiba terasa sesak. Kenangan masa lalu kembali berputar di kepalanya. Sebuah kenangan yang selalu menyiksa batinnya, bahkan membuat mamanya membenci dirinya.

“Tak bisakah Mama memaafkanku?” Ungkapnya terisak.

5 tahun berlalu dengan cepat. Mama masih belum bisa memaafkan kesalahan Salsa. Setiap hari batinnya terus tersiksa. Andai waktu bisa terulang kembali, dia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama yang membuat hubungan dirinya dengan mama hancur.

Saat itu, Salsa terus meminta ayahnya untuk segera pulang ke rumah. Dia tahu kalau ayahnya sedang sibuk-sibuknya bekerja di pabrik teh, tapi Salsa terus merengek meminta ayahnya untuk segera pulang. Mau tak mau, ayah pun terpaksa menuruti permintaan putri pertamanya itu.

Malamnya, polisi datang ke rumah membawa kabar buruk. Mobil yang dikendarai ayah menabrak sebuah truk. Ayah meninggal di tengah perjalanan menuju rumah sakit. Mendengar hal itu, Salsa dan Amara sangat syok. Sedangkan mama tak henti-hentinya memarahi Salsa. Jika bukan karena Salsa, ayah tak akan bergegas pulang dan mengalami kecelakaan. Salsa terus menangis dan mengutuki dirinya. Rasa penyesalan dan bersalah terus menghantuinya. Sejak saat itu, hubungannya dengan mama menjadi renggang.

***

Sebuah mobil sedan telah terparkir rapi di halaman depan rumah. Amara langsung keluar dari mobil dan berlari kecil memasuki rumah.

“Kak! Kak Salsa…!” Panggil Amara. Ia terus mencari-cari Salsa. Semua ruangan tak luput dari pandangannya.  Tetapi, orang yang dicarinya tak kunjung terlihat batang hidungnya ataupun menjawab panggilannya.

“Ma, Kak Salsa nggak ada di rumah.”

“Kamu tenang aja, Amara! Kakak kamu itu pasti ada di rumah teman-temannya,” sahut mama berlalu.

Amara segera mengambil ponselnya dan menelepon satu per satu teman Salsa. Tetapi, tak ada satu pun teman Salsa yang tahu keberadaan Salsa. Amara semakin panik. Dia pun segera menuju kamar mamanya.

“Ma, ayo cari Kak Salsa!” Pinta Amara khawatir.

“Sudahlah Amara! Salsa itu sudah besar. Kamu nggak perlu khawatir seperti itu!” Jawab mama cuek.

“Ma, sampai kapan Mama memperlakukan Kak Salsa seperti itu? Sampai kapan Mama menyalahkan Kak Salsa atas kematian Ayah? Aku mohon, Ma…! Maafkan, Kak Salsa! Perlakuan Mama selama ini sudah cukup menyakiti Kakak.”

Mama tertegun dengan semua kata-kata Amara. Ada sedikit rasa bersalah yang hinggap di hati mama. Mama sama sekali tak menyangka sikapnya selama ini pada Salsa sudah sangat keterlaluan.

***

Salsa berjalan seorang diri. Dia tak tahu akan ke mana kedua kakinya melangkah. Tak dipedulikannya kakinya yang lelah, dia terus saja berjalan. Salsa terkejut ketika sebuah mobil tiba-tiba berhenti tepat di sampingnya. Mama dan Amara keluar dari pintu mobil. Mama segera menghampiri Salsa dan langsung memeluknya.

“Maafkan Mama, Salsa! Maafkan, Mama…!”

Air mata Salsa seketika jatuh dari kedua matanya. “Maafkan Salsa, Ma…! Salsa menyesal sudah menyuruh Ayah pulang. Salsa sangat menyesal!”

“Nggak usah diingat-ingat lagi! Mama sudah merelakan kepergian Ayah. Mama minta maaf sudah mengacuhkanmu selama ini. Ayo, pulang!” Ucap mama sembari melepaskan pelukannya, lalu mengecup kening Salsa.

Mama, Amara, dan Salsa sama-sama masuk ke dalam mobil. Salsa tersenyum gembira. Hatinya begitu bahagia. Dia merasa beban dan masalah yang selama ini mengganggu pikirannya terangkat semua dan menghilang. Di dalam hatinya Salsa berjanji, ia akan selalu  melindungi mama dan Amara.


 Nama saya Betry Silviana. Akun facebook saya adalah Betry Silviana, sedangkan akun wattpad saya adalah @BetrySilviana. Penulis yang satu ini masih sangat amatir dalam bidang tulis menulis. Walaupun suka membaca novel dan cerpen, bagi penulis sangat susah untuk membuat cerita yang menarik.

 

 

 

 

 

 

 

 

Facebook Comments